Nabi Daud Alaihissalam (AS) adalah salah seorang utusan Allah yang mempunyai kelebihan dibandingkan rasul lainnya. Kelebihan Nabi Daud AS itu di antaranya bisa berbicara dan paham bahasa hewan (binatang). Begitu juga burung dan gunung tunduk pada kehendak Nabi Daud (atas izin Allah), mereka juga bertasbih bersama Nabi Daud as (QS Saba ayat 10).
Lokasi penambangan yang diduga berasal dari zaman Nabi Sulaiman [republika]
Selain kemampuan dan kelebihan tersebut, Nabi Daud juga diberikan anugerah oleh Allah berupa kemampuannya untuk menundukkan besi (QS Saba: 10-11 dan Al Anbiya: 80). Besi-besi yang keras itu mampu dilunakkan Nabi Daud untuk membuat berbagai alat kebutuhan hidup besi itu dijadikan perisai (pakaian perang).
Allah SWT tidak menciptakan sesuatu yang ada di bumi dan alam semesta ini sia-sia, baik yang besar maupun kecil. Semuanya pasti bermanfaat. ‘’Ya, Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’’ (Ali Imran: 191).
Dalam surah Al Baqarah ayat 26, Allah menyindir orang yang selalu mengira bahwa tidak ada manfaatnya Allah menciptakan sesuatu yang kecil. ‘’Sesungguhnya, Allah tidak malu (segan) membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih kecil (rendah) dari itu. Dengan perumpamaan itu, banyak orang yang disesatkan Allah. Dan dengan perumpamaan itu (pula), banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan, tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang fasik.’’
‘’Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya, segala yang kamu seru, selain Allah, sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walau mereka bersatu menciptakannya….’’ (QS Al Hajj: 73).
Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa tidak sesuatu pun yang diciptakan Allah itu sia-sia. Semuanya ada manfaatnya. Dari berbagai perumpamaan yang Allah ciptakan itu, justru dapat diketahui apakah manusia itu orang yang bersyukur atau ingkar terhadap nikmat dan ciptaan Allah SWT.
Demikian pula ketika Allah menciptakan besi. Didalamnya terdapat manfaat yang sangat besar bagi umat manusia.
‘’Dan, Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasulNya, padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.’’ (QS Al Hadid: 25).
Selain dapat digunakan sebagai perisai (pakaian perang), besi juga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan membangun rumah, gedung bertingkat tinggi, kendaraan sebagai alat transportasi, cincin dan sebagainya.
Dokumen Buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul [republika]
Penemuan Besi
Sebagaimana diterangkan dalam Alquran, Nabi Daud AS adalah seorang nabi yang mempunyai kerajaan. Namun, sebelum Allah menganugerahi sebuah kerajaan padanya, Nabi Daud terlebih dahulu harus berjuang bersama dengan Thalut untuk melawan Jalut serta berperang melawan pasukan lainnya.
Dalam beberapa peperangan itulah, Nabi Daud AS diperintahkan untuk memanfaatkan besi sebagai alat untuk berperang (senjata), seperti pedang, pisau, tombak, panah, atau baju perang.
Dalam surah Al-Anbiya ayat 80, diterangkan, ‘’Dan, Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka, hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah ).’’
Kemudian, dalam surah Saba’ ayat 11, Daud diperintahkan membuat baju perang yang terbuat dari besi. ‘’(Yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya, Aku melihat apa yang kamu kerjakan.’’
Secara tegas, ayat tersebut memberikan contoh cara membuat baju perang dari besi. Kapan peristiwa itu terjadi? Bagaimana contoh baju besi yang dibuat oleh Nabi Daud AS tersebut?
Dalam buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah al Maghluts, disebutkan bahwa Nabi Daud AS diperkirakan hidup pada tahun 1041-971 SM. Dalam masa itulah, Nabi Daud pernah membuat baju dari besi.
Para ahli tafsir, seperti Al-Qurthubi, mengungkapkan, kata labus dalam surah Al-Anbiya ayat 80 dan Saba ayat 10-11 bermakna baju-baju besi karena dipakai untuk membentengi atau melindungi diri dari serangan musuh-musuh. Alba’su dalam kalimat tersebut, kata al-Qurthubi, bermakna alat peperangan setelah dibuang mudlaf-nya.
Pengolah Besi Pertama
Dalam menafsirkan ayat 10-11 surah Saba ini, Ibnu Katsir mengutip pendapat Hasan Bashri yang mengatakan bahwa anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Daud adalah kemampuan yang sangat luar biasa dalam menipiskan atau memipihkan atau membakarnya untuk menempa besi tersebut. ‘’Daud tidak perlu membakar besi terlebih dahulu untuk memipihkannya dengan palu. Namun, cukup dengan lipatan-lipatan tangannya sebagaimana yang dilakukan para tukang jahit. Karena itu, Allah berfirman, ‘Buatlah baju besi yang besar-besar’.”’
Kemampuan yang dimiliki Nabi Daud dalam melunakkan besi ini berbeda dengan yang dilakukan Dzulqarnayn pada abad ke-6 SM (545 SM). Dalam surah Alkahfi ayat 96, ditegaskan bahwa Dzulqarnayn berkata, ‘’Berilah aku potongan potongan besi.’’ Apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnayn, ‘’Tiuplah (api itu).’’ Apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ‘’Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.’’
Lebih lanjut, Ibnu Katsir menyatakan, Nabi Daud merupakan orang pertama kali yang membuat baju besi. Sebelum itu, hanya berupa lempengan tameng. ‘’Dan, ukurlah anyamannya,’’ yakni jangan terlalu melunakkan penyambungan antar lempengan karena akan membuat longgar dan berisik serta jangan pula terlampau mengencangkan anyamannya. Namun, buatlah sesuai dengan yang ditentukan.
Sami bin Abdullah al-Maghluts berkata, pada awalnya manusia menggunakan batu yang ditempa untuk melakukan perburuan atau peperangan, baik untuk membuat pedang, panah, maupun pisau.
Sementara itu, pada masa Nabi Daud AS, lanjut Sami, manusia bisa membuat baju-baju besi, yakni berupa lembaran lembaran. Jadi, dia (Daud—Red) merupakan manusia pertama yang memperkenalkan dan menjalinkannya, yakni menjadikan besi dalam bentuk beberapa jalinan sebagaimana disebutkan dalam surah Saba ayat 10-11 tersebut.
Bentuk baju, perisai, alat perang, seperti panah, tombak, pedang, atau jenis alat perang lainnya di zaman Nabi Daud AS, terlihat seperti pada gambar yang tertera dalam rubrik Situs ini. ■ sya/berbagai sumber
Dokumen Buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul [republika]
Damaskus: Sentra Pengolahan Besi
Damaskus, ibu kota Suriah (Syria), dikenal sebagai salah satu kota pengolahan besi yang sangat hebat. Kualitasnya telah diakui berbagai kalangan. Bahkan, pada masa awal keislaman, besi-besi Damaskus dijadikan sebagai alat utama membuat senjata, seperti pedang, tombak, anak panah, dan sebagainya.
Pada abad 7-8 Masehi, ketika berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah, Damaskus menjadi pusat pembuatan pedang yang terkenal di dunia Islam. Begitu pula pada abad ke 9 hingga 12 M, ketika Damaskus berada dalam wilayah kekuasaan Ayyubiyah, kota ini menjadi pusat pembuatan pedang yang sangat tersohor.
Selain kuat dan tajam, pedang buatan Damaskus juga sangat berkualitas dan memiliki tekstur yang indah dan menarik. Ketika terjadi Perang Salib, tentara musuh Islam terperangah melawan tentara Muslim. Sebab, di samping memiliki kuda-kuda perang yang andal, pedang-pedang tentara Islam mampu merobohkan perlawanan tentara musuh dengan sekali tebas.
Saat Perang Salib itulah, peradaban Barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia Islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus yang tersohor itu disebabkan oleh pembuatnya yang mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.
Seni membuat pedang di era kejayaan Islam mendapat perhatian khusus dari peradaban Barat. Secara khusus, Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk Medieval Islamic Swords and Swordmaking. Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama Muslim terkemuka pada abad ke-9, M Ya’qub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang Pedang dan Ragam Jenisnya.

Al-Kindi menulis secara lengkap teknologi pembuatan pedang. Ia juga mengklasifikasikan beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Menurutnya, pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan). Besi alami, menurut Al-Kindi, terbagi menjadi dua: Shaburqan (besi laki-laki yang sangat keras yang diolah dalam kondisi panas) serta Narmahin (besi perempuan ini adalah besi yang lembek dan yang tak dapat diolah dalam kondisi panas).
Pada era kejayaan Islam, pedang pedang yang dibuat para pandai besi di dunia Islam juga ada yang bahannya diimpor dari Sarandib (kini wilayah Srilanka). Sedangkan, besi dan baja pedang asli dari dunia Muslim berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir, dan Kufah.
Ilmuwan Muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al- Biruni (973 M-1048 M). Secara khusus, ia menulis kitab berjudul Al-Jamahir fi ma’rifat al-jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang.

Prof Ahmady Al-Hassan dalam tulisannya berjudul The Origin of Damascus Steel In Arabic Sources mengungkapkan, hampir semua pedang di dunia Islam terbuat dari besi Damaskus. Salah satu ciri khas pedang dari Damaskus dihiasi dengan pola hias (firind).
Menurut Al-Kindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan, pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind. Al-Biruni dalam kitabnya Al-Jamahir secara menarik menjelaskan latar belakang di balik pembuatan pola hias pada pedang. ■ sya/hri/berbagai sumber
Ditemukan Situs Pertambangan Nabi Sulaiman?
Sebagaimana diterangkan dalam Alquran, Nabi Sulaiman Alahissalam (AS) mewarisi sikap dan akhlak Nabi Daud AS. Baik dalam hal kerajaan; kemampuannya menaklukkan gunung-gunung; burung; bisa bercakap-cakap dengan binatang, seperti semut; menguasai jin-jin; dan lain sebagainya (QS An Naml: 16). Demikian juga dengan besi (baja).
Pada 28 Oktober 2008 lalu, National Geographic memberitakan, sekelompok penambang di Yordania bagian selatan menemukan sebuah lokasi penambangan yang diduga berasal dari zaman Nabi Sulaiman AS. Tidak dijelaskan secara resmi lokasi penemuan galian tambang tersebut.
Berbagai jenis barang tambang (emas, perak, tembaga, besi, perunggu, dan sebagainya) yang dulu digunakan Sulaiman untuk membangun Haikal Sulaiman (Solomon Temple) di Yerusalem. Emas, perak, dan perunggu dipergunakan untuk memperindah interior kuil.
Sejauh ini, para arkeologi belum menemukan persisnya areal pertambangan di zaman Sulaiman. Beberapa areal tambang yang ditemukan di kawasan Timur Tengah, setelah diteliti, masih lebih muda usianya dari masa hidup Sulaiman. Sulaiman diperkirakan hidup sekitar abad ke-10 (989-931) SM.
Informasi penemuan areal penambangan di Yordania ini sangat menggembirakan para arkeolog dalam rangka meneliti peradaban dan kejayaan Nabi Sulaiman. Temuan itu semakin diperkuat dengan tes uji karbon terhadap areal tambang tembaga di Yordania itu. Hasil tes menunjukkan, usia yang sama dengan masa Nabi Sulaiman. Kawasan tambang tembaga tersebut berada di daerah perbukitan. Di lokasi itu, ditemukan bekas-bekas penggalian dan reruntuhan bangunan yang diduga menjadi bagian dari industri pertambangan kuno.
Kawasan itu sebenarnya pernah diteliti pada tahun 1970. Tetapi, hasil penelitian menunjukkan, areal tambang tersebut berusia sekitar abad ke-7 SM, sekitar 300 tahun setelah Nabi Sulaiman.
Dokumen Buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul [republika]
Sebelumnya, masih dalam laporan National Geographic pada 27 Oktober 2007, kabarnya sejumlah pekerja Muslim menemukan kuil Sulaiman. Kuil itu terletak di sebelah Masjid al-Aqsha. Kendati tidak utuh, Kuil Sulaiman itu diyakini masih ada, yakni berupa tembok ratapan (Wailing Wall) yang bersebelahan dengan Masjid Kubah Batu (Dome of the Rock).
Di lokasi tersebut, para pekerja menemukan berbagai jenis barang keramik dan tembikar yang diduga merupakan peninggalan Sulaiman setelah kehancuran Haikal Sulaiman. ■sya/national geographic
Wallahu a’lam
***Disadur dari sebuah tulisan di Harian Umum Republika Edisi Ahad, 16 Agustus 2009 halaman B3

kembali ke atas | indeks pilihan | download



















Tinggalkan Balasan