Umumnya sejarawan sepakat, kertas merupakan salah satu sumbangsih peradaban China untuk dunia. Berkat adanya alas tulis itu, pembuatan buku menjadi lebih cepat dan efisien. Hal itu pada gilirannya melesatkan dinamika literasi dan bahkan ilmu pengetahuan secara global.
Michael H Hart dalam bukunya yang mengulas daftar 100 tokoh dunia paling berpengaruh di sepanjang sejarah, menempatkan sang penemu kertas, Ts’ai Lun, dalam urutan 10 besar. Tepatnya, peringkat ketujuh—yakni setelah Santo Paulus dan sebelum Johann Gutenberg.
Ts’ai Lun (sering pula disebut Ts’ai Lung atau Cai Lun) hidup pada era Dinasti Han, yang menguasai sebagian China antara abad pertama dan kedua Masehi. Ia diperkirakan lahir pada tahun 50 dan meninggal dunia 71 tahun kemudian.
Menurut Hart, banyak rumor yang mengeklaim sosok Ts’ai Lun hanyalah legenda. Beberapa orang menyebut, nama itu semata-mata julukan bagi umumnya pengrajin kertas pada zaman China klasik. Akan tetapi, berbagai penelitian sejarah era kontemporer berhasil memastikan, sosok itu nyata adanya. Lelaki kelahiran Kota Leiyang itu bahkan sempat menjadi pejabat di lingkungan istana.
Memang, bangsa China sudah memiliki perangkat menulis meski dalam wujud sederhana dan tidak praktis. Setidaknya dua abad sebelum Ts’ai Lun lahir, masyakat Tiongkok telah mengenal alas tulis semisal lembaran pelepah bambu yang dikeringkan. Mirip seperti orang-orang Mesir Kuno yang memanfaatkan lapisan dari serat tumbuhan papirus (Cyperus papyrus)—yang darinya nama kertas (paper) berasal.

Pada tahun 105 M, Ts’ai Lun menghadap kaisar sembari membawa contoh kertas yang berhasil diciptakannya. Dikisahkan, sang raja begitu terkesima dengan kualitas naskah yang dibawa seorang rakyatnya itu. Permukaan kertas buatan lelaki itu terasa lebih halus daripada lembaran-lembaran yang biasa dipakainya untuk menuliskan titah kerajaan. Sejak saat itu, Ts’ai Lun diterima sebagai pejabat resmi kekaisaran.
Sebelum adanya kertas hasil inovasi Ts’ai Lun, orang-orang China seperti layaknya bangsa-bangsa lain kala itu kerap menggunakan serat tanaman sebagai naskah. Biasanya, kulit kayu dipergunakan bila tulisan yang hendak diguratkan cukup pendek. Namun, bila teksnya lebih panjang, maka serat kulit bambu-lah yang dipakai.
Pihak istana kerap kewalahan bila menyimpan naskah-naskah resmi yang berupa gelondongan kulit kayu atau bambu. Sebab, benda-benda itu memakan cukup banyak tempat. Di samping itu, bahan-bahan tersebut mudah rapuh, rentan menjadi sasaran rayap, dan lapuk bila dibiarkan lembab. Para petugas istana pun terpaksa sering-sering menyalin isi dari masing-masing naskah sebagai cadangan.
Memang, ada beberapa alternatif di luar kulit kayu atau bambu sebagai medium menulis. Sebagai contoh, para bangsawan China kerap memanfaatkan kain atau sutra untuk alas tulisan. Namun, hal itu tentunya memiliki kekurangan. Dari segi ekonomis, menulis dengan kain atau sutra cenderung boros. Apalagi, jika teks yang harus dituliskan atau disalin cukup panjang, tidak sekadar pesan singkat atau aforisme. Tekstil yang sedianya dipakai untuk bahan membuat pakaian justru akan “terbuang” sia-sia.

Oleh karena itu, inovasi yang dihadirkan Ts’ai Lun menjadi solusi praktis bagi kaisar. Menurut Hart, tokoh Tiongkok itu menjadikan bambu sebagai bahan dasar pembuatan kertas. Serat bambu itu lalu ditambahkan dengan sedikit kain perca, jejaring, dan—yang terpenting—serpihan kulit kayu murbai (mulberry) atau cendana (sandalwood). Semua bahan itu dicampur, lalu direbus dalam tungku yang dipanaskan api. Dalam keadaan mendidih, seluruh komposisi itu pun berubah menjadi bubur kertas.
Saat itulah, si pengrajin terus mengaduk adonan tersebut dengan tongkat batu atau kayu, sembari menambahkan air dalam takaran tertentu hingga alot. Bahan perekat khusus lalu dituangkan ke dalamnya. Akhirnya, adonan itu diratakan pada cetakan dan diperas sampai air yang masih terkandung di dalamnya dapat keluar. Hasilnya, kertas yang benar-benar kering sehingga bisa dipakai untuk menulis.
Para sejarawan modern umumnya meyakini, penemuan Ts’ai Lun bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba, melainkan berasal dari pengamatan yang gradual terhadap kerajinan pembuatan kertas yang sudah ada pada masa itu. Ia “hanya” menyempurnakan proses pengolahan bubur serat bambu sebagai bahan utama kertas, sesuatu yang sudah dikenal peradaban China setidaknya sejak 200 SM.
Sinolog Joseph Needham dalam buku Science and Civilisation in China (1985) menerangkan, ada dugaan bahwa Ts’ai Lun terinspirasi kebiasaan penduduk kampung kelahirannya, Leiyang. Mereka diketahui kerap memanfaatkan kulit pohon murbai sebagai bahan pembuatan kain murahan. Oleh karena kualitasnya kalah jauh dibandingkan sutra, maka orang-orang Leiyang tak jarang menjadikan kain itu sebagai alas menulis.
Bagaimanapun, Needham menekankan, hal itu tidak lantas menjadi alasan untuk mengesampingkan ketokohan Ts’ai Lun. Sebab, hasil inovasinya terbukti monumental dalam sejarah tidak hanya bagi bangsa China, melainkan juga kemanusiaan umum. Pantaslah bila Michael H Hart memasukkannya ke dalam daftar figur-figur pengubah sejarah.
Sementara itu, Kiyofusa Narita dalam Life of Ts’ai Lung and Japanese Paper-Making (1966) menuturkan cerita dari hikayat-hikayat China klasik. Suatu hari, Ts’ai Lun ditugaskan untuk menata buku-buku di perpustakaan pribadi kaisar. Jangan bayangkan “buku” demikian seperti yang biasa kita jumpai hari ini. Sebab, bentuknya jauh lebih menyerupai gulungan atau tumpukan kulit-kulit kayu yang berukuran besar sehingga sukar dipindah-pindah. Tugas itu lantas membuat Ts’ai Lun berpikir keras untuk menyederhanakan buku-buku itu. Dari sanalah idenya datang untuk terus bereksperimen menciptakan kertas dari bahan yang lebih padu.
Hasil rintisan Ts’ai Lun dengan cepat terkenal di seluruh China. Apalagi, bambu sebagai bahan utama pembuatan kertas amat mudah didapatkan. Memang, pada mulanya teknik penciptaan kertas ala Ts’ai Lun dirahasiakan. Hanya kalangan istana dan birokrasi kekaisaran yang mengetahuinya.
Namun, lama-kelamaan pengetahuan itu tersebar luas karena dorongan aspek ekonomi. Pabrik-pabrik kertas pun bermunculan di berbagai daerah. Dan, sejalan dengan geliat ekspansi China, teknologi ini lantas ikut menyebar. Korea dan Jepang menjadi kawasan pertama yang menikmati penemuan Ts’ai Lun itu. Sejak saat itu, berbagai naskah resmi dan keagamaan di Asia Timur marak menggunakan kertas yang lebih tahan lama dibandingkan sebelumnya.
Sejarah Kertas: Dari China Hingga Era Islam
Penemuan kertas pada awal abad kedua Masehi di China merupakan sebuah terobosan (breakthrough) besar. Penemunya, Ts’ai Lun, hingga kini dikenang sebagai salah satu penemu terhebat dalam sejarah umat manusia. Dalam buku karya Michael H Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential People in History, tokoh dari Negeri Tiongkok itu berada di urutan ketujuh, yakni sesudah Santo Paulus dan sebelum Johann Gutenberg.
Namun, keberadaan kertas masih merupakan “pengetahuan eksklusif” di China beberapa ratus tahun sesudah masa Ts’ai Lun. Dalam arti, benda yang luar biasa berfaedah itu dikenal atau populer di negerinya saja. Di luar China, persebaran alas tulis itu masih minim atau mungkin tidak terjadi sama sekali.
Keadaan berubah pada medio abad kedelapan Masehi. Tepatnya pada 751 M, pecahlah Perang Talas yang memperhadapkan antara Tang—sebuah dinasti yang menguasai sebagian China—dan Kekhalifahan Abbasiyah. Daulah Islam itu hendak mempertahankan hegemoni di Asia tengah. Karena itu, Baghdad pun bersekutu dengan Kerajaan Tibet, yang kala itu kian terjepit aneksasi Tiongkok.
Kedua belah pihak saling unjuk kekuatan di tepian Sungai Talas, yang alirannya membelah negeri Kirgizstan dan Kazakhstan modern. Pertempuran itu pada akhirnya dimenangkan Abbasiyah dan sekutunya.
Cukup banyak musuh yang berhasil ditangkap sebagai tawanan. Beberapa di antara prajurit pasukan Tang belakangan diketahui sebagai para pengrajin kertas. Menurut sejarawan Muslim dari abad ke-11, Thaalibi, inilah awal mulanya peradaban Islam mengadopsi kertas. Tak membutuhkan waktu lama, pabrik kertas pertama dalam wilayah Islam pun berdiri di Samarkand.
Khalifah Abbasiyah menyadari betapa revolusionernya penemuan yang dirintis seorang Cina, Ts’ai Lun, berabad-abad silam itu. Sebab, kertas yang diproduksi orang-orang Cina memiliki kualitas yang lebih halus, dengan bobot yang lebih ringan pula. Alhasil, bahan itu jauh lebih praktis sebagai alas menulis bila dibandingkan gulungan papirus, kulit hewan atau batu.
Memang, masyarakat yang menghuni Asia Tengah sudah membuat dan memakai kertas sejak ratusan tahun sebelum perang itu terjadi. Bagaimanapun, kontak budaya dengan Islam membuat teknologi pembuatan kertas itu lebih dikenal secara mondial. Sejak zaman Abbasiyah, makin banyak pabrik kertas didirikan di berbagai kawasan dunia Islam. Dan, ratusan tahun berikutnya, masyarakat Eropa pun mengetahui kertas melalui kontak budaya dengan peradaban Islam, utamanya di Andalusia (Spanyol).
Menjelang abad kedelapan, toko-toko kertas menjamur di Baghdad, ibu kota Kekhilafahan Abbasiyah. Seturut dengan itu, gerakan literasi pun semakin berkembang pesat. Teks-teks yang sebelumnya tercatat dalam berbagai medium—seperti gulungan papirus, permukaan batu, atau kulit hewan—kini disalin ulang pada kertas. Secara otomatis, makin banyak perpustakaan di kota berjulukan “seribu satu malam” itu. Akhirnya, Baghdad kian solid sebagai kota kosmopolitan, tempat kejayaan Islam berpadu dengan keunggulan sains dan teknologi.
Pada periode awal, sempat ada beberapa kendala dalam menyebarluaskan teknik pembuatan kertas ke seluruh dunia Islam. Misalnya, tidak semua daerah Muslimin banyak ditumbuhi pohon murbai (mulberry) atau cendana (sandalwood). Para ilmuwan Muslim pun memutar otak. Sebuah terobosan lain akhirnya tercipta. Mereka mengganti kulit pohon murbai dengan pohon linen, kapas, dan serat kayu yang ketebalannya kira-kira sama.
Inovasi lainnya berkaitan dengan proses fermentasi untuk mempercepat pemotongan linen dan serat. Para teknisi Muslim masa itu menambahkan pemutih atau bahan kimiawi lainnya sehingga permukaan kertas yang diperoleh menjadi lebih bersih.
Awalnya, proses pembuatan kertas sangat mengandalkan tenaga manusia (tukang). Namun, sejak 1151 M kaum Muslimin di Spanyol telah memanfaatkan kincir air untuk menggerakkan godam penumbuk adonan atau bubur kertas. Penggilingan bahan-bahan kertas pun tak lagi semata-mata bertopang pada tukang dalam jumlah banyak. Oleh karena adanya efisiensi tenaga, kertas yang dihasilkan pun dapat dijual dengan harga yang lebih murah. Sejak saat itu, industri kertas menyebar dengan cepat ke negeri-negeri Muslim.
Tak hanya kertas, peradaban Islam pun mengadopsi teknik pembuatan tinta dari Cina. Bangsa Tiongkok umumnya membuat tinta dari campuran jelaga hasil pembakaran kayu cemara, lampu minyak, dan jelatin dari kulit binatang. Produksi tinta berkembang di setiap kerajaan dari masa ke masa, seperti Abbasiyah (749-1258), Seljuk (1055- 1243), Safawiyah (1520-1736), dan Mughal (1526-1857).
Peradaban Islam Mengenalkan Kertas kepada Eropa
Ziauddin Sardar dalam artikelnya, “Paper, Printing and Compact Disks: The Making and Unmaking of Islamic Culture” memaparkan, kesudahan Perang Talas pada 751 M membuka lembar baru dalam sejarah Islam. Sebab, tak sedikit orang China yang menjadi tawanan perang ternyata ahli dalam membuat kertas.
Sebelumnya, orang-orang Arab telah mengenal beberapa wujud alas tulisan atau naskah, semisal papirus atau kulit hewan yang telah disamak. Bangsa tempatan di Asia Tengah juga sudah memiliki kerajinan membuat naskah. Akan tetapi, penemuan bangsa China menghadirkan inovasi yang sama sekali baru. Kertas buatan mereka lebih halus dan tahan lama bila dibandingkan yang lain-lain.
Segera setelah Perang Talas usai, penguasa Muslim memfasilitasi para tawanan yang ahli teknik membuat kertas itu. Dari mereka, orang Islam belajar membuat kertas dengan hasil yang lebih baik.
Dari Samarkand, kerajinan membuat kertas tak bisa langsung diubah menjadi industri. Sebab, tidak banyak bahan pembuatan kertas yang dapat diperoleh di daerah tersebut. Misalnya, kayu murbai (mulberry) atau cendana (sandalwood). Untuk mengatasinya, para pengrajin Muslim memilih bahan-bahan pengganti, seperti kain linen atau katun. Dengan begitu, produksi kertas secara besar-besaran menjadi lebih memungkinkan terjadi.
Pada masa pemerintahan Sultan Harun al-Rasyid, untuk pertama kalinya Baghdad memiliki pabrik kertas. Beberapa waktu kemudian, pabrik-pabrik kertas bermunculan di berbagai kota Islam, semisal Damaskus, Tiberias, Tripoli, Kairo, Fez, dan Sisilia. Sejak saat itu, para penguasa Muslim tak lagi menggunakan perkamen untuk mencatat administrasi negara. Mereka telah memanfaatkan kertas buatan pabrik-pabrik sebagai alas tulis utama.
Memasuki abad ke-11 M, penggunaan kertas tampak begitu umum di seantero dunia Islam. Seorang pengelana Persia pada tahun 1040 menulis pengalamannya saat sedang berjalan-jalan di pasar Kairo, Mesir. Dengan nada kagum dan sekaligus heran, ia menyaksikan, “Para penjual sayur, buah dan bumbu dapur di sana (Kairo) membungkus dagangannya dengan kertas.”
Sampai di Eropa
Butuh waktu ratusan tahun lamanya sebelum teknologi pembuatan kertas merambah Eropa. Pada 1276, untuk pertama kalinya Barat—yakni wilayah Benua Biru yang dikuasai rezim non-Muslim—memiliki sebuah pabrik kertas. Pabrik itu didirikan di Fabriano, Italia. Berikutnya, pada 1390 pabrik kertas juga dibangun di Nuremberg, Jerman. Namun, geliat penggunaan kertas di negeri-negeri Kristen masa itu berlangsung agak lambat bila dibandingkan dengan dunia Islam. Sampai-sampai, pada masa itu suatu adagium cukup terkenal: “Papirus Mesir bagi orang-orang Barat (Eropa) adalah seperti kertas Samarkand bagi orang-orang Timur (Asia).”
Munculnya industri kertas di negeri-negeri Muslim secara otomatis mendorong kemajuan literasi masyarakat setempat. Tolok ukurnya, jumlah perpustakaan yang tumbuh subur di seantero kerajaan-kerajaan Islam.
Keadaan itu bahkan sudah terdeteksi 200 tahun sebelum pabrik kertas pertama di Fabriano atau pula Nuremberg. Ambil contoh, Bait al-Hikmah di Baghdad pada masa Sultan Harun al-Rasyid. Tak kurang dari satu juta buku—bukan perkamen atau papirus—ada di sana. Pada 891, seorang pengelana mencatat ada lebih dari 100 perpustakaan umum di Kota Seribu Satu Malam saja. Kota kecil semacam Najaf malahan punya rumah baca dengan koleksi 40 ribu buku.
Pada abad ke-10, Sultan al-Hakim dari Kordoba, Andalusia, punya koleksi pribadi sebanyak 400 ribu buku. Astronom Muslim asal Persia, Nashruddin alTusi (lahir 1201) punya 400 ribu buku. Sultan al-Aziz dari Dinasti Fatimiyyah punya 1,6 juta buku. Sebanyak 18 ribu di antaranya membahas tentang matematika dan filsafat.
Bandingkanlah angka-angka itu dengan kepemilikan buku Karel yang Agung (Charlemagne), yang wilayah kekuasaannya saat itu meliputi seluruh Prancis dan sebagian Italia. Roger Garaudy dalam buku Promesses de l’Islam mengatakan, tokoh bangsa Frankis itu “hanya” memiliki 900 buku. Dan, seluruh Eropa (Kristen) waktu itu menggelarinya sebagai “Penguasa yang pandai.” Bila demikian, apalagi para raja Muslim yang memiliki jauh lebih banyak buku? Bukankah mereka secara faktual lebih pandai daripada sang “Penguasa yang pandai”?

Hedi Ben Aicha dalam artikelnya yang terbit di The Journal of Library History, menggambarkan besarnya pengaruh literasi Islam di Benua Eropa pada abad pertengahan. Spanyol dan Sisilia (Italia Selatan kini) berturut-turut menjadi mercusuar peradaban berkat keberpihakan para penguasa Muslim terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kosmopolitanisme.
Rezim Islam memberlakukan kebijakan yang penuh toleransi terhadap setiap kalangan non-Muslim. Alhasil, di Benua Biru cukup banyak intelektual Kristen yang tumbuh menjadi pencinta kebudayaan Arab. Alvaro, seorang penganut Kristen pada abad kesembilan, mengeluhkan banyaknya orang Kristen di Andalusia yang lebih suka mengidentifikasi dirinya sebagai orang Arab, alih-alih Eropa.
“Banyak rekanku sesama penganut agama (Kristen) yang membaca puisi dan cerita-cerita dari Arab, mempelajari agamanya (Nabi) Muhammad dan pemikir-pemikir (Muslim). Semua itu bukan untuk mengkritisi (Islam), melainkan mempelajari bagaimana mereka dapat mengekspresikan diri dengan lebih elegan lagi seturut dengan kebudayaan Arab. Maka, di mana lagi kita sekarang mendapati seseorang membaca teks-teks berbahasa Latin tentang kitab suci (Kristen)?” tulis Alvaro.***republika.id
Wallahua’lam
****Disadur dari tulisan di laman republika.id
kembali ke atas | indeks pilihan | download









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan