infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Perkembangan Kehidupan Politik Wilayah Sumatera Selatan Zaman Kuno

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Ditinjau dari segi politik dan kebudayaan, kejatuhan atau ditinggalkannya pusat dagang maritim sering diikuti oleh usaha penguasa untuk mencari lokasi baru, sambil mengingatkan rakyat dan pembesar-pembesar di bawah taklukannya akan masih abadinya legitimasi yang dimilikinya.

Maka tidaklah mengherankan suatu persamaan yang menyolok yang pernah dilakukan oleh Paramecora, waktu dia meninggalkan Palembang (berdasarkan kitab Sejarah Melayu) (Sedjarah Melaju menurut terbitan Abdullah (bin Abdulkadir Munsji). oleh T.D. Situmorang & Dr. A. Teeuw,
Jembatan, 1952), dan pernah juga dilakukan oleh Sultan Malaka waktu ibu kotanya direbut oleh bangsa Portugis dalam tahun 1511.

Apabila kita perhatikan isi piagam Kedukan Bukit, yang merupakan suatu momentum historis, maka terdapatlah tiga peristiwa penting dalam satu tahun.

  • pada tanggal 11 (Cuklapaksa) bulan Waicaka (bulan ke-10 Caka), Dapunta Hyang naik perahu akan berlepas nazar.
  • pada tanggal 7 (Cuklapaksa) bulan Djyesta (bulan ke-11 Caka), rombongan berangkat dari suatu muara pertemuan sungai dengan membawa tentara melalui sungai dan darat.
  • pada tanggal 5 (Cuklapaksa) bulan Asadha (bulan ke-12 Caka) bersukacita sampai di suatu tempat dan membuat dusun Criwijaya. Untuk pertama kali kita berkenalan dengan nama “Sriwijaya” pada piagam tersebut yang telah ditemukan di tepi sungai Tatang, berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna. (R.H. Ng. Poerbatjaraka, Riwayat Indonesia I, hal.33)

Di samping itu telah ditemukan pula beberapa piagam yang ada hubungannya dengan piagam itu seperti piagam Talang-Tuo (sebelah Barat kota Palembang), piagam Telaga Batu (ditemukan tidak jauh dari kota Palembang sekarang), piagam Kota-Kapur (Bangka), piagam Karang-Brahi (daerah Jambi) dan piagam Palas Pasemah (daerah Lampung selatan).

Nampak dengan jelas, isi piagam Kedukan Bukit itu menunjukkan asal mula kerajaan itu adalah kerajaan sungai yang terletak di daerah udik sungai Batanghari Sembilan, dan bukan di daerah sungai Kampar Kanan-Kampar Kiri seperti yang telah ditunjukkan oleh Prof .Dr. Poerbarjaraka dalam bukunya Riwajat Indonesia I. Kalau demikian dari manakah asalnya?

Prasasti Kedukan Bukit (abad ke-7, Sriwijaya, Palembang), dipamerkan di pameran “Kedatuan Sriwijaya” pada November 2017. Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Indonesia (Foto: Wikipedia)

Menurut berita I-Tsing yang pernah berkunjung ke India via Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) (Pencangkokan Shih-li-fo-shih di Palembang untuk pertama kalinya oleh Samuel Beal dalam tahun 1886, “some respecting a place called Shih-li-fo-tsai” dalam Livre des merveilles de l’Inde, diedit oleh P.A.van der Lith & M. Devic, Leiden, hal.1883-1886), yang pada waktu itu ibukota pelabuhan sungai (river’s port cavital) berada di Muara Tembesyi dan kemudian digantikan oleh Zabag yang terletak lebih ke hilir dari sungai Batanghari. Tetapi kira-kira 10 tahun kemudian, peranan ibukota pelabuhan sungai tersebut diambil alih oleh Dapunta Hyang dan dipusatkan di Bukit Siguntang.

Sekitar tahun 692 Masehi, untuk kedua kalinya I-Tsing mengunjungi Melayu, dan mengatakan negeri itu sudah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya (O.V. Wolters, Srivijayan expansion in the Seventh century, AA.XXIV, 1961, hal.418), yang telah dipusatkan di sekitar kota Palembang sekarang.

Berdasarkan pemberitaan itu, maka dapat disimpulkan bahwa dari tempat itu Dapunta Hyang yang di dalam piagam Talang-Tuo tersebut nama penguasa Sri Jayanaga, telah mencurahkan tenaga perangnya untuk memperoleh titik-tumpu kekuasaan pengontrol lalu lintas perdagangan, baik yang melalui selat Malaka maupun yang melalu selat Sunda.

Suatu petunjuk yang menarik perhatian kita untuk mencari asal Dapunta Hyang, yang diperkirakan berasal dari kerajaan sungai di daerah udik Batanghari Sembilan. Walaupun cerita-cerita rakyat itu bersifat non historis, dan sesuai pula dengan proses mountain’s state menjadi river’s state, maka kemungkinan berasal dari gunung Dempo (Dapunta = Dempo) atau gunung Seminung haruslah dibuktikan secara faktuil.

Lihat Juga


Peta Perjalanan I-Tsing Abad ke-7 (Foto: Wikipedia)

Cerita-cerita rakyat yang dimaksudkan itu seperti “andai-andai panjang”, yang secara historis tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun apa yang tersirat dalam cerita itu haruslah kita anggap sebagai pembuka jalan penelitian yang lebih lanjut, untuk mencari asal usul penguasa kerajaan itu, setelah pusat kekuasaannya dipusatkan di daerah sekitar Bukit Siguntang. Kami berkeyakinan bahwa Bukit Siguntang bukanlah pusat kuasa kerajaan itu, tetapi kemungkinan besar tempat itu sebagai pusat rituil (cakral) yang penuh kesucian, yang sewaktu-waktu dipergunakan sebagai tempat bersumpah setia bagi penguasa-penguasa di uluan kepada raja.

Pada zaman kesultanan Palembang, tradisi itu masih diteruskan (P. De. Koo. De. Faille, Dari Zaman Kesultanan Palembang, Brhatara, Jakarta, 1971, hal.27-28) dan sampai sekarang masyarakat uluan masih tetap beranggapan tempat itu menjadi tempat persaksian membayar kaul atau nazar. Sehubungan dengan masalah yang menyangkut asal usul penguasa yang dimaksudkan, perlu dikemukakan apa yang telah dikatakan oleh P. De Reo De Faille.

” ….. dalam waktu berabad-abad memindahkan kantor pusatnya, ada juga Palembang, negara kota pelabuhan dari daerah Musi atau Batanghari yang sangat luas dan tidak banyak penduduknya di kaki gunung-gunung yang hidjau warnanya, yang menjulang ke awan gunung
Dempo, sorga tempat kediaman para Dewa, yang dari lereng-lerengnya mengalir sungai Musi dengan “sembilan” anaknya yang dalam keagungannya makin lebar bergerak ke laut, dan dekat muaranya adalah tempat yang baik untuk didjadikan pusat perdagangan dalam dan luar negeri, dan dahulu pernah mendjadi tempat kedudukan suatu talasokrasi (suatu kekuatan laut), tetapi …..” (P. De. Koo. De. Faille, Dari Zaman Kesultanan Palembang, Brhatara, Jakarta, 1971, hal.14-15)

Demikian pula bahwa yang dipergunakan pada piagam-piagam itu perlu juga diperhatikan, karena di sepanjang sungai Musi sampai ke udik pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu, bahkan ada suatu daerah Kabupaten di daerah ini pada zaman Hindia Belanda diberi nama “marga mentri Melayu”.

Situs Kota Kapur

Suatu pertanyaan yang perlu dikemukakan di sini, Apakah ekspedisi yang dikirimkan oleh Sri Jayanaga itu mendapatkan perlawanan dari musuh? Berdasarkan hasil sementara penemuan arkheologi, nampaknya dugaan kita sebaliknya, dan pada umumnya isi piagam-piagam itu bersifat kutukan atau suatu perjalanan suci yang bersifat keagamaan. Sifat Budhisme yang sangat menonjol pada piagam-piagam tersebut aliran Budha Mahayana, sesuai betul dengan watak maritim di daerah ini yang tidak mengenal sistem kasta, dan Palembang sendiri pada waktu itu mulai menjadi penting dalam sejarah kebudayaan, karena dianggap sebagai pusat kegiatan ilmiah bagi pemeluk-pemeluk agama Budha. Di Bukit Siguntang sendiri pernah ditemukan sebuah arca Budha yang cukup besar, yang diperkirakan berasal dari sebelum abad VI Masehi.

Bukit Siguntang

Rupa-rupanya, pemindahan pusat kekuasaan itu tidaklah bersifat kekerasan, dan hubungan antara kerajaan-kerajaan sungai yang pernah menjadi river’s port cavital telah terjalin sedemikian rupa dan menunjukkan adanya suatu “sistem konfederasi”, seperti yang berlaku di negara Malaysia sekarang. Hanya sistem di Malaysia sekarang ini dalam penunjukan kepala negara berdasarkan konstitusi, sedangkan pada zaman Sriwijaya berdasarkan kharisma dan faktor-faktor geografis yang lebih menguntungkan dari segi ekonomi. Atas dasar itu pulalah, maka pusat-pusat penguasa kerajaan di daerah ini, kadang-kadang berpusat di Kantoli (daerah danau Ranau), Tulangbawang dengan ibukotanya Kayuagung, Sekampung, Muara Tembesyi, Muara Zabag, Muara Takus dan akhirnya berpusat di daerah sekitar Bukit Siguntang sejak tahun 683 Masehi.

Setelah tahun 742 Masehi, kerajaan Shih-li-fo-shilh tidak lagi mengirimkan utusannya ke negeri Cina, dan baru pada tahun 775 Masehi (Nilakantasastri, Sri Vijaya, BEFEO XL, hal .252-254; Coedes, De Royaume de Crivijaya, BEFEO XVIII, V, hal. 29-31) kerajaan Sumatera (Sriwijaya) mendirikan suatu pangkalan di semenanjung Malaya di daerah Ligor (tanah genting Kra). Pada sisi belakang piagam itu tersebut nama raja Sriwijaya (raja Wisnu) yang berasal dari dinasti Syailendra, sedangkan pada waktu itu kerajaan Sumatera di bawah pimpinan Dharmasetu. (F.D.K. Bosch, Crivijaya de Cailendra en de Sanjayavamsa, BKI, 108, 1952)

Jalan dagang tradisional via Selat Malaka yang melalui tanah genting Kra pada waktu itu merupakan pintu gerbang pelayaran perdagangan dunia, sehingga pusat kuasa yang baru ini tampaknya lebih menguntungkan daripada pusat kuasa sebelumnya, yang pada waktu itu dipimpin oleh Dharmasetu dari keluarga Sema. Sayang sekali sumber-sumber Cina mengenai daerah selatan pada abad VIII Masehi sedikit sekali, sehingga memaksa penulis membuat suatu hipotesis, bahwa hubungan antar raja Wisnu dengan Dharmasetu harus dianggap suatu hubungan genealogis (Soma=Sauma sekeluarga). Oleh sebab itu tak dapat diragukan, bahwa kekuasaan Sriwijaya (Syailendra) pada masa-masa sebelumnya berada di daerah Palembang. (O.W. Wolters, Srivijayan expansion in the Seventh century, AA. XXIV, 1961, hal.417-418)

Betapa erat hubungan antara kerajaan Cina dengan Shih-li-fo-shih (Sriwijaya), seperti yang diberitakan pada masa dinasti Sung, kerajaan Shih-li-fo-shih mengirimkan utusan pada tahun 670-673 dan 713-741, yang pada tahun 724 datang pula seorang utusan bernama Kiu-mo-lo yang membawa hadiah kenang-kenangan untuk Kaisar Tiongkok. Sebagai balasan daripada pemberian itu, Kaisar Tiongkok memberikan suatu gelar “Tcho-teh’ong” (Jendral) kepadanya dan seratus potong kain sutra. Di samping itu pula kaisar menghadiahkan gelar kepada raja Sriwijaya dengan nama “Che-li-to-le-pa-mo” (Sri Indrawarman?) Gelar yang diberikan itu yang dapat disamakan dengan nama Sri Indrawarman sebagai raja, sama kedudukarmya dengan kaisar Tiongkok.

Jika masa pemerintahan Indrawarman dihubungkan dengan isi piagam Ligor (A), maka selisihnya 51 tahun. Kemungkinan pada tahun 775 Sri Indrawarman masih memerintah atau mungkin juga sudah digantikan oleh anaknya. Bukanlah raja yang mengeluarkan piagam tersebut dipersonifikasikan sebagai dewa Indra? Apabila dugaan itu benar, maka nama yang mengeluarkan piagam itu adalah Sri Indrawarman atau anaknya, yang juga bernama In ……..

Tidak dapat kita ragukan, walaupun ada sarjana yang mengatakan pusat kekuasaan Syailendra di Chaiya, tetapi pada masa-masa sebelumnya berpusat di Palembang. Tiga tahun kemudian setelah piagam Ligor, kekuasaan dinasti itu telah berada di Jawa Tengah berdasarkan piagam Kalasan 778 Masehi. Kalau kita berbicara mengenai asal mula dinasti tersebut, maka kita akan berhadapan dengan·beberapa teori dengan seribu satu macam alasan yang tidak berdasarkan fakta. Oleh sebab itu tak usahlah kita mencari-cari asal mula dinasti itu dari luar negeri, dan bukankah kita semua sependapat dalam penulisan sejarah Nasional bervisi Indonesia sentris? Kita mengakui adanya unsur-unsur dari luar yang mempengaruhi kebudayaan Indonesia sejak penetrasi Hinduisme; Islam dan sampai sekarang, namun unsur-unsur itu merupakan lapisan yang tipis sekali membalut kebudayaan Indonesia asli. Pendapat tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah, baik dalam segi kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kepercayaan bangsa kita.


Apabila kata “syailendra” berarti raja dari gunung, maka keturunan Dapunta Hyang itupun berasal dari gunung, yaitu dari gunung Dempo (Dapunta = Dempo + Hyang = Dewa) yang terletak di lereng bukit Barisan, yang merupakan sumber mata air dari anak sungai Batanghari Sembilan (lihat peta Sumatera Selatan dengan anak sungainya).

Prasasti Nalanda yang pernah dikeluarkan oleh raja Dewa Paladewa dari Benggala berisi permintaan raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa untuk mendirikan sebuah wihara Nalanda. (Rilakantasastri, Sri Vijaya, BEFEO XL, hal.267)

Disebutkan pula pada piagam itu, bahwa Balaputradewa cucu dari raja Jawa yang menjadi mustika keluarga Syailendra bernama Sri Wirawairimathana atau anak dari Samaragrawira yang kawin dengan Tara, putri raja Dharmasetu. Nampak dengan jelas gelar tersebut serupa dengan gelar raja Dharanindra dari piagam Ligor (B) dan piagam Klurak, di mana anaknya bernama Samaragrawira yang dapat diidentifikasikan dengan raja Samaratungga yang memerintah kira-kira dalam tahun 824 Masehi. (Damais, Liste desprincipales inscription dates de
l’Indonesie
, BEFEO XLVI, 1952, hal.27)

Apa yang telah kita ketahui, Balaputradewa adalah anak laki-laki dari Samaratungga yang memerintah Sumatera dalam abad ke IX Masehi. Oleh sebab itulah dan berdasarkan pemberitaan tersebut di atas Coedes beranggapan, bahwa pada pertengahan abad ke IX Masehi, baik Jawa maupun Sumatera dipimpin oleh dinasti Syailendra, dan kedudukan Palembang sebagai river’s port cavital tetap diakui sebagai asal mula nenek moyang mereka.

Besar kecilnya pengaruh river’s port cavital itu tergantung pada situasi dan kondisi, misalnya dalam tahun 683 pengaruh Palembang sebagai ibukota pelabuhan sungai, kemudian digantikan oleh Ligor dalam tahun 775, dan dalam tahun 824 dipusatkan di Jawa Tengah dan akhirnya kembali ke Palembang sebagai asal mulanya dinasti itu dalam tahun 850.

Penguasaan atas daerah di seluruh Nusantara berdasarkan hubungan keluarga yang dekat hubungan keluarga melalui garis keturunan Patrilinial, di sepanjang sejarah Eropah dengan dinasti Hapsburgnya atau di Indonesia khususnya merupakan suatu hal yang biasa. Apalagi kekuasaan Sriwijaya yang kita lihat mempergunakan sistem konfederasi, maka pusat dinasti tersebut yang mula-mula di Palembang, perlu kita renungkan dengan seksama dalam memecahkan persoalan tersebut untuk menuliskan sejarah Sriwijaya yang sebenarnya.

Pada masa pemerintahan dinasti Sung (960-1279), kerajaan San-fo-ts’i mengirimkan utusan ke Tiongkok berkali-kali, yaitu pada tahun 960, 962, 971, 972, 974, 975, 980, 983, 985 dan 988. Nama utusan yang datang ke Tiongkok pada tahun 960 dan 962 bernama Si-li-Hu-ta-hsia-li-tan dan Shih-li-Wu-yeh. Kedua nama ini menurut pendapat Moens adalah Sri Udayadityawarman. (Moens, Srivijaya, Yava en Kataha, TBG 77, 1937, hal.457)

Kemudian pada tahun 980 dan 983 tersebut raja Hsia-ch’ih atau dalam bahasa Melayu dengan kata “haji”. Utusan yang terakhir terpaksa tinggal di Kanton sampai tahun 990 Masehi, karena negerinya sedang mengalami kesulitan atau diserang oleh negeri She-p’o.

Pada tahun 992 utusan itu meneruskan perjalanan lagi untuk pulang ke negerinya, dan setelah sampai di negeri Campa, ia memperoleh berita mengenai negerinya kurang menyenangkan. Oleb sebab itu ia pulang kembali ke negeri Cina dan meminta pengaruh dari negeri itu untuk mengeluarkan suatu pernyataan resmi, di mana San-fo-ts’i di bawah perlindungan Tiongkok.

Dalam tahun yang sama, utusan dari Cho-p’o (Jawa) datang ke Tiongkok dengan membawa berita, bahwa negerinya berperang terus menerus dengan San-fo-ts’i. Mungkin sekali utusan dari Jawa tersebut adalah utusan dari raja Dharmawangsa, yang naik tahta pada tahun 991 Masehi. Pada permulaan abad ke 11, Sri Sudamaniwarmadewa menjadi raja Sriwijaya di mana kedudukan guru besar Dharmakirti dalam agama Budha sangat penting, karena membahas tentang Abhi-samayalankara. Itulah sebabnya antara tahun 1011 – 1023, seorang pendeta dari Tibet datang ke Sriwijaya (Atisa) untuk belajar pada guru besar tersebut. Betapa penting kedudukan Sriwijaya pada waktu itu, di samping pusat kuasa politik pengontrol selat Malaka dan selat Sunda, juga tidak kurang pentingnya sebagai pusat kebudayaan di Asia Tenggara yang mempunyai nilai Internasional.

Utusan berikutnya datang ke Tiongkok dalam tahun 1003, 1008, 1016, 1017 dan 1018 (O.W. Wolters, Tamoralingga, BSOAS XXI (1958), 406). Pada tahun 1003 raja Se-li-chu-la-wu-ni-ma-tiau-hwa mengirimkan dua orang utusan ke Tiongkok, di mana mereka mengatakan bahwa di negerinya akan didirikan sebuah candi Budha, dan mohon kepada Kaisar untuk memberikan nama dan genta untuk tujuan tersebut. Adapun candi itu diberi nama Ch’eng-t’ien-wan-shou (G.Ferrand, L’Empire Sumatranais de Criwijaya, Paris, 1922, hal. 19).

Kira-kira dalam tahun 1005 Sudamaniwarmawihara menjadi raja di Sriwijaya pengganti Balaputradewa, dan mendirikan candi Budha di Nagipatthana (Nilakantasastri, History of Srivijaya, 1949, hal.76) atas persetujuan Rajaraja dari kerajaan Chola. Kemudian ia digantikan oleh anaknya bernama Narawijayattugawarman. Rupa-rupanya hubungan antara Sriwijaya dengan Tiongkok dan Chola telah terjalin sedemikian erat, merupakan suatu rencana yang terarah untuk menghadapi segala kemungkinan yang datang dari Jawa. Suatu tindakan yang hampir serupa dengan Von Bismark pada akhir abad ke-19, dengan menjalankan politik tidak saling menyerang yang dikenal dengan istilah Ruckversicherungstraktat.

Konflik antara Sriwijaya dengan raja Dharmawangsa tak dapat dihindari, sehingga akhirnya kekalahan di pihak Jawa Timur yang disebut dalam piagam Calcutta telah melumpuhkan kekuatan maritim pada tahun 1016/1017 Masehi. Apabila istilah “pralaya” pada piagam tersebut dapat diartikan suatu kekalahan total, maka Sriwijaya yang berpusat di Palembang telah mencapai kesempurnaannya sebagai kerajaan maritim di daerah Asia Tenggara, dan secara tak langsung telah mengancam kedudukan Chola dan Tiongkok sebagai dua kekuatan besar pada waktu itu. Di dalam buku Chu-fan-chi yang disusun oleh Chao-ju-kua pada masa pemerintahan dinasti Sung (960 – 1279·) mengatakan sebagai berikut:

….. San-fo-ts’i terletak tepat di sebelah selatan Ch’uan-hou rakyatnya bersarong kain kapas dan berpayung sutera. Mereka pandai berperang baik di laut maupun di darat. Organisasi ketentaraannya sangat rapi. Bila rajanya wafat, rakyatnya bercukur gundul sebagai tanda belasungkawa. Mereka yang berbelasungkawa menceburkan diri dalam minyak mendidih. Adat itu disebut “T’ung-sheng-ssu” artinya sehidup semati. Ada area Budha yang disebut gunung emas dan perak. Rajanya biasa disebut ”hakekat” ular. Mahkotanya emas, berat sekali. Hanya baginda saja yang kuat mengangkatnya. Barangsiapa kuat mengangkatnya jadi penggantinya. Negeri itu terletak di tepi laut dan merupakan bandar penting, mengawasi masuk ke luar kapal negeri-negeri lainnya. Dahulunya menggunakan rantai besi sebagai batas bandar. (Prof. Dr. Slametmuljana, Sriwidjaja, Arnoldus Ende-Flores Nusatenggara Timur, hal.198)

Hubungan baik antara Sriwijaya dengan Chola tidak lagi berjalan semestinya, bahkan berubah menjadi permusuhan yang tak dapat dielakkan pada tahun 1025. Kerajaan Chola telah dapat menaklukkan daerah-daerah sekitarnya dan nafsu imperialismenya tidak hanya terbatas pada daerah sekitar, tetapi sebenarnya ditujukan pada daerah-daerah yang mengakui kekuasaan Sriwijaya yang terletak di semenanjung Malaya.

Berdasarkan isi piagam Tanjore yang dikeluarkan pada tahun 1030, Rajendracola telah menyerbu Kadaram/Kataha dan Sriwijaya (R.C. Majumdar, Ancient Indian Colonies II, hal.171). Meskipun kedua negeri itu telah diduduki (raids) namun raja-raja Chola mempunyai kebiasaan memberikan kekuasaan kembali kepada raja-raja yang ditaklukkan untuk memerintah negerinya sendiri, asal saja mengakui Chola sebagai yang dipertuan. Dalam rangka itu kiranya, pada tahun 1028 raja Sriwijaya yang bernama Shih-li-Tieh-hua atau Sri Dewa masih tetap berhubungan dengan kerajaan Tiongkok. Sri Dewa yang menggantikan ayahnya yang telah ditawan oleh kerajaan Chola, telah berusaha mempererat hubungan dengan Tiongkok dan kemudian diteruskan oleh pengganti-penggantinya sampai pada tahun 1178 Masehi.

Antara tahun 1030-1064 tidak banyak kita ketahui mengenai kerajaan Sriwijaya, tetapi berdasarkan isi piagam Kanton (1079 M), tersebut nama Tio-hua-ka-lo adalah Lord of the Land of San-fo-ts’i atau supreme Chief of san-foTs’i. Piagam itu memberitakan tentang perbaikan candi Tien Ching atas biaya raja San-fo-ts’i yang bernama Ti-hua-ka-lo atau Rajendra Dewa Kulottungga. Apabila nama terakhir ini sama dengan Sri Indra Dewa Kulottunggawarman, maka raja tersebut tentunya berasal dari dinasti Syailendra dan bukan berasal dari keturunan Chola (India) yang pernah dikemukakan oleh beberapa orang ahli.

Menurut berita Chao-ju-Kua (Paul Wheatley, Geographical notes on some Commoties
involved in Sung maritime Trade
, JRASMB, XXXII, 2, 1959), kerajaan Sriwijaya di Sumatera mulai mengalami kemunduran pada akhir abad ke XII. Kota pelabuhan Chan-pei (Jambi) yang menjadi bagian daerah Melayu tidak lagi termasuk daerah kekuasaan Sriwijaya, karena dalam tahun 1082, 1088 telah mengirimkan utusan ke Tiongkok atas kemauan sendiri (Hirth & Rockhill, Chau ju-kua, catatan 18, hal.66). Sedangkan daerah-daerah yang masih termasuk kekuasaan Sriwijaya pada
waktu itu adalah sebagai berikut: Tan-ma-ling, Ling-ya-ssu-chia, Fo-lo-an, Sin-t’o, Chien-t’o, Chien-pi dan Lan-wu-li. Mungkin pada waktu itu Sriwijaya sedang terjadi pergantian kekuasaan. Tetapi kemudian pada permulaan abad ke XIII Masehi, penguasa maritim itu muncul kembali kepribadiannya sebagai suatu kekuatan yang pernah memiliki higemoni tunggal di Asia Tenggara.


Munculnya kembali kerajaan itu pada permulaan abad XIII pada saat historis, saat mana di India baru muncul kekuasaan Islam di bawah pimpinan kesultanan Delhi dan di negeri Tiongkok sendiri pada waktu itu sedang terjadi perpecahan dengan timbulnya dinasti Sung Selatan dengan ibukota Nanking. Kesempatan yang baik ini dipergunakan oleh Sriwijaya untuk mempengaruhi daerah sekitarnya, seperti apa yang digambarkan oleh Chao-Ju-kua, bahwa Sriwijaya mempunyai jajahan tidak kurang dari 13 negara (Hirth & Rockhill, Chau ju-kua, catatan 18, hal.62) seperti P’eng-feng, Teng-ya-nung, Ling-ya-ssu-chia, Chi-lan-tan, Fo-lo-an, Jih-lo-t’ing, Ch’ien-mai-pa-t’a, Tan-ma-ling, Chia-lo-hsi, Pa-lin-feng (Palembang), Sint’o (daerah Sunda), Chien-pi (Jambi), Lan-wu-li dan Si-lan (Seilon). Apabila benar laporan Chao-Ju-kua itu, maka jalan dagang tradisional via selat Malaka telah dikuasai kembali secara intensif oleh Sriwijaya, di mana Palembang sebagai river’s port cavital telah menjadi pusat perdagangan pelayaran yang sangat menentukan.

Panorama yang dilukiskan oleh Chao-Ju-kua mengenai ibukota Sriwijaya dalam abad XIII dan XIV terletak di pinggir sungai dan penduduknya terpencar mendiami pinggir sungai Batanghari Sembilan ke rumah di atas rakit dan ke rumah bertiang. Sampai saat ini masih nampak di sana-sini dan masih segar sekali, walaupun di kota Palembang sendiri telah banyak mengalami perobahan dan pertumbuhan dengan gedung batu yang cukup modern dengan jembatan Amperanya, yang menghubungkan daerah Ulu dan Ilir kota tersebut.

Kalau kita berdiri di atas jembatan Ampera yang melintasi sungai Musi, kita akan melihat kapal-kapal tengker Pertamina/Asing, Pelni, perahu-perahu besi, perahu-perahu motor/ketek yang hilir mudik berisi muatan. Rumah-rumah di atas rakit yang terapung di atas air, mesjid/langgar dengan menara azannya yang menjulang tinggi, perahu-perahu kecil penjual jajan/soto dan lain-lain, perahu tambangan, warung-warung di atas rakit, perahu-perahu penjual ikan/sayur, wanita-wanita yang sedang mandi, mencuci pakaian dan sebagainya, anak-anak nakal yang telanjang bulat bercemplungan di air menikmati daily water sportnya, tidak akan jauh bedanya dengan gambaran abad XIII dan XIV, baik mengenai bentuk atau kehidupan masyarakat di daerah sungai, yang sibuk dengan berbagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Ada pula barang dagangan yang sangat menarik pada zaman dulu, yaitu “lada/merica” sebagai hasil utama dan terbaik di daerah ini (Mangaradja O.P., Tuanku Rao, Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964, hal.573). Kalau kita perhatikan dengan seksama, sejak awal sampai kepada zaman Kesultanan Palembang, bahan dagangan utama ini amat mempengaruhi politik kerajaan, pangkal sebab ekspansi, pokok pertikaian dan pergeseran antara river’s port cavital di daerah ini, bahkan sumber kemakmuran dan sumber keruntuhan pula, di samping hasil rempah-rempah dari daerah Maluku.

Berdasarkan isi piagam Grahi 1105 Caka ( 1183 M), gelar raja Sriwijaya adalah “Crimat” suatu gelar yang tidak dikenal dalam tradisi dinasti Syailendra. Mungkin gelar tersebut hanya dikenal oleh raja-raja Melayu saja. Nama lengkap raja yang tersebut pada piagam itu adalah Crimat Trailokyraja Maulibhusanawarmadewa. Seratus tahun sesudah piagam Grahi, piagam Amogapaca yang ditemukan di tepi sungai Langsat dahulu sungai Batanghari, menyebutkan pula gelar raja yang sama dengan itu. Oleh karena itu, raja tersebut dapat dianggap raja Melayu yang pernah tunduk pada Sriwijaya, dan sekarang telah membebaskan diri. Pengiriman utusan Sriwijaya terakhir ke Tiongkok pada tahun 1178, dan kemudian antara tahun 1178-1183 kondisi Sriwijaya mengalami perubahan, perubahan mana kita lihat kekuasaannya telah diambil alih oleh Melayu, di bawah pimpinan Crimat Trailokyaraja Maulibhusanawarmadewa.

Menurut berita Chu-fan-chi yang disusun oleh Chao-Ju-kua pada tahun 1225, jadi 42 tahun setelah pengeluaran piagam Grahi, masih menyebutkan kerajaan San-fo-ts’i yang memiliki jajahan yang berjumlah 15 jajahan tanpa menyebutkan kerajaan Melayu. Ini berarti kerajaan San-fo-ts’i masih tetap memegang peranan penting sebagai suatu kekuatan maritim di daerah sebelah barat Indonesia, sedangkan pada tahun 1225 kerajaan Melayu yang berpusat di Dharmacraya mulai melepaskan diri dari kerajaan Sriwijaya.

Hubungan yang longgar ini telah dipergunakan oleh raja Kertanegara dari Singasari untuk mengirimkan tentaranya ke Sumatera Tengah yang dikenal dengan nama Pamalayu. Peristiwa ini berlangsung sejak tahun 1275 sampai dengan tahun 1292. Bagaimanakah hasilnya Pamalayu ini tidak kita ketahui dengan pasti, namun isi piagam Amoghapasa yang telah diketemukan di sungai Langsat (daerah udik sungai Batanghari dekat Sijunjung), mengatakan bahwa pada tahun 1286 atas perintah Maharajadhiraja Sri Kertanegara Wikramadharmottunggadewa telah memindahkan sebuah arca Amoghapasalokeswara dari bhumi Jawa ke Suwarnabhumi. Pemberian hadiah itu telah membuat seluruh rakyat bergirang hati, terutama sekali rajanya yang bernama Crimat Tribhuwana raja Mauliwarmadewa (F.M. Schnitger, Forgotten Kingdoms in Sumatra, Leyden, 1939, IV).

Baca Juga


Setelah peristiwa itu, kita tidak memperoleh keterangan mengenai kerajaan Sriwijaya, dan baru pada pertengahan abad ke-14 terdapat seorang raja yang memerintah di Kanakamendinindra bernama Adityawarman. Andaikata nama raja terakhir ini dapat disamakan dengan Arya Dhamar (Kidung Pamancangah, disalin oleh C.C.Berg. Uitgeverij C.A.Mees, Santpoort, 1929), maka dalam peristiwa penaklukan pulau Bali 1343 ia ikut serta bersama dengan Patih Gajahmada.

Seperti telah kita ketahui bahwa Adityawarman adalah putra Majapahit keturunan Melayu, dan sebelum ia diangkat menjadi raja Melayu, pernah menjabat “warddhamantri” dengan gelar Aryadewaraja pu Aditya. Pada tahun 1286 ia sampai di Melayu dan merehabilitasi kerajaan bekas peninggalan Mauliwarmadewa, dan otomatis Palembang sebagai kota bandar di bawah awasannya. (B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies I, Sumur Bandung, 1960, hal.16)

Kira-kira pada tahun 1347 pengaruh kekuasaannya telah sampai ke daerah Pagaruyung (Minangkabau) dan mengangkat dirinya sebagai Maharajadiraja dengan gelar Adityawarmodaya Pratapaparakramarajendra Maulaimaliwarmadesa.

Menurut catatan sejarah dinasti Ming, pada tahun 1371 river’s port cavital yang berpusat di Dharmacraya (Jambi) telah mengirimkan utusan ke Tiongkok, di mana utusan itu telah membawa burung Merak, beruang, burung bayan dan sepucuk surat yang ditulis di atas lembaran emas. Pada tahun 1373 datang lagi utusan dari San-fo-ts’i dengan rajanya bernama Ta-ma-sha-na-a-che. (G. Coedes, The Indianized states of Southeast, 1928, hal.201-243)

Kemudian dalam tahun 1375, ada lagi utusan dari daerah Palembang yang bernama Ma-na-ha-Pao-lin-pang sampai di Tiongkok, dan dalam tahun 1376 San-bo-tsai (San-fo-ts’i) ditaklukkan oleh Jawa. (G. Ferrand, L’Empire Sumatranais de Criwijaya, Paris, 1922, hal.25-26)

Dapat disimpulkan secara keseluruhan daerah Sumatera bagian Selatan pada akhir abad ke 14 terdapat tiga river’s port cavital yang telah mengadakan hubungan langsung dengan Tiongkok yaitu Dharmacraya (Melayu), San-fo-ts’i di Palembang dan Minangkabau.

Setelah San-bo-tsai ditaklukkan oleh Jawa pada akhir abad ke 14 (ekspedisi Tumasik 1377-1397) (O.V. Wolters, The Fall of Srivijaya in Malay History, Ocford University Press, Singapore, 1970, hal.76-77), sebagai realisasi dari sumpah Palapa Patih Gajahmada, yang oleh beberapa orang ahli dianggap sebagai lanjutan politik-magis Kertanegara, telah mengakhiri kekuasaan tunggal Sriwijaya yang pernah berpusat di Palembang.

Rupa-rupanya ekspedisi Tumasik yang telah menelan waktu 20 tahun lamanya suatu masa yang cukup lama dalam suatu ekspedisi, telah melumpuhkan kekuasaan Sriwijaya menjadi pudar tenggelam di kaki langit keruntuhannya pada akhir abad XIV. Sementara itu Islam sebagai ideologi telah berkembang di daerah Sumatera Utara, sebagai akibat keadaan dan motif politik yang menguasainya. la merupakan alat politik yang tajam bagi penguasa-penguasa bandar di sepanjang selat · Malaka, baik dipergunakan terhadap perdagangan dengan India, ataupun terhadap kekuasaan Budha – Sumatera, maupun terhadap ekspansi Tiongkok. Penetrasi Islam mendapat tanah subur dalam kraton-kraton dagang ini didasarkan atas perhitungan politik dan ekonomi, sehingga bandar-bandar baru seperti Samudera, Perlak, Zabag (terletak di muara sungai Batanghari), Malaka, Palembang dan Sekampung (daerah OKI) menjadi pusat politik, ekonomi dan kebudayaan, dan sekaligus merupakan pusat-pusat ekspansi baru dengan Islam sebagai motor pendorong yang kuat.

Palembang sebagai kota-dagang/pelabuhan internasional dan bekas ibukota kerajaan sungai (Sriwijaya) telah tunduk kepada kekuasaan Majapahit, setelah ekspedisi Tumasik pada akhir abad XIV. Oleh karena hubungan kekuasaan Majapahit atas daerah ini tidak begitu mantap, maka terjadilah kekacauan-kekacauan dalam masyarakat dalam menghadapi kekuasaan yang baru itu, bahkan kemudian tempat itu menjadi tempat pelarian perompak-perompak Cina. Pada tahun 1407, daerah ini pernah dibebaskan oleh armada Ming dalam rangka ekspedisinya ke Nan Yang (Asia Tenggara) di bawah pimpinan laksamana Baji Sam Po Bo alias Cheng Ho, dan di Jawa sendiri terkenal dengan nama Sam Po Toa Lang. (Nio Joe Lan, Tiongkok sepanjang Abad, Balai Pustaka, Jakarta, 1952, hal.140)

Rupa-rupanya kaisar Yang Lo dari dinasti tersebut, telah mempergunakan kesempatan yang baik itu pada saat historis, saat mana di daerah Sumatera Selatan pada akhir abad ke XIV dan di Jawa pada awal abad ke XV sedang terjadi keresahan. Dalam rangka untuk menguasai daerah perairan Asia Tenggara yang dulu pernah dirintis oleh kaisar Kubilai Khan dari dinasti Yuan, yang mempunyai motif politik yang sama dengan raja Kertanegara, Islam sebagai alat yang ampuh bagi pelaksanaan ekspedisi itu dengan mempergunakan orang-orang Cina muslim yang berasal dari Yunan (Mangaradja O.P, Tuanku Rao, Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964, hal.652-653), justeru lalu-lintas niaga di perairan tersebut pada abad ke XIII, XIV dan XV telah dikuasai oleh pedagang-pedagang muslim (Drs. Uka Tjandrasasaita, Masuknya Islam ke Indonesia, Bulletin Yaperna, No.11 Th.III, Yayasan Perp.Nas, Jkt, 1976, hal. 79). Betapa penting peranan Cheng Ho dalam pelaksanaan ekspedisi tersebut, Mio Joe Lan mengatakan:

….. Cheng Ho telah melakukan 7 pelayaran dan di antaranya 6 kali atas perintah Yung Lo.
Pelayaran pertama dilakukan dalam 1405 ….. Armada ini bertolak ke Indo-China dan Campa, dengan menyinggahi Palembang. Pada masa itu yang menjadi raja di Palembang ialah seorang Tionghoa, Chen Tsu I ….. (Chen Tsu I kalah dalam pertempuran itu; ia ditangkap dan dibawa ke hadapan kaisar Yung Lo) …..
Perjalanan ketiga dimulai dalam 1412. Kini Cheng Ho mengunjungi pulau Bintan, mengedari Sumatera dengan menyinggahi Aceh dan Palembang … dan mampir di Jawa (Semarang) ….. Dalam perjalanan kelima yang dimulai dalam 1412, Cheng Ho mengunjungi Siam dan Sumatera. Ekspedisi keenam ….. Cheng Ho bertolak dalam 1424 dan tujuannya ialah Sumatera untuk ….. (Nio Joe Lan, Tiongkok sepanjang Abad, Balai Pustaka, Jakarta, 1952, hal.140-141)

Tempat-tempat yang dikunjungi oleh Cheng Ho itu seperti Kambija (Campa), Palembang, Jawa (Semarang), Aceh, Siam dan lain-lain ditempatkan pemuka-pemuka Islam Cina dari mazhab Hanafi dan dikoordinir oleh seorang konsul-jendral bernama Haji Gan Eng Tje.

Setelah Raja Rayam Wuruk wafat, kerajaan Majapahit mulai menurun, dan pada tahun 1401-1406 terjadi perang perebutan mahkota antara Wikramawardhana dengan Bre Wirabhumi, yang terkenal dengan perang Paregreg. Ditinjau dari segi politik dan ekonomi, peristiwa tersebut telah melemahkan Majapahit, sehingga Palembang bekas pusat kerajaan Sriwijaya yang dari segi yuridis telah termasuk kekuasaannya, belum mendapat perhatian khusus. Baru pada tahun 1443 Majapahit menempatkan seorang wakilnya bernama Arya Damar atau Swan Liong. Dengan pangkat Adipati, yang biasanya dijabat oleh keluarga raja. Kemungkinan besar Palembang antara tahun 1407-1443 dikuasai oleh orang-orang Cina Moslem, sedangkan di daerah pedalaman (daerah Uluan) berdiri sendiri. Di samping tugas Arya Damar sebagai Adipati, ia juga sebagai kapten Cina Moslem yang ditempatkan di Kukang (Palembang) atas persetujuan Haji Gan Eng Tju.

Arya Damar alias Swan Liong mendapat hadiah seorang puteri Cina yang sedang hamil dari Prabu Brawijaya. Pada tahun 1455, puteri Cina tersebut melahirkan anak lelaki yang diberi nama Jin Bun atau lebih terkenal dengan nama Raden Patah, yang dilahirkan dan dibesarkan di Palembang sebagai raja pertama dan pendiri kerajaan Demak. (Prof. Dr. Slametmuljana, Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara, Bhratara, Jakarta, 1968, hal.94-95)

Perlu digaris bawahi, bahwa Arya Damar yang pernah ikut serta dengan Gajahmada dalam ekspedisi ke Bali 1343, bukanlah Arya Damar alias Swan Liong, walaupun kedua orang tokoh tersebut secara genialogis ada hubungannya dengan Majapahit. Rupa-rupanya nama “Arya Damar” itu merupakan nama ideal bagi penguasa-penguasa Jawa untuk daerah ini, justeru banyak menghasilkan getah (damar), yang sekarang nama itu melekat pada nama sebuah dusun yang terletak di daerah OKI bernama Pedamaran.

Arya Damar waktu kecilnya dididik secara Islam dan pernah mendapat tuntunan Raden Rachmat atau Sunan Ngampel, sehingga menjadikan ia seorang yang fanatik terhadap agama tersebut. Namanya diubah menjadi nama Islam yaitu Arya Dilah atau Jaka Dilah. Tidak begitu jelas sampai kapan ia menjadi Adipati di Palembang dan dimana ia mangkat.

Tidaklah benar apa yang dikatakan oleh P. de Roo faille, bahwa ia diusir dari Palembang karena mengganggu istri orang lain. Bagaimanapun juga namanya terhormat di kalangan masyarakat Palembang, dan ia dikuburkan tidak jauh dari Taman Pahlawan yang terletak di kampung 20 Ilir. Pesarian itu pernah dipugar oleh Bapak Bambang Utoyo, sedangkan bekas istananya terletak di 2 Ilir Palembang di dekat makam Ki Gede Ing Suro yang sedang dipugar oleh Dinas Purbakala (1978).

Ketika Arya Damar mendengar berita kemenangan mengenai Raden Patah di Jawa, maka dalam tahun 1478 ia melakukan pesta-pora sebagai tanda bersenang hati dan tujuh tahun kemudian ia mangkat. (H. Budenani, Sejarah Sriwijaya, Tarate, Bandung, 1974, hal. 66)

Sebagai pengganti Arya Damar (Arya Dilah), tersebut nama Dipati Karangwidara, yang pernah melakukan perjalanan ke daerah pedaleman untuk memperkenalkan dirinya sebagai penguasa yang sah di daerah ini. Ia disambut oleh penguasa-penguasa setempat seperti daerah Lematang, Musi Ogan, Komering dan daerah-daerah uluan lainnya. Mungkin perjalanan ke daerah Uluan itu dimaksudkan untuk memperbaiki hubungan, yang selama ini hubungan antara ibukota Kesultanan dengan daerah uluan tidak lancar, sehingga hasil-hasil dari pedalamanpun masuknya ke kota Palembang tidak lancar seperti pada zaman Sriwijaya masih berkuasa. Tetapi
setelah Palembang dapat dibebaskan dari pengaruh bajak laut Cina, maka mulailah peranan kota tersebut sebagai river’s port cavital, yang pernah memegang peranan penting dalam beberapa abad sebelum timbul kesultanan Palembang.

Pada waktu Dipati Karangwidara memerintah Palembang, keadaan kota telah ramai sekali, rumah-rumah yang terapung di atas air pulih kembali dan rumah-rumah panggung mulailah berdiri di atas runtuhannya, dan daerah uluan sendiri sudah mulai teratur pemerintahan yang dipimpin oleh pangeran-parawatin setempat. Palembang sebagai negeri asal Raden Patah, dengan segala senang hati mengakui kekuasaan Demak, dan dengan demikian mulailah peranan Demak di daerah ini. Raden Patah adalah seorang penguasa yang sadar, bahwa Demak dapat menjadi kerajaan maritim yang besar dapat menggantikan Sriwijaya, apabila ia dapat menguasai selat Malaka dan selat Sunda. Dalam kerangka usaha itu pulalah, di Palembang ditempatkan seorang panglima perang yang tangguh bernama Pangeran Sideng Lautan.***

Wallahua’lam

***Rujukan: Sejarah Daerah Sumatera Selatan; Drs. Ma’moen Abdullah, dkk; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel; 1991; halaman 25-40

kembali ke atas • indeks pilihan • download • iklan kecik

6 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca