infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

[Aspek Kesehatan] Kesehatan Mental

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Kesehatan begitu sangat penting bagi kehidupan sehingga ia menempati posisi strategis dalam mendayagunakan segala tenaga dan pikiran untuk mencapai tingkat kesehatan yang sempurna sebagaimana yang diimpikan. Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan permasalahan fisik, namun memiliki cakupan yang sangat luas, termasuk masalah kesehatan mental atau jiwa.

Selain aspek kesehatan fisik, ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya dari kesehatan adalah persoalan mental yang dapat memengaruhi psikologi Anda dalam melaksanakan aktivitas tertentu. Kesehatan mental memang sering menjadi salah satu penyebab menurunnya daya tahan tubuh seseorang, karena mental berkaitan dengan masalah pikiran, emosi, dan spiritual. Untuk yang pertama, penulis akan menjelaskan kesehatan yang berpengaruh pada pikiran atau otak manusia sebagai bagian penting dari penerapan kesehatan mental yang memiliki cakupan sangat luas sekali.

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu perhatian utama umat manusia, karena ia menjadi faktor penentu masa depan di dunia dan akhirat. Tentu saja, Anda tidak hanya berharap sehat secara fi.sik, namun juga sehat secara mental. Keduanya merupakan komponen penting yang bisa mendorong terbentuknya pribadi-pribadi yang sejahtera dan bahagia dalam segala hal. Banyak orang yang secara jasmani memiliki tubuh yang sehat dan baik, namun kondisi ruhani mereka sangat memprihatinkan. Orang-orang sukses dan kaya yang mempunyai jasmani sehat, belum tentu kondisi ruhani mereka sehat. Artinya, kesehatan jasmani mempunyai hubungan intim dengan kesehatan mental yang merupakan dimensi paling penting dalam menjalankan aktivitas tertentu.

Sebagian besar dari Anda barangkali sering mempertanyakan tentang bagaimana menjaga agar kondisi jasmani dan ruhani Anda senantiasa sehat? Konsep hidup sehat sesungguhnya meniscayakan aturan dan pola tertentu untuk menjalankan hidup ini dengan cara seimbang dan terkontrol. Pola tersebutlah yang akan membuat orang menjadi sehat, karena memerhatikan aturan makan. Jika hidup Anda tanpa aturan, akan muncul gaya hidup yang tidak karuan tanpa arah dan tujuan. Akibatnya, bukan hanya kesehatan fisik yang akan terganggu, namun lebih berbahaya lagi jika menyangkut kesehatan jiwa atau mental. Hal ini menjadi penting untuk Anda pahami bahwa kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi tercapainya kehidupan yang nyaman, tenang, bahagia, dan selalu bersikap optimistis terhadap masa depan.

Kesehatan mental didefinisikan sebagai kondisi yang memungkinkan setiap orang untuk mengatasi persoalan dalam kehidupan, berkarya secara produktif, dan mampu berbagi dan berinteraksi dengan baik bersama komunitas atau orang lain. Menurut Tadjudin (2008), “mental health is defined as a state ofwell-being in which every individual realizes his or her own potential, can cope with the normal stress oflife, can work productively andfruithjully, and is able to make a contribution to her or his community”. Sementara menurut Zakiah Darajat (1986), kesehatan mental adalah terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa. Intinya adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup.

Kesehatan ruhani memiliki kedudukan yang sangat penting. Sehatnya ruhani akan memberikan pengaruh pada kesehatan jasmani. Misalnya, seseorang yang mengalami kegelisahan, akan dapat berpengaruh pada menurunnya nafsu makan. Ketika nafsu makan berkurang berakibat pada fisik menjadi kurus, lemah sehingga akan mudah terjangkiti penyakit-penyakit jasmani lainnya. Kasus bunuh diri di tengah masyarakat yang makin meningkat bisa saja terjadi karena krisis mental/ruhani. Salah satu penyebab terjadinya penyakit jasmani adalah gangguan pikiran/ kejiwaan (psikosomatik). Gangguan pikiran merupakan salah satu indikasi orang yang mengalami gangguan kesehatan ruhani. Pentingnya kesehatan jasmani dan ruhani disebabkan kesehatan merupakan nikmat Allah yang tidak bisa tergantikan oleh apa pun. Maka sudah sepatutnya, setiap manusia yang beriman mensyukuri nikmat Allah ini dengan cara menjaga pola hidup agar terhindar dari segala macam penyakit, termasuk penyakit ruhani atau mental (Mukti Bisri, 2007).

Jika Anda mengalami gangguan pada kesehatan Anda, hal itu bisa menjadi media penyadaran bahwa Anda bukanlah makhluk sempurna sehingga Anda harus mencari cara pencegahan (preventif-promotif), penyembuhan (curatif), dan rehabilitasi sebagai strategi penting dalam mengatasi keluhan-keluhan yang terdapat dalam tubuh Anda. Pada awalnya Anda mungkin hanya mengalami keluhan secara fisik, namun sejalan dengan perkembangan hidup Anda, ternyata ditemukan pula penyakit-penyakit yang berhubungan dengan aspek kejiwaan, semisal depresi, hilang ingatan, yang berujung pada tindakan bunuh diri.

Dalam beberapa kesempatan, Anda barangkali pernah mencermati orang-orang yang mengalami gangguan jiwa, karena tekanan hidup dan tidak mampu menerima kenyataan atau kehilangan keluarga yang dicintai sehingga terjebak dengan pola pragmatisme dalam menjatuhkan “opsi” ketika menghadapi persoalan yang membelitnya, yaitu opsi bunuh diri. Opsi ini ditampilkan sebagai jalan keluar atau terapi terakhir (ultimum remedium) untuk keluar dari masalah yang menjadi tirani dalam hidupnya. Dalam perspektif psikologi, bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang lebih banyak disebabkan oleh depresi yang luar biasa dan tekanan batin yang sulit dikendalikan.

Dengan demikian, bunuh diri dianggap sebagai bentuk kekecewaan yang sudah mencapai titik nadir yang dilayakkan sebagai dalil yang tepat untuk “memanusiakan dirinya”, karena dalam anggapan anak itu, dunia yang dihadapinya, dan pergaulan yang digelutinya adalah mesin kekuatan yang bisa memperbudaknya. Dalam pandangan FannyTanuwijaya (2006), kekecewaan yang berujung pada opsi bunuh diri merupakan bentuk perlawanan, suatu pola kritik radikal atau aksi ekstremis psikologis akibat pressure dari komunitas orang-orang dewasa yang disikapinya sebagai “kaum barbar modern”. Berangkat dari kekecewaan yang melahirkan tekanan batin pada diri anak, bunuh diri seolah-olah menjadi problem solving yang dapat menghilangkan segala hasrat batin yang bergejolak dan terguncang. Padahal, gejolak batin yang tertekan hanya bisa dikendalikan dan dikontrol dengan kejernihan hati yang mendalam sehingga bisa memberikan pencerahan dan pancaran sinar suci yang meleburkan hati nurani anak.

Sosiolog Hurton dan Hunt (1989) dalam Violence and Sacred, mengatakan bahwa akar dari semua gerakan itu sesungguhnya berasal dari ketidakpuasan. Ketidakpuasan yang timbul pada diri anak dapat dengan mudah mencetuskan kekerasaan dan tindakan ilegal yang sulit dikendalikan. Di samping itu, labilitas psikologis, minimnya pemahaman keagamaan, putusnya komunikasi dengan keluarga, dan pendidikan bergaya represif adalah bagian dari motif kriminogen dan patalogi kejiwaan yang sangat rentan dan potensial memicu opsi bunuh diri sebagai bentuk perlawanan, protek ekstremis, dan puncak kekecewaan.

Persoalan kesehatan mental telah membuka kesadaran setiap orang tentang bahayanya krisis ini dalam kehidupan berbangsa dan negara. Berbagai persoalan yang menyangkut gangguan kejiwaan, semisal depresi, disorientasi, sampai pada gangguan mental berat seperti bunuh diri karena frustrasi. Data WHO menunjukkan bahwa pada 2012 saja diketahui tidak kurang dari 154 juta penduduk yang depresi, 25 juta schizophrenia, 91 juta mengalami gangguan mental akibat alkohol, 15 juta gangguan mental karena penyalahgunaan obat, dan 50 juta menderita epilepsi. Hal yang lebih mencengangkan adalah bahwa terdapat rata-rata 877.000 orang bunuh diri setiap tahun (Tadjudin, 2008).

Masalah kesehatan jiwa bagi anak usia dini harus mendapatkan perhatian khusus dari kedokteran dan para psikolog. Masalah kesehatan jiwa, pada dasarnya berkaitan dengan kematangan dan pertumbuhan jasmani dan ruhani seseorang. Namun, sering kali anak usia dini tidak memerhatikan kesehatannya sendiri, karena memang kurang mendapatkan perhatian dan pelayanan terbaik dari orang tua. Di saat itulah, gangguan kejiwaan (mental) menjadi salah satu bentuk penyakit yang membawa kesengsaraan dan penderitaan, baik secara individual maupun sosial. Tidak heran bila kebutuhan untuk pelayanan kesehatan terhadap pertumbuhan anak menjadi perhatian serius di seluruh dunia, misalnya dengan melakukan pelatihan-pelatihan yang dapat menekan gejolak kejiwaan seseorang. Masalah kesehatan mencakup tiga hal penting, yakni kesehatan fisik, mental, dan sosial sebagai komponen penting yang perlu Anda cermati (Quraish Shihab, 2002).

Semua permasalahan yang menyangkut kesehatan mental sesungguhnya tidak lepas dari pembawaan sejak anak lahir ke dunia ini. Pertumbuhan optimal seorang anak yang berkaitan dengan pembawaan sejak lahir tentu saja tergantung pada proses pematangan yang diberikan orangtua dalam mengembangkan segala potensi yang terpendam. Para ahli jiwa berasumsi bahwa sejak bayi baru lahir, masih belum menunjukkan tanda-tanda yang tampak berupa kegigihan memperoleh sesuatu atau kecenderungan berkelompok karena ia mempunyai kekuatan naluri yang terpendam tentang konsep kematangan yang terdapat dalam tahapan perkembangannya (Gordon W Allport, 1948).

Menurut Allport, individu-individu yang sehat dikatakan mempunyai fungsi yang baik pada tingkat rasional dan sadar. Menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan kekuatan itu juga. Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Pandangan orang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak. Segi pandangan yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak.

Orang yang memiliki mental sehat juga akan terus menerus membutuhkan motif-motif kekuatan dan daya hidup yang cukup untuk menghabiskan energi-energinya. Pada tahap perkembangan mana pun, setiap individu harus menemukan minat-minat dan impian-impian baru. Energi tersebut harus diarahkan pada setiap tahap agar mencapai suatu kepribadian yang sehat. Contohnya seorang remaja membutuhkan penyaluran-penyaluran atas energinya agar terhindar dari kepribadian yang tidak sehat. Energi itu harus menemukan jalan keluar, dan apabila energi tidak diungkapkan secara konstruktif maka mungkin energi akan dilepaskan secara destruktif.

Sejak dini anak Anda perlu mendapatkan pendidikan kesehatan mental, karena semakin banyak orang yang mengalami depresi akibat pertumbuhan jasmaninya yang tidak optimal ketika masih kecil. Sering kali lingkungan keluarga kurang peduli terhadap tanda-tanda awal dari gangguan mental itu sehingga terkesan lambat dalam mencari solusinya. Akibatnya, banyak yang terlanjur parah dengan melakukan opsi bunuh diri. Yang memperihatinkan gangguan mental itu telah menjalar di kalangan remaja. Budayawan Mochtar Lubis (1997) pernah mengkritisi mental manusia Indonesia yang tidak tergolong nasionalistik dan pluralistik. Di antara mental buruk yang melekat dalam diri manusia Indonesia yang beragama adalah mental hiprokrit, yang digambarkan sebagai manusia palsu, munafik, bermuka dua, ambivalen, dan berkepribadian ganda (split of personality).

Di sinilah kesehatan mental menjadi sangat penting bagi kehidupan individu, karena ia termasuk komponen yang mensyaratkan kriteria sehat. Apabila setiap individu hidup sehat, keluarga dan masyarakat sebagai komunitas suatu bangsa juga akan ikut sehat. Karena itu, dalam UU No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 24 ayat 1-3 disebutkan (1) kesehatan jiwa diselenggarakan untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal, baik intelektual maupun emosional; (2) kesehatan jiwa meliputi pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan dan penanggulangan masalah psikososial, dan gangguan jiwa; (3) kesehatan jiwa dilakukan oleh perorangan, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan pekerjaan, lingkungan masyarakat, dan didukung oleh pelayanan kesehatan jiwa serta sarana pendukung lainnya.

Terlepas dari pentingnya kesehatan mental dalam lingkungan sosial-kemasyarakatan, Anda perlu mengetahu ciri-ciri sehat secara mental yang merupakan cerminan dari pribadi yang tangguh, beriman, dan berjiwa sosial bagi kepentingan masyarakat. Anda mungkin mudah mengenali orang yang sehat secara fisik dan sosial, namun Anda akan mengalami kesulitan untuk mengenali orang yang sehat secara mental. Akan tetapi ketiganya tidak bisa dipisahkan karena jika salah satunya terganggu, yang lain ikut mengalami degradasi yang signifikan.

Di bawah ini akan dijelaskan tentang cerminan dari pribadi yang sehat secara mental sebagai sebuah gambaran bagi Anda untuk menjaga gaya hidup agar selalu tampil ceria tanpa ada perasaan cemas atau tegang ketika menghadapi suatu masalah yang sedang dihadapi.

Keimanan yang tertanam dalam setiap sanubari Anda sebisa mungkin menjadi landasan utama dalam bersikap dan bertingkah laku setiap harinya. Sebab, iman dapat berfungsi sebagai pengendali dan penopang dalam mencapai derajat kemanusiaan yang beradab dan mulia di hadapan Allah. Tanpa landasan iman, harkat, dan martabat manusia akan meluncur ke tingkatan paling bawah. Ayat yang berkaitan dengan ini adalah surah Al-Tin (95): 4-6.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)

Jika Anda mencoba mengkaji studi Islam secara mendalam, Anda akan menemukan sebuah pernyataan bahwa iman melandasi semua amal saleh sehingga memberikan motivasi untuk melakukan kebaikan yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan ketuhanan. Jadi, keimanan akan mengontrol segala tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam dan yang menjadi perintah Nabi Muhammad Saw. Sebagai umat Islam, Anda bisa membuktikan perbedaan orang yang memiliki iman dan tidak, misalnya ketika menghadapi suatu krisis berat dalam hidupnya. Di situ akan kelihatan nilai keimanan seseorang yang mampu menghadapi segala cobaan dan ujian dengan penuh ketabahan meskipun memperoleh suatu kenyataan hidup yang tidak bisa diterima. Tidak heran bila keputusasaan tidak ada dalam kamus orang yang beriman karena keputusasaan dalam hidup bisa menjadi trigger dari munculnya gangguan kejiwaan atau mental. Dalam surah Yusuf(12): 87, Anda bisa menemukan informasi bahwa sikap putus asa hanya merupakan cerminan dari ketiadaan iman yang membuat Anda lepas diri dari ketentuan Allah.

Hai anak-anakku, pergilah kamu, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir

Cermin keimanan seseorang pada gilirannya dapat memengaruhi segala perilaku dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan yang selalu identik dengan amalan ibadah meniscayakan sebuah tindakan nyata dalam menghadapi segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Keimanan bukan sekadar nikmat Allah yang diberikan kepada umatnya yang percaya, melainkan juga menjadi bagian dari cobaan yang harus dikontrol dan dikendalikan dalam menghadapi kontestasi iman yang pasang surut. Keimanan seseorang dapat diketahui, ketika orang tersebut dapat membuktikannya dengan perbuatan nyata dan dapat mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri serta orang lain sehingga masalah iman tidak dapat dilihat dengan sudut pandang akal semata. Peranan akal dalam permasalahan ini hanyalah untuk mengetahui kebenaran Rasul dalam menceritakan sesuatu yang diterimanya. Dengan demikian, iman dapat dikatakan dengan pembenaran kepada Tuhan dan Rasulnya tanpa keraguan.

Bagi seseorang yang memiliki iman kuat, segala hal yang menyangkut tantangan hidupnya akan dihadapi dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Iman merupakan kondisi hati dan jiwa yang timbul dari pengetahuan tentang sesuatu dan kecondongan kepadanya. Iman itu bisa bertambah, bisa berkurang, tergantung pada lemah atau kuatnya kedua faktor tersebut, yaitu pengetahuan dan kecondongan. Seseorang yang tidak mengetahui atau menduga adanya sesuatu, ia tidak akan beriman kepadanya. Kendati demikian, pengetahuan tidaklah cukup untuk membangun keimanan di dalam diri seseorang. Sebab, sangat mungkin apa yang diketahuinya atau konsekuensi-konsekuensinya bertentangan dengan keinginannya, yaitu tatkala ia condong kepada apa yang bertentangan dengan pengetahuannya.

Ciri selanjutnya yang dapat Anda temukan dari kesehatan mental seseorang adalah ketika ia mampu membebaskan diri dari segala penyakit hati yang membawa malapetaka dan beban hidup. Penyakit-penyakit hati yang sering menghinggapi manusia merupakan sumber-sumber dari gangguan mental dan dapat berkibat fatal terhadap tekanan hidup yang membawa malapetaka bagi kehidupannya sendiri. Terdapat banyak penyakit hati dalam literatur Islam, mislanya dengki (al-hasad), dendam (alhiqd), buruk sangka (su’uzzann), pamer (riya’), sombong dan tamak.

Tahukah Anda bahwa pribadi yang sehat secara mental adalah pribadi yang tidak pernah memunculkan prasangka-prasangka buruk tentang ketentuan Allah yang telah diberikan kepada setiap manusia. Ia selalu menerima semua ketentuan dengan prasangka-prasangka baik dan tetap optimis dengan apa yang menjadi keputusan Allah. Tanda-tanda orang yang ikhlas di sini adalah ia selalu senantiasa berpikir positif dengan semua hal yang menimpa dirinya, apakah itu kebaikan atau keburukuan sekalipun. Jika yang diterimanya adalah suatu kebaikan, ia selalu bersyukur tiada henti. Sebaliknya, jika yang diterimanya adalah suatu keburukan, ia selalu bersabar dan tawakal dengan semua ketentuan Allah.

Oleh karena itu, seburuk apa pun ketentuan Allah, hadapilah dengan penuh kesabaran karena Allah hanya akan bersama hamba-Nya yang siap secara lahir dan batin untuk hidup dengan keikhlasan. Di tengah-tengah ketentuan Allah yang sangat buruk sekalipun, Anda harus senantiasa menerimanya tanpa menyalahkan Allah sebagai biang keladinya. Marilah berupaya dengan sungguh-sungguh agar senantiasa ridha dan ikhlas serta lapang dada atas segala ketentuan Allah kepada Anda sehingga Anda terhindar dari prasangka-prasangka buruk terhadap Allah. Prasangka-prasangka demikian tentu merupakan sebuah perbuatan dosa yang akan mengotori jiwa atau batin Anda.

Pada akhirnya, pribadi yang sehat secara mental adalah pribadi yang siap menghadapi semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Apa pun yang terjadi, Anda harus bisa mengontrol diri agar tidak terjebak dengan kesombongan atau keangkuhan yang melekat dalam diri Anda. Anda tentu saja dapat berdoa semoga senantiasa diberikan kemudahan oleh Allah untuk ridha dan ikhlas menerima ketentuan-Nya karena sesungguhnya Allah lebih tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Hamba Allah yang bermental sehat akan selalu bersikap optimis dan berprasangka baik atas semua ketentuan Allah.

Pribadi yang bermental sehat adalah pribadi yang tahan akan segala hinaan yang datang dari luar. Bahkan, hinaan itu dijadikan sebagai semangat untuk memperbaiki diri dari segala kekurangan yang ada dalam diri. Pribadi yang sehat adalah pribadi yang tidak menyimpan benci atau dendam kepada orang yang telah menghina dan menyakiti hati Anda. Ia sangat kuat menahan segala hinaan dan cacian yang silih berganti hadir dalam kehidupan sehari-hari. Tidak pernah terbesit sedikit pun dalam hati orang yang bermental sehat untuk sikap putus asa karena selalu mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari teman atau masyarakat sekitar.

Jika Anda termasuk pribadi yang bermental sehat, Anda akan senantiasa menjaga suasana batin dari kemarahan dan kebencian yang bisa mengantarkan Anda pada kebekuan hati. Kemampuan mengendalikan emosi maupun kemarahan merupakan bukti kematangan iman Anda dalam menerima setiap cobaan yang bisa mengakibatkan Anda menaruh benci kepada orang lain. Sikap demikian menjadi salah satu nilai penting bagi hamba Allah yang beriman dan selalu bersikap ikhlas dalam suasana batin yang mencekam sekalipun. Jika Anda mampu menahan emosi dan mengendalikan amarah dalam hati Anda, Anda termasuk pribadi yang bermental sehat karena mampu menerima semua ketentuan Allah. Orang yang sehat mentalnya, akan mencari ketenangan dan kebahagiaan bersama, bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain (Zakiah Djaradjat, 1988).

Apalagi jika Anda menunjukkan kematangan dalam beragama, yakni dengan mendoakan orang yang telah menghina atau menyakiti hati Anda dengan penuh ketulusan tanpa ada usaha untuk melakukan tindakan balas dendam. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, perilaku manusia yang bermental sehat semacam ini sangat jarang ditemui, bahkan bisa dihitung dengan jari. Sebab, masalah cacian atau hinaan yang berasal dari orang lain pasti akan menimbulkan kemarahan luar biasa dan kebencian yang berujung pada tindakan balas dendam. Hanya hamba Allah yang terpilih dan disucikan yang akan mampu menahan cobaan duniawi, berupa penghinaan yang luar biasa sekalipun.

Jika dicermati dalam kehidupan sehari-hari, sangat jarang dijumpai orang yang mampu menahan emosi ketika hatinya terinjak-injak atau bahkan dilucutin harga dirinya. Tindakan yang muncul bukan kesabaran dan ketabahan dalam menerima semua hinaan itu, melainkan sebuah parang atau celurit yang siap menerkam dan menghabisi orang yang telah menyakiti hati. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi dan amarah sangat tergantung pada kematangannya dalam beragama. Para waliyullah termasuk salah satu hamba Allah yang dianggap mampu menahan segala amarah walaupun memperoleh tindakan tidak elok dari orang lain. Misalnya, ketika menyebarkan Islam ke tengah-tengah kehidupan masyarakat, di mana tindakan penolakan atau bahkan kekerasan sering diterima oleh para waliyullah ini.

Dalam kehidupan sehari-hari,Anda mungkin berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak menyenangkan atau membuat Anda mengalami ketidakberuntungan yang menjadikan Anda mengalami frustrasi dalam menjalani kehidupan ini. Kehidupan setiap orang tidak selamanya akan mengalami kesengsaraan, tetapi adakalanya suatu saat pasti memperoleh sesuatu kebahagiaan. Yang terpenting adalah ketika Anda menerima suatu kesenangan, Anda harus mensyukurinya. Begitu pula ketika Anda memperoleh kemalangan yang membuat Anda putus asa, Anda pun harus bersabar menghadapinya. lni karena semua cobaan datangnya dari Allah, yang tecermin dalam surah Al-Baqarah (2): 155-157, yang berbunyi:

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk

Ayat di atas semakin mempertegas tentang pentingnya bersikap sabar dalam menghadapi suatu peristiwa yang tidak menyenangkan dalam kehidupan Anda. Jika Anda tidak terlalu berlebihan dalam menyesali suatu peristiwa, Anda akan memperoleh rahmat dan ampunan yang tiada tara dari Allah. Bagi orang-orang yang yang sehat secara mental, tentu saja ia akan tegar dalam menghadapi kenyataan dalam hidupnya. lni karena, segala cobaan yang datang sesungguhnya adalah bagian dari cara Allah untuk menguji keimanan seseorang, apakah ia masih tetap berpegang teguh pada tali Allah atau tidak.

Sementara bagi orang yang tidak mampu beradaptasi dengan kenyataan hidupnya atau tidak mampu menyerap hikmah-hikmah di balik suatu peristiwa, berarti ia memiliki mental yang labil atau tidak sehat. Misalnya, ketika mendapat nikmat ia melakukan euforia secara berlebihan, sementara ketika memperoleh kemalangan atau malapetaka, ia merasa terhina atau terinjak-injak harga dirinya. Dalam surah Al-Fajr (89): 15-16, Allah berfirman:

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan. Maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”

Maksudnya ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan, tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba hamba-Nya. Dari ayat ini Anda perlu merenung dan merefleksikan diri, apa Anda menyesali suatu peristiwa yang membuat Anda tidak bisa menerima begitu saja tanpa ada alasan yang jelas? Jika Anda termasuk orang yang suka menyesali suatu peristiwa yang menimpa Anda, apakah Anda tetap terbelenggu oleh rasa penyesalan yang mendalam? Lalu, apakah dalam pikiran Anda terbesit upaya untuk melupakan sejenak peristiwa yang menyakitkan itu sebagai sebuah pelajaran berharga dalam menapaki kehidupan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk menggugah kesadaran kita sebagai hamba Allah agar selalu berpasrah diri dengan semua ketentuan sang Pencipta. Mengapa demikian? Sebab, di balik rencana Allah yang tidak Anda sukai, pasti ada hikmah yang bisa dipetik dan Allah mempunyai rencana lain untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi kehidupan Anda di masa depan. Meskipun Anda sudah berusaha semaksimal mungkin dan berdoa tiap hari, namun kalau Allah belum berkehendak maka apa yang Anda minta tidak akan pernah terkabul. Ini karena, Allah hanya akan mengabulkan apa yang Anda butuhkan, bukan apa yang Anda inginkan.

Harus Anda tanamkan dalam diri Anda bahwa apa yang diinginkan belum tentu terkabulkan. Artinya, tidak semua rasa bisa terlukis dan tertulis dalam setiap sanubari Anda sebagai cacatan penting untuk membangkitkan semangat Anda dalam menjalani kehidupan ini. Tidak pula semua perkara memiliki alasan mengapa ia terjadi dan belum terjadi. Bahkan, tidak semua impian atau cita-cita bisa terbeli dengan sangat mudahnya. Meski terus terlirih dalam doa, meski telah terpatri dalam jiwa, Allah hanya akan mengabulkan apa yang Anda butuhkan, bukan yang Anda inginkan. Itu harus menjadi renungan bagi siapa saja yang tidak mampu mengendalikan emosi sehingga penyesalan atau keinginan yang belum terlaksana bisa disikapi secara arif dan bijaksana.

Di antara tanda-tanda orang yang ikhlas adalah ia tidak menyesali atas suatu peristiwa yang sangat menyakitkan atau memperoleh musibah silih berganti. Kemampuan menerima semua peristiwa tanpa penyesalan yang terlalu berlebihan adalah satu cermin orang yang ikhlas dengan semua pemberian Allah, baik itu kebaikan atau keburukan sekalipun. Jika Anda termasuk orang yang mampu menerima semua ketentuan Allah, berarti Anda bisa dikategorikan sebagai mukhlis.

Sebab, banyak di antara umat Nabi Muhammad Saw. yang hanya bisa menerima pemberian berupa kebaikan atau limpahan rezeki, sementara ketika menerima pemberian berupa keburukan atau musibah, seolah ingin lari atau menyesalinya dengan sangat mendalam. Bahkan, ada yang tidak terima dan terkadang menyalahkan Allah sebagai biang keladinya. Padahal, Allah hanya akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya tidak lebih dari kemampuan yang dimilikinya. Jika cobaan yang diberikan Allah sudah cukup memberikan kesadaran kepada hamba-Nya, Allah secara perlahan akan mencabut musibah yang menimpa Anda dan keluarga Anda.

Sekali lagi, hanya orang-orang yang mau belajar ikhlas saja yang akan mampu menerima semua peristiwa tanpa harus disesali secara berlebihan. Orang yang mencerminkan sebagai pribadi yang ikhlas selalu percaya bahwa Allah yang akan memberikan kekuatan dan menunjukkan jalan keluar untuk setiap masalah yang dihadapinya. Sebab, Allah memberikan masalah bukan tanpa sebab, dan pada saatnya pasti ada solusi yang bisa mengatasinya. Hal ini sesuai dengan Teori Al-Banjary (2007), dalam tanda-tanda ikhlas, yaitu tanpa penyesalan, yang menyebutkan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang berkeyakinan, berpikir, berperasaan, berperilaku, bersikap, dan berbuat karena Allah dan mereka tidak berharap dari orang lain.

Sebagai hamba Allah, kita semua memang harus siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, misalnya siap kehilangan harta, istri, jabatan, dan lain sebagainya. Dalam kehidupan sehari-hari Anda, begitu banyak sesuatu yang menimpa Anda ternyata tidak sesuai dengan apa yang Anda inginkan dan tidak sesuai dengan Apa yang Anda harapkan. Padahal, usaha dan ikhtiar pun telah Anda maksimalkan, tapi apa daya hasil yang Anda peroleh tidak sesuai dengan apa yang Anda rencanakan.

Boleh jadi Anda akan kecewa, menyesali diri, atau bahkan lebih ekstrim lagi ada yang sampai berprasangka buruk atas ketentuan Allah pada Anda. Ungkapan-ungkapan kekecewaan dan keluhan sering kali meluncur dari lisan tanpa Anda sadari. Bahkan, Anda bisa beranggapan bahwa Allah tidak Adil, Allah tidak menyayangi hamba-Nya karena hasil yang dicapai tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Sedangkan yang lain, begitu mudahnya memperoleh apa yang mereka inginkan.

Dalam kondisi yang demikian, semoga kita semua terhindar dari sikap menyalahkan atau menyesali atas keputusan Allah. Sadarkah bahwa Allah lebih mengetahui skenario yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Skenario itu mungkin tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran Anda. Barangkali Anda baru tersadar ketika hari telah berganti, waktu telah berlalu, ternyata hal yang terjadi pada Anda mengandung berbagai hikmah yang luar biasa dan itulah yang terbaik bagi Anda.

Dalam kondisi yang demikian, setiap manusia perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi suatu peristiwa dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Bila Anda mengalami suatu peristiwa yang dapat menyakitkan Anda atau membuat Anda menjadi putus asa, Anda harus senantiasa siap menghadapi takdir-Nya, menata hati untuk menerima hal-hal yang mungkin terjadi di luar perkiraan dan harapan Anda. Kemampuan Anda menghadapi semua takdir Allah, dapat mengantarkan Anda pada satu kematangan keimanan yang sangat luar biasa.

Ketika menghadapi suatu peristiwa yang sangat menyakitkan Anda, Anda hanya bisa menyempurnakan ikhtiar, berdoa, lalu bertawakal kepada Allah. Hasilnya kelak Allahlah yang menentukan apakah sesuai dengan harapan Anda atau tidak. Yang harus Anda yakini bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan terbaik dari Allah sehingga apa pun yang terjadi, hati Anda senantiasa ridha dan ikhlas serta lapang dada atas ketentuan Allah. Jika Anda ridha dan ikhlas dalam menghadapi semua ketentuan Allah, Allah akan memberikan kemudahan bagi Anda berupa derajat kemuliaan yang sangat tinggi dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mampu secara mental menghadapi ketentuan Allah.

Ciri-ciri orang yang memiliki kesehatan mental adalah mereka yang mampu mengusahakan untuk mencapai apa yang diinginkan dengan perjuangan yang sangat melelahkan pula. Simbolnya bahwa hidup adalah perjuangan yang merupakan motivasi awal untuk memiliki kekuatan dan daya tahan agar tidak mudah menyerah dalam kondisi apa pun.

Sebagai sebuah perjuangan, hidup harus disertai keikhlasan untuk menerima ketentuan apa pun. Jika Anda menyelami perjuangan yang Anda lakukan dengan penuh totalitas, niscaya Anda akan memperoleh kelezatan yang luar biasa dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini. Apalagi jika Anda tidak mudah putus asa dan selalu berusaha untuk mencapai cita-cita sampai titik darah penghabisan sekalipun.

Maka, tidak ada tempat di muka bumi ini bagi orang yang tidak mau berusaha dan berjuang dengan penuh kesungguhan. Agama Islam sendiri mengajarkan kepada umatnya untuk bekerja dan berusaha dalam mencari karunia Allah yang sangat luar biasa. Dengan usaha yang keras, orang yang memiliki kesehatan mental akan senantiasa untuk mengikuti semua pemberian Tuhan dengan penuh kepuasaan tanpa merasa ada yang kurang sedikitpun. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Nisa (4): 32 yang berbunyi:

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

Orang-orang yang bermental sehat adalah mereka yang lebih suka memberi (berbagi) kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mengapa demikian? Sebab, pribadi yang bermental sehat tidak hanya memikirkan kebutuhannya sendiri, tetapi juga memerhatikan kebutuhan orang lain yang tidak mampu dari segi finansial. Jika Anda tidak memiliki kepekaan terhadap permasalahan yang dihadapi sebagian masyarakat yang tidak mampu atau fakir miskin, Anda bisa disebut sebagai pendusta agama.

Pribadi yang bermental sehat adalah mereka yang peduli terhadap eksistensi orang lain yang hidup dalam keadaan menderita dan sengsara. Al-Quran sendiri menganggap bahwa orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain, terutama kepada fakir miskin adalah disebut sebagai pendusta agama. Sungguh sebuah sebutan yang sangat mengerikan apabila Anda mengabaikan hak-hak orang lain yang sangat membutuhkan uluran tangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Ma’un (107): 1-3 yang berbunyi:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin

Sungguh hal yang sangat ironis apabila ada di antara Anda yang mengabaikan hak-hak anak yatim yang tidak punya ayah dan ibu secara biologis maupun sosial. Orang yang mengabaikan hak-hak anak yatim sangat pantas bila disebut sebagai pendusta agama karena ia adalah orang yang mengingkari pembalasan dan hisab di akhirat, yaitu orang yang menyia-nyiakan atau menzalimi anak yatim dan tidak terdorong untuk memberi makan kepada fakir dan miskin.

Pribadi yang bermental sehat adalah apabila memberi ia tidak mengharap balasan untuk diberi atau dikasihani. Artinya, ia lebih suka memberi daripada menerima, karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Jika ada orang yang memberi dengan tujuan mengharap balasan atau tanda jasa, orang itu sama seperti orang munafik. Penulis ingin memberikan contoh, jika ada orang berniat bersedekah kemudian mengharap balasan, Allah akan menimpakannya sebuah malapetaka yang tidak disangka-sangka. Orang semacam itu jelas bermental sakit karena sikap sosialnya terhadap orang lain tidak disertai dengan niat yang tulus.

Dalam kehidupan sehari, masing-masing diri Anda perlu merenung secara mendalam bagaimana seharusnya bersikap terhadap orang lain. Pribadi yang bermental sehat merupakan cermin pribadi yang tidak pernah terpikiran untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari orang. Justru, ia sangat senang karena bisa berbagi kepada sesama tanpa ada motif lain dibalik kebaikan itu sendiri. Mulai saat ini, Anda perlu mengubah paradigma Anda ketika mau belajar bersikap sosial kepada sesama karena Allah tidak suka dengan hamba-Nya yang punya modus dalam melakukan suatu kebaikan, tetapi di belakang ia mempunyai kepentingan yang lebih besar.

Tindakan semacam ini jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Nabi. Sebab, tidak mencerminkan sebagai pribadi sehat secara sosial, tetapi hanya menunjukkan kemunafikan dari orang-orang yang kufur. Pernah, dalam sebuah hadis, Rasulullah mengajarkan kepada kita jika besedekah dengan menggunakan tangan kanan jangan sampai tangan kiri mengetahui. Inti dari ajaran Rasulullah tersebut tak lain adalah mengenai keikhlasan yang tidak disertai dengan maksud dan tujuan tertentu.

Sekarang saatnya niat Anda diluruskan agar semangat berbagi kepada sesama tidak teracuni oleh keinginan nafsu sesaat. Tidak heran bila Allah Swt. juga mengancam dengan neraka wail, jika ada hamba-Nya yang shalat, namun lalai dalam shalatnya, yakni shalat karena ada sifat riya’ ada keinginan untuk dipuji bukan ikhlas karena Allah. Perbuatan semacam ini tidak saja menunjukkan nafsu yang berlebihan dalam diri kita, namun juga telah menyalami kesucian shalat itu sendiri, yakni membersihkan hati dari perbuatan yang tercela dan mencoba mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang-orang yang bermental sehat adalah mereka yang mampu menjalin hubungan atau interaksi dengan orang lain tanpa merasa ada perasaan sungkan atau gengsi. Mereka ini biasa disebut sebagai makhluk sosial yang senantiasa menjaga hubungan dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang hidupan, termasuk perbedaan gender, ras, agama, bahasa, kulit, budaya, dan sebagainya.

Tujuannya adalah untuk membangun kerja sama demi memakmurkan bumi tempat tinggal bersama bukan untuk saling menindas satu sama lain, menzalimi, apalagi saling memangsa satu sama lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Hujarat (49): 13 yang berbunyi:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal

Orang-orang yang bermental sehat adalah mereka yang terbebas dari segala kecemasan atau ketegangan yang dapat mengganggu pikiran dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan adalah salah satu penyebab terjadinya ketegangan dalam diri manusia yang bisa menyebabkan hilangnya akal pikiran untuk menempa diri dalam berbagai permasalahan hidup.

Kecemasan pada umumnya terjadi pada saat menjelang suatu peristiwa yang sangat tidak diharapkan dan tidak sesuai dengan ekspektasi sebelumnya. Bagi orang yang berupaya agar mentalnya tidak terganggu, ia bisa membebaskan dirinya dari belenggu kecemasan yang mendera, semisal dengan bertawakal kepada Allah. Pesan Al-Quran agar manusia jangan sampai cemas dan bersedih terlalu berlebihan. Hal sesuai dengan firman Allah dalam surah Fushshilat (41): 30 yang berbunyi:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”

Ciri-ciri orang yang bermental sehat adalah mereka yang mampu mengelola permasalahan dengan baik dan solutif tanpa merasa ada beban yang berlebihan. Dalam kehidupan ini, memang ada orang yang bisa menyelesaikan masalah sendiri dengan tuntas, namun juga ada orang yang tidak mampu lalu putus asa. Bukan karena besarnya masalah yang dipikul namun karena manusia sendiri sering tidak mau mencurahkan segenap usahanya secara optimal. Dalam surah Al-Baqarah (2): 286 disebutkan:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir”

Wallahua’lam

***Rujukan: Revolusi Hidup Sehat ala Rasulullah; Mohammad Takdir Ilahi; 2015; halaman 38-70

kembali ke atas | indeks pilihan | download


5 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca