infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Sekilas Pengantar Keris Palembang

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Masyarakat Palembang memiliki ungkapan ‘lelaki harus mengenakan keris dan yang tidak memakai keris hanyalah wong betino’, artinya seorang laki laki harus mengenakan keris dan yang tidak mengenakan keris hanyalah perempuan (Turisan, dkk, 1989: 11).

Keris merupakan suatu karya bangsa yang dianggap penting bagi masyarakat Palembang. Walaupun budaya keris bukan merupakan budaya asli masyarakat Palembang, namun keberadaannya senantiasa lekat dalam sendi sendi kehidupan budaya mereka. Budaya keris Palembang merupakan budaya yang datang dari budaya keris Jawa dan mendapat pengaruh budaya keris Bugis (Sulawesi Selatan) dan budaya keris Minangkabau (Yuwono, 2012: 97-102).

Karakteristik sifat masyarakat Indonesai pada umumnya memilki sifat aktif dan terbuka menerima budaya dari luar serta secara kreatif mampu mengeolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu karya budaya yang mencerminkan nilai nilai dan karakter budayanya serta dapat mencerminkan identitas budaya mereka (Tabrani, 1999: 19; Mujanto, 1997: 14-19). Demikian pula masyarakat Sumatera dan khususnya masyarakat Palembang, secara turun temurun senantiasa berhubungan atau bersinggungan berbagai ragam budaya yang datang dari luar, baik budaya yang datang dari budaya serumpun atau budaya yang datang bangsa bangsa India atau Eropa. Salah satu hasil budaya yang datang dari luar yang mampu mereka olah dan kemudian menjadi salah satu ciri atau identitas masyarakat Palembang adalah budaya keris (periksa, Sujamto, 1993: 51-54; Munos, 2009: 15; Marsden, 2008: 52).

keris palembang

Budaya keris yang berkembang di Pulau Sumatera khususnya di Palembang pada awal mulanya merupakan budaya keris yang datang dari Jawa, kemudian secara perkembangannya juga mendapat pengaruh budaya keris Bugis (Sulawesi Selatan). Budaya keris yang awal mulanya bukan budaya asli masyarakat Palembang lambat laun dengan kemampuan kreatifitas mereka mampu menjadi salah satu identitas budaya mereka (periksa Tusiran, 1986: 12).

Berdasarkan beberapa manuskrip dan catatan sejarah, keris Jawa masuk ke Palembang mulai dari era Sunda Pajajaran. Terdapat seorang empu yang bernama Sanggabumi yang hijrah ke Barat (Sumatera) (Untoro, 1979: 80). Bahkan hingga masa sekarang para pembuat keris dan berbagai peralatan pertanian di Palembang menyebutkan bahwa mereka merupakan keturunan empu dari Sunda, terutama mereka mangaku keturunan Empu Sombro dari Pajajaran (Wawancara, Samto, 2006).

Masuknya budaya keris dari Jawa ke pulau Sumatera semakin besar terjadi pada era Singasari (awal abad ke-13) (Hasrinuksmo, 2008: 33-34; periksa Guritno, 2006: 4-5). Kitab Negarakertagama pada wirama 41 baid 157 menceritakan Prabu Kertha Negara dari Singasari mengadakan ekspedisi Pamalayu ke Sumatera pada tahun Saka Nagasyabhawa atau 1197 saka (1275 masehi) (Riana, 2009: 212).

Ekspedisi Pamalayu ke Pulau Sumatera berdampak besar terhadap pesebaran budaya keris ke wilayah tersebut. Keris sebagai atribut prajurit, senjata perang dan sekaligus sebagai benda pusaka bagi prajurit Jawa diduga kuat sebagai salah atu kelengkapan perang pasukan Singasari.

Kitab Negarakertagama pada wirama 13 juga menceritakan bahwa pada tahun 1198 saka atau 1276 masehi Majapahit telah menundukkan daerah Melayu (Sumatera), antara lain Jambi, Palembang, Toba, Darmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe, Haru Mandailing, Tumihang, Perlak, Pahang, Hilwas, Samudera, Lamuri, Batan, Lampung dan Barus (Riana, 2009: 96-97). Penaklukan Majapahit atas Melayu berperan besar terhadap penyebaran budaya keris di daerah tersebut (Hasrinuksmo, 2008: 33).

Hubungan Demak dengan kasultanan kasultanan di Sumatera khususnya kasultanan Palembang sangat dekat. Kedekatan hubungan tersebut sehingga ekspedisi Demak ke Malaka yang dipimpin Adipati Unus (1511 masehi) didukung penuh oleh Kasultanan Palembang dan kerajaan kerajaan di Sumatera lainnya. Ekspedisi Adipati Unus tersebut memiliki peran bersar terhadap persebaran keris ke Sumatera hingga ke Malaka dan semenanjung Malaya. Persebaran keris yang paling menonjol adalah persebaran bentuk warangka wulan tumanggal yang kemudian berkembang dan populer menyebar hampir di seluruh Sumatera hingga ke Semenanjung Malaya, Brunai Darussalam dan Thailand Selatan (Hasrinuksmo, 2008: 458-459; periksa Santosa, 2003).

Era Mataram Sultan Agung (1591-1645 Masehi) juga memiliki peran besar terhadap persebaran budaya keris ke Palembang. Hubungan politik dengan raja raja di Sumatera seringkali dipererat dengan pemberian hadiah berupa keris (Hasrinuksmo, 2008: 426-427; periksa Jasper dan Pierngadie, 1930; periksa pula manuskrip raja raja Jambi, Undang undang Piagam dan Cerita Rakyat Jambi terutama pada bagian Sila sila Keturunan Raja Jambi halaman 2 dan 3).

Selain pengaruh keris Jawa, keris keris di Pulau Sumatera khususnya Palembang juga mendapat pengaruh budaya keris Bugis. Masuknya keris Bugis ke Sumatera khususnya Palembang diperkirakan telah terjadi pada awal abad ke-16. Bentuk mata keris, warangka/sampir, ulu/hulu keris keris di Sumatera secara umum dan khususnya di Palembang sering kali dijumpai menyerupai gaya keris Bugis. Demikian pula cara mengenakan keris oleh sebagian besar masyarakat di Sumatera menyerupai cara mengenakan keris masyarakat Bugis, khususnya pada masyarakat Riau, Palembang, Jambi, Minangkabau dan lain sebagainya.

Penaklukan Bone atas kerajaan Pariaman di Sumatera oleh La Tenri Tata Arung Palakka memiliki pengaruh yang besar terhadap masuknya budaya keris Bugis di sepanjang pulau Sumatera. Pada masa itu selain budaya keris Bugis mempengaruhi budaya keris di Sumatera, budaya keris Sumatera juga mempengaruhi budaya keris Bugis. Pengaruh tersebut khususnya pada bentuk ulu/hulu keris Pangulu Sikori (anak ayam). Bentuk ulu tersebut diduga dibawa oleh para bangsawan Bugis dari Sumatera dan kemudian berkembang pesat dan menyebar di Sulawesi. Pendapat lain bahwa Pangulu Sikori merupakan hadiah yang diberikan kepada La Tenri Tata Arung Palakka karena jasa jasanya menaklukkan kerajaan Pariaman di Sumatera. Hadiah tersebut dibawa ke Sulawesi dan kemudian menyebar luas di Bugis (Sulawesi Selatan). Ulu/hulu pada umumnya dibuat dari bahan gading, geraham gajah atau tulang ikan duyung serta dari jenis kayu kayu keras seperti kayu kemuning (Murraya paniculata), kayu arang/ebony (Diospyros rumphii), dll. William Marsden menjelaskan bahwa keahlian yang dimiliki masyarakat Sumatera yaitu dalam membuat ulu keris yang dibuat dari gading dan tulang ikan duyung yang meraka ukir secara halus (Komunitas Bambu, 2008: 197).

Pengaruh budaya keris Bugis di Sumatera khususnya di Palembang sangat kental terutama dalam bentuk hulu dan warangka. Bentuk ulu keris Bugis yang populer dan berkembang di Sumatera misalnya ulu rekko, ulu ma’bainnang. Demikian pula bentuk warangka Bugis yang mempengaruhi bentuk warangka keris Palembang.

Wallahu a’lam

***disadur dari sebuah tulisan Basuki Teguh Yuwono, staf pengajar FRSD ISI Surakarta yang dipubilkasikan Ornamen volume 9, 2 Januari 2012

kembali ke atas | indeks

1,269 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca