infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Ragam Upaya Penyelenggaraan Hidup Warga Sumatera Selatan Zaman Pra Sejarah

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Wilayah Sumatera Selatan (meliputi 8 daerah Kabupaten Musi Rawas, Lahat, Lematang Ilir Ogan Tengah, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Bangka, Belitung dan dua daerah Kotamadya Palembang dan Pangkalpinang) mulai dihuni oleh manusia sejak zaman palaeolithicum atau zaman batu tua. Untuk memenuhi kebutuhan hidup primernya, diperlukan peralatan yang sangat erat hubungannya dengan kemajuan cara berpikir serta usaha menggunakan alat itu.

“Kalau kita layangkan pandangan sejenak ke sejarah perkembangan teknologi, maka terlihatlah bahwa pada masa-masa sejarah yang terakhir perkembangan itu mengalami percepatan yang luar biasa. Zaman kebudayaan batu tua (palaeolitik bawah, tengah, etas) misalnya, telah berlangsung sejak masa hidup Homo (pathecanthropus) Erectus, yaitu manusia Jawa dan manusia Peking, kira-kira 400.000 tahun yang lalu. Palaeolitik berganti dengan Neolitik (zaman kebudayaan batu baru) kira-kira 9.000 tahun yang lalu. Selama waktu yang lama itu, tidak banyak terjadi perubahan dalam cara hidup manusia. Manusia hidup dari berburu atau memetik saja dari alam, belum mengenal pemukiman, membuat alat-alat dari batu yang belum diperhalus. Puncak kebudayaan palaeolitik terjadi di zaman manusia Cro-Magnon, 30.000 – 15.000 tahun yang lalu. Mereka sudah membuat pula alat-alat dari kayu dan tulang, hidup di gua-gua, menjahit pakaian dari kulit binatang dan mengenal kesenian. Di zaman neolitik mulailah revolusi besat dalam cara hidup manusia. Manusia mulai mengenal pertanian, mengenai kehidupan bermukim, membangun rumah, mengawetkan makanan, memulai irigasi, mulai beternak hewan.” (Frans Dahler, Asal dan Tujuan Manusia, Yayasan Kanisi, us, Yogjakarta, 1976, halaman 93)

Cara pemenuhan kebutuhan seperti ini hingga sekarang masih dapat kita saksikan pada suku terasing di pedalaman Sumatera Selatan. Dengan demikian, pola hidup penduduk tidak banyak berbeda dengan daerah lainnya.

“Tingkat kebudayaan mereka masih sangat terbelakang belum mempunyai alat pertanian, yang agak sempurna menurut cara di tempat ini, belum mengenal anyam-menganyam dan mereka hanya menggunakan tombak sebagai alat pembela diri dan alat pula buat menangkap binatang-binatang. Mereka belum hidup yang menetap dan menggunakan pondok tertentu, tetapi masih berpindah-pindah untuk mencari daerah-daerah yang memberikan sumber-sumber makanan. Makanannya terdiri dari buah-buahan hutan, babi, rusa, kijang, ular, ikan dan ubi kayu.” (Perwakilan Depsos Provinsi Sumsel, Sejarah Suku Dalam dan Usaha-Usaha Pembangunan Masyarakat Terasing di Bayung Lincir, 1970, halaman 6)

Lihat Juga


Untuk mendapatkan segala kebutuhan ini bukanlah merupakan hal yang sulit, oleh karena di daerah ini cukup banyak tersedia bermacam jenis tumbuhan dan hewan, apalagi di daerah pegunungan seperti daerah Pasemah dan sepanjang bukit barisan. Begitu pula ikan-ikan dari kesembilan batang hari serta anak-anaknya yang mengalir di setiap celah daerah ini. Di sekitar Danau Ranau yang merupakan daerah yang subur hingga kini masih didapatkan sisa-sisa candi di desa Jepara Banding Agung, begitu pula daerah Musi Ulu Rawas, Ogan dan Komering Ulu serta Ilir; sepanjang sungai Musi yang merupakan daerah persawahan, kesemuanya sangat memungkinkan untuk dapat dihuni pada taraf permulaan. Alam daerah ini cukup banyak menyediakan kebutuhan hidup, dengan demikian akan menarik sekali bagi para penghuni.

“Karena itu tempat-tempat yang menarik untuk dihuni pada waktu itu ialah yang cukup mengandung bahan-bahan makanan dan air, terutama yang sering dikunjungi atau dilalui binatang. Tempat-tempat semacam ini berupa padang-padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil yang terletak berdekatan dengan sungai atau danau; di sinilah binatang-binatang leluasa mencari makanan atau mengejar mangsa serta melepaskan dahaga. Di sekitar sini manusia membuat pangkalan yang cukup dilindungi dengan tedeng dahan-dahan dan daun-daun. Hewan yang berkeliaran di tempat-tempat tersebut dan menjadi buruan manusia. Yang sangat mungkin memainkan peranan dalam perburuan adalah hal-hal yang tidak mungkin
ditemukan kembali karena telah musnah, misalnya saja dari kayu atau tulang, tombak kayu yang ujungnya diperkeras melalui pembakaran dan jebakan-jebakan kayu. Cara lain ialah dengan membuat lobang-lobang jebakan atau menggiring hewan kearah jurang yang terjal. Perburuan
dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil dan hasilnya dibagi bersama”. (Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia, JilI, Dep. P dan K, 1975, hal 110-111)

Di Sumatera Selatan dikenal cara “bakarang” dalam menangkap ikan. Di samping itu cara yang tua juga dengan “tuba”. Bakarang biasanya dilakukan di lubuk sungai, atau lebung-lebung (danau yang kecil yang pada musim hujan airnya bersatu dengan sungai) yang diperkirakan banyak ikannya. Dalam kelompok sepuluh sampai lima belas orang atau lebih, mereka menuju ke lubuk sungai atau lebung yang dipilih, lalu mereka terjun ke dalam air. Dengan menggunakan dahan-dahan kayu yang cukup besar mereka memukul-mukul air sungai sehingga menjadi keruh bercampur lumpur. Ikan-ikan kemudian akan mabuk atau lemas, lalu dengan dahan-dahan yang sudah dianyam, dipeganglah ujung pangkalnya oleh beberapa orang dan ditarik ke pinggir sungai, sehingga ikan-ikan terdesak ke darat dan dipungut. Ada juga yang dapat ditangkap begitu saja dengan tangan. Hasil-hasilnya dibagi rata di antara para peserta, juga anggota yang tidak ikut, mendapatkan pula berupa hadiah.

Ada juga dengan menggunakan “tuba” yaitu sejenis akar kulit kayu yang dapat memabukkan ikan. Kulit kayu mula-mula ditumbuk lalu dicampur dengan air untuk kemudian dituangkan ke sungai atau tempat yang dimaksudkan. Untuk itu sungai yang akan dituba dibendung di bagian hilirnya dalam jarak yang cukup, umpamanya dua puluh atau tiga puluh meter. Tidak lama setelah tuba dimasukkan, ikan-ikan yang ada dalam ruang lingkup tadi akan mabuk dan mengambang di atas permukaan air, sehingga dengan mudah dapat dipungut. Untuk menuba ini tidak banyak diperlukan orang, cukup dengan dua atau bertiga saja.


Dalam berburu, selain menggunakan tombak dan panah juga dikenal cara “pelubang” yaitu membuat lubang pada tanah yang sering dilalui binatang terutama ke tempat sumber air minum. Sesudah lubang digali, lalu di atasnya ditutupi dengan dahan, ranting dan daun-daun yang sudah usang. Bagian-bagian tertentu ke arah lubang itu diberi “pepah” (batang-batang pohon serta dahan dan ranting sebagai pagar) agar binatang buruan hanya akan lewat di atas lubang yang telah tersedia. Dengan demikian binatang buruan akan terperosok ke dalamnya. Dengan cara demikian, binatang buruan tak mungkin dapat lari.

Ada lagi cara yang disebut “repas” yang digunakan terutama untuk menangkap binatang buruan yang kecil-kecil seperti kancil, napuh dan burung-burung yang sering berjalan di tanah. Sepotong kayu yang elastis yang cukup besar berdiameter sekitar satu sentimeter, pada bagian ujungnya diberi tali dari kulit kayu yang kuat. Kemudian dilengkungkan sedemikian rupa sehingga apabila binatang buruan melintas di atas repas akan terjerat kakinya.

Gerobeng juga telah digunakan yaitu sejenis pagar dari kayu yang bertutup dan dijalin dengan rotan atau kulit kayu dengan pintu yang dapat menjebak mangsanya jika binatang buruan masuk kedalamnya. Di dalamnya diletakkan umpan yang biasanya bangkai binatang kalau yang akan ditangkap binatang buas seperti harimau. Banyak cara yang digunakan dalam berburu ini. Akan tetapi pada prinsipnya kegunaannya hanyalah untuk mencari makan untuk menyelamatkan diri dari gangguan binatang buas.

Usaha berladang dan bercocok tanam telah dimulai dalam tarap permulaan dalam bentuk masih sangat sederhana. Sebagian besar dari usaha mendapatkan bahan keperluan ini hanyalah mengumpulkan hasil hutan saja. Untuk mendapatkan bahan makanan selanjutnya, telah dirintis usaha mengusahakan sendiri walaupun dalam tarap yang masih sederhana sekali. Hal ini tidak banyak berbeda dengan cara yang telah ditempuh oleh manusia pra sejarah di Nusantara ini pada umumnya, karena mereka bermula dari Ras yang bersamaan.

Setelah cara hidup berburu dan mengumpulkan makanan dilalui maka manusia menginjak satu masa kehidupan yang disebut masa bercocok tanam. Masa ini amat penting dalam sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena pada masa ini beberapa penemuan baru berupa penguasaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan hewan mulai dipelihara dan dijinakkan. Cara untuk memanfaatkan hutan belukar dengan menebang dan membakar pohon-pohon dan belukar mulai dikembangkan, sehingga karenanya terciptalah ladang-ladang yang memberikan hasil-hasil pertanian meskipun sifatnya masih sederhana.

Hutan-hutan yang tersebar luas di Sumatera Selatan mulai dari daerah pegunungan yang subur hingga ke daerah dataran rendah yang kini telah menjadi padang alang-alang tentunya telah sering digunakan untuk berladang dalam bentuk yang sederhana. Tanah-tanah yang subur itu setelah beberapa kali dipergunakan tempat berladang dalam jangka waktu tertentu, lalu ditinggalkan untuk selanjutnya menggarap hutan-hutan yang subur lainnya. Hal ini sangat beralasan jika dihubungkan dengan banyaknya padang alang-alang seperti yang dikemukakan di atas. Padang alang-alang ini tidak hanya terdapat di daerah dataran rendah seperti dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Sebagian Lematang Ilir Ogan Tengah, malahan sampai di kaki-kaki gunung dalam Kabupaten Lahat pada jarak beberapa kilometer saja dari gunung Dempo.

Dalam menentukan tempat permukiman, pada mulanya mereka menggunakan apa yang tersedia dari alam saja. Tempat-tempat yang aman terutama dari serangan binatang buas seperti di dalam gua-gua di lereng bukit-bukit, gunung-gunung dan pantai-pantai merupakan sasaran utama. Begitu pula pohon-pohon digunakan juga sebagai tempat tinggal.

Gua-gua telah menarik manusia untuk tinggal di dalamnya. Tinggal menetap ini mempengaruhi cara hidup manusia kala Pos Plestosin. Pada Suku Anak Dalam “Kubu” yang masih termasuk asli, selain dari hidup di pohon yang diberi beratap, juga ada yang membuat pondok yang tinggi-tinggi. Pondok ini didirikan beberapa buah bersama dengan yang lainnya, jadi merupakan sebuah perdukuhan. Untuk naik ke pondok-pondok ini, digunakan sebatang kayu yang ditarah (sibagai trap) ataupun kayu yang mempunyai cabang-cabang yang dapat dipergunakan sebagai anak tangga. Pondok-pondok seperti ini hingga kini masih dipergunakan juga oleh masyarakat terasing.

Peralatan yang dipergunakan masih sangat sederhana terbatas pada alat-alat dari batu dan kayu. “Alat-alat serpih bilah merupakan jenis alat utama di samping alat-alat yang dibuat dari kayu, tulang dan kulit kerang.” (R.Frith, Tjiri2 Dan Alam Hidup Manusia, Bandung, 1964, hal. 138)

Dengan peralatan yang sederhana ini, kehidupan manusia pra sejarah Sumateia Selatan berkembang terus hingga abad-abad kemudian. Peralatan batu yang sederhana belumlah banyak ditemukan, akan tetapi alat-alat Mesolitikum dan Neolithikum cukup banyak terdapat. Bahkan bengkel “neolitik” di Sumatera Selatan ditemukan di daerah Bungamas Kabupaten Lahat, yang ditemukan oleh penduduk baik ketika mengerjakan tanah ataupun sewaktu menggali sumur, membuat pondasi bangunan dan sebagainya.

Di sebelah Utara Danau Ranau dan di daerah Pasemah Kabupaten Labat pernah juga ditemukan jenis kapak genggam. Selain dari peralatan batu dan kayu ditemukan pula keranjang-keranjang dari akar ataupun rotan yang masih sangat sederhana. Alat-alat ini terutama dipergunakan untuk tempat barang makanan, sayur mayur yang dikumpulkan dari hutan. Untuk mengambil air digunakan kulit-kulit kayu atau bambu di daerah pedalaman, sedangkan di daerah pantai digunakan kulit lokan ataupun kerang. Kesemuanya ini merupakan alat yang digunakan untuk mempertahankan diri terhadap alam demi kelangsungan hidupnya.


Secara umum perpindahan merupakan cara untuk mempercepat penyebaran manusia pra sejarah walaupun dengan berbagai motif; salah satu di antaranya ialah karena faktor alam seperti letusan gunung, kegersangan tanah, habisnya persediaan makanan yang mudah didapat dari hutan, bahaya banjir dan wabah penyakit yang banyak menimbulkan kematian.

Bertambahnya anggota kelompok sehingga sulit untuk menperoleh keperluan hidup mengakibatkan terjadinya perpindahan. Kemungkinan perpindahan sebagai akibat timbulnya persengketaan di dalam kelompok beralasan pula dan kalau demikian maka tentulah mereka akan mengambil tempat yang berjauhan, dan dengan demikian daerah yang dihuni akan bertambah luas. Faktor kematian sangat berperanan pula dan dalam hal ini masih terlihat kebiasaan pada Suku Anak Dalam, jika terjadi kematian maka mereka menganggap daerah itu “sial” pembawa malapetaka. Oleh karena itulah mereka pindah ke tempat yang baru. Kematian seorang “ketua” kelompok lebih kuat lagi mendorong mereka untuk segera meninggalkan tempat permukimannya.

Di daerah sepanjang sungai, perpindahan ini dilakukan dengan menggunakan perahu-perahu, rakit-rakit dari kayu atau bambu dan menghilir ke muara sungai atau dapat pula sebaliknya. Untuk daerah pedalaman yang berbukit-bukit, mereka cukup dengan berjalan kaki pindah dari satu lembah ke lembah yang lain. Perpindahan seperti pernah terjadi umpamanya dari lembah Dempo ke daerah Rejang di bukit Barisan dan dari sekitar danau Ranau ke Selatan ke daerah Lampung Utara sekarang. Kemahiran dalam membuat perahu memungkinkan sekali terjadinya perpindahan ke pulau yang lain, apalagi mengingat cukup banyaknya pulau-pulau di pantai timur Sumatera Selatan yang baik untuk dihuni. Berbagai tipe perahu-perahu ini dalam bentuk
yang cukup “tua” akan dapat kita lihat jika kita menyelusuri “Batang Hari Sembilan”.***

Wallahu a’lam

***Rujukan: Sejarah Daerah Sumatera Selatan; Drs. Ma’moen Abdullah, dkk; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel; 1991; halaman 5-11

kembali ke atas • indeks pilihan • download • iklan kecik

6 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca