Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah, diceritakan pada suatu hari ada orang Arab pedalaman yang kencing di masjid Nabi di Madinah. Para sahabat yang melihatnya geram dan ingin memukul badui itu. Namun, Rasulullah Saw mencegahnya dan menyuruh para sahabat untuk “kerja bakti” menyiram dan membersihkan air seni laki-laki tak kenal sopan santun tersebut.
Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, pengarang Kitab Fath al-Bari, riwayat ini memperlihatkan dengan jelas sikap toleransi Nabi Saw dan keluhuran budi pekerti beliau. Selain itu, pelajaran penting yang didapat dari kisah ini yakni kita harus bersikap kasih dan lembut kepada orang yang melakukan kesalahan karena tidak tahu dan tidak sengaja. Kemudian, kita wajib mendidik dan mengajarinya supaya ia berbuat baik dan sopan sesuai akhlak Islam. Kita tidak boleh kasar dalam mencegah perbuatan mungkar, baik dengan kata-kata apalagi dengan perbuatan atau tindakan kekerasan.
Baca Juga
Toleransi juga tidak hanya dalam soal agama, akan tetapi juga dalam bidang sosial kemasyarakatan dan sosial ekonomi.
Rasulullah Saw bersabda, “Semoga Alah melimpahkan rahmat kepada seseorang yang bersikap toleran sewaktu ia menjual, membeli, dan sewaktu menagih utang.” (HR. Bukhari dari Jabir ibn Abdillah)
Dalam riwayat lain, terdapat tambahan kata, “Kemudian orang itu masuk surga.” (HR. Ahmad dari Ustman ibn Affan)
Dalam hadis ini, menurut Ibnu Baththal, terkandung pesan agar umat Islam bersikap toleran dan menjunjung tinggi keluhuran budi pekerti dalam bisnis. Sikap seperti ini akan mendatangkan kebaikan (berkah) bagi para pelaku bisnis. Doa Nabi Saw kepada orang yang toleran dalam hadis ini mengandung makna keberuntungan secara finansial di dunia dan kemujuran secara spiritual di akhirat.
Sementara dalam kitab Syu’ab al-Imam, Imam Baihaqi memberikan penjelasan tambahan. Dikatakan, orang yang toleran adalah orang yang tidak menuntut banyak mengenai hak-haknya, tetapi membayar tunai apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya. Dicontohkan, ketika sakit tidak ada teman yang menjenguk, pulang dari luar negeri tak ada yang menyambut, saat berbicara tak ada yang mendengarkan, ia tidak lantas marah-marah dan memaki-maki. Ia tetap toleran, sabar, dan berbesar hati.
Jadi pada intinya, sebagai seorang pebisnis, kita diharuskan memiliki sikap toleran baik kepada sesama pelaku bisnis maupun kepada para konsumen. Sehingga hal ini akan mendatangkan kebaikan bagi bisnis kita sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sabda Rasul di atas.***
***Rujukan: 88 Strategi Bisnis ala Rasulullah yang Tak Pernah Rugi; Ahmad Jarifin; 2019; halaman 37-38














![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)







Tinggalkan Balasan