infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Saidi Kamaludin – Menjadi Raja Semalam

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Sosok Saidi Kamaludin, lelaki kelahiran Desa Pemulutan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 69 tahun lampau ini, memang sangat menonjol di antara para pemain dan penggiat teater tradisi Dulmuluk di Sumatera Selatan. Apalagi sejak 1990-an, kakaknya, Arjo Kamaludin—yang sebelumnya dikenal sebagai dedengkot Dulmuluk—tak lagi bermain sampai akhir hayatnya. Sejak itu Saidi bagai menjulang sendirian di tengah kian suramnya masa depan seni tradisi ini.

Memang ada sejumlah nama yang memiliki cukup talenta di pentas Dulmuluk. Taruhlah seperti Jonhar Saad, Anwar Arang, Sopar, dan Wak Pet. Bahkan, nama yang disebut terakhir ini malah lebih dikenal di kalangan masyarakat Palembang berkat kemampuannya memerankan tokoh Khadam (abdi raja atau pangeran; fungsinya semacam tokoh punakawan dalam dunia pewayangan) yang kocak itu.

Akan tetapi, sebagai sosok yang bisa dianggap merepresentasikan seni Dulmuluk, Saidi tetaplah tokoh acuan sekaligus panutan bagi rekan-rekannya. Dan itu bukan lantaran ia sebagai pimpinan grup bisa bebas memilih peran-peran menonjol, tetapi lebih karena totalitasnya dalam mengabdikan diri pada salah jenis tontonan rakyat ini. Apalagi hampir seluruh hidupnya memang ia leburkan bersama perjalanan panjang Dulmuluk, yang juga ikut memberinya napas kehidupan.

Kalu lamo dikit idak maen, rasonyo tebayang-banyang. Tapi kalu lagi dapat panggilan maen Dulmuluk, yang ado cuma ladas. Apalogi kalu jadi rajo, perasaan hati ini pecak jadi rajo nian: makan nak lemak, make nak bagus. Sampai-sampai dak tau kalu beras (di rumah) habis,” tutur Saidi dalam bahasa Melayu-Palembang pasaran.

(Kata Saidi, bila agak lama tidak bermain Dulmuluk, ia merasa selalu terbayang-bayang akan peran yang kerap ia mainkan. Sebaliknya, bila mendapat tanggapan untuk bermain Dulmuluk, yang ada cuma kegembiraan. Apalagi bila sudah tampil dengan peran sebagai raja, perasaan di hatinya benar-benar seperti raja: makan ingin yang enak, pakaian ingin yang bagus. Sampai-sampai lupa kalau di rumah tidak ada beras untuk makan anak dan istri.)

Saidi memang telah mengenal Dulmuluk sejak kecil. Orangtuanya, (alm) Kamaludin, adalah generasi pertama yang mewarisi seni tradisi ini. Bersama Pasirah Nuhasan dari Desa Tebingabang, Rantau Bayur (kini wilayah ini masuk Kabupaten Banyuasin), mereka berdua berguru dan berlatih Dulmuluk pada Wan Bakar di Tangga Panjang, Kelurahan 7 Ulu, Palembang. Sumber lain menyebutkan, Wan Bakar kerap menghadirkan pertunjukan Dulmuluk dalam bentuk pembacaan kisah Abdul Muluk di Tangga Takat, Kelurahan 16 Ulu.

Wan Bakar adalah pedagang keturunan Arab yang datang ke Palembang pada awal abad ke-20. Boleh dikata, dialah tokoh ’pencipta’ teater tradisi Dulmuluk meski inspirasi penciptaannya berangkat dari nukilan kisah Raja Abdul Muluk dalam teks syair Melayu klasik berjudul Syair (Sultan) Abdul Muluk.

Tidak seperti kerap dilansir berbagai media massa, yang menganggap syair ini karya Raja Ali Haji, teks-teks dalam Syair Abdul Muluk sesungguhnya karya seorang penulis perempuan bernama Saleha. Ia saudara perempuan Raja Ali Iba Raja Achmad Iba yang dipertuan muda Raja Haji Fi Sabilillah, dan ketika pertama kali teks syair itu diterbitkan (1847) diberi judul Kejayaan Kerajaan Melayu.

Saidi mengaku tahu banyak hal tentang itu. Selain dari cerita orangtuanya, ia juga banyak membaca syair-syair Abdul Muluk dari tulisan berhuruf Melayu gundul alias huruf Arab tanpa tanda-tanda baca. Hampir seluruh kisah dalam Syair Abdul Muluk, juga Syair Siti Zubaedah yang belakangan juga diadopsi sebagai materi pentas Dulmuluk, ia pahami ’di luar kepala’.

Dan, semua tokoh raja dalam cerita di kedua teks Melayu klasik itu sudah ia perankan. Mulai dari tokoh protagonis macam Sultan Abdul Hamid Syah dari Negeri Berbari hingga tokoh antagonis seperti Sultan Sahabudin dari Hindustan. Karena pentas biasanya berlangsung semalam suntuk, lekatlah julukan “Raja Semalam” untuk Saidi; sang maestro seni tradisi dari Sumsel itu. Meski saat esoknya pulang ke rumah, ternyata beras pun tak punya….

•••

244 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca