Dalam ajaran Islam, bekerja atau berusaha merupakan bagian yang tak terpisahkan di dalamnya. Seorang mukmin diwajibkan bekerja untuk menghasilkan keuntungan fianansial demi mencukupi kebutuhan diri dan juga keluarga. Baik itu bekerja secara tetap maupun sebagai seorang wirausaha.
Terkait dengan hal ini, Allah SWT telah berifrman, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS Al Jumuah : 10).
Islam juga mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri dan juga rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci orang orang yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Oleh karena itu, bekerja dalam pandangan Islam begitu tinggi derajatnya asal dilandasi dengan niat yang baik. Bahkan dalam Al Quran disebutkan, “ … dan orang orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah dan orang orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS Al Muzzammil : 20).
Rasulullah SAS bahkan menyebut aktivitas bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Diriwayatkan bahwa beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Nabi saw kemudian bersabda, “Janganlah kamu berkata seperti itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua orang tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan setan.” (HR Thabrani)
Manusia paling mulia di muka bumi ialah para nabi. Tugas yang mereka emban di dunia ini sangat mulia, yakni membawa risalah dan mengajarkannya kepada manusia yang lain. Allah sering mengisahkan kepada kita perjuangan dakwah mereka dalam Al Quran. Namun begitu, Allah dalam Al Quran juga menyebutkan sisi lain dari kehidupan mereka. Mereka juga seperti manusia lain pada umumnya, termasuk dalam hal bekerja dan mencari penghidupan. Allah swt berfirman, “ … dan Kami tidak mengutus Rasul Rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar pasar.” (QS Al Furqan : 20)
Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, “Maksudnya mereka mencari penghidupan di dunia. Ayat ini merupakan landasan disyaratkannya bekerja mencari penghasilam baik dengan berniaga, produksi atau yang lainnya.”
Nabi Adam bertani, Nabi Ibrahim menjual pakaian, Nabi Nuh dan Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Idris menjadi penjahit, dan Nabi Musa penggembala. Allah mengisahkan pula dalam Al Quran bahwa Nabi Daud membuat baju besi. “ .. dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam perjuanganmu, maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).” (QS Al Anbiya : 80)
Nabi kita yang mulia juga mengabarkan bahwa beliau pernah bekerja sebagai penggembala kambing. “Tidaklah Allah megutus seorang nabi melainkan pernah menjadi penggembala kambing.” Para sahabat berkata, “Begitu juga engkau?” Beliau bersabada, “Ya, aku pernah menggembala kambing penduduk Makkah dengan upah sejumlah uang.” (HR Bukhari)
Selain itu, Rasulullah saw juga berdagang. Beliau pernah melakukan perjalanan bisnis ke negeri Syam untuk menjual barang barang dagangan milik Khadijah ra. Oleh karena itu, Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja dan berusaha mencari penghidupan. Nabi saw bersabda, “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari pekerjaan tangannya sendiri. (HR Bukhari)
Semangat ini juga dipahami oleh para sahabat. Mereka juga para pekerja. Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Abu Bakar penjual pakaian, Umar bekerja mengurusi kulit, Utsman bin Affan pedagang, Ali bin Abi Thalib bekerja sebagai pegawai lebih dari satu kali untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Begitu juga dengan para sahabat yang lain, seperti Abdurrahamn bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Amr bin al Ash dan yang lainnya memiliki pekerjaan masing masing dalam rangka mencari penghidupan di dunia ini.

Oleh karena itu, supaya pekerjaan kita bernilai ibadah, maka kita harus meniatkan aktivitas kerja kita untuk mencari ridha Allah dan beribadah kepada-Nya. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya amal amal perbuatan itu tergantung niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Niat sangat penting dalam bekerja. Jika kita ingin pekerjaan kita bernilai ibadah, maka niat ibadah itu harus hadir dalam sanubari kita. Segala lelah dan setiap tetesan keringat akan dipandang oleh Allah sebagai ketundukan dan amal saleh disebabkan karena niat. Untuk itulah, jangan sampai kita melupakan niat tersebut saat kita bekerja, sehingga kita tidak kehilangan pahala dari pekerjaan yang kita jalani.***
Wallahu a’lam
***Rujukan: 88 Strategi Bisnis ala Rasulullah yang Tak Pernah Rugi; Ahmad Jarifin; 2019; halaman 9-12


















Tinggalkan Balasan