infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Rumah Bari – Tempat Tinggal Khas Masyarakat Palembang yang Semakin Tergerus Zaman

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Rumah Bari atau yang dikenal sebagai rumah adat masyarakat Kota Palembang merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Rumah seperti ini merupakan tempat tinggal bagi masyarakat di Sumatera Selatan (Sumsel) tanpa terkecuali masyarakat Kota Palembang.

Namun, pada abad ke-21 ini, Rumah Bari kian digerus zaman dan masyarakat condong membuat rumah gedung nan megah ketimbang rumah hunian yang atasnya berbentuk limas tersebut. Menurut Abdul Karim,61, warga RT 50/14 Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I, keberadaan Rumah Bari di Kota Palembang, khususnya di tempat tinggalnya ,lambat laun semakin habis.

Entah masyarakat lebih tertarik untuk membangun rumah yang berbahan baku beton atau karena memang sulitnya untuk mendapatkan kayu yang berkualitas. Kalaupun ada, dijual dengan harga yang cukup tinggi. Sementara, tidak semua masyarakat di daerah itu mampu untuk membangun rumah kayu seperti waktu dulu.

“Kita bayangkan saja, sekubik kayu untuk kualitas sedang saja satu kubiknya berkisar Rp2 juta. Satu kubik kayu untuk dinding bagian samping rumah saja tidak cukup, belum bagian lain. Berbeda memang dengan rumah batu yang bahan bakunya juga mudah didapat,” tutur bapak 5 anak dan 1 cucu itu saat diwawancarai di kediamannya kemarin.

Pembangunan yang semakin pesat dengan banyaknya bangunan berbentuk modern, hal tersebut sebenarnya telah menyebabkan masyarakat yang memiliki Rumah Bari di tengah kota kian terusir, dengan kondisi yang memang sudah rapuh akibat tidak direhab karena minimnya biaya dianggap merusak tatanan kota.

“Seperti yang kita ketahui aturan yang ada,untuk membangun rumah jika tidak mengikuti bangunan mewah di sekitarnya sulit untuk mendapat izin. Masyarakat yang tidak mampu, ya tetap bertahan dengan kondisi rumahnya yang sudah rapuh. Namun, oleh pemerintah karena dianggap tidak layak lagi, bangunan seperti itu di perkotaan maka diremajakan dengan memberi ganti rugi dan diubah menjadi kawasan ruko,” paparnya.

Dia mengatakan, di daerah tempatnya tinggal itu dulunya banyak sekali Rumah Bari atau Rumah Limas. Namun, sekarang tidak lebih dari 10 unit rumah saja. Semua sudah berubah menjadi bangunan beton, ruko dan dihancurkan menjadi taman seperti Benteng Kuto Besak (BKB).

Selanjutnya, suami Nurjannah ini menjelaskan, bari dalam bahasa Palembang berarti lama atau kuno. Dari segi arsitektur, rumah-rumah kayu itu disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan.

Unik lainnya, bangunan Rumah Bari tidak menggunakan paku melainkan pasak. Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang tahan air. Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun tegak. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua undak-undakan kayu dari sebelah kiri dan kanan.

“Orang zaman dulu sangat berhati-hati dalam membangun rumah. Paku selain cepat membuat kayu rapuh juga sulit untuk dibongkar. Rumah Bari yang asli juga tidak sulit untuk membongkarnya. Karena memang sedikit sekali paku yang melekat. Coba kalau sekarang, satu kayu saja terkadang terdapat 3–5 paku yang menancap dan kalau dibuka bagian kayu yang dibongkar menjadi rusak,” jelasnya.

Selain itu, Rumah Bari banyak menyimpan filosofi. Seperti panggung secara fungsional memenuhi syarat mengatasi kondisi rawa dan sungai seperti di Palembang. Ada dua jenis rumah limas di Sumatera Selatan. Yaitu rumah limas yang dibangun dengan ketinggian lantai yang berbeda dan yang sejajar. Rumah limas yang lantainya sejajar ini kerap disebut rumah ulu. Bangunan Rumah Limas biasanya memanjang ke belakang.

Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Rumah limas yang besar melambangkan status sosial pemilik rumah. Biasanya pemiliknya adalah keturunan keluarga Kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan Hindia Belanda, atau saudagar kaya. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung.

Makna filosofis di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah. Bagi pemilik rumah yang masih memerhatikan perbedaan kasta dalam keturunan adat Palembang. Mereka akan membuat lantai rumahnya bertingkat-tingkat untuk menyesuaikan kasta tersebut.***sindo/ibrahim arsyad

***disadur dari sebuah tulisan ibrahim arsyad di harian sindo

1,282 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

3 responses to “Rumah Bari – Tempat Tinggal Khas Masyarakat Palembang yang Semakin Tergerus Zaman”

  1. Avatar adrianfajriansyah

    salam kenal///

    blognya sangat menarik

  2. Avatar masagusfikri
    masagusfikri

    mak itulah lamo” rumah gedong galo palembang tu jadi dak katek lg rumah bari/limas

  3. Avatar Rifqi
    Rifqi

    Mestinya kita tetap budayakan rumah limas dan tidak meninggalkannya. Walau dibilang budaya ini tradisional dan zaman sekarang ini modern, bukan berarti ditinggalkan. Kenapa tidak kita modernisasi saja rumah limas, misal dibangun rumah limas dengan bahan beton, atau menggunakan kerangka besi pada atapnya dan lain-lain. Jadi maksud saya ada baiknya rumah limas ini tetap kita lestarikan daripada mengikuti rumah sekarang yang meniru gaya rumah luar apalagi kebarat-baratan.

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca