infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Allah Memadukan Kesenangan dan Kesusahan dalam Hidup Manusia

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Dalil dari sunah ini adalah firman Allah swt:  
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Q.S. Al-Bagarah (2): 155).

Dan Kami akan berikan yang baik dan buruk sebagai ujian, dan kepada Kamilah kalian kembali (Q.S. Al-Anbiya (21): 35).

Apa hikmah di balik ujian yang Allah swt berikan pada manusia?

Manusia secara kodrati merupakan hamba Allah swt dan dituntut untuk membuktikan kodratnya melalui perilaku bebasnya. Maksudnya, amal perbuatan manusia harus sesuai dengan jati diri atau kodratnya. Sama seperti pakaian yang harus sesuai dengan ukuran badan.

Tidak diragukan lagi, manusia difasilitasi dengan berbagai pemberian untuk dia nikmati. Namun, dia bukanlah pemilik dari fasilitas ini. Manusia diberi akal dan pikiran, tapi dia tidak bisa menguasainya dengan bebas. Dia bukan yang menanam akal dalam dirinya, sehingga dia tidak akan mampu mempertahankannya. Manusia diberi kemampuan berbicara, tapi itu hanyalah hak pakai, bukan hak milik. Manusia diberi nikmat pendengaran, penglihatan, dan kesehatan, namun itu semua ada bukan atas usaha dan keinginannya. Oleh karena itu, manusia juga tidak mempunyai kemampuan untuk mempertahankannya. Kesehatan, masa muda, pendengaran, dan penglihatan akan hilang secara tiba-tiba sebagaimana ia melekat dengan sendirinya.

Jadi, manusia adalah makhluk milik Allah, Sang Pemberi semua fasilitas kehidupannya. Ia dibiarkan memakainya, tanpa punya kuasa terhadapnya. Fasilitasnya akan diminta kembali, kapan pun Allah swt menghendaki. Inilah arti dari yang kami sebutkan, manusia merupakan hamba dari Sang Pemberi berbagai fasilitas dalam tubuhnya. Hal ini sangatlah logis dan ilmiah.

Siapa pemilik fasilitas jiwa dan diri manusia?

Ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa Allah swt adalah Pencipta semua yang ada di alam semesta. Saya sudah menjelaskan hal ini dalam dua buku saya (Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti), Kubra Yakiniyyat al Kawniyyah dan At-Ta’arruf ‘ala al-Dzat.

Jika telah jelas bahwa manusia adalah hamba dari Sang Pemilik jiwa dan semua fasilitasnya, maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk terus menyadari hal ini. Kewajiban selanjutnya adalah menundukkan perilaku bebasnya pada kodrat kehambaannya, karena dia adalah milik Allah dan tidak lepas dari kekuasaan-Nya.

Bagaimana manusia membuktikan penghambaannya kepada Allah swt?

Penghambaan manusia akan terlihat dalam dua hal: bersyukur di kala lapang dan bersabar di kala sempit. Bersyukur adalah mempergunakan nikmat untuk hal-hal yang diridhai Allah swt. Bersabar adalah menyatakan kerelaan atau keridhaan kepada-Nya dan tidak marah ketika ada ujian. Jika seseorang bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika tertimpa musibah, maka dia telah membuktikan penghambaannya kepada Allah swt melalui perilaku sadarnya, sesuai jati diri kodratinya sebagai hamba.

Terwujudnya penghambaan sadar manusia sangat tergantung pada iklim pendukungnya. Iklim yang dimaksud adalah silih bergantinya kesenangan dan kesusahan dalam kehidupan. Jika yang ditemukan dalam keseharian hanya kesenangan-kesenangan saja, atau hanya kesusahan-kesusahan saja, niscaya penghambaan manusia tidak terlaksana. Karenanya, sunah rabbani ini berlaku sejak manusia diciptakan dan akan terus berlaku hingga Hari Kiamat.

Mungkin ada yang bertanya atau mengkritik: Mengapa manusia dibebani keharusan menghambakan diri kepada Allah swt dan tidak diberi kebebasan untuk memilih penghambaan sesuai dengan keinginannya?

Manusia hanya boleh menggunakan kebebasannya di hadapan manusia lain yang berinteraksi dengannya. Kebebasan itu sepenuhnya ada pada dirinya tapi tidak boleh mengurangi atau merusak penghambaan kodratinya kepada Allah swt. Bahkan, penghambaan kepada Allah swt akan melindungi kebebasannya dari perampasan atau pengurangan. Manusia yang meyakini dirinya milik Allah swt tidak akan membiarkan orang lain mengatur atau memaksanya untuk mengikuti atau melakukan sesuatu. Banyak fakta yang telah membuktikan hal ini.

Sedangkan mengharapkan bebas dari penghambaan kepada Allah swt secara kodrati hanyalah angan-angan bodoh. Anggap saja ada firman yang menyetujui hal ini: “Kamu boleh berbuat sesukamu. Kamu terbebas dari kodrat penghambaanmu kepada-Ku.” Namun, apa yang bisa manusia perbuat dengan kebebasan ini?

Apakah manusia bisa menolak kedatangan masa tua, melindungi tubuhnya dari serangan segala penyakit, atau mempertahankan akalnya ketika memasuki usia senja? Apakah dia mampu menghindar dari kebodohan setelah sebelumnya berilmu, mengontrol lupa setelah sebelumnya bisa mengingat? Apakah dia bisa menolak stres setelah fresh, gila setelah berakal, bangun setelah tertidur, dan mati setelah hidup? Dengan kata lain, apakah manusia bisa berbuat sesuka hati dengan fasilitas yang dipinjamkan padanya? Fasilitas itu datang begitu saja tanpa dia sadari, berfungsi tanpa dia ketahui, dan kelak akan hilang tanpa dia ketahui kapan waktunya.

Manusia sebenarnya telah diberi karakter-karakter tertentu. Jauh sebelum itu, dia juga telah ditakdirkan tercipta tanpa bisa memilih wujudnya dan akan meninggal tanpa tahu kapan waktunya, tanpa bisa menolaknya. Siapa yang berharap tak terikat oleh ketetapan ini, membayangkan terbebas dari takdir ini, lalu mengungkapkannya secara terang-terangan dan membiarkan dirinya larut dalam kesombongan dan ketololannya, niscaya dia akan terpenjara dalam angan-angan dan mimpinya, lalu meratapi kesaksiannya atas angan-angan tersebut.

Manusia berhak memimpikan sesuatu yang mungkin untuk dicapai. Tetapi, jika dia mencita-citakan yang sudah pasti tak bisa dicapai dan tak bisa dijalani, maka dia seperti orang pendek yang memaksakan diri memakai baju panjang dengan tujuan menutupi tubuh pendeknya, berharap berubah menjadi sosok tinggi yang membanggakan atau mengagumkan.

Kebebasan yang disuarakan oleh sebagian orang saat ini—seperti yang saya katakan—mengancam rasa penghambaan kepada Allah swt. Padahal, rasa penghambaan inilah yang akan membuat manusia menikmati kebebasannya secara hakiki dalam berbagai muamalahnya dengan sesama manusia. Alquran telah menjelaskannya:

Katakanlah (Muhammad): “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, (yakni) kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain tuhan-tuhan selain Allah” (Q.S. Ali “Imran (3): 641).

Alquran mengatakan bahwa sunatullah ini berlaku untuk semua manusia, tidak dikhususkan untuk orang tertentu. Hal ini menjadi dalil bahwa kesusahan yang menyertai kesenangan dalam hidup bukanlah balasan langsung aras maksiat yang dilakukan. Ia merupakan sunah yang berlaku unuk semua manusia, termasuk para nabi, rasul, dan orang-orang saleh, dengan alasan yang telah disebutkan, yaitu demi terciptanya iklim yang mendukung seorang muslim untuk membuktikan penghambaannya kepada Allah swt.

Adapun musibah yang Allah swt kirimkan untuk para hamba-Nya yang bermaksiat sebagai balasan atas maksiat mereka termasuk dalam sunatullah yang lain, yang nanti akan kita bahas.

Masjid nabawi

Dunia merupakan tempat beramal dan akhirat merupakan tempat menerima balasan. Kehidupan yang sedang kita jalani saat ini adalah perlintasan menuju tempat tujuan. Karena itu, sudah semestinya jika tiada nikmat dan kesenangan di dunia ini yang bersih dari ranjau, cobaan, air mata, dan kesakitan, agar orang yang melewatinya tidak terlena. Manusia ditakdirkan untuk lewat dan singgah di dunia ini sesaat saja. Jika kehidupan dunia terbebas atau bersih dari duri-duri dan penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, tentu manusia akan terlena di dalamnya sebagaimana kelak mereka terlena di surga yang dijanjikan. Mereka tidak lagi tertarik pada tujuan sebenarnya, karena telah tergantikan oleh surga dunia yang mereka nikmati.

Bayangkan, betapa tersiksanya manusia saat mengetahui harus pergi secara tiba-tiba, sambil mengingat waktu-waktu mereka di dunia. Mereka baru sadar bahwa mereka hanya sesaat saja di dunia. Bayangkan, apa jadinya ketika manusia ditarik dari kesenangan yang sedang dia nikmati seperti ditariknya bayi dari susu ibunya, padahal dia sangat butuh dan tergantung pada ASI tersebut?!

Sekali lagi, kehidupan duniawi merupakan tempat beramal (darut taklif), bukan tempat menerima balasan. Dunia adalah jembatan menuju tujuan, bukan tempat tinggal atau tempat menetap. Karenanya, segala yang ada di dalamnya harus disesuaikan dengan penghambaan kepada Allah swt. Nikmat dan kesenangannya tidaklah lebih dari kesenangan seorang musafir yang sedang beristirahat. Terlebih, sudah kami jelaskan bahwa dunia harus menjadi iklim yang sesuai untuk membuktikan penghambaan manusia kepada Allah swt.

Ketika susah dan senang bercampur dalam hidup manusia, maka kodratnya sebagai hamba akan hidup. Kodrat itu akan menuntunnya untuk tunduk pada aturan dan syariat Allah swt, sehingga bisa menjadi hamba sejati Allah swt, baik dalam berhubungan dengan Allah swt maupun dengan sesama makhluk. Jika hal ini telah tercipta, mungkinkah manusia menzalimi, mencela, berbuat buruk, dan mengambil hak-hak orang lain? Ketika rasa penghambaan pada Allah swt telah hidup dalam jiwa seseorang, semua sifat buruk tersebut akan terusir dan budi pekerti sangat luhur akan bersemayam dalam dirinya, sehingga dia bersih dari kejelekan.

Adapun kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang di masa lalu maupun masa sekarang, semua itu tak lain disebabkan karena hidup mereka terhijab dari jati diri mereka: karena mereka lupa dan tersesat dari kodrat mereka sebagai hamba Allah swt. Inilah penyebab mengapa mereka mau mengambil hak-hak orang dan bangga dengan kezaliman, serta tidak peduli dengan azab yang sedang menanti mereka.

Hal ini terbukti ketika sebagian mereka bertobat, lalu menyadari kodrat diri mereka, beriman kepada Tuhan mereka, serta menyadari penghambaan mereka kepada Allah swt. Di saat kondisi mereka telah membaik, mereka membayar dan menebus masa lalu mereka, sehingga mereka menjadi teladan ideal dalam bermuamalah dengan orang lain.

Namun, perlu diketahui bahwa sifat thughyan (zalim diikuti sombong) yang sudah membesar dalam jiwa seseorang jarang berakhir dengan kesadaran dan keinsyafan akan kodrat kehambaannya pada Allah swt. Karena, sifat ini bertentangan dengan makna kehambaan kepada-Nya. Adapun yang terjadi pada orang-orang yang bermaksiat tapi beriman kepada Allah swt adalah mereka lemah dan kalah dalam melawan hawa nafsu.

Thughyan adalah ambisi meraih mimpi yang tak mungkin dicapai, yaitu mengaku memiliki sifat-sifat tuhan dan mati-matian mempertahankan pengakuan tersebut. Adapun maksiat (‘ishyan) masih punya potensi membuat seseorang tersungkur karena merasa hina dan lemah di hadapan Allah swt. Apa yang bisa membuat salah satu dari keduanya sangat dekat dengan rasa penghambaan dan kodrat diri sejati? Jika pelakunya bertobat dan kembali kepada Allah swt.***

Wallahu a’lam

***Disadur dari Min Sunanillah, Renungan Renungan Singkat; Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buti; Penerbit Qalam, 2023; halaman 11-18

kembali ke atas | indeks pilihan | download | iklan kecik



3 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600143947


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.650

PERTAMAX TURBO
Rp21.200

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp23.500

DEX
Rp25.350

BRIGHT GAS 12 KG
Rp230.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp111.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca