Pulau Sumatera yang dulu disebut Suvarnadvipa dalam kitab Mahayana, terletak membujur dari arah. Barat Laut ke Tenggara dan memotong garis khatulistiwa. Secara administratif pulau ini telah terbagi atas beberapa provinsi, dan salah satu di antara provinsi itu adalah provinsi Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang, yang meliputi 8 kabupaten dan 2 Kotamadya (saat ini provinsi Sumsel meliputi 13 Kabupaten dan 4 Kotamadya).

Apabila hasil penyelidikan ilmiah yang pernah dilakukan oleh para ahli Geologi seperti Reinout Willem van Bemmelen (14 April 1904 – 19 November 1983, seorang geolog berkebangsaan Belanda yang lahir di Indonesia) dapat dipergunakan sebagai alat bantu tanpa melepaskan diri dari sumber-sumber sejarah daerah itu sendiri, maka sesungguhnya pulau Sumatera yang kita lihat sekarang tidak sama dengan bentuknya di zaman dulu, khusus mengenai daerah lokasi Sumatera bagian Selatan, yang lazim disebut daerah “Batanghari Sembilan” (sungai Klingi, sungai Bliti, sungai Lakitan, sungai Rawas, sungai Rupit, sungai Batanghari Leko, sungai Lematang, sungai Ogan dan sungai Komering).
Proses alamiah yang berlangsung dari abad ke abad, sungai-sungai itu telah menghasilkan delta dan mengubah daerah pantai sebelah Timur, seperti yang telah terjadi di daerah Kalimantan Selatan dan pantai Utara pulau Jawa. Begitu pula ada kalanya pantai hancur karena gelombang laut, angin dan air bah seperti pulau-pulau Riau Lingga, Bangka dan pantai barat Sumatera.
Berdasarkan historical geography dan nama-nama tempat yang menggambarkan daerah tersebut sebagai pangkalan di zaman dulu, maka menurut perkiraan penulis, sebelum terjadi perubahan-perubahan alamiah, kemungkinan besar letak kota Sekayu, Kayuagung dan Bukit Siguntang sekarang di pinggir laut/pantai. Demikian pula bukit Bergota yang ada di kota Semarang sekarang, dulunya terletak di pinggir laut.
Pada umumnya sifat-sifat sungai di daerah ini mempunyai perbedaan-perbedaan tinggi permukaan air pada sepanjang alirannya, curam-curam yang deras, banyak rintangan-rintangan batang kayu yang tak hanyut dan terbenam di pinggir-pinggir sungai, banjir setiap tahun dan pembentukan rawa-rawa sepanjang tebing sampai menuju ke muara sungai.
Sungai Musi yang menjadi induk Batanghari Sembilan, di bawah sungai Muara Lematang sudah mulai terdapat pembentukan rawa-rawa, lubuk dan danau. Sedangkan di daerah dekat ke muara sungai itu, pada tiap kali pasang naik, permukaan tanah digenangi air dan di musim hujan hampir sebagian daerah tersebut terendam air dan penuh delta-delta. Oleh sebab itu muara Sungai Musi yang lebar itu sampai ke daerah pelabuhan Bombaru tak berapa dalamnya, sehingga kapal-kapal modern yang berbobot lebih dari kaki ukuran dalamnya, terpaksa berhati-hati untuk membuang sauh di sekitar Sungai Gerong Plaju. Iklim di daerah ini dipengaruhi oleh angin musim, sehingga adanya musim kemarau dan musim penghujan, termasuk daerah tropis dengan suhu udara yang rata-rata tinggi dan curah hujan yang tinggi pula. (R.W. van Bemmelen, The Geology of Indonesia ….. The Hague, 1949, halaman 6)
Di sepanjang pantai timur Sumatera bagian Selatan, hampir seluruhnya ditumbuhi kayu gelam dan pohon nipah yang disambung oleh hutan-hutan lebat ke daerah pedalaman yang amat sukar dilalui oleh manusia. Karena letaknya di daerah tropis sebelah selatan garis Khatulistiwa, iklimnya lembab dan hujan yang turun banyak sekali, sedangkan hutan rimba tersebut sudah berhenti pada tinggi 1000 meter di daerah pegunungan, sebagai akibat pengawanan yang tebal dan dingin.
Dahsatnya tantangan alam terhadap manusia Palembang dan daerah sekitarnya, perjuangan menguasai atau dikuasai alam, berjuang melawan hutan rimba dan rawa-rawa untuk persawahan atau perladangan, sebaliknya hutan rimba pulalah yang memberikan kebutuhan hidup seperti bahan-bahan pakaian, alat-alat untuk perumahan, transportasi (perahu atau kapal), umbut-umbut, buah-buahan dan pucuk-pucukan untuk makanan dalam masa pancaroba, bahkan hasil hutan lah yang memberi dan menjadi sumber kekayaan serta menjadi alat penukar (barter) dengan barang-barang dari luar.
Yang dimaksudkan hasil hutan di daerah ini adalah getah perca, damar, segala macam jenis rotan, barang anyaman, jelutung, binatang menjangan, rusa, gajah, harimau, babi hutan, beruang dan kayu tembesu untuk ramuan rumah dan jembatan. Danau-danau, lubuk dan sungai-sungainya menghasilkan ikan basah dan kering, sedangkan ladang persawahan dan perkebunannya menghasilkan beras gunung, kelapa, kopi, lada dan sebagainya.
Akibat keadaan alam di daerah ini, proses pembentukan rawa-rawa di sepanjang tebing sampai ke muara sungai, lebatnya hutan rimba, sukarnya komunikasi antara daerah yang satu dengan yang lainnya, induk sungai Musi dengan anak Batanghari Sembilannya menjadi faktor terpenting bagi lalu lintas perdagangan, penanaman kekuasaan, pemasukan kebudayaan dari luar oleh golongan emigran yang berasal dari pulau-pulau sekitarnya atau dari pedagang-pedagang asing. Letaknya yang strategis pada jalur pelayaran perdagangan Internasional via selat Malaka di zaman kuna (abad 1 – 1500 masehi) (Burger, Prajudi Atmosudirdjo, Sedjarah Ekonomi-Sosiologis Indonesia I, J.B.Welters, Jakarta, 1957, halaman 15), menyebabkan daerah ini banyak sekali dipengaruhi pulau-pulau sekitarnya, baik dalam lapangan kebudayaan atau pun percampuran suku, teristimewa bagi penduduk yang mendiami daerah-daerah pantai. Perbedaan letak geografis itu pulalah, menyebabkan daerah-daerah kepulauan di Indonesia memperoleh perkembangan-perkembangan yang tidak sama.
Daerah yang terletak dekat urat nadi lalu lintas pelayaran perdagangan dunia seperti pantai Timur Sumatera bagian Selatan, terjadi kontak dengan kebudayaan asing, yang hampir selalu mengakibatkan terjadinya proses akulturasi di atas tubuh peradaban Indonesia, yang ternyata unsur-unsur asing itu merupakan sumber cipta dalam sejarah kebudayaan daerah ini dari abad ke abad.
Akhirnya dapat kita simpulkan, bahwa adanya faktor-faktor demografi, penduduk yang jarang di daerah yang amat luas, perjuangan yang berat melawan tantangan alam yang hebat, keadaan iklim yang lembab dan sebagainya, tidaklah menghalangi tumbuhnya suatu pusat kuasa politik, ekonomi dan kebudayaan yang diperkirakan mula-mula terletak di sepanjang Bukit Barisan, dan beberapa abad kemudian terpencar dalam beberapa suku (istilah “Suku” hendaknya diartikan suatu kelompok yang mendiami suatu batanghari (aliran sungai) dengan ciri bahasa dan adat kebiasaannya yang sama seperti Komering, Pasemah dan Musi) mendiami anak Batanghari Sembilan, menjadi kerajaan-kerajaan sungai (river’s states). Di antara beberapa kerajaan sungai itu baru dikenal dalam abad ke 7 Masehi (Prof. Dr. B.J. Krom, Zaman Hindu, PT. Pembangunan, Jakarta, 1954, halaman 48-49) seperti Mo-Loyeu (Melayu), To-lang, P’o-hwang (Tulang bawang), Che-li Fo-che atau San Fo-ts’i (Sribuza menurut berita Arab).
Seperti yang telah dikatakan di atas, letak pulau Sumatera yang membujur dari barat laut ke tenggara dengan bukit barisannya, adalah kelanjutan gugusan gunung berapi yang berasal dari pergunungan Himalaya. Di sepanjang bukit barisan itu diperkirakan adanya penghuni yang mula-mula di daerah ini, karena berdasarkan hasil penelitian pra-sejarah akhir-akhir ini. (di daerah Sumsel memiliki paling banyak dialek misalnya bahasa Komering, bahasa Kayu Agung, bahasa Rejang Lebong, bahasa Pasemah dan bahasa Musi)
Oleh karena belum begitu banyak peneliti dalam bidang arkheologi di daerah ini, maka sangat sukar bagi kita untuk mengambil suatu kesimpulan yang berdasarkan fakta sejarah. Walaupun kita menerima teori migrasi yang berdasarkan hasil penelitian pra-sejarah, yang menunjukkan adanya berbagai suku bangsa telah memasuki kepulauan nusantara dari daratan Asia, namun tidak akan menutup kemungkinan-kemungkinan lain yang mengatakan, bahwa sejak zaman dahulu di daerah kepulauan kita ini telah berdiam tipe-tipe manusia yang tergolong tipe Wedda, Mongolidatua dan Negrito. Ketika terjadi perpindahan suku bangsa dari daerah Hindia Belakang, di antara mereka itu ada yang menyebar di Indonesia bagian barat dan ada pula yang menyebar di Indonesia bagian Timur lewat kepulauan Filipina.
Mereka yang menyebar di bagian barat itu mendirikan kolonisasi-kolonisasi di sepanjang lereng bukit-barisan dan bercampur dengan penduduk pribumi, yang menurunkan Proto Melayu sebagai pendukung suatu peradaban yang terdapat di sekitar Gunung Kaba, Gunung Dempo dan Gunung Seminung.
Berdasarkan cerita-cerita rakyat (folklore) di daerah Kabupaten Rejang Lebong, yang menggambarkan kebesaran nenek-moyang di zaman dewa-dewa, memberikan suatu petunjuk kepada kita dalam mengadakan penelitian yang lebih mendalam mengenai daerah sekitar Gunung Kaba tersebut. Ada kemungkinan pada zaman dahulu, daerah sekitar itu pernah didiami oleh sekelompok manusia (Puak) yang hidup secara sederhana. Dengan alasan-alasan yang belum diketahui, mereka melakukan perpindahan dan kemudian melahirkan suku-suku Rejang, Beliti (Musi Rawas), suku Saling di daerah Tebing Tinggi, Bengkulu Utara, Kerinci dan lain-lain.
Daerah Pasemah adalah daerah histori, suatu Daerah yang sangat menarik bagi akhli-akhli purbakala sepanjang masa, justru kalau daerah itu banyak meninggalkan sisa-sisa kebudayaan degalettik bahkan dianggap sebagai pusat yang paling tua dalam seni pahat di Indonesia. Sudah dapat kita pastikan, mereka yang tinggal di daerah gunung Dempo ini adalah pendukung kebudayaan batu besar yang dapat ditentukan tarikh relatifnya. Pada umumnya masyarakat yang sekarang mengaku dirinya orang Pasemah, yang lazim disebut “sanggar agung” atau “se-ghase”, ketika mereka tersebar ke daerah-daerah sekitarnya telah melahirkan beberapa suku seperti suku Gumai, Besemah, Kikim, Semendo, Enim, Lematang, Kisam, Ogan, Rebang Semendo di Lampung dan suku Serawai di Bengkulu Selatan.
Akhirnya di daerah sekitar gunung Seminung dan danau Ranau, yang termasuk daerah Kabupaten Komering Ulu (OKU), pernah juga menjadi tempat pemukiman Proto Melayu, yang biasanya disebut masyarakat “skala-berak”. Rumpun skalaberak pada waktu yang belum dapat dipastikan perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut, telah tersebar dengan adatnya sendiri-sendiri menjadi suku Komering Ulu/Ilir, suku Ranau, suku Abung, suku Peminggir, suku Pubian, suku Jelmo Doya, suku Kroi, dan suku-suku yang mendiami sebelah menyebelah sungai Tulang bawang yang termasuk propinsi Lampung.
Apabila ketiga rumpun masyarakat purba yang mendiami daerah sekitar Gunung Kaba, Gunung Dempo dan Gunung Seminung dapat dijadikan suatu pangkal bertolak menyusun sejarah sebagai kisah daerah ini, maka daerah Sumatera bagian Selatan termasuk daerah yang sangat penting berdasarkan catatan-catatan (berita) dari luar negeri. Tetapi suatu hal yang aneh, justeru di daerah tersebut belum banyak diketahui sumber-sumber tertulis yang ada di daerah itu sendiri.
Setelah terjadi perubahan alamiah di daerah ini, maka mulailah mereka mencari tempat-tempat pemukiman yang baru di sebelah menyebelah sungai Batanghari Sembilan, di mana lingkungan alam sekitarnya turut membentuk tubuh dan watak manusianya di samping faktor-faktor biologis. Itulah sebabnya di daerah ini paling banyak terdapat suku-suku dengan dialeknya masing-masing, yang satu sama lain tidak kenal mengenal dan mengerti bahasanya.
Keadaan alam dan iklim di daerah ini, seperti yang telah digambarkan di atas, menyebabkan sungailah satu-satunya alat terpenting bagi lalu-lintas perdagangan, penyebaran kekuasaan dan kebudayaan. Jalan darat hampir tak ada pada waktu itu, kecuali hubungan antar sungai dengan mempergunakan berbagai bentuk perahu/kapal sebagai alat penghubung. Sukarnya hubungan di daerah hulu sungai pada waktu itu, telah mempercepat proses isolasi alam hingga menatirular isoiasi batin di kalangan suku-suku tersebut.
Pada permulaan abad pertama Masehi atau sebelumnya, telah diperkirakan telah ada kerajaan-kerajaan sungai (river’s states) di daerah ini yang telah melakukan pelayaran ke India (C.Nooteboom, Sumatera dan Pelayaran di Samudera Hindia, Bhratara, Jakarta, 1972, hal.10-14) dengan mempergunakan perahu-perahu cadik. Bahkan pelayaran itu tidak hanya ke India saja, tetapi juga mereka telah melakukan pelayaran yang lebih jauh sampai ke Madagaskar. (Gabriel Ferrand, Les Yavanais a Madagascar, Journal Asiatique, 1910, hal.308-309)
Hubungan antara Sumatera dengan India yang telah berlangsung pada abad kedua atau pertama sebelum tarikh Masehi itu, telah mengikat kedua negari itu dalam lapangan kebudayaan dan perdagangan via selat Malaka. Seperti yang telah kita lihat di daerah ini, betapa banyak macam perahu bercadi, berkemudi samping yang ditutup dengap atap dalam ukuran yang cukup besar dipergunakan oleh masyarakat, yang sampai saat ini hampir lenyap dan tidak dipergunakan lagi.
Apabila kita membaca teori James Hornell dalam bukunya “Watertrasport, origins and early evolution” dan hasil penyelidikan Pierre Paris dalam “Journal Asiatique”, maka tidak mengherankan pada waktu lskandar the Great berkuasa di lembah sungai Sindu telah terdapat perahu-perahu Sumatera di sana, dan seorang duta yang bernama Rachias pernah berkunjung ke keraton kaisar Claudius, adalah berasal dari salah satu kerajaan sungai di daerah Sumatera Selatan. Kelihatan dalam abad ke-2 sebelum Tarikh Masehi atau pertama sebelum Masehi, adanya lalu lintas antara kedua negeri tersebut secara teratur.
Hubungan pelayaran perdagangan antara India dan Sumatera yang pada waktu itu kerajaan-kerajaan sungai terletak di hulu sungai Batanghari Sembilan dan sungai Mesuji (Lampung), sudah menjadi suatu hubungan yang tetap dan terpelihara sampai awal abad ke-11 sesudah Masehi. Seorang musyafir Cina yang bernama I-Tsing pada tahun 672 pernah tinggal di suatu kerajaan sungai (daerah Jambi), meneruskan perjalanannya ke India dengan mempergunakan kapal seorang raja Sumatera. (J. Takakusu, A record of the Budhist religion as Practised in India and the Malay Archipelago, Oxford, 1896, hal.XXX)
Kemudian dalam tahun 860 Masehi, raja Sriwijaya mendirikan sebuah asrama dekat bihara Nalanda, yang pada waktu itu merupakan pusat kegiatan ilmiah. Adanya kunjungan musafir-musafir alim dari Sumatera ke India, menunjukkan adanya hubungan kapal-laut selat Malaka yang teratur, dan hubungan kedua negeri itu sangat erat sampai kepada awal abad kesebelas, yang pada waktu itu seorang raja Sumatera menghadiahkan lagi sebuah desa Anaimangalam kepada bihara di Negapatnam. (G. Ferrand, L’Empire Sumatranais de Criwijaya, Paris, 1922, hal.48; lihat juga Archeological Survey of India, jilid IV, Indras, 1886, hal.205 dan 218)

Jika ditinjau secara keseluruhan, tampaklah betapa penting daerah perairan antara Taiwan dengan India, dan tampak pula bahwa urat nadi Asia Tenggara itu ialah selat Malaka dan Selat Sunda, yang dari abad ke abad menjadi daerah lalu lintas perdagangan dunia. Sebagai akibat ramainya lalu lintas melalui selat tersebut, telah memungkinkan timbulnya tempat-tempat persinggahan untuk mengambil persediaan bahan makanan dan air minum atau tempat-tempat penimbunan barang di daerah pantai timur Sumatera bagian Selatan, yang merupakan titik pertemuan antara pelayaran pantai dan sungai yang dibangun oleh suku-suku Melayu dengan rumah-rumah bertiang tinggi dan rumah-rumah rakit yang terapung di sepanjang sungai.
Dengan demikian mulailah daerah ini ikut serta di dalam kegiatan pelayaran perdagangan, apalagi setelah pedagang pedagang asing mengetahui daerah tersebut banyak memproduksi hasil hutan.
Oleh karena rute perdagangan dunia dari arah Barat dan dari Tiongkok via Selat Malaka, yang dari abad ke abad lalu lintas itu semakin ramai, sedangkan letak kerajaan kerajaan sungai sudah jauh dari lalu lintas itu, maka mulailah pada akhir abad VII Masehi, salah seorang penguasa kerajaan sungai memindahkan pusat kuasa ke tempat yang baru. Pusat kuasa yang lama dan pernah memegang peranan penting sebelumnya, mungkin sekali terletak di daerah udik sungai Batanghari Sembilan (daerah Musi Rawas?) suatu daerah yang tidak jauh dari udik Sungai Batanghari, ditemukan nama tempat (dusun) “Menang(a)” di pertemuan sungai Rawas!!
Di samping itu ada juga kemungkinan lain, yang mengirakan asal Dapunta Hyang dari daerah OKU, karena di sana terdapat sungai Menanga. Tetapi apabila kita memperhatikan bahasa yang dipakai dalam piagam-piagam yang pernah dikeluarkan oleh raja-raja yang berkuasa di daerah ini dan sisa-sisa purbakala belum banyak digali di daerah tersebut, maka kemungkinan itu tak dapat dipertanggung jawabkan. Walaupun demikian, bukan hal yang tidak mungkin di sekitar daerah sungai Mesuji pulau Gerunggang danau Air ltem sungai Dabuk Pedamaran dan daerah Kayu Agung, sebagai basis angkatan laut pada zaman dulu.
Sebelum pusat kuasa yang baru dipindahkan ke Bukit Siguntang (Palembang), I-Tsing pernah mengunjungi San-fotse (Muara Tembesyi) dalam tahun 672 Masehi, dan dalam beberapa puluh tahun kemudian pusat kuasa itu berpindah ke Zabag yang terletak di kuala sungai Batanghari. (Drs. B.D. Mansur et al. Sejarah Minangkabau, Bhratara, Jakarta, 1970, hal.43)
Tetapi kemudian pedagang-pedagang asing tidak lagi mengunjungi tempat tersebut, karena letaknya sudah terlalu jauh dari arus lalu lintas perdagangan atau di tempat itu sendiri kurang aman. Dalam hal ini dapat kita kemukakan pendapat Mangaradja Onggang Parlindungan dalam kitab Tuanku Rao.
“Pada tahun 99 H (718 M) Sri Maharadja Sir indrawarman radja Sri Widjaja/Djambi, masuk Islam! ….. Pada tahun 720 fihak Tiongkok/Tang Dinasty yang beragama Budha Mahayana mendatangkan dua orang ….. ke Universitas San Fo Tsi di Sri Widjaja/Djambi (Vadjrabodi dan Amogawadjara) ….. Agama Budha Hinayana dan Agama Islam dengan pedang dibasmi habis di keradjaan Sri Widjaja/Djambi ….. lbu kota dari Sri Widjaja di tepi Sungai Batanghari habis dibumi hangus, dan didirikan baru di tepi sungai Musi menjadi Sri Widjaja Palembang …..” (Mangaradja O.P., Tuanku Rao, Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964, hal.575-576)
Seperti yang telah digambarkan di atas, betapa cepat perubahan alamiah di daerah ini, sehingga garis pantai dalam abad VII Masehi jauh berbeda dengan keadaannya sekarang, maka pusat-pusat kuasa yang lama tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai ibukota pelabuhan sungai. Oleh sebab itu sejak tahun 683 Masehi, pusat kuasa yang baru dipusatkan di daerah Bukit Siguntang dan dari bukit itu Dapunta Hyang telah mencurahkan tenaga perangnya untuk memperoleh titik tumpu kekuasaan pengontrol lalu lintas perdagangan via Selat Malaka dan Sunda.
Apa yang kita lihat dari suatu tradisi tentang munculnya kerajaan Sriwijaya yang pada akhirnya berpusat di sekitar kota Palembang, yang pada mulanya adalah pelarian keluarga raja dari suatu kerajaan hulu sungai Batanghari Sembilan ataukah sungai Batanghari (Jambi), dan dari fakta historis tentang menyebarnya pedagang-pedagang dari suatu pusat dagang yang telah mundur ke pusat yang baru, yang diperkirakan lebih menguntungkan, barangkali dapatlah dikatakan bahwa kerajaan-kerajaan maritim di perairan Indonesia, haruslah dianggap sebagai berada dalam suatu kerangka dunia yang sama. Keleburan suatu pusat perdagangan pada dasarnya tidak mengganggu perdagangan itu sendiri bahkan memberikan stimulan bagi munculnya pusat-pusat baru, yang berarti munculnya penantang-penantang baru yang saling bersaingan untuk menggantikan pusat yang telah jatuh.
Ditinjau dari segi politik dan kebudayaan, kejatuhan atau ditinggalkannya pusat dagang maritim sering diikuti oleh usaha penguasa untuk mencari lokasi baru, sambil mengingatkan rakyat dan pembesar-pembesar di bawah taklukannya akan masih abadinya legitimasi yang dimilikinya. Maka tidaklah mengherankan suatu persamaan yang menyolok yang pernah dilakukan oleh Paramecora, waktu dia meninggalkan Palembang (berdasarkan kitab Sejarah Melayu) (Sedjarah Melaju menurut terbitan Abdullah (bin Abdulkadir Munsji). oleh T.D. Situmorang & Dr. A. Teeuw,
Jembatan, 1952), dan pernah juga dilakukan oleh Sultan Malaka waktu ibu kotanya direbut oleh bangsa Portugis dalam tahun 1511.
Kedua-duanya keluar dari instana dengan membawa semua regalia, berhenti pada tempat-tempat tertentu dan mendirikan istana, seperti Dapunta Hyang berhenti di Bukit Siguntang membuat dusun Sriwijaya, sebagai simbol logitimasi dan pusat kosmos. Dari tempat itu pulalah dia mengingatkan pengikut-pengikutnya tentang kewajiban mereka terhadapnya, seperti yang kita lihat pada piagam Kota Kapur, Karangbrahi dan Palas Pasemah (Lampung Selatan). Dengan jalan demikian, kemantapan baru dalam kosmos tercipta dan kontinuitas dinasti kerajaan pun diperabadikan.***
Wallahua’lam
***Rujukan: Sejarah Daerah Sumatera Selatan; Drs. Ma’moen Abdullah, dkk; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumsel; 1991; halaman 16-25









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan