infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Hiroshima, 6 Agustus 1945 pukul 08.15 pagi. Kota yang berpenduduk 350 ribu itu baru saja siap-siap untuk mulai melakukan aktivitas. Tiba-tiba tanpa peringatan lebih dulu bom atom pertama dijatuhkan di kota nomor tujuh terbesar di Jepang itu.

Boeing B-29 Superfortress Enola Gay landing after the atomic bombing mission on Hiroshima, Japan. US Air Force Photo

Begitu dahsyatnya ledakan bom pemusnah massal itu. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana paniknya penduduk kota Hiroshima. Baik para bapak, ibu, dan anak-anak. Lebih dari 70 ribu orang tewas secara mengenaskan. Masih ribuan orang lagi yang meninggal secara mengerikan akibat terkena debu radio-aktif atau radiasi bom yang amat hebat itu.

A view of Hiroshima after the bombing. National Archives photo.
A mushroom cloud rises over Hiroshima after the atomic bomb exploded at 9:15 AM on August 6, 1945. Photo by the Library of Congress.

Tiga hari kemudian (9 Agustus 1945) Nagasaki menjadi sasaran bom berikutnya. Seperti juga Hiroshima, kota Nagasaki juga hancur lebur dan mereka yang tewas akibat ledakan bom kedua ini sebanyak 75 ribu orang. Sekalipun peristiwa ini sudah berlangsung 64 tahun lamanya, tapi sampai kini dunia masih tetap berkabung.

Devastation in Nagasaki, 1945. Courtesy Imperial War Museums.

Dengan dijatuhkannya bom atom di kedua kota itu, maka Kaisar Hirohito yang sangat dimuliakan rakyatnya memerintahkan agar perang dihentikan. Bala tentara Dai Nippon yang bersemboyan Asia Timur Raya akhirnya takluk tanpa syarat kepada Sekutu dalam PD II yang menelan korban jutaan orang.

Hirohito | Kaisar Jepang ke-124 (Wikipedia)
Hirohito di Hiroshima (Wikipedia)

Bertekuk lututnya bala tentara Jepang itu rupanya tidak banyak diketahui bangsa Indonesia. Karena pada masa pendudukan Jepang semua radio disegel, hingga boleh dikata orang Indonesia tidak pernah mendengar dan buta terhadap berita-berita luar negeri. Warga yang memiliki radio juga sangat sedikit. Pemilik radio memiliki tanda khusus di depan rumahnya.

Yang paling ditakuti oleh warga ketika itu adalah Kempetai (polisi militer Jepang). Mereka yang kedapatan mendengarkan berita luar negeri, dibawa ke Hoofdbureau (Hopbiro), semacam markas kepolisian yang kala itu berkantor di bagian barat Monas sekarang ini. Begitu bengisnya tentara Jepang, hingga mereka yang dibawa ke markas polisi atau militer saat pulang hanya tinggal nama.

A Kempeitai uniform for a 曹長 (Sōchō) (Wikipedia)

Bahkan, Bung Karno dan Bung Hatta, yang sangat dekat dengan Jepang, tidak mengetahui bila negeri matahari terbit ketika itu telah bertekuk lutut. Terbukti keduanya ber sama dr Radjiman ketika pada 14 Agustus 1945 kembali ke Jakarta masih belum yakin Jepang sudah menyerah. Padahal ketiga tokoh itu baru saja bertemu dengan Jenderal Besar Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, di Dalath sekitar 150 km dari kota Saigon (kini Ho Chi Minh City).

Kalau Bung Karno dan Bung Hatta sendiri belum yakin akan kekalahan Jepang, apalagi rakyat biasa. Karena sejauh ini rakyat selalu disuguhi berita-berita kemenangan Jepang. Sementara gerakan Tiga A (Jepang Pemimpin Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Cahaya Asia)) terus dikumandangkan, termasuk di sekolah-sekolah, universitas dan kantor-kantor.

Gerakan Tiga A didirikan pada 29 April 1942, sebulan setelah Jepang menduduki Indonesia. Gerakan ini lahir dari pemikiran Hitoshi Shimizu, kepala Departemen Propaganda Jepang (Sendenbu). Semboyan gerakan ini adalah “Nippon Pelindung Asia, Nippon Pemimpin Asia, Nippon Cahaya Asia,” yang bertujuan untuk menanamkan semangat membela Jepang dalam menghadapi Sekutu.

Poster Gerakan 3A (Wikipedia)

Gerakan Tiga A (3A) adalah gerakan propaganda yang dibentuk oleh Jepang selama pendudukan mereka di Indonesia pada Perang Dunia II, dengan tujuan untuk mendapatkan dukungan rakyat Indonesia.

Tidak heran kalau takluknya Jepang itu tidak banyak diketahui. Hanya sejumlah orang yang bekerja ‘di bawah tanah’ yang mengetahui melalui radio luar negeri. Mereka tak berani menyebarkan berita itu terang-terangan. Hal inilah yang membuat suasana kota Jakarta tegang dan penuh kesibukan.

Pada 15 Agustus, berita menyerahnya Jepang ke tangan sekutu makin santer. Sementara golongan muda memaksa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga. Karena menolak desakan para pemuda, keduanya kemudian diculik ke Rengasdengklok, dekat Karawang, Jawa Barat.

Kedatangan tentara Jepang bukan soal mendadak bagi bangsa Indonesia. Dalam buku Ramalan Jayabaya disebutkan akan adanya kedatangan orang-orang katai (pendek). Masa itu karena orang Jepang bertubuh pendek mendapat julukan kate.

Kini, berkat gizi, bangsa Jepang jauh lebih tinggi dan enegik dari bangsa kita. Kalau dulu tinggi rata-rata orang Jepang tak lebih 150 cm, sekarang mencapai 170 cm sampai 180 cm. Demikian pula badan mereka, kini jauh lebih tegap.

Menurut ramalan Jayabaya, orang kate ini hanya berkuasa seumur jagung dan akan membebaskan Indonesia dari cengkeraman Belanda. Ketika dengan mendadak menyerang Pearl Harbour, pusat kekuatan Angkatan Laut AS (8 Desember 1941), dalam waktu singkat angkatan perang Jepang merebut dan menduduki Singapura (15/2/1942) yang merupakan benteng pertahanan Inggris/Sekutu.

Setelah menaklukkan Kalimantan dan Sumatra pada 1 Maret 1942, Jepang mendarat di tiga tempat di Jawa. Banten dan Eretan (Jawa Barat) serta Kranggen (Jateng). Kekuatan Belanda di Hindia Belanda kala itu berjumlah 40 ribu orang (4 divisi). Di antaranya terdapat pasukan AS, Inggris, dan Australia. Sedangkan, kekuataan Jepang jauh lebih besar, yaitu 6-8 divisi (100 ribu hingga 120 ribu orang).

Batavia pun dikosongkan. Setelah dibombardir dari laut pada 5 Maret 1942, Batavia dinyatakan sebagai kota terbuka dan tidak akan dipertahankan. Tiga hari kemudian (8 Maret 1942), Gubernur Jenderal Tjarda van Stanken borgh menyatakan menyerah secara resmi kepada pasukan Jepang.

“Wij Sluiter nu Vrwed totbeteremtijden leve de Kongen (Kita berhenti sampai di sini, sampai jumpa di hari-hari yang lebih baik. Hidup Ratu).”

Demikian pernyataan sang jenderal. Sejak saat itu penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun dimulai dan rakyat semakin menderita. Tidak terhitung orang yang mati kelaparan. Pemandangan mayat yang tergeletak di pinggir jalan merupakan hal biasa.

Banyak orang yang memakai kain dari tikar hingga dikerubuti kutu. Rumah sakit hampir tidak memiliki obat. Orang bergumul di bak-bak sampah mencari sisa makanan yang sukar didapat.***

Alwi Shahab

***Disadur dari sebuah tulisan di Harian Umum Republika Edisi Ahad, 16 Agustus 2023 halaman A9

kembali ke atas | indeks pilihan | download | iklan kecik

9 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca