infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Mengapa Perlu Manajemen Risiko

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menghadapi risiko dan risiko merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan. Kemanapun kita berusaha mengelak atau menghindari dari suatu pilihan risiko, maka disitu pun kita akan menghadapi risiko lainnya.

Orang-orang pada umumnya mengasosiasikan risiko dengan hal yang bersifat negatif, misalnya kerugian, kehilangan, kerusakan, bencana dan bahkan kematian. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Namun demikian, dalam konteks lain, risiko bisa mengandung hal yang positif. Misalnya dalam melakukan investasi, selain mengandung risiko kita juga mempunyai kemungkinan untuk memperoleh keuntungan.

Berbicara mengenai risiko, hal itu mengandung pengertian adanya suatu kerugian yang sewaktu-waktu bisa timbul di masa yang akan datang, baik dalam waktu dekat ini atau untuk jangka waktu yang lebih panjang, yang disebabkan dari suatu aktivitas kita saat ini ataupun rencana kegiatan yang kita buat saat ini. Walaupun hal tersebut bersifat tidak pasti (uncertainty), tetapi kerugian tersebut dapat diperkecil menjadi suatu kesempatan atau peluang yang menambah keuntungan perusahaan dengan melakukan suatu pengelolaan risiko.

Dari uraian singkat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa risiko mempunyai 4 (empat) komponen dasar, yaitu:

  • Masa yang akan datang (future)
  • Ketidakpastian yang dihadapi (uncertainty)
  • Peluang akan hal yang mungkin terjadi (probability)
  • Pilihan yang harus diambil (choice)

Menurut Australian Risk Management Standard 4360 : 1999, risiko adalah “peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap tujuan (goal)”.

Risiko memiliki konsep sebagaimana bagan di bawah ini:

  • Source merupakan sumber yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kejadian berisiko
  • Risk Event merupakan kejadian berisiko yang dapat menimbulkan hasil, baik positif maupun negatif
  • Consequence merupakan hasil yang dialami setelah terjadinya kejadian berisiko

Di akhir tahun 1990-an, begitu banyak perusahaan di Indonesia yang harus gulung tikar. Mereka terpaksa harus mem-PHK ratusan bahkan ribuan karyawan karena tidak siap menghadapi perubahan yang begitu cepat dan drastis berupa perubahan situasi politik yang diikuti chaos yang diperburuk dengan krisis ekonomi yang melanda di seluruh dunia sehingga nilai rupiah menjadi terpuruk. Apabila kita mencermati perusahaan perusahaan yang survive dalam situasi tersebut, maka umumnya mereka mempunyai kesiapan untuk itu, misalnya cadangan capital yang kuat dan melakukan diversifikasi bidang bisnis.

Manajemen risiko menjadi sangat penting dalam bisnis karena berkaitan erat dengan kelangsungan bisnis suatu perusahaan. Manajemen risiko hendaknya menjadi bagian dari Business Continuity Plan (BCP) suatu perusahaan demi kelangsungan perusahaan itu sendiri. Sayangnya masih sedikit perusahaan yang  menyadari hal ini sehingga menganggap manajemen risiko tidak terlalu penting. Contoh perusahaan yang telah mengadopsi manajemen risiko dalam operasionalnya adalah mereka yang menerapkan safety management, misalnya dalam pabrik-pabrik. Mereka mempunyai prosedur tetap yang harus dilakukan untuk mencegah disaster event atau adanya prosedur untuk emergency situation seandainya terjadi hal-hal di luar standard operation. Meskipun demikian safety management bukanlah mencerminkan manajemen risiko seluruhnya. Safety management hanya merupakan bagian dari keseluruhan manajemen risiko. Safety management umumnya berhubungan dengan hal-hal yang bersifat kesehatan dan keselamatan kerja. Padahal manajemen risiko mencakup aspek yang lebih luas misalnya loss prevention, human resource, crime, fraud, analisa dampak lingkungan, feasibility study dan asset management serta masih banyak lagi yang lain.

Menyadari kebutuhan untuk manajemen risiko, maka sebaiknya perusahaan melakukan investasi dalam manajemen risiko sehingga memungkinkan turunnya jumlah kejadian yang tidak diharapkan, namun perlu pula dipahami bahwa investasi tersebut harus pada tingkat yang optimum. Investasi yang terlalu besar akan membebani perusahaan sehingga menjadi tidak kompetitif. Namun sebaliknya jika investasi terlalu kecil, maka perusahaan akan bertanggung jawab atas kerugian sebagaimana disebutkan di atas akibat dari kejadian kejadian yang tidak diharapkan. Apabila dihitung plot antara kurva biaya-biaya kecelakaan dengan biaya investasi manajemen risiko, maka akan diperoleh kurva total biaya yang mempunyai titik optimum.

Pendekatan yang digunakan dalam manajemen risiko adalah berdasarkan 3 (tiga) konsep yaitu source, risk event dan consequence. Pada bagian source, analisa dilakukan untuk mengidentifikasi hal hal apa saja yang dapat menimbulkan kejadian yang berisiko. Dalam kasus kecelakaan pesawat, dari segi source, kecelakaan umumnya disebabkan oleh human error dan technical error. Human error dapat diminimalisir dengan pemeriksaan menyeluruh kondisi para crew, dari segi fisik dan mental psikologis para crew, terutama para pilot harus dinyatakan sehat dan tidak mengalami gangguan. Sedangkan dari sisi technical error, tindakan pencegahan yang dilakukan adalah maintenance pesawat secara berkala dan pemeriksaan akhir sebelum pesawat take-off. Dalam hal ini, ada prosedur yang sangat ketat baik dari pabrik pesawat itu sendiri misalnya Boeing, Airbus dan Mc Donnel-Douglas maupun dari pemerintah yang harus dijalani setiap maskapai penerbangan.

Kemudian pada bagian risk event adalah bagaimana peristiwa risiko itu sendiri seandainya terjadi kecelakaan pesawat termasuk dengan mengenal langkah langkah pengendalian risiko yang harus dilakukan. Pada bagian ini timbul pertanyaan, kalau kita tidak mengetahui apa yang harus dilakukan pada saat pendaratan darurat, bagaimana kita siap apabila kejadian tersebut terjadi. Sebagian besar dari kita tentunya pernah naik pesawat dan mengetahui adanya kartu petunjuk keselamatan di tiap-tiap kursi. Selain itu, ada juga peragaan dari video atau pun dari para crew sesuai dengan civil aviation regulation, tentang bagaimana menggunakan/mengencangkan safety belt, apa yang harus dilakukan penumpang pada saat pendaratan darurat, pesawat jatuh ke laut dan lain lain. Hal ini semuanya memang bertujuan untuk meminimalisir risiko dari kecelakaan pesawat terbang berdasarkan riset dan penelitian ilmiah.

Pada bagian consequence, dimana bila kecelakaan sudah terjadi, maka fokusnya kepada tindakan pasca terjadinya kecelakaan yang bertujuan meminimalisir kerugian yang lebih luas dan memastikan bahwa kejadian tidak akan terulang. Misalnya, penyelidikan secara intensif penyebab musibah, pemberian santunan kepada para korban dan yang paling penting adalah pemulihan operasional perusahaan agar dapat kembali berjalan normal secepat mungkin pasca terjadinya musibah. Dari perspektif manajemen risiko, tindakan yang dilakukan manajemen adalah upaya untuk menyelamatkan brand image dari kehancuran sekaligus memberikan jaminan kepada masyarakat. Dengan demikian kepercayaan dan loyalitas masyarakat paling tidak tetap terpelihara walaupun tentu saja korban jiwa tidak pernah dapat dikompensasi dengan materi. Ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kepada publik di samping perlu juga menyampaikan hasil penyelidikan seluruhnya kepada masyarakat bagaimana kronologis dan penyebab kecelakaan pesawat tersebut sesungguhnya secara jujur dan tidak berorientasi pada kepentingan tertentu.

Dari sini kita dapat menafsirkan secara implisit bahwa manajemen risiko membutuhkan rantai komunikasi yang efektif. Dalam lingkungan organisasi yang sangat kompleks, rantai komunikasi mulai dari jenjang direktur ke bawah tidak boleh terputus dan tidak mengalami bias. Di sinilah peran tree communication yang efektif berperan penting. Pendokumentasian prosedur standar pada manajemen risiko disatukan dalam suatu acuan yang biasanya disebut crisis management guide atau sejenisnya. Petunjuk ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan Business Continuity Plan (BCP) dan bukan bersifat ‘mati’ yang mutlak tidak dapat diubah sampai kapanpun dan oleh  siapapun. 

Seiring dengan perkembangan organisasi perusahaan dan perubahan lingkungan, maka petunjuk ini pun idealnya di-update sesuai dengan kebutuhan. Perubahan yang dilakukan harus sepengetahuan para pejabat yang bersangkutan dan disinilah lagi-lagi peran komunikasi yang efektif. Apabila terjadi risk event, dalam petunjuk ini diatur antara lain langkah-langkah yang harus diambil, person in charge yang harus segera diberi tahu, sejauh mana pihak di luar struktur organisasi perusahaan yang wajib tahu dan lain sebagainya.***infokito

Wallahua’lam

***Referensi: Ir. Syarif Usman, MBA, MH; Manajemen Risiko dalam Industri; Oktober 2020; halaman 6-10

kembali ke atas | indeks pilihan | download


5 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca