Sebanyak 210 ribu calon jamaah haji Indonesia bakal menunaikan rukun Islam yang kelima, dengan harapan bisa meraih predikat haji mabrur.
Ketua Umum Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (FK-KBIH) tingkat nasional, Prof Dr H Abdul Madjid menyatakan, untuk mencapai gelar tersebut, ada beberapa hal yang harusnya dilakukan calon jamaah haji. Di antaranya meluruskan dan memurnikan niat ibadah haji karena Allah. Menurutnya, niat memegang peranan penting dalam menggapai predikat haji mabrur.
”Dalam Alquran Allah SWT telah menegaskan, bahwa mereka yang dipanggil untuk melaksanakan haji itu adalah mereka yang mampu (istitho’ah). Maksudnya, mampu berhaji karena Allah,” ujar Madjid kepada Republika.
Hal yang sama juga diungkapkan Ketua Umum Rabithah Ma’ahidil Islamiyah (RMI, Asosiasi Pondok Pesantren Se-Indonesia) Provinsi Jawa Tengah, KH Ahmad Zaim Ma’soem. Menurut Gus Zaim sapaan akrabnya amal seseorang itu sangat bergantung pada niatnya. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang menyatakan, bahwa sesungguhnya amal seseorang itu tergantung pada amalnya.
Berdasarkan hadits di atas, lanjut Gus Zaim, pihaknya mengharapkan sebelum memulai tahapan haji, setiap calon jamaah haji bersungguh-sungguh meluruskan dan menata niat. ”Jangan sampai begitu tiba di Tanah Suci, muncul pikiran lain sehingga merusak niat tulus ibadah haji,” imbaunya. Madjid menambahkan, untuk meluruskan dan menata niat berhaji itu, maka yang terpenting dilakukan adalah niat berhaji itu didasarkan dengan kemampuan ilmu. ”Pembimbing pada prinsipnya hanya membantu, sedangkan yang paling pokok berasal dari calon haji. Karena itu, saat melaksanakan haji, jangan terlalu bergantung pada orang lain. Mantapkan niat untuk melaksanakan haji atas dasar kemampuan ilmu yang dimiliki,” terangnya.
Guru Besar bidang pendidikan Islam dari Universitas Pendidikan Islam (UPI) Bandung ini menegaskan, hal berikutnya dalam memantapkan niat haji adalah ibadah haji itu atas kesadaran pribadi. ”Pergi haji itu hendaknya dilakukan tulus dari lubuk hati yang paling dalam untuk menyempurnakan keimanan. Bukan karena gengsi,” jelasnya. ”Bukan pula karena keturunannya (nasabnya) berasal dari orang baik-baik lantas pergi haji, bukan pula karena nasibnya baik serta bukan pula karena nisab (materi)-nya juga banyak.
Atau istilahnya tiga ‘N’ (Nasab, Nasib dan Nisab),” tambahnya. Oleh karena itu, paparnya, maka niat haji itu benar-benar murni dalam rangka menyempurnakan keimanan, dan bukan karena gengsi. ”Ibadah haji itu bukan ibadah ekslusif yang bisa menimbulkan riya karena bisa pergi haji. Dan bukan pula ibadah traveling (wisata),” ujarnya.
Pengalaman-pengalaman berhaji yang sering diungkit-ungkit, menurutnya dapat menimbulkan sifat riya pada diri pribadi. Karena itu, ia menghimbau, cukuplah ibadah haji itu ditujukan bagi dirinya sendiri. ”Dan yang terpenting lagi, menunaikan ibadah haji itu diredhai oleh Allah SWT. Agar Allah meredhai, maka patuhilah semua aturan yang telah ditetapkan-Nya,” jelas Madjid.
Gus Zaim menambahkan, agar lebih mantap lagi sebelum melaksanakan ibadah haji, perbanyaklah sedekah. ”Bersedekah itu dapat menolak bala’ (musibah). Selain itu, dengan bersedekah harta dan jiwa raga kita juga akan menjadi suci,” terang pengasuh ponpes Al-Hidayah Lasem, Rembang, Jateng ini.
Bagaimana agar niat calon jamaah haji ini bisa tulus dan meraih predikat haji mabrur, selain ditentukan oleh pribadi jamaah bersangkutan, peranan pembimbing juga sangat penting. ”Karena itu, pada saat manasik, pembimbing tidak hanya mengajarkan tentang tata cara berhaji, tetapi juga didasarkan pada bagaimana meningkatkan pemahaman dari jamaah tentang melaksanakan haji dengan baik dan benar, sesuai dengan tuntutan Rasulullah SAW,” papar Gus Zaim.
Dalam kehidupannya, Rasulullah SAW melaksanakan haji hanya sekali dan umrah tiga kali. Padahal, kesempatan Rasulullah SAW untuk berhaji sangat banyak. Namun, penghulu para Nabi itu justru menunjukkan kepada umat-Nya bahwa kewajiban berhaji itu hanya sekali saja. Dengan mengambil contoh dari Sunnah Rasul itu, kata Madjid, maka sebaiknya pembimbing haji menyampaikan materi haji dengan sempurna. Istilah, haji yang dilakukan sesuai dengan ajaran Rasul, sehingga cukup sekali saja. Istilahnya the first and the last of pilgrim to hajj (yang pertama dan yang terakhir menunaikan ibadah haji).
”Semua pihak harus terlibat untuk memahamkan ajaran ini. Mulai dari pemerintah, Depag, ulama, petugas dan pembimbing haji serta penyelenggara haji. Dengan demikian, terbuka kesempatan berhaji bagi umat Islam yang belum pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun islam yang kelima,” ungkapnya. (sya/rep)









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan