infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Palembang Dalam Catatan Ma Huan Sekretaris Cheng Ho

Indeks • Download • Galeri • Promosi • Pranala • Cari

Dari tujuh misi pelayaran Ceng-Ho ke Asia dan Afrika di bawah kekuasaan dinasti Ming yang memakan waktu 28 tahun itu, ternyata 3 diantara 7 misi itu Ceng-Ho mengunjungi Kota Palembang, kedatangan Ceng-Ho beserta 20.000 tentara Kekaisran China itu pada kemudiannya menghasilkan catatan mengenai kondisi Kota Palembang waktu itu. Catatan itu mencakup Kondisi Kota, Sosial dan Budaya di Palembang.

Catatan tersebut ditulis oleh Sekertaris Cheng-Ho yang bernama Ma-Huan. Catatan Ma-Huan termasuk catatan mengenai Kota Palembang terangkum dalam karya monumentalnya yang kelak diberi judul “Yi Ya Sheng Lan” yang mana artinya adalah  “Pemandangan Indah di Seberang Samudera”.

Catatan Ma-Huan tentang kondisi Kota Palembang waktu itu dapat dijumpai dalam buku karya Kong Yuanzi yang berjudul “ Cheng Ho Muslim Tionghoa: Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah Nusantara”. Yang mana dalam buku tersebut menampilkan teks terjamahan dari naskah Yi Ya Sheng Lan yang membahas mengenai Palembang.

Berikut ini petikan naskah Yi Ya Sheng Lan yang mengishkan tentang kondisi Kota Palembang pada saat dikunjungi oleh Ceng-Ho;

Pelayaran dengan angin buritan dari Pulau Jawa ke Palembang memakan waktu 8 hari 8 malam. Palembang dahulu wilayah Kerajaan Sriwijaya. Di sebelah timurnya adalah Pulau Jawa, sedangkan sebelah barat adalah Malaka.

Di sebelah selatan dan utara terdapat gunung yang tinggi dan laut luas. Pada saat tiba di pelabuhan Palembang, kapal harus ditambahkan pada tonggak di pantai di mana terdapat banyak menara batu bata. Jika hendak memasuki pelabuhan, perlu menggunakan kapal kecil. Pada waktu itu Palembang dikuasai oleh kerajaan Jawa.

Di Palembang terdapat banyak perantau Tionghoa yang mengungsi dari Provinsi Guangdong dan Quanzhou (Fujian Selatan) Tiongkok. “satu musim menanam padi, tiga musim memungut panen emas”, demikian pepatah orang yang memuji kesuburan tanah Palembang.

Wilayah ini sebagian besar adalah air, tanahnya sedikit. Orang-orang pandai bertempur dalam air. Tokoh-tokoh terkemuka tinggal di darat, sedangkan rakyat kecil berumah di atas rakit yang tertambat pada tonggak di pantai. Setiap hari air pasang dua kali, pagi dan malam.

Orang yang berumah di atas rakit tidak terganggu oleh pasang surutnya air, sehingga penghuninya hidup tentram. Di samping itu juga memudahkan pemindahan rumah dengan cara melepas tambatan rakitnya.

Kebiasaan dan adat istiadat orang Palembang sama dengan orang Jawa. Palembang menghasilkan berbagai wangi-wangian, antara lain semacam kemenyan yang tidak terdapat di Tiongkok dan Negara lainnya. Kemenyan istimewa itu bukan main harumnya.

Di tempat itu terdapat burung baceros sebesar bebek. Bulunya hitam, lehernya panjang, dan paruhnya meruncing. Tengkoraknya beberapa millimeter tebalnya. Bagian atas tengkoraknya berwarna merah di luar dan kuning di dalam sehingga amat sedap di mata dan dapat dipakai sebagai pegangan keris.

Selain itu terdapat pula ayam casoari (cassowary)- sejenis ayam kalkun. Di pegunungan Palembang terdapat tapir yang bentuknya seperti babi raksasa. Tinggi badannya kira-kira satu meter. Adapun ternak, unggas, sayur-mayur, dan buah-buahan, yang ada di Pulau Jawa umumnya terdapat pula di Palembang.

Barang-barang yang senang dibeli oleh penduduk setempat antara lain manik-manik yang berwarna-warni, “ding” perunggu (semacam alat pemasak kuno yang berpegangan dua dan berkaki tiga, atau empat), porselen biru bercampur putih, kain sutera beraneka warna, dan lain-lain.

Orang-orang senang senang berjudi dengan main catur atau sabung ayam. Uang kepengan Cina berlaku pula di pasar. Dan kainpun dijadikan sebagai pengganti uang.

Begitulah catatan Ma-Huan mengenai kondisi Palembang waktu itu, dari gambaran tersebut dapatlah dimengerti bahwa Palembang pada masa itu merupakan bagian kekuasaan Raja Jawa (Majapahit). Kondisi Kota Palembang digambarkan sebagai kota Air, meskipun juga wilayahnya luas mencakup Pegunungan. Sementara dari sisi Budaya rupanya waktu itu Palembang disamakan dengan Jawa. Palembang juga digambarkan kaya akan Flaura dan Fauna, sementara penduduknya digambarkan suka bermain judi.***

***Disadur dari sebuah tulisan di laman BungFei.com

359 hit

harga emas • world monitor • almanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137782


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp232.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp111.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect