infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Organisasi Masyarakat Sumatera Selatan Zaman Pra Sejarah

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Dalam mengatur masyarakatnya, manusia pra sejarah di wilayah Sumatera Selatan (meliputi 8 daerah Kabupaten Musi Rawas, Lahat, Lematang Ilir Ogan Tengah, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Bangka, Belitung dan dua daerah Kotamadya Palembang dan Pangkalpinang) sesuai dengan nalurinya, berhubungan dengan kelanjutan hidup baik secara individu maupun kelompok.

“Tiap-tiap masyarakat manusia sepintas lalu kelihatannya menjadi bersatu karena kepentingan bersama dari pada individunya, dan bercerak berai karena kepentingan-kepentingan perseorangan dan kepentingan-kepentingan golongan tampil ke muka… Apakah yang sebenarnya menjadi daya pengatur kelakuan umum atau tingkah laku manuaia dalam
masyarakat …” (R.Frith, Tjiri2 Dan Alam Hidup Manusia, Bandung, 1964, halaman 138)

Kehidupan mereka sangat tergantung pada keadaan alam yang menyediakan kebutuhan hidupnya. Sesuai dengan cara hidup yang hanya mengambil, atau mengumpulkan apa-apa saja yang terdapat di sekelilingnya seperti buah-buahan hutan dan sayur-sayuran, maka untuk tugas ini dibebankan kepada kaum wanita dan anak-anak. Untuk mencari binatang buruan, menangkap ikan di laut, di sungai, di danau adalah pekerjaan-pekerjaan berat yang menjadi tugas kaum lelaki.

“Kelompok berburu tersusun dari keluarga kecil di mana yang laki-laki melakukan perburuan dan yang perempuan makanan (tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan kecil) yang tidak memerlukan pengeluaran tenaga terlalu besar. Di samping itu perempuan mengurus anak-anak. Peranan perempuan penting sekali dalam memilih (seleksi) tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan dan membimbing anak-anak dalam meramu”. (Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Dep. P dan K, 1975, hal 109)

Lihat Juga


Berpangkal tolak kepada kepentingan untuk hidup inilah secara evolusi terjelmanya pengaturan masyarakat dari bentuk yang sangat primitif hingga modern. Makin kompleknya kebutuhan hidup, maka secara alamiah akan terjelma pengaturan di dalam masyarakat itu. Pengaturan masyarakat yang terkecil berupa rumah tangga belumlah begitu jelas, karena dalam hidup berkelompok mereka masih mengerjakan secara bersama atau lebih dekat sebagai hidup “komunal”. Hal yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana sekiranya aturan yang telah mereka tetapkan itu pada suatu ketika terjadi pelanggaran oleh anggota mereka? Untuk sekedarsebagai perbandingan maka kita akan melihat peristiwa seperti itu pada suku Anak Dalam di Sumatera Selatan, seorang pelanggar aturan itu disingkirkan secara kekerasan. Si pelanggar dapat dibunuh atau lebih ringan sedikit diusir dari kelompoknya. Pada kelompok yang baru, sekiranya ia dapat diterima ia akan berada dalam kedudukan sebagai “budak” kecuali jika kemudian ia menunjukkan hal hal yang menonjol baik kekuatan fisik atau magis.


Dalam usaha menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungannya peranan pimpinan sangat menentukan. Siapa yang dapat menjadi pemimpin, sebagai masyarakat yang masih sederhana adalah “Primus Inter Pares” yaitu orang kuat yang jago berkelahi, orang yang tak ada tandingannya di dalam kelompoknya, yang punya kemampuan sihir dan lain-lain sehingga secara keseluruhan dapat memberikan rasa ketenteraman kepada anggota kelompok itu.

Apabila seseorang telah dapat menempatkan dirinya sebagai pemimpin, maka jabatan ini kelak akan dapat diwariskannya. Keadaan seperti itu hanyalah merupakan analogi saja, karena kelompok itu sendiri telah terbiasa untuk mematuhi apa-apa yang telah digariskan. Kini hanya kharisma pemimpin itu saja yang telah melekat di hati kelompoknya. Perubahan dapat terjadi apabila adanya bahaya yang besar seperti letusan gunung yang berakibat timbulnya malapetaka, berarti kekuatan pemimpin seolah-olah telah sirna. Dengan demikian maka akan timbul lagi orang kuat yang baru yang dapat memberikan rasa tenteram kepada anggota kelompok.

Hidup matinya kelompok sangat ditentukan oleh pemimpin; dialah yang mengatur dan menentukan waktu-waktu untuk berburu, mencari makanan, tempat-tempat yang akan didiami ataupun berperang dengan kelompok lain. Dialah pula yang memimpin upacara dalam berhubungan dengan roh-roh serta kekuatan-kekuatan gaib lainnya.

Baca Juga


Pendidikan hanyalah merupakan pewarisan kebiasaan yang ada di dalam kelompok saja, yang dikerjakan atau dibiasakan pula terhadap anak-anak secara langsung. Sejak kecil anak-anak sudah diajak untuk mengikuti pekerjaan orang dewasa seperti memilih sayur-sayuran, buah-buahan yang khusus dikerjakan oelh anak perempuan. Berburu, menangkap ikan di danau atau di laut diikutsertakan anak lelaki.

Dalam setiap kegiatan, anak-anak dikutsertakan seperti membuat senjata, perahu, dan sebagainya. Anak-anak wanita diajar menganyam keranjang-keranjang, tikar dari daun, juga pembuatan atap-atap untuk rumah/pondok. Jadi semua pendidikan diberikan langsung.

Beberapa isyarat pun merupakan hasil pendidikan langsung ini pula; bunyi kentongan dari kayu, bambu, lokan dan sebagainya yang masing-masing mengandung makna tersendiri, lambat laun dimengerti oleh anak-anak. Mereka akan memahami apa arti dari setiap isyarat itu, seperti kedatangan musuh serta jenis-jenis kejadian.

Dalam bidang seni rupa terdapat beberapa jenis kegiatan seperti pemahat patung-patung batu dan yang menonjol ialah megalitik yang banyak bersebar di Sumatera Selatan terutama di Pasemah dan sekitarnya. Benda-benda Megalitik ini mulai dari yang sangat sederhana sampai kepada yang cukup kompleks. Patung “gajah” yang kini terletak di Museum Rumah Bari Palembang mempunyai ukiran yang cukup unik seperti terdapat ukiran orang yang diperlengkapi dengan topi (sejenis bentuk topi baja) menggendong “ransel” dan kaki seolah-olah bersepatu dilengkapi pula dengan “putis”.

Sebuah “nisan” batu di Lubuk Sepang Kabupaten Lahat bermotifkan tumbuh-tumbuhan, begitu juga yang terdapat di Karangdalem. Masih dalam Kabupaten Lahat di Desa Tegur Wangi di tepi sungai Selayas, pada sebuah batu yang besar terdapat lukisan-lukisan dengan berbagai motif sepeti bunga, manusia dan garis-garis geometris.

Patung-patung manusia di Tegur Wangi sudah mempunyai pahatan yang cukup indah, begitu juga “rumah batu” yang terdapat di belakang patung-patung tersebut sudah merupakan balok-balok batu yang dikerjakan dengan baik.

Seni bangunan di daerah pegunungan berbentuk prisma terpancung yang terbalik dengan menggunakan tiang-tiang yang tidak ditanamkan, hanya diletakkan di atas batu sebagai imbangan terhadap goncangan gempa. Bangunan dari kayu ini pada dinding mukanya diberi ukuran bermotif tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan jendela yang kecil dalam jumlah yang sedikit, dengan maksud agar udara di dalam ruangan cukup panas.

Seni tari umumnya dalam bentuk masal yang berupa pemujaan terhadap kekuatan alam. Di samping itu ada juga seni tari sebagai hiburan setelah sesuatu usaha berhasil, umpamanya perburuan yang sukses.

Dalam seni suara terdapat guritan jelihiman, andai-andai panjang yaitu suatu gaya bercerita yang dilagukan. Ceritanya meliputi kekuasaan dewa-desa, manusia supernatural dan lain-lain yang disajikan pada waktu terjadi kematian untuk menghibur keluarga yang mendapat musibah, yang berlangsung sepanjang malam.

Alat bunyi-bunyian berupa seruling, gendang, getuk baik dari kayu atau pun bambu. Alat-alat ini dipakai dalam menari atau pun berdendang sendiri. Semua peralatan ini kebanyakan berukir dengan motif geometris yang sangat sederhana.


Sebagai pemeluk animisme maka apa yang disebut “rumah batu” yang banyak terdapat di pedalaman seperti di Tanjung Aro Gunung Megang, Tegur Wangi, adalah tempat penyimpanan mayat-mayat. Bahwa Roh itu akan selalu berada di sekeliling mayat dan masih memerlukan kebutuhan seperti masa hidupnya, kiranya dapat dimaklumi jika jasadnya tetap utuh. Karena itulah maka mayat ditempatkan dalam “rumah-rumah batu” agar tidak diganggu oleh binatang buas.

Di rumah batu di Gunung Megang ketika dilakukan “penggalian” oleh penduduk setempat pada masa pendudukan Jepang ditemukan beberapa manik-manik yang berwarna warni. Akan tetapi sisa-sisa tulang belulang tidak ditemukan dan hal ini mungkin sekali tidak diperhatikan oleh para penggali.

Pohon yang besar, sungai yang lebar, gunung dan bukit, dianggap mempunyai penunggu (mahluk-mahluk halus) yang dapat mencelakakan seseorang apabila ia berbuat yang tidak baik. Puncak Dempo umpamanya masih dianggap ada “penjaganya” dan selalu diberi saji-sajian oleh orang-orang tertentu, sebagai warisan masa pra sejarah ini.

Lukisan Bilik Kota Raya Lembak
Bilik Batu Gunung Megang

Bahwa di luar manusia masih ada makhluk halus yang dapat menguasai kehidupan manusia sehubungan dengan kepercayaan di atas hingga kini secara terselubung masih ada. Cerita tentang kesaktian dan kekuatan Sipahit Lidah yang dapat menjelmakan sesuatu menjadi batu masih terdapat. Tokoh Sipahit Lidah ini hingga sekarang masih dipergunakan untuk pendidikan agar orang tua selalu dihormati.

Beberapa upacara yang sehubungan dengan kepercayaan ini adalah selamatan setelah panen, menempati rumah yang baru didirikan, serta pemujaan roh orang meninggal. Pawang-pawang menentukan saat yang baik untuk berburu, bertani, dukun-dukun yang banyak kekuatan magisnya, disebut tokoh masyarakat.***

Wallahua’lam

***Rujukan: Sejarah Daerah Sumatera Selatan; Drs. Ma’moen Abdullah, dkk; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel; 1991; halaman 11-15

kembali ke atas • indeks pilihan • download • iklan kecik

3 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600143946


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp12.600

PERTAMAX TURBO
Rp20.350

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp26.600

DEX
Rp28.500

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca