Secara bahasa, syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan atas kebaikannya tersebut. Dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.
Sedangkan istilah syukur dalam agama adalah sebagaimana yang dijabarkan Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin. Ia adalah menunjukkan adanya nikmah Allah pada dirinya melalui lisan, hati dan anggota badan. Syukur dengan melalui lisan berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat, dengan melalui hati berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah, dan dengan melalui anggota badan berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah.
Sementara, lawan dari syukur adalah kufur nikmat. Yakni enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Swt.
Baca Juga
Perlu kita ketahui, bahwa syukur merupakan salah satu sifat Allah yang mulia (asmaul husna). Yaitu Allah pasti akan membalas setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tanpa luput satu orang pun dan tanpa terlewat satu amalan pun.
Dalam Al-Quran telah disebutkan, “Sesungguhnya Allah itu Ghafur dan Syakur.” (QS.asy-Syura:23)

Imam Abu Jarir Ath-Thabari, seorang ahli tafsir, menafsirkan ayat di atas dengan riwayat dari Qatadah, bahwa ghafur artinya Allah Maha Pengampun terhadap dosa, dan Syakur artinya Maha Pembalas Kebaikan sehingga Allah lipat gandakan ganjarannya.
Dalam ayat yang lain, Allah Swt berfirman, “Allah itu Syakur lagi Halim.” (QS. At-Taghabun: 17)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan tentang ayat ini bahwa Syakur maksudnya memberi membalas kebaikan yang sedikit dengan ganjaran yang banyak.
Orang yang merenungi bahwa Allah adalah Maha Pembalas Kebaikan dari Rabb kepada hamba-Nya, akan menyadari bahwa tentu lebih banyak lagi seorang hamba yang bersyukur kepada Rabbnya atas begitu banyak nikmat yang ia terima.
Senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat, juga merupakan sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia, meskipun cobaan datang dan rintangan menghadang. Hal ini dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Quran, “Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra:3)
Dalam ayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl: 121-120)
Begitu pula dalam hadis disebutkan, “Diceritakan oleh ‘Aisyah ra., “Rasulullah Saw, biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kulit kakinya mengeras.”
‘Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau sampai demikian? Bukankah dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai ‘Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Swt. dalam banyak ayat di dalam Al-Quran memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya. Maka syukur adalah ibadah dan bentuk ketaatan atas perintah Allah. Allah Swt. berfirmnan, “Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Selain itu, Allah Swt. juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah:172)
Oleh karena itu, jadilah seorang yang pandai bersyukur sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan diajarkan oleh para nabi dan rasul-Nya. Dengan bersyukur kita akan mendapatkan buah manis darinya, salah satunya yakni sebab bertambahnya nikmat. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt., “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mengumumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)
Wallahu a’lam
***Rujukan: 88 Strategi Bisnis ala Rasulullah yang Tak Pernah Rugi; Ahmad Jarifin; 2019; halaman 20-22









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan