Keberhasilan proses Islamisasi di Indonesia sebagai agama pendatang memaksa Islam untuk mendapatkan simbol-simbol kultural yang selaras dengan kemampuan penangkapan dan pemahaman masyarakat yang akan dimasukinya. Langkah ini merupakan salah satu sifat dari agama Islam yang plural yang dimiliki semenjak awal kelahirannya.
Kedatangan agama Islam di berbagai daerah Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula kerajaan-kerajaan dan daerah-daerah yang didatanginya mempunyai situasi politik dan sosial-budaya yang berbeda. Sementara itu, sumber-sumber pendukung masuknya Islam di Indonesia di antaranya adalah:
1. Berita dari Arab
Berita ini bersumber dari para pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan orang-orang Melayu. Pedagang Arab diyakini telah datang ke Nusantara sejak masa Kerajaan Sriwijaya yang kurang lebih pada abad ke-7 M. Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Nusantara bagian barat, termasuk Selat Malaka pada waktu itu. Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara dalam upayanya memperluas kekuasaannya ke Semenanjung Malaka sampai Kedah dapat dihubungkan dengan bukti-bukti prasasti 775, berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 sampai ke-10 M. Hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional.
Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Nieman, de Hollander, Syeh Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu dan mayoritas tokoh-tokoh Islam di Indonesia, seperti halnya Hamka dan Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka dengan keras menuduh bahwa teori yang mengatakan bahwa Islam datang dari India adalah sebagai sebuah bentuk propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara itu tidak murni.
2. Berita dari Eropa
Berita dari Eropa ini berasal dari Marcopolo tahun 1292 M. Marcopolo adalah orang Eropa yang pertama kali menginjakan kakinya di Indonesia (Nusantara waktu itu), ketika ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalur laut. Pada saat itu, Marcopolo mendapat tugas dari Kaisar Cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada Kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu, Marcopolo singgah di Sumatra bagian utara. Di daerah ini, ia menemukan adanya kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudera dengan ibukotanya Pasai. Di antara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouch Hurgronye, W.F. Stutterheim, dan Bernard H.M. Vlekke.
3. Berita dari India
Berita ini menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia. Karena di samping mereka datang untuk berdagang, mereka juga aktif mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada setiap masyarakat yang dijumpainya, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisir pantai. Teori ini lahir selepas tahun 1883 M, dibawa oleh C. Snouch Hurgronye. Pendukung teori ini, di antaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A. Kern, dan C.A.O. Van Nieuwinhuize.
4. Berita dari Cina
Berita dari Cina ini bersumber dari catatan dari Ma Huan. Ia adalah seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Ma Huan dalam tulisannya menyatakan bahwa sejak kira-kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal di pantai utara Pulai Jawa. Begitu juga dengan T.W. Arnol yang menyatakan para pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, saat itu mereka mendominasi perdagangan barat-timur sejak abad-abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan ke-8 M. Dalam sumber-sumber Cina yang lain disebutkan bahwa pada abad ke-7 M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah permukiman Arab-Muslim di pesisir pantai Sumatra yang disebut dengan Ta’shih.
5. Sumber dalam Negeri
Terdapat sumber-sumber berasal dari dalam negeri yang menerangkan tentang berkembangnya pengaruh Islam di Nusantara. Keterangan tersebut berdasarkan pada penemuan sebuah batu bersurat di Leran, kabupaten Gresik. Batu bersurat tersebut dituliskan dengan menggunakan huruf dan bahasa Arab. Walaupun sebagian tulisannya telah rusak, tetapi dari batu tersebut dapat menceritakan tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Maimun, yang berangka tahun 1028. Sumber lain yaitu makam Sultan Malik Al-Saleh di Sumatra Utara yang meninggal pada bulan Ramadan tahun 676 H atau tahun 1297 M. Sementara itu, makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419 M juga menjadi bukti bahwa masuknya Islam telah terjadi di masa itu.

Kedatangan Islam ke wilayah Nusantara dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu:
1. Saluran Perdagangan
Dari berbagai jalan Islamisasi di Nusantara pada taraf permulaannya, banyak yang sepakat bahwa Islam datang dan berkembang melalui perdagangan. Hal ini sesuai dengan kondisi akan adanya kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 sampai abad ke-16, yang saat itu terjadi perdagangan antara negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur benua Asia. Di lokasi-lokasi tersebut, pedagang-pedagang Muslim baik dari Arab, Persia, maupun India turut serta mengambil bagiannya di Nusantara.
Proses Islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan. Hal tersebut dikarenakan jalinan di antara masyarakat Melayu dan pedagang Muslim terjalin dengan tidak adanya suatu paksaan. Proses Islamisasi melalui saluran perdagangan tersebut dipercepat lagi dengan situasi dan kondisi politik dari beberapa kerajaan yang adipati-adipati pesisir berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat kerajaan yang sedang mengalami kekacauan dan perpecahan.
Secara umum, proses Islamisasi yang dilakukan oleh para pedagang melalui perdagangan mungkin dapat digambarkan sebagai berikut: Mula-mula mereka berdatangan di tempat-tempat pusat perdagangan dan kemudian di antaranya ada yang tinggal, baik untuk sementara maupun untuk menetap. Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan-perkampungan. Perkampungan golongan pedangan Muslim dari negeri-negeri asing itu disebut dengan pekojan.
2. Saluran Pernikahan
Pernikahan adalah salah satu dari jalan proses terjadinya Islamisasi yang paling mudah. Hal itu dikarenakan dalam ikatan pernikahan akan terjadi ikatan lahir batin, tempat mencari kedamaian di antara dua individu yang berbeda jenis. Kedua individu, (suami dan istri) akan membentuk sebuah keluarga yang posisinya adalah bagian dari inti masyarakat. Dalam hal ini berarti pernikahan pedagang/ saudagar Muslim dan wanita pribumi akan membentuk masyarakat Muslim. Melalui pernikahan inilah akan terlahir seorang Muslim. Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar dari pedagang Muslim, dengan tujuan meningkatkan nilai harkat dan marabat keluarga dalam masyarakat.
Sebelum wanita pribumi menikah dengan para pedagang Muslim, mereka harus diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai kerturunan, maka anak mereka pun akan menjadi Muslim seperti ayahnya hingga akhirnya akan membentuk generasi-generasi Muslim selanjutnya dan lingkungan mereka semakin luas. Dengan semakin banyaknya keluarga Muslim yang tercipta, maka akhirnya timbul kampung-kampung dengan mayoritas berpenduduk Muslim, yang meluas menjadi daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan Muslim.
3. Saluran Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu jalan yang penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia. Perkembangan Tasawuf dapat dilihat dari peninggalan bukti-bukti yang jelas pada tulisan-tulisan antara abad ke-13 dan ke-18. Hal itu berkaitan langsung dengan penyebaran Islam di Indonesia. Dalam praktiknya, para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya diyakini memiliki keahlian untuk menyembuhkan penyakit dan lain-lain.
Jalur tasawuf merupakan proses Islamisasi dengan mengajarkan teosofi dengan mengakomodasi nilai-nilai budaya, bahkan ajaran agama yang ada ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dimodifikasi dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syeh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Bahkan ajaran tasawuf dikaitkan dengan ajaran mistik. Walaupun demikian, ajaran tasawuf seperti ini masih berkembang di abad ke-19 bahkan di abad ke-20 ini.
4. Saluran Pendidikan
Para ulama, dan guru agama berperan besar dalam proses Islamisasi. Mereka menyebarkan agama Islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan surau-surau atau pondok-pondok pesantren yang merupakan tempat pengajaran agama Islam bagi para santri. Pada umumnya, di pondok pesantren ini diajar oleh guru-guru agama, kiai-kiai, atau ulama-ulama. Di tempat tersebut, para santri belajar ilmu-ilmu agama dari berbagai kitab. Setelah keluar dari suatu pesantren tersebut, mereka akan kembali ke masing-masing kampung atau desanya untuk menjadi tokoh agama atau menjadi ulama yang mendirikan dan menyelenggarakan pesantren lagi. Semakin terkenal ulama yang mengajarkan tersebut, maka semakin terkenal pesantrennya, dan pengaruhnya akan mencapai radius yang lebih jauh lagi.
Di pesantren-pesantren ini, para santri diajarkan berbagai materi kajian yang menggunakan referensi kitab kuning. Kitab kuning adalah sebutan untuk buku atau kitab tentang ajaran-ajaran Islam atau tata bahasa Arab yang dipelajari di pondok pesantren yang ditulis atau dikarang oleh para ulama pada abad pertengahan dalam huruf Arab. Disebut kitab kuning karena biasanya dicetak dengan kertas berwarna kuning yang dibawa dari Timur Tengah.
5. Saluran Kesenian
Proses Islamisasi juga dilakukan melalui seni, seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Pada seni bangunan, tampak arsitektur Islami, misalnya pada Masjid Kuno Demak, Sendang Duwur Agung Kasepuhan di Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman di Aceh, masjid di Ternate, dan masjid lainnya di Nusantara. Contoh lain dalam proses Islamisasi melalui seni adalah lewat pertunjukan wayang yang digemari oleh masyarakat. Melalui cerita-cerita wayang itu disisipkan ajaran agama Islam. Seni gamelan juga dapat mengundang masyarakat untuk datang melihat pertunjukan tersebut. Selanjutnya, pertunjukan seni tersebut disisipi dakwah keagamaan Islam saat masyarakat telah berkumpul.
6. Saluran Politik
Pengaruh kekuasan raja kepada rakyat sangat besar dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam, maka dengan otomatis rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Pada saat itu rakyat memiliki kepatuhan yang sangat tinggi kepada rajanya. Raja dianggap sebagai panutan, bahkan menjadi teladan bagi rakyatnya. Seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Maluku, kebanyakan rakyatnya masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu. Dengan bukti dan teori ini, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh politik raja benar-benar sangat membantu tersebarnya Islam di daerah tersebut.

Pengaruh kedatangan agama Islam ke Nusantara mendatangkan kecerdasan dan kebudayaan bangsa. Agama Islam pada gilirannya mengangkat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berbudaya, baik secara lahiriah maupun batiniah. Kebudayaan lahiriah tampak pada benda-benda budaya Islam seperti bangunan masjid-masjid dan surat yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Mimbar-mimbar masjid serta ukiran-ukiran berupa hiasan pada mimbar, kaligrafi yang sangat disenangi kaum Muslimin, serta busana yang dikenal sebagai busana muslim juga merupakan kebudayaan lahiriah yang lahir karena pengaruh agama Islam.
Sementara itu, kebudayaan batiniah yang muncul sebagai akibat masuknya agama Islam antara lain berupa adat istiadat dan budi pekerti yang terformat dari ajaran Islam yang membentuk kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian bangsa, Pancasila dan butir-butir yang terdapat di dalamnya sebetulnya adalah manifestasi dari ajaran Islam. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa seorang Muslim adalah juga seorang Pancasilais sejati. Akidah Islam yang tertanam dalam dada seorang Muslim menimbulkan semangat patriotisme untuk membela bangsa dari cengkeraman penjajah. Sejarah dapat membuktikan semangat yang terpencar dari akidah Islam ini. Perang Aceh, Perang Banjar, Perang Diponegoro, Perang Padri, begitu pula patriotosme Fatahillah serta pasukan Demak untuk menghalau Portugis tahun 1527 adalah gambaran dari patriotisme bangsa untuk mengusir penjajah. Perang Aceh (1873–1905) dan Perang Banjar (1859-1905) yang dapat bertahan sangat lama dan menghabiskan tenaga dan pikiran bangsa Belanda itu karena masyarakat pribumi termotivasi oleh akidah Islam. Sehubungan dengan inilah Dr. Setia Budi (E.F.E. Douwes Dekker 1879-1952) pernah mengatakan dalam salah satu ceramahnya di Yogyakarta menjelang akhir hayatnya, yang antara lain mengatakan:
“Jika tidak karena pengaruh dan didikan agama Islam, maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti yang diperlihatkan oleh sejarah bangsa Indonesia hingga mencapai kemerdekaan.”
Jalinan pelayaran antara negeri-negeri Islam di Timur Tengah dengan orang-orang di Nusantara sudah berkembang sejak masa kebesaran khalifah abad ke- 9. Pada waktu itu, tidak ada kapal-kapal lain yang melayari rute tersebut kecuali bangsa-bangsa dari Islam. Sehubungan dengan ini, Al-Mas’udi, seorang pengarang, ahli sejarah, pelaut, dan pengeliling benua yang wafat pada 246 H atau 957 M, mengatakan dalam bukunya Murujul Zhahab atau Padang Luas Bertaburan Emas:
“Sangat luas kerajaan maharaja Jawa itu, bala tentaranya tidak terhitung banyaknya. Dua tahun habis waktu jika hendak menjalani kerajaannya. Sangat cukup pula berbagai hasil tumbuh-tumbuhan dan kayu-kayuan yang wangi dan minyak wangi. Kapur barus, cengkih, dan cendana datang dari negeri itu dan lain-lain lagi. Di sebelah sana terbentang jalan luas lautan besar jalan ke negeri Cina.”
Mas’udi adalah seorang Arab keturunan Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Nabi saw. Pada tahun 309 H setelah dia mengelilingi Parsi dan Kirman, dia mengelilingi India dan Srilanka, dan dari sana mengarungi samudra berlayar ke Cina. Dia beberapa kali mengadakan pelayaran antara Cina dan Madagaskar.
Namun demikian, Mas’ud bukan satu-satunya orang Arab yang melayari rute ini, tetapi yang jelas bahwa abad ke-3 H, Mas’udi telah singgah di Nusantara. Pada abad ke-2 H atau abad ke-9 M, telah terjalin hubungan antara Arab dengan dataran Cina. Adalah hal yang sangat mungkin bahwa hubungan dengan Nusantara pun telah ada pada abad ke-2 H di pesisir Cina yang gudangnya terletak di Canton.
Pada tahun 758 M, terjadi keributan di Canton dan menyebabkan gudang perdagangan itu dirampok orang. Pada abad itu telah terbentuk jemaah masjid di Canton. Jika pada abad ke-2 H telah terbentuk jemaah dan masyarakat Muslim, hal itu berarti bahwa agama Islam telah masuk ke Cina sebelum abad itu, karena terjadinya sebuah masyarakat Muslim memakan waktu yang cukup lama. Dengan demikian, dapatlah dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Cina pada abad ke-2 H.
Pelayaran antara Arab-Cina cukup jauh dengan kapal layar, oleh sebab itu Nusantara adalah satu-satunya tempat persinggahan selama menunggu datangnya angin baik untuk dapat melanjutkan pelayaran ke negeri Cina. Kalau Islam masuk ke negeri Cina pada abad ke-2 H, hal itu sangat mungkin sekali Islam masuk ke Nusantara ini pada abad pertama Hijriah atau abad 7-8 M.
Menurut pendapat Ir. Moens dalam bukunya “De Noord Sumatraanse Rijken der Parfums en Specerjen in voor Moslimse Tijd”, yang dikutip oleh MD. Mansur, mengatakan bahwa kerajaan Samudra Pasai telah berdiri sejak lama dan pada abad ke-5 M telah menjadi pusat perdagangan yang resmi antara India dan Cina. Sementara itu, Sir Thomas Arnold dalam bukunya “Preaching of Islam” mengatakan bahwa di pantai barat pulau Sumatra telah terdapat satu kelompok perkampungan orang Arab, yaitu pada zaman pemerintahan Yazid dari Dinasti Umayyah tahun 684 M.
Dari dua pendapat ini dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa Islam telah masuk sekitar abad 7-8 M. Hubungan antara pedagang India dan Arab sudah lama terjalin dan tidaklah mustahil bahwa pedagang India itu juga termasuk di antaranya pedagang Arab yang telah bermukim di India. Umumnya, setiap pedagang Arab juga berfungsi sebagai mubalig, yang di mana mereka itu menetap, maka di situ pula Islam berkembang.
Masuknya agama Islam ke Nusantara tidaklah bersamaan dengan berdirinya kerajaan Islam di Nusantara ini. Tidak pernah terjadi dalam sejarah kedatangan agama Islam langsung mendirikan kerajaan Islam. Antara datangnya agama Islam dengan berdirinya sebuah kerajaan Islam melintasi waktu yang cukup lama. Sementara itu, sebelum agama Islam masuk, telah berdiri kerajaan yang mendapat pengaruh agama Hindu dan Buddha. Karena itulah tentunya agama baru yang masuk melalui proses yang lama baru dapat diterima oleh masyarakat sebagai agama.
Abad 7-8 M adalah zaman keemasan Dinasti Umayyah kemudian Dinasti Abbasiyah dan pada masa itu pula pedagang-pedagang Muslim yang terdiri dari orang-orang Arab, India, dan Gujarat melakukan kegiatan perniagaan ke daerah Timur Jauh dan Asia Tenggara. Jika diperhatikan, abad itu adalah masa Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Ketika itu, Selat Malaka merupakan daerah pengawasan Sriwijaya, tetapi sudah dilalui oleh pedagang-pedagang Muslim yang melalui jalur pelayaran tersebut.
Berdasarkan berita Cina dari Dinasti T’ang, disebutkan bahwa masa itu sudah ada pedagang Muslim, baik yang bermukim di Kanfu (Canton) maupun di daerah Sumatra sendiri. Perdagangan yang meningkat pada masa itu dimungkinkan pula oleh kegiatan kerajaan Islam di bawah Dinasti Umayyah di bagian barat serta Kerajaan Cina di bagian timur yang telah meramaikan jalur perdagangan lewat Asia Tenggara di bawah Sriwijaya.
Penguasaan Selat Malaka oleh Sriwijaya sangat penting karena merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional masa itu. Kedatangan pedagang-pedagang Muslim tidak terasa akibatnya bagi kerajaan di Asia Tenggara dan Timur Jauh. Akan tetapi, dua abad kemudian, yaitu abad ke- 9, telah terjadi pemberontakan oleh petani Cina yang dalam pemberontakan tersebut masyarakat Muslim di sana telah turut serta dan banyak di antaranya yang terbunuh. Sebagian penduduk Muslim yang selamat melarikan diri dan menetap di Kedah. Kaisar Cina yang diberontak itu adalah Hi-Tsung (878-879) dari Dinasti T’ang. Kaum Muslimin yang menetap itu kemudian melakukan kegiatan politik dan ini berakibat terjadinya pertentangan antara Sriwijaya dengan negeri Cina, karena Kedah berada di bawah perlindungan Sriwijaya.
Kondisi Sriwijaya pada abad ke-13 sudah mulai menurun dan perdagangannya sudah lemah. Hal itu merupakan situasi yang menguntungkan bagi pedagang Muslim. Pedagang-pedagang Muslim di beberapa daerah memperoleh keuntungan politik, yang dalam hal itu mereka merupakan pendukung politik berdirinya kerajaan yang bercorak Islam. Kerajaan pertama yang terbentuk dengan corak Islam ini adalah kerajaan Samudra Pasai yang berdiri pada abad ke-13.
Jika pada abad ke-13 sudah ada kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara, maka ini berarti bahwa proses hubungan kaum Muslim dengan pribumi yang bergaul dalam waktu yang lama telah menghasilkan berdirinya sebuah institusi kerajaan yang bercorak Islam. Hal ini berarti pula bahwa orang pribumi telah berhubungan dan mengenal Islam melalui kegiatan perdagangan. Pedagang-pedagang yang menetap di pelabuhan-pelabuhan mendapat simpati dari penduduk pribumi, lebih-lebih masyarakat golongan bangsawan, karena pedagang Muslim ini memegang peranan penting dalam dunia perdagangan, yang di situ kaum bangsawan dan raja-raja memiliki saham. Hal yang mempermudah adalah karena Islam tidak mengenal adanya kasta. Seorang pemeluk agama Hindu dari kasta Sudra, yaitu kasta yang paling rendah dalam masyarakat Hindu, apabila dia masuk agama Islam, derajatnya akan sama dengan setiap pemeluk Islam lainnya. Hal ini berarti bahwa setiap Muslim mempunyai kewajiban untuk mengajak umat lain memeluk agama Islam. Berbeda dengan agama Hindu, kewajiban seperti itu hanya dimiliki kasta Brahmana, kasta tertinggi di kalangan masyarakat Hindu.
Seorang musafir Portugis, Tome Pires, yang berlayar di sebagian besar daerah Nusantara pada permulaan abad ke-16 (1512-1515), menyebutkan bahwa hampir seluruh pesisir utara Jawa dan Sumatra sudah menganut agama Islam dan sudah banyak kerajaan yang bercorak Islam, hanya beberapa daerah pedalaman yang belum menganut Islam. Lebih mengherankan lagi ketika Kerajaan Majapahit sedang mencapai puncak kejayaannya, di jantung ibukota Majapahit telah terdapat kelompok kaum Muslimin dan hal ini terbukti dengan ditemukannya kelompok makam orang Islam yang bertuliskan angka tahun dari abad 14 dan 15 di sekitar Trowulan, Mojokerto. Kenyataan ini memperkuat dugaan bahwa di daerah pantai utara Jawa Timur, khususnya sekitar Gresik adalah daerah permukiman kaum Muslimin dan tempat kegiatan perdagangan serta sosial. Hal ini dapat dilihat dari bukti ditemukannya sebuah batu nisan berangka tahun 475 H atau 1082 M, yaitu makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik.
Pertumbuhan masyarakat Muslim di pusat ibukota Kerajaan Majapahit dan di daerah-daerah pelabuhan, terutama seperti Gresik, Tuban, dan Jaratan, sangat erat hubungannya dengan tumbuhnya kekuasaan politik Samudera Pasai dan Malaka. Hubungan perdagangan yang sudah berlangsung lama dengan kerajaan dan pedagang Muslim, menyebaban daerah-daerah pelabuhan itu menjadi pusat pertumbuhan masyarakat Muslim. Pada tahap pertama hubungan antara raja-raja Majapahit dengan daerah kekuasaannya di daerah pesisir berjalan seperti biasa, tetapi setelah para adipati pesisir itu memeluk Islam dan mempunyai posisi perdagangan yang mantap dan kekuatan yang besar, barulah terasa ancaman itu datangnya dari para adipati pesisir. Pertikaian di kalangan keluarga Majapahit untuk memperebutkan kedudukan sebagai raja mempercepat proses penghancuran Majapahit. Proses kehancuran pusat pemerintahan Majapahit berkaitan dengan proses pertumbuhan kerajaan pantai yang bercorak Islam.
Proses kehancuran Majapahit menjadi sempurna setelah Demak muncul sebagai kekuatan politik dan pusat Islam di pantai utara Jawa. Sejak abad 15, Demak menjadi pusat kegiatan penyebaran Islam di tanah Jawa yang di pelopori oleh Wali Songo. Babad Banten bahkan menyebutkan bahwa ketika ada penyerangan dari Majapahit, maka di Demaklah para wali berkumpul untuk musyawarah menentukan langkah-langkah yang perlu diambil.
Dari berita Tome Pires dan berita-berita Babad setempat diketahui bahwa Demak berdiri sebagai kerajaan. Dengan Raden Patah sebagai raja, satu demi satu daerah pesisir utara Jawa mulai mengakui kekuasaan Demak. Lebih-lebih lagi ketika benteng kekuasaan Hindu di Jawa Barat dapat diduduki dengan jatuhnya Jayakarta oleh Falatehah, maka praktis hegemoni sudah tidak dapat dibendung lagi.
Namun demikian, masuknya Islam ke Nusantara memang belum diketahui secara pasti. Beberapa penelitian dan teori dilakukan untuk mengungkap sejarah tersebut, di antaranya adalah teori proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia yang dikemukakan oleh Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah. Dia menyatakan bahwa terdapat tiga teori dalam melihat masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, yaitu teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia.
1. Teori Gujarat
Teori ini mengungkapkan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay), India. Dasar dari teori ini adalah:
- Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia (Nusantara).
- Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay – Timur Tengah –Eropa.
- Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al-Saleh tahun 1297 yang bercorak khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim, dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan politik Islam, yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak (Perureul) tahun 1292. Dia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.
2. Teori Mekkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lama, yaitu teori Gujarat. Teori Mekkah mengungkapkan bahwa Islam masuk ke Indonesia (Nusantara) pada abad ke-7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
- Pada abad ke-7, tepatnya tahun 674, di pantai barat Sumatra sudah terdapat perkampungan Islam (Arab) dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Canton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
- Kerajaan Samudra Pasai menganut mazhab Syafi’i, hal itu sesuai karena di Mesir dan Mekkah saat itu mayoritas juga bermazhab Syafi’i. Sementara itu, Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
- Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar “Al-Malik”. Gelar tersebut berasal dari Mesir.
Pendukung teori Mekkah ini adalah Hamka, Van Leur, dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya, yaitu abad ke-7, dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
3. Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
- Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw yang sangat dijunjung oleh masyarakat Syiah/Islam Iran. Di Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut, sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
- Ada kesamaan ajaran sufi yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan sufi dari Iran, yaitu Al-Hallaj.
- Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda tanda bunyi harakat.
- Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun1419 di Gresik.
Pendukung teori ini antara lain adalah Umar Amir Husen dan P.A. Hussein Jayadiningrat.
Dari ketiga teori yang dikemukakan oleh Ahmad Mansur Suryanegara tersebut memiliki kebenaran dan kelemahan masing-masing, tetapi dari ketiga teori tersebut juga dapat ditarik kesimpulan bahwa Islam masuk pada abad ke-7 dengan jalan damai dan mulai berkembang pada abad ke-13, yang ketika itu pemegang peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, Persia, dan Gujarat (India).
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan bahwa pada tahun 651 M atau 31 H, Cina pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih (sebutan bangsa Cina untuk orang Arab). Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 juta Muslim yang datang ke Cina. Sementara itu pada masa Dinasti Abbasiyah, dikirimlah 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7 tercatat sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di daerah Kanfu (Canton). Jauh sebelum para penjelajah dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat, dan pelayaran sejauh ini adalah rute pelayaran paling panjang yang pernah ada sebelum abad 16. Hal ini didukung pula oleh catatan para peziarah Buddha-Cina menjelang abad ke-7 yang kerap kali menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab untuk pergi ke India. Selain itu, pengembara Arab yang masyhur, Ibn Bathutah, mencatat perjalanannya ke beberapa wilayah Nusantara.
Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh yang pelayaran tersebut tentunya akan melewati Nusantara. Hal itu dikarenakan posisi strategis Nusantara (dulu dikuasai Sriwijaya) yang merupakan pintu masuk pelayaran barat untuk menuju Timur Jauh. Tidak ada satu ekspedisi yang akan menuju Cina tanpa melawat terlebih dahulu ke Sriwijaya.
Menurut Farid, yang dikutip oleh Azyumardi Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan bahwa ada proses korespondensi yang berlangsung antara Kerajaan Sriwijaya yang pada masa itu dipimpin oleh Sri Indravarman dengan khalifah yang terkenal adil, khalifah Umar bin Abdul Azis.
“Dari Raja di Raja (Malik al-Amlak) yang merupakan keturunan seribu raja, yang istrinya juga cucu seribu raja, yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah, yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil, kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan Tuhan-Tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”
Demikian antara lain bunyi surat Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis. Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini berlangsung pada kurang lebih tahun 100 H atau 718 M. Tak dapat diketahui secara pasti apakah selanjutnya Raja Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak, tapi hubungan antara Sriwijaya dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru agama Islam di Nusantara. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Pada kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.
Sriwijaya mengalami masalah serius yang berakibat pada kemunduran kerajaan pada awal abad ke-12. Kemunduran Sriwijaya ini memengaruhi pada perkembangan Islam di Nusantara. Faktor kemerosotan ekonomi juga membuat Sriwijaya menaikkan nilai upeti kepada kapal-kapal asing yang memasuki wilayahnya. Hal ini mengubah arus perdagangan yang telah berperan dalam penyebaran Islam.
Selain Sriwijaya disebut-sebut telah dijamah oleh dakwah Islam, daerah-daerah lain di Pulau Sumatra seperti Aceh dan Minangkabau juga menjadi lahan dakwah agama Islam. Bahkan di Minangkabau ada tambo (riwayat) yang mengisahkan tentang alam Minangkabau yang tercipta dari Nur Muhammad. Ini adalah salah satu jejak Islam yang berakar sejak mula masuk ke Nusantara. Di saat-saat itulah, Islam telah memainkan peran penting di ujung Pulau Sumatra. Kerajaan Samudera Pasai menjadi kerajaan Islam pertama yang dikenal dalam sejarah. Namun demikian, ada pendapat lain dari Prof. Ali Hasjmy (1978), yang menyatakan bahwa kerajaan Islam pertama adalah Kerajaan Perlak. Masih banyak perdebatan tentang hal ini, tetapi pada periode inilah Islam telah memegang peranan yang signifikan dalam sebuah kekuasaan.
Masuknya Islam ke Nusantara bertepatan pada masa kejayaan Kerajayaan Sriwijaya. Literatur kuno Arab yang berjudul Aja’ib Al-Hind yang ditulis oleh Buzurg bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi pada tahun 1000 menuliskan bahwa terdapat perkampungan-perkampungan Muslim di wilayah Zabaj atau Sribuza (yang lebih dikenal dengan nama Sriwijaya). Hal ini sangat bisa diterima karena zaman itu adalah masa-masa keemasan Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan dengan bandar terbesar di Nusantara pada masanya.
Bandar dalam pengertiannya merupakan tempat berlabuh kapal-kapal atau persinggahan kapal-kapal dagang. Bandar juga merupakan pusat perdagangan di pesisir laut, bahkan juga digunakan sebagai tempat tinggal para pengusaha perkapalan. Indonesia yang merupakan negara kepulauan terletak pada jalur perdagangan internasional, memiliki banyak bandar besar. Bandar-bandar ini pada masa lalu memiliki peranan dan arti yang sangat penting dalam proses masuknya Islam ke Nusantara. Hal itu dikarenakan di bandar-bandar inilah para pedagang beragama Islam memperkenalkan Islam kepada para pedagang lain ataupun kepada penduduk lokal. Bisa juga dikatakan bahwa bandar menjadi pintu masuk penting dan pusat penyebaran agama Islam ke Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari fakta bahwa pusat kerajaan Islam pada umumnya secara geografis terletak di pesisir-pesisir dan muara sungai.
Bandar juga menjadi tempat para pedagang untuk berinteraksi dengan masyarakat pribumi. Selain berdagang, para pedagang Islam juga melakukan syiar agama Islam kepada penduduk setempat, selanjutnya bahkan ada yang menetap dan mendirikan perkampungan dagang Islam seperti perkampungan Pekojan yang didirikan oleh pedagang dari Gujarat. Dengan demikian maka intensitas interaksi antara pedagang Islam dan penduduk setempat semakin sering, bahkan hingga terjadi pernikahan antara pendatang dan wanita pribumi.
Perkembangan Islam yang cepat memunculkan tokoh ulama atau mubalig yang menyebarkan Islam melalui pendidikan dengan mendirikan pondok-pondok pesantren, tempat untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat yang ingin belajar lebih jauh tentang agama Islam, baik penduduk setempat maupun dari berbagai wilayah lainnya yang terdiri dari berbagai kalangan dan status. Setelah lulus dari pondok pesantren, para alumninya merasa wajib melakukan syiar menjadi juru dakwah ke daerah masing-masing sehingga ajaran Islam begitu cepat berkembang dan masuk ke pelosok-pelosok.
Sementara itu, penduduk setempat yang telah memeluk agama Islam kemudian menyebarkan Islam kepada sesama pedagang setempat, juga kepada sanak familinya. Akhirnya, lahirlah keluarga dan anak-anak yang Islam. Hal ini berlangsung terus selama bertahun-tahun sehingga muncul komunitas Islam. Dari hal itulah kemudian terbentuk sebuah pemerintahan Islam, dengan kata lain menjadi akar dari lahirnya kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara.
Berbagai cara dan metode dilakukan untuk menyebarkan agama Islam, di antaranya melalui perdagangan, pesantren dan syiar oleh santri-santri, hingga syiar Islam yang dipadukan dengan asimilasi dan akulturasi kebudayaan. Dalam buku “Masuknya Islam ke Indonesia”, Hartini menyebutkan bahwa Islam tidak hanya masuk melalui syiar-syiar ke Indonesia, tetapi juga dengan mencampurkan kebudayaan Islam dengan kebudayaan lokal setempat. Berbagai contoh asimilasi dan akulturasi dalam hal ini antara lain:
1. Seni Bangunan
Wujud asimilasi dan akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, dan istana. Wujud akulturasi dari masjid akan terlihat dari ciri-ciri sebagai berikut:
- Atap berbentuk tumpang atau bersusun yang semakin ke atas semakin kecil, dari tingkatan paling atas berbentuk limas dengan jumlah atapnya berjumlah ganjil 1, 3, atau 5. Sementara itu pada ujungnya diberikan tekanan bentuk yang lebih kecil yang disebut dengan mustaka.
- Penggunaan kentongan dan bedug sebagai penyeru sebelum menyerukan azan. Kentongan dan beduga dalah budaya asli Nusantara.
- Masjid terletak dekat dengan istana, berada di sebelah barat alun-alun atau di tempat-tempat keramat, seperti di atas bukit atau dekat dengan makam. Gambaran masjid yang dimaksud adalah Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus, dan lain sebagainya.
2. Makam
- Peletakan makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang dianggap keramat.
- Adanya jirat atau kijing; makam yang terbuat dari bangunan batu, atau juga dikenal dengan sebutan nisan.
- Pendirian cungkup watu atau kubba di atas jirat/makam.
- Adanya tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok kelompok makam yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) atau berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
- Pembangunan masjid di dekat makam, dikenal dengan sebutan masjid makam dan biasanya makam yang memiliki masjid adalah makam para wali atau raja.
3. Istana
Arsitektur istana yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi baik dari segi arsitektur atau ragam hias maupun dari seni patungnya. Hal ini dapat dilihat pada istana Kasultanan Yogyakarta yang juga dilengkapi dengan patung penjaga, Dwarapala, yaitu simbol penjaga yang diyakini pada ajaran agama Hindu.
4. Seni Rupa
Dalam Islam tidak dibenarkan menggambar bentuk manusia atau hewan, Pandangan ini dilakukan oleh kaum konservatif yang populer pada awal kemunculan agama Islam, kaum ini beranggapan bahwa segala bentuk peniruan adalah usaha menyaingi kesempurnaan Tuhan dan wujud keinginan menciptakan Tuhan baru. Tetapi banyak pula yang menyatakan pandangan bahwa bagaimanapun hasil penciptaan manusia tetap tidak akan bisa menyamai apa yang telah diciptakan oleh Tuhan ataupun berusaha menciptakan Tuhan itu sendiri, dengan tambahan bahwa seni rupa tidak hanya penjiplakan saja, tetapi diiringi pula dengan stilisasi yang memperlihatkan keagungan Pencipta.
Senirupa abstrak berkembang pesat dalam senirupa Islam. Senirupa abstrak muncul dalam karya lukisan, grais, maupun hiasan dalam arsitektur bangunan-bangunan keagamaan atau bangunan-bangunan umum. Jika bangunan-bangunan keagamaan maupun umum di Eropa, dipenuhi dengan gambar-gambar representasional, di dunia Islam justru gambar-gambar representasional tidak muncul.
Komposisi karya seperti ini merupakan ciri khas pada seni rupa Islam berupa stilisasi berbagai bentuk tanaman atau mahluk hidup yang disusun silang menyilang, sehingga tidak menyisakan ruang. Unsur-unsur senirupa berupa amorf, geometrik, maupun biomorphic Islam sangat kuat pada karya seni rupa seperti itu. Seni rupa seperti ini dapat ditemukan pada gambar-gambar atap di masjid pada pintu dan tiang juga ditemukan pada gapura-gapura baik masjid, istana kerajaan islam ataupun makam.
5. Aksara dan Seni Sastra
Masuknya agama Islam ke Indonesia memengaruhi bidang aksara atau tulisan, yang dari situ masyarakat mulai mengenal tulisan Arab. Bahkan melahirkan tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab pegon. Di samping itu, berkembangnya seni kaligrafi yang digunakan sebagai motif hiasan ataupun lukisan adalah perkembangan kesenian dari huruf Arab itu sendiri.
Sementara itu, dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu-Buddha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian, wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang menggunakan huruf Arab Melayu dan isi ceritanya juga ada yang mengambil karya sastra yang berkembang pada zaman Hindu. Di antara berbagai bentuk seni sastra yang berkembang ialah:
- Babad, yaitu kisah rekaan pujangga keraton yang sering dianggap sebagai peristiwa sejarah. Contohnya, Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon, dan lain sebagainya.
- Suluk, yaitu kitab yang menjelaskan dan mengajarkan soal-soal tasawuf. Contohnya, Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang, dan lain sebagainya.
- Primbon, yaitu hasil sastra yang sangat berhubungan dengan suluk karena kitab ini berisi ramalan-ramalan, keajaiban, dan penentuan hari baik atau buruk. Bentuk seni sastra Primbon banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.
- Hikayat, yaitu cerita atau dongeng yang berasal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah yang berupa karangan bebas atau prosa. Beberapa contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), dan Hikayat Sri Rama (Hindu).
6. Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, terlebih dahulu berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu-Buddha, tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha mengalami keruntuhan dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam, seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka, dan sebagainya. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan, seperti halnya para wali. Apabila raja meninggal, maka tidak lagi dimakamkan di candi atau dicandikan, tetapi dimakamkan secara Islam. Demikianlah penjelasan wujud akulturasi dalam sistem pemerintahan.
7. Sistem Kalender
Masyarakat Indonesia sudah mengenal kalender Saka sebelumnya (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78 M sebelum budaya Islam masuk ke Nusantara. Dalam kalender Saka ditemukan nama-nama pasaran hari seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Namun demikian, setelah berkembangnya agama Islam, Sultan Agung dari kerajaan Mataram Islam menciptakan kalender Jawa, dengan perhitungan yang menggunakan peredaran bulan (qamariyah) seperti tahun Hijriah (Islam). Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syura, Ramadan diganti dengan Pasa, dan lain sebagainya. Sementara itu, dalam penamaan hari tetap menggunakan penamaan hari sesuai dengan bahasa Arab. Bahkan hari pasaran pada kalender Saka juga masih dipergunakan. Kalender Sultan Agung dimulai pada tanggal 1 Syura 1555 Jawa, atau tepatnya1 Muharram 1053 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 1633 M.****
Wallahu a’lam
***Disadur dari Buku Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, Binuko Amarseto, Istana Media, Cetakan 2015, halaman 9-31
kembali ke atas | indeks pilihan | download










![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan