KH A Hasyim Muzadi | Harian Republika, 20 Desember 2009
Dua hari yang lalu, pengukuhan Tarikh Hijri genap berusia 1431 tahun (red- 2009). Penetapannya, demikian sebagian riwayat menyebutkan, dilakukan di era kekhalifahan Amirul Mukminin Umar Bin Khtattab.

Tentu saja, tak ada yang memastikan mengapa permulaan kalender hijriyah dimulai dengan momentum hijrah. Demikianlah, kita juga masih bisa memperdebatkan apakah yang dimaksud hijrah adalah migrasi umat Islam ke Madinah atau pada hijrah pertama ketika entitas Muslim pertama menuju Abisinia?
Tapi, satu di antara banyak pelajaran yang dapat kita petik lalu kita renungkan adalah bagaimana Raja Negus atau Najasyi, penguasa Abisinia, memperlakukan para ‘pencari suaka politik’ dari Makkah itu? Raja Najasyi nyata-nyata seorang Nasrani yang titahnya didengarkan lalu ditaati oleh segenap umatnya saat itu. Ia hidup dengan aura kenasraniannya dan, seperti Pangeran Diponegoro, selain sebagai raja, Najasyi juga menjalankan fungsinya sebagai ulama dalam lingkungan agamanya.
Tentu saja, Baginda Rasul Muhammad SAW tidak dengan serta-merta menyelamatkan ‘duta-duta perdana’ itu ke Abisinia kalau tidak memiliki khazanah keyakinan yang memadai tentang negeri Nasrani tersebut. Dan itu terbukti, ketika para petinggi kafir Quraisy Makkah meminta Negus menyerahkan Usman Bin Affan dan istrinya Ruqayyah (putri nabi), Abu Hudzaifah Bin Uthbah, Zubair Bin Awwam, Abdurrahman Bin Auf, Ja’fan Bin Abi Thalib, Najasyi bergeming.
Karena komitmen Najasyi yang tinggi dalam memberikan perlindungan kepada migran pemeluk agama ‘baru’ itu, para petinggi Quraisy terpaksa pulang dengan tangan melenggang. Bagi Najasyi, melindungi ‘keselamatan’ sebuah kepercayaan sama artinya dengan melindungi hak asasi manusia. Kalau mau, untuk kepentingan mempertahankan kewibawaannya sebagai penguasa kawasan, bisa saja Najasyi menyerahkan para sahabat yang masuk kategori As-Saabiquunal Awwalun itu kepada para petinggi kafir Quraisy. Tapi, itu tak dilakukan.
Satu hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah bahwa sejak awal Najasyi dengan kepercayaan dan keyakinannya itu telah menggugah kedalaman keberagamaan kita bahwa amatlah penting untuk saling memberikan perlindungan, berbagi ketenangan, serta menyemaikan rasa aman kepada dan oleh umat berbeda keyakinan. Apa yang bisa kita bayangkan seandainya tunas tunas Islam periode awal itu diserahkan Najasyi kepada kafir Quraisy? Kalau mau, ia pasti bisa. Tetapi, Najasyi memiliki komitmen dengan tingkat toleransi yang mengagumkan.
Kalaulah mungkin dihitung sebagai sebuah kebajikan, tentu tindakan Najasyi itu bisa dengan mudah dinilai sebagai bentuk jasa bagi pentingnya sikap menjunjung toleransi atau prinsip at-Tasamuh dalam kehidupan umat beragama dan umat berlainan agama. Atau, mungkinkah langkah Najasyi itu cerminan lain dari firman Allah, ‘’Wa Latajinna Aqrobahum Mawabbatan Lil Ladziina Aamanuu Wal Ladzinaa Qooluu Innaa Nashooro.’’
‘’Sesungguhnya kamu pasti akan jumpai yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya kami ini orang orang Nashrani.’’’ (Al-Maidah 82). Tapi, entahlah ….

Syahdan, dalam sebuah testimoni tertulis, Gusti Allah SWT menegaskan seputar alasan ilahiyah seputar penciptaan Baginda Rasul Muhammad SAW. Dari deretan wahyu dalam bentuk huruf-huruf magis tersebut, Allah SWT secara terang terangan mengatakan, penciptaan Muhammad murni untuk menebarkan rasa sayang dan kasih kepada semesta alam. Untuk meyakini kebenaran tersebut, testimoni ini bisa dirujuk ke dalam Kitab Suci Alquran.
‘’Wa Maa Arsalnaaka Illaa Rahmatan Lil ‘Aalamiina’’—’’Dan tidak Aku utus engkau kecuali sebagai rahmah—penyemai kasih dan sayang—kepada semesta alam.’’
Untaian firman agung ini menjelaskan rahasia di balik kemunculan Nabi yang mulia di atas muka bumi ini. Hanya satu pesan ilahiyah yang beliau bawa; menyemaikan benih benih kasih sayang serta menyambung rantai kasih sayang yang terputus.
Dalam konteks tertentu, tanpa berpretensi telah merasa ‘mampu’ menerjemahkan risalah kenabian ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU] selama 2 hari berturut-turut, telah menjadi host terselenggaranya Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia akhir pekan kemarin. Yang ingin kita raih dari acara itu tak lebih dari sekadar mengembalikan orientasi kehidupan keberagamaan kita agar tetap berada pada jalur rahmatan lil ‘alamiina. Ini penting dilakukan, karena dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Muslim dunia telah diharu-biru oleh stigma negatif karena soal-soal yang sebenarnya berada jauh di luar konteks misi kenabian.
Stigma negatif tersebut, seperti menemukan signifikansinya pascaledakan simbol keagungan perekonomian dunia di World Trade Centre [WTC] serta penistaan serius terhadap simbol kekuatan militer, Pentagon, di Amerika Serikat. Hanya karena para pelakunya memiliki identitas Muslim, secara meyakinkan, stigma ini menjelma sebuah kutukan tak terampunkan bagi Islam itu sendiri. Maka, mulailah hujan sumpah serapah, banjir tudingan, dan serangkaian ketidaktertiban dunia pergaulan internasional, diarahkan kepada Islam.
Dunia Islam mendadak dijadikan keranjang sampah dunia. Macam-macam tudingan ini seperti menjadi benar, hanya karena beberapa orang Islam mengimani kehidupan dengan pendekatan semacam itu. Persoalan bertambah rumit karena mindset sebagian belahan di dunia Barat yang memang tidak mau terbuka dan jujur dalam memahami Islam secara benar, seperti diamanatkan misi kenabian yang rahmatan lil ‘alamiina.
Untuk itu, perlu kiranya kita me-review misi kenabian ini, sebagai langkah paling fundamental untuk menjelaskan sosok Islam yang sebenarnya. Walaupun sebenarnya, amatlah mudah untuk memahami ini, bahkan jika hanya dari aspek linguistik, misalnya. Kata rahmatan berasal dari akar kata rahima-yarhamu-rahmatan yang antara lain berarti mengasihi atau menyayangi. Betapa mulianya sifat tersebut, sampai-sampai Allah berkenan menamakan Diri-Nya dengan Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim.
Rahmatan bisa juga berarti rasa kasih dan sayang, tetapi kita terbiasa tidak memberikan padanan katanya dalam bahasa Indonesia, sehingga kita hanya memberikan makna ‘rahmat’. Karena tidak terbiasa menggunakan makna asalnya, kata rahmat seakan hanya bermakna secara materi seperti karunia, nikmat, atau anugerah. Padahal, kalau kita mau mengubah mindset atas pemaknaan kata ini, pola dasar pemikiran kita tentang misi kenabian juga akan semakin luas.
Artinya, jika Baginda Rasul diutus sebagai penyemai benih benih kasih dan sayang kepada semesta alam, umat Islam sebagai penerus risalahnya, juga menanggung misi risalah kenabian. Siapa pun Muslim itu. Persepsi semesta alam, juga melingkupi seluruh isi alam. Isinya ada manusia, ada binatang, ada tetumbuhan, dan lain-lain. Untuk konteks kemanusiaan juga meliputi, antara lain, soal agama. Dan, soal agama juga meliputi, antara lain, umat penganut agama Islam, Nasrani, Yahudi, Majusi, dan lain-lain.
Bahkan dalam konteks Islam, di dalamnya juga masih terdapat macam-macam pengikut mazhab atau sekte dan aliran serta paham tertentu yang berbeda pijakan. Kepada segenap unsur kehidupan ini, sebagai umat Muhammad, kita harus bisa saling menyayangi dan mengasihi karena itu adalah bentuk risalah kenabian.
Dalam konteks ini, sangat mudah bagi kita mencari titik titik penghubung antara misi kenabian dengan prinsip keimanan kita kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, kalau karena satu dan lain hal lantas kita tidak saling mengasihi, bahkan saling menyerang, kita perlu bertanya pada diri sendiri, sudah benarkah mindset keberagamaan kita.
Kalau karena perbedaan pendapat, berlainan keyakinan, dan bertentangan budaya, serta beda etnis kemudian menyebabkan munculnya kekerasan, perlu pula kita bertanya apa benar kita sudah menjadi rahmatan lil ‘alamiina?
PBNU, sama sekali tidak ingin mengklaim sebagai organisasi paling berhak menafsir ayat-ayat kauniyah dan tanziliyah dalam persoalan ini. NU juga tidak berminat dianggap sebagai telah memiliki tafsir tunggal atas ajaran-ajaran luhur agama Islam. NU hanya ingin, agar kehidupan keberagamaan selalu berada di tengah-tengah, tidak terlalu miring ke kiri dan tidak pula terlampau condong ke kanan.
Bahkan, dalam traktat paling monumental di dunia Islam, Piagam Madinah, pun memberikan tuntunan agar kita selalu saling hormat dengan siapa pun, meski berbeda keyakinan. Inilah pentingnya terus menjaga kehidupan yang toleran demi berlanjutnya kehidupan serta untuk tetap terjaganya harmoni sosial.
Begitu indahnya sikap toleran, sehingga karena itu, berkah rahmat Allah, hati Najasyi menjadi lembut meski tetap berkeras hati untuk melindungi umat Islam dari tangan-tangan kafir Quraisy. Wallaahu A’lamu Bishshowaab. ■ republika/infokito
***disadur dari sebuah tulisan di harian Republika edisi Ahad, 20 Desember 2009
kembali ke atas | indeks | download










![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan