TAK banyak Wong Kito yang mengetahui bahwa salah satu putra terbaiknya sangat berjasa dan ikut serta memainkan peran dalam perjalanan karir Presiden RI pertama, Soekarno alias Bung Karno (BK). Betapa tidak, meski hanya selintas namun peran ini cukup menentukan hidup matinya BK di tangan Belanda pada masa sebelum kemerdekaan RI.
Almarhum Haji Muhammad (HM) Azharie adalah sosok kelahiran Palembang asli yang dulunya berdomisili di Jalan Fagih Usman Lr Tangga Raja RT 13 RW 03 No 308, 2 Ulu Laut Palembang.
Sosok bapak 13 anak inilah dengan perannya sebagai saudagar Palembang yang hilir mudik Palembang – Bengkulu yang dengan kemurahan hatinya dan jiwa besarnya ikut berperan “menyembunyikan” sosok BK di kediamannya di 2 Ulu dan berkat jasanya pula, BK pada masa pengasingan di Bengkulu dapat “lolos” ke Jakarta via Palembang.
Tidak itu saja, ranjang besi dengan per besi dan meja kerja yang berdiri di sampingnya yang sampai saat ini masih bercokol di salah satu kamar tamu kediaman HM Azharie di 2 Ulu menjadi saksi bahwa ranjang itu pernah menjadi tempat tidur dan istirahat BK.
“Katanya, Bung Karno itu kalau hendak ke Jakarta dari Bengkulu kan lewatnya (via) Palembang. Di rumah bapak kami di 2 Ulu itulah Bung Karno “menginap” sebelum diantarkan ke Pelabuhan 3 Ilir untuk naik kapal saudagar phinisi menuju Jakarta,” kata Hj Halimah (7) salah satu putri HM Azharie yang ditemui di kediaman anaknya di kawasan Jakabaring, Rabu (30/1).
Halimah yang merupakan anak nomor 10 dari 13 bersaudara anak pasangan HM Azharie dan Maryam pada saat wawancara ini ditemani juga Mansyur, putra bungsu HM Azharie yang kebetulan sedang berada di Palembang untuk acara pernikahan salah satu cucunya.
Masih menurut Halimah yang mengaku pada saat BK ke rumahnya di 2 Ulu itu, usia Halimah baru sekitar 4 tahun namun berdasarkan cerita kakak dan ayuknya serta cerita dari ayahandanya HM Azharie sendiri, Halimah mengetahui bahwa persahabatan BK dan ayahnya HM Azharie sudah berlangsung lama.
Selain HM Azharie yang merupakan saudagar kopi dan mesin jahit merek HM Azharie pada tahun 1940-an itu juga karena jiwa sosial ayahnya yang sering menampung para pejuang atau tokoh pejuang yang membutuhkan tempat persembunyian atau penginapan. HM Azharie selain mempunyai tempat tinggal di Palembang, juga mempunyai rumah di Bengkulu karena usahanya di kota Kepayang Bengkulu (perkebunan kopi).
“Bisa jadi karena bolak-baliknya Palembang – Bengkulu inilah, ayah kami bisa kenalan dengan BK. Selain itu, rumah kami di Bengkulu juga berdekatan dengan tempat pengasingan BK. Itu sebabnya persahabatan ayah kami tak putus bahkan sampai akhir hayatnya.” (saftarina/SRIPO)

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama Sekjen PDI-P Pramono Anung bersiap menyantap hidangan khas Palembang di rumah warga (HM Azharie) di Kelurahan 2 Ulu, Kota Palembang, Rabu (30/1). Kehadiran Megawati mengulang momen kunjungan Presiden Pertama Soekarno ke daerah tersebut pada tahun 1942 setelah meninggalkan pengasingan di Bengkulu. [Foto: KOMPAS/BONI DWI PRAMUDYANTO]










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan