infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Asal Usul Penghuni Pertama di Wilayah Sumatera Selatan

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Apabila wilayah Sumatera Selatan (meliputi 8 daerah Kabupaten Musi Rawas, Lahat, Lematang Ilir Ogan Tengah, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Bangka, Belitung dan dua daerah Kotamadya Palembang dan Pangkalpinang) mulai dihuni oleh manusia dan darimana asalnya bukanlah merupakan pertanyaan yang mudah dijawab. Hingga sekarang, baik sebagai basil ekskavasi maupun sebagai temuan permukaan atau pun sebagai akibat erosi dan sebagainya, belumlah pernah didapat sisa-sisa tulang belulang manusia purba ini. Akan tetapi untuk mencari kapan daerah ini telah dihuni maka berdasarkan peralatan yang ditemukan dapatlah dipastikan sudah sejak masa lama sekali yaitu sejak zaman palaeolithicum.

Zaman Paleolitikum atau zaman batu tua adalah suatu masa yang terjadi sebelum manusia mengenal tulisan (zaman pra-aksara). Masa ini diperkirakan berlangsung saat zaman es berakhir atau sekitar 50.000 sampai 10.000 tahun Sebelum Masehi.

Secara teritorial, wilayah Sumatera Selatan bukan saja seperti yang ada sekarang, melainkan lebih luas lagi termasuk daerah Jambi, Lampung dan Bengkulu bersatu di dalamnya. Dengan demikian, maka peninggalan yang terdapat di daerah ini pun sebagai satu jalinan untuk mengetahui asal mula penghuni daerah ini. “Di Bengkulu, di lembah sungai Mengerub, 52 mil sebelah Utara kota Bengkulu, terdapat alat-alat palaelithicum” (Van Heekren, The Stone Age of Indonesia, 1st edition, 1957, halaman 44).

Lihat Juga


Di daerah Sumatera Selatan sendiri, benda-benda palaeolithicum ini pun ditemukan pula.
“………. di desa Bungamas, kira-kira 20 km sebelah Barat Laut Lahat, telah diketemukan sebuah alat serpih yang terserak di krakalan jalan kereta api di sebelah Selatan desa tersebut. Penemuan ini mendorong dilakukannya pencaharian yang lebih teliti di sekitar tempat itu, yang berhasil mengumpulkan sejumlah alat-alat “palaeolithicum” di dasar sungai Saling, salah satu cabang sungai Kikim dan di dasar sungai Kikim mungkin berasal dari Saling, karena diketemukan di tempat yang berbatasan dengan sungai Saling. Juga beberapa alat telah berhasil dikumpulkan di jalan-jalan desa di dekat sungai-sungai itu.” (Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Departemen P dan K, 1975, halaman 92).

Sampai berapa jauh jangkauan penyebaran palaeolithicum ini terbukti pula dengan didapatkannya alat-alat ini pada beberapa daerah lainnya yang mulanya merupakan galian dari Sumatera Selatan ini. “Pada tahun 1954 Th. Verstappen menemukan alat “palaeolitik” di Kalianda. Tempat penemuan terletak di daerah penemuan Erdbrink di Kedaton, dekat Tanjung Karang).” (Sartono Kartodirdjo, Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I, Departemen P dan K, 1975, halaman 93).

Sebagai cikal bakal pendukung kebudayaan palaeolitik secara pasti, tentunya menghadapi banyak rintangan. Sekedar patokan dalam berbagai bentuk kemungkinan itu salah satu ras telah menampilkan diri. “P dan F Sarasin sependapat bahwa pendukung palaeolithicum adalah orang-orang yang berbadan kecil dan berkulit hitam dan mereka ini termasuk Ras Wedda” (Flekke BAM, Nusantara, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Kualalumpur, 1976, halaman 168).

Baca Juga


Orang-orang Kubu dan Toale termasuk ke dalam Ras Wedda. Suku Kubu hingga kini masih terdapat di Sumatera Selatan dengan sebutan Suku Anak Dalam atau Suku Terasing. Ras Wedda sebagai pendukung kebudayaan palaeolitik yang didukung oleh orang Kubu, tidaklah dapat dikatakan sebagai penghuni pertama Sumatera Selatan sebelum adanya penelitian serta pembuktian yang lebih jauh lagi. Sekiranya alat-alat palaeolitik Sumatera Selatan termasuk jenis yang cukup tua, maka penghuni pertama telah ada pada bilangan tahun yang ribuan pula jumlahnya.

Lukisan Bilik Kota Raya Lembak

Sekedar gambaran, apabila alat-alat palaeolitik ini mulai berperan dalam kehidupan manusia, kiranya dapat dipahami jika “pada 700.000 tahun Homo Erectus di antaranya Meganthropus palaeojavanicus di Jawa dengan bentuk tengkorak dan isi otak 580-700 cm, telah mengenal alat-alat dari batu kasar dan mengenal api”. (Frans Dahler, Asal dan Tujuan Manusia, Yayasan
Kanisi, us, Yogjakarta, 1976, halaman 56).

Namun demikian sepanjang pembuktian berupa fosil-fosil belum terdapat, sedangkan suku Anak Dalam yang diwakili oleh Kubu, masih ada maka untuk sementara suku ini dapatlah dikatakan sebagai penghuni yang “pertama” bagi daerah Sumatera Selatan ini.***

Wallahua’lam

***Rujukan: Sejarah Daerah Sumatera Selatan; Drs. Ma’moen Abdullah, dkk; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel; 1991; halaman 3-5

kembali ke atas • indeks pilihan • download • iklan kecik

3 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600143946


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp12.600

PERTAMAX TURBO
Rp20.350

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp26.600

DEX
Rp28.500

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca