Tindakan nakal pengecer minyak tanah di Kota Lubuklinggau, yang menjual minyak itu jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) masih terjadi. Parahnya lagi, kalau sebelumnya bahan bakar rakyat tersebut dijual di kisaran Rp3.500, kini telah mencapai Rp.4000 per liter. Seperti laporan harian SINDO.
Ironisnya, meski dengan harga yang mahal, tetap saja bahan bakar fosil tersebut masih sulit didapatkan. Sebut saja di Kelurahan Megang, Kec Lubuklinggau Utara II. Dengan harga sekitar Rp3.800 per liter, warga masih tetap harus antre untuk mendapatkannya. Jika tidak, meski bersusah payah, jangan harap bisa mendapatkan minyak di pangkalan, walaupun membayar lebih.
Mulai langkanya minyak itu di Lubuklinggau menimbulkan dugaan adanya tindakan spekulan yang menyimpan persediaan demi keuntungan sendiri. Indikasinya dengan banyaknya warga yang membeli minyak tanah dalam jumlah banyak dengan menggunakan sepeda motor.
”Mereka bukan penduduk setempat, dan rata-rata membawa dua hingga tiga jerigen berkapasitas 40 liter minyak sekali angkut,” ujar Nur, warga Megang dengan nada kesal, ditemui Rabu (30/1) kemarin.
Dari informasi yang diterimanya, minyak-minyak tersebut dibawa ke kawasan tersebut untuk dicampur dengan solar. ”Informasinya, mereka berani membeli dengan harga tinggi, jadi banyak warga yang mau menjualnya,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Jalan Depati Said Kelurahan Siderejo. Pemandangan puluhan hingga ratusan warga yang mengantre minyak tanah sudah menjadi hal yang lazim. Setidaknya, dari empat pangkalan yang ada di kawasan tersebut, setiap stok minyak tanah masuk selalu dipadati antrean warga sepanjang lima meter.
Di salah satu pangkalan di kawasan tersebut, minyak tanah dijual dengan harga bervariatif. ”Jika ada kupon per liternya seharga Rp2.300, sedangkan jika tidak ada kupon harganya berkisar Rp2500 – Rp3000/liter,” ujar Jun, salah seorang warga setempat.
Di kelurahan Jawa Kanan SS, minyak tanah dijual seharga Rp3.800 per liter. Menurut warga, harga tersebut sangat tinggi dan di atas harga normal.
”Tapi karena butuh, mau tidak mau kami harus membelinya,” ujar Tuti, salah seorang konsumen.
Sementara itu, Kepala dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadisperindag) Lubuklinggau Nobel Nawawi berdalih, kalau masalah yang terjadi tersebut bukan merupakan tanggung jawab mereka. Meskipun dia mengakui izin pangkalannya dikeluarkan Disperindag.
Terpisah Kabag Ekonomi Pemkot Lubuklinggau Amrah Muslimin mengatakan, Pemkab belum dapat mengambil tindakan terkait soal masalah harga minyak tanah, karena belum menerima laporan resmi dari masyarakat. ”Kami sudah mengecek ke lapangan, dan ditemukan rata-rata pangkalan memang menjual di atas HET (Rp2.225/liter), sekitar Rp2500/liter,”ujarnya. (CR-09/SINDO)


















Tinggalkan Balasan