infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Profesi Muhammad bin Abdullah Pra Kerasulan

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Suatu perubahan sejarah terjadi di Arabia di abad ke-7, diawali dengan menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Sebelumnya, Muhammad berprofesi sebagai wirausahawan atau pedagang. Dengan kata lain, suatu perubahan besar terjadi meliputi berbagai bidang: hukum, tata sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama, serta hankam, ternyata dipelopori proses perubahan awalnya oleh seorang yang pada awalnya berprofesi sebagai wirausahawan di pasar. Pada umumnya, hal ini oleh para sejarawan kurang memerhatikan pasar sebagai sentra awal perubahan besar dalam suatu masyarakat.

Adapun pasar-pasar yang pernah dikunjungi oleh Muhammad bin Abdullah ketika masih sebagai wirausahawan di sekitar jazirah Arabia, yaitu:

  1. Dumatul Jandal

Pasar dekat Hijaz Utara yang berbatasan dengan Syiria. Merupakan pasar tahunan yang diramaikan pada sepenuh bulan Rabiul Awwal.

  1. Mushaqqar

Sebuah kota yang terkenal di Hijaz, Bahrain. Di sini, diselenggarakan pasar tahunan sepenuh bulan Jumadil Awwal.

  1. Suhar

Pasar di Oman merupakan pasar tahunan yang berlangsung selama lima hari di bulan Rajab.

  1. Daba

Salah datu diantara dua kota pantai yang dijadikan pusat kegiatan pemasaran komoditi produk Cina, India dan kota-kota dari Timur lainnya. Di sini, timbul pasar tahunan setelah pindah dari pasar Suhar. Oleh karena itu, aktivitas pemasaranya terjadi pada akhir bulan Rajab. Para wirausahawan dari pasar Suhar setelah lima hari pada bulan Rajab, pada akhir bulan Rajab, pindah ke Daba.

  1. Shihir atau Maharah

Pasar tahunan Shihir ini di pantai antara Aden dengan Oman. Di sini, dikenal dengan parfum Amber. Pasar tahunan diadakan pada Nisfu Sya’ban.

  1. Aden

Pasar tahunan Aden diselengarakan pada puluhan pertama Ramadhan. Di sini merupakan tempat pemasaran komoditi dari wilayah timur dan selatan.

  1. San’a

San’a nama ibukota Yaman. Pasar tahunan di sini dibuka sebagai kelanjutan dari Aden. Dilaksanakan dari puluhan hingga akhir Ramadhan.

  1. Rabiyah

Salah satu kota Hadramaut.  Pasar tahunan yang diselenggarakan pada nisfu atau pertangahan hingga akhir Dzulqaidah.

  1. Ukaz

Pasar Ukaz terletak di Nejaz atas. Pasar tahunan ini diselenggarakan bersamaan waktunya dengan pasar Rabiyah Hadramaut, artinya dilaksanakan pada pertengahan hingga akhir Dzulqaidah.

  1. Dzul Majaz

Pasar Dzul Majaz yang berposisi dekat dengan Ukaz. Pasar tahunan ini diselenggarakan setiap 1-7 Dzulhijjah.

  1. Mina

Mina sebuah pasar sebagai kelanjutan dari pasar Dzul Majaz. Waktu pasar tahunan Mina diselenggarakan bersamaan dengan waktu Haji.

  1. Nazat

Pasar tempatnya di Khaibar dan pasar tahunan ini diselenggarakan dari puluhan pertama hingga akhir bulan Muharram.

  1. Hijr

Sebuah kota di Yamamah. Adapun pasar tahunan ini diselenggarakan waktunya bersamaan dengan pasar Nazat, artinya dirayakan pada waktu puluhan pertama hingga akhir Muharram.

Demikianlah aktivitas pasar-pasar yang berada di Jazirah Arabia menurut sumber sejarah Al-Muhabber dan Mu’ajam al-Buldan dalam Encyclopedia of Serah, Jilid II, diterbitkan oleh The Muslim School Trust, London. Di pasar-pasar inilah, Muhammad bin Abdulllah sebagai wirausahawan sering melakuakan transaksi dagang, dengan wirausahawan dari Cina dan India. Saat itu, istilah Nusantara Indonesia belum ada, hanya dikenalnya sebagai Kepulauan India.

(Bung Karno menjelaskan istilah Indonesia berasal dari pakar arkheologi Jerman, Jordan. Secara geografi kepulauan Indonesia dekat dengan India, maka disebutnya sebagai Kepulauan dari India. Dan Nesos berasal dari bahasa Yunani artinya pulau. Oleh karena itu, selanjutnya disebut menjadi Indonesia).

Akibat telah terhubungkannya niaga antara Cina, India dan Kepulauan India atau Indonesia dengan rempah-rempahnya, melalui pasar-pasar tersebut di atas, memungkinkan agama Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 M. Dan seperti penulis (Ahmad Mansur Suryanegara-red) kemukakan di atas, menurut Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi, serta Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje dalam Islam di Hindia Belanda, menyatakan bahwa masuknya agama Islam di Indonesia melalui jalan niaga, dengan jalan damai, dan tanpa disertai invasi militer.

Dalam Encyclopedia di atas dijelaskan pula bahwa Muhammad bin Abdullah ketika berusia 12 tahun untuk kali pertamanya melakukan perjalanan niaga ke Syiria bersama pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muthalib. Seorang wirausahawan termuda di antara rombongan wirausahawan Makkah. Dengan ikut sertanya Muhammad bin Abdullah, dalam kafilah wirausahawan Makkah, Abu Thalib menyatakan, “Aku akan selalu bersama dengannya, dan kami berdua tidak akan salah seorang meninggalkannya.”

Ketika rombongan wirausahawan Abu Thalib sampai di Bursa, Syiria, berjumpalah dengan pendeta Nasrani, Bahira. Sebagai pendeta yang mukasafah, tiba-tiba pendeta Bahira mengundang untuk santap makan bersama. Hal ini tidak pernah dikerjakannya terhadap wirausahawan lainnya. Oleh karena itu, Abu Thalib menanyakan hal tersebut, “Apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini, ya Pendeta Bahira, Anda tidak pernah menjamu kami sebelumnya seperti sekarang ini?”

Jawabnya, “Anda semuanya adalah tamuku dan aku harus menjamunya,” hal ini terjadi pada 582 M. Tenyata setelah selesai santap makan, Pendeta Bahira menanyakan siapa anak muda tersebut. Abu Thalib menjawab keponakannya. Selanjutnya, Pendeta Bahira memerlihatkan tanda pada badan anak muda ini, Muhammad bin Abdullah, di antara kedua pundaknya terdapat lambang kerasulan – Seal of Prophethood. Kemudian, ia menyuruh Abu Thalib bersama rombongan segera kembali ke Makkah. Pendeta Bahira berpesan, “Demi Allah bila Yahudi melihatnya akan sangat berbahaya.” Pesan ini sangat diperhatikannya, dan Abu Thalib berusaha mendaminginya hingga benar-benar keponakannya dewasa.

Setelah Muhammad bin Abdullah semakin dewasa, beliau mencoba pula untuk berdagang sendiri tanpa disertai pamannya lagi. Kemudian, membawa barang dagangan Siti Khadijah ra. Kadang mendapatkan upah, kadang pula memperoleh profit sharing (bagi hasil sebagai partner). Di kalangan para niagawan, dijuluiki sebagai sadiq – truthfulness (jujur) dan amin – faithfullness (terpercaya) dan high moral character (berkarakter terhormat). Pada usia 25 tahum menikah dengan Siti Khadijah ra pada 595 M.

Masyarakat jahiliyah meresahkan Muhammad bin Abdullah. Setelah menikah, pada usia 30 tahun, beliau sering melakukan khalwat di Gua Hira, Jabal Nur. Kegiatan spiritual ini dilakukan karena masyaralat jahiliyah benar-benar kehilangan kesadaran kemanusiaannya. Di bawah kondisi yang demikian ini, beliau ingin sekali memanusiakan kembali  manusia-manusia jahiliyah.

Namun, tidaklah berarti karena khalwatnya di Gua Hira, perniagaannya dihentikan. Beliau tetap meneruskannya, baik di pasar sekitar Makkah, maupun keluar Makkah. Beliau pernah pergi untuk keperluan niaga ke Yaman, Najd, dan Najran. Pada Dzulhijjah, Muhammad bin Abdullah melakukan kontak niaga yang sangat sibuk di Pasar Ukaz dan Dzul Majaz.

Apakah hal ini sebagai ajaran dalam Islam bahwa untuk menjadi pemimpin Islam, sebelumnya harus membekali diri memahami permasalahan niaga dan penguasaan pasar atau kekuasaan ekonomi?

Apakah hal ini pula yang menjadikan dasar sebab masuknya Islam pada abad ke-7 M, melalui pasar dan dilakukan dakwahnya oleh para wirausahawan dari Timur Tengah. Pasar tidak hanya melahirkan wirausahawan. Namun, dalam sejarah, ternyata melahirkan ulama dan pemimpin bangsa.

Pada masa perkembangan Islam di Nusantara Indonesia, dari pasar dan pesantren melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesulatanan, pada abad 9-15 M. Apakah hal ini dapat diartikan, siapa yang menguasai pasar dan pendidikan atau pesantren, berarti menguasai kekuasaan politik.

Apakah para Wali Sanga menempati pusat dakwahnya di pantai, berarti profesinya sebagai wirausahawan, sekaligus merangkap sebagai pengauasa pasar atau sebagai eksportir dan importir. Apakah karena penguasaan pasar dapat menguasai kekuasaan poitik dan mengatur pula pengembangan ajaran agama Islam.

Kedudukan ulama secara struktural spiritual dinilai sebagai ahli waris para nabi dan rasul. Sebelumnya, para nabi dan rasul disiapkan dengan kemampuannya sebagai wirausahawan, tidaklah mustahil dalam upaya kemandiriannya, para ulama atau Wali Sanga, profesinya sebagai wirausahawan seperti yang diwariskan oleh Rasulullah saw.***infokito

Wallahua’lam

***Rujukan: Api sejarah – Ahmad Mansur Suryanegara – Jilid Kesatu Edisi Revisi – Halaman 34-37.

117 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca