infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Jejak Karbon di Zaman Teknologi

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Oleh ASMAUL HUSNA FIRAMADANI; Pendidikan Fisika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga

Efek jejak karbon memperparah kerusakan lingkungan di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Istilah jejak karbon merujuk pada suatu ukuran jumlah total emisi karbon (Wulandari, 2013) untuk menyebutkan gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran senyawa yang mengandung karbon, seperti CO2, solar, LPJ, aerosol sulfat, dan bahan bakar lainnya.

Gambar: Republika/Daan Yahya

Emisi karbon menjadi salah satu penyebab perubahan iklim global. Proses ini dapat berdampak pada lingkungan hidup, kesehatan manusia, hingga menciptakan ketidakstabilan ekonomi.

Gas karbondioksida (CO2) merupakan gas yang tidak hancur seiring berjalannya waktu. Namun sebagian kelebihan CO2 diserap oleh unsur-unsur alam di permukaan bumi dengan waktu yang bervariasi.

Lembaga Peneliti dan Eksplorasi Amerika Serikat (NASA) memperkirakan rata-rata emisi CO2 akan bertahan 300 dan 1.000 tahun. Data ini menunjukkan fakta bahwa gas yang kita keluarkan saat ini akan mempengaruhi kehidupan di bumi selama beberapa generasi mendatang.

Studi global tentang emisi karbon yang diterbitkan dalam Jurnal Sustainability mengungkapkan, peningkatan emisi karbon telah menyebabkan kekhawatiran yang signifikan di antara negara-negara, seperti Cina, Amerika Serikat, Rusia, India, Uni Eropa, dan Jepang sebagai penghasil emisi karbon terkemuka dunia.

Tak ketinggalan, kepemilikan bahan bakar fosil global juga bertanggung jawab atas ketidakseimbangan emisi karbon. Menurut World Inequality Report 2022, hanya 12 negara yang menguasai 90 persen konsumsi energi, sedangkan 58 negara menguasai 70 persen energi terbarukan.

Para peneliti iklim dan cuaca the National Centre for Atmospheric Science memaparkan penyebab pemanasan global yang luar biasa di wilayah Atlantik Utara, Pasifik, dan Antartika adalah pemanasan suhu permukaan air laut akibat aerosol sulfat yang dilepaskan dari emisi kapal. Hal ini yang selanjutnya memicu adanya El Nino yang sedang melanda banyak negara.

Di balik fakta tersebut, sebuah badan riset, Gartner, menyebutkan bahwa berselancar di internet dalam setahun membutuhkan listrik sekitar 365 kwh (kilowatt hours), atau setara dengan mengendarai mobil sejauh 1.400 kilometer.

Listrik yang dibutuhkan untuk sekali beraktivitas di mesin pencari Google adalah 3,4 wh (0,8 gram karbondioksida). Emisi karbon yang diproduksi saat mengirim atau menerima e-mail juga tidak kalah mencengangkan.

Setiap 20 e-mail masuk atau terkirim selama setahun dapat menghasilkan karbondioksida setara perjalanan mobil sejauh 1.000 kilometer.

Banyak pula aktivitas sederhana bersama smartphone yang tidak disadari membawa dampak terhadap jejak karbon. Di antaranya seperti menonton video di Youtube selama 10 menit (1 gram CO2), membuka beranda Facebook selama setahun (269 gram CO2), dan menonton film di Netflix setahun (95,2 kg CO2).

Saat bekerja dari rumah (work from home) melalui Zoom selama 5 jam sehari dalam waktu 3 bulan akan memproduksi 32,14 kg CO2.

Ilustrasi emisi karbondioksida (CO2) | Gambar: Getty/Edin

Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Menurut para peneliti dari Yale University, Purdue University, dan Massachusetts Institute of Technology, mematikan kamera selama konferensi virtual dapat mengurangi jejak karbon hingga 96 persen.

Di sisi lain, fenomena El Nino menyebabkan musim tanam mundur dan produksi padi bisa turun. Salah satu usaha penanganan terkait isu ini melalui gagasan Project Drawdown yang ditulis Paul Hawken bekerja sama dengan lebih dari 200 peneliti.

Project Drawdown adalah salah satu database solusi iklim paling berpengaruh yang didukung penelitian di planet ini (Simons, 2022). Projek ini menggunakan model simulasi untuk menghitung dampak dari berbagai solusi pada periode 2020–2050, termasuk jumlah gas rumah kaca yang akan dikurangi, biaya implementasi, dan biaya operasi.

Hasil dari model ini disesuaikan dan dievaluasi oleh pakar eksternal di lapangan sebelum dimasukkan ke dalam rangkaian solusi.

Penelitian ini memberikan gambaran tentang cara terbaik untuk mengalokasikan sumber daya guna mencapai penarikan gas rumah kaca serta berapa total biaya implementasi dan pengoperasiannya.

Project Drawdown merilis model penelitian mereka ke domain publik untuk meningkatkan kegunaan dan penerapannya serta memberikan kejelasan tentang cara mereka menghitung proyeksi gas rumah kaca, biaya, dan keuntungan ekonomi.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa investasi ini akan menghemat 98 triliun dolar AS dan 140 triliun dolar. Hal ini menunjukkan bahwa praktik dan teknologi untuk mengurangi gas rumah kaca akan memberikan manfaat yang lebih besar.

Mereka juga akan mendapatkan manfaat tambahan dalam mengurangi kemiskinan, meningkatkan keadilan, dan melindungi hewan dan ekosistem yang terancam punah.

Project Drawdown presents The Drawdown Roadmap

Terdapat tiga skenario adopsi yang berbeda untuk solusi yang disarankan.

Skenario pertama, dengan menerapkan tingkat yang sangat tinggi dan realistis, sesuai dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi dan populasi, membatasi pemanasan hingga 2 derajat celsius.

Skenario kedua, menerapkan tingkat yang lebih ambisius, membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat celsius.

Solusi maksimum, yakni dengan menggantikan teknologi dan praktik konvensional dalam pasar yang kompetitif. Penelitian ini memperkirakan pada tahun 2020 dan 2050 diperlukan investasi 15,6 triliun dolar AS untuk membatasi pemanasan global hingga 2 derajat celsius, sebagaimana yang ditetapkan oleh the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dan investasi 23,6 triliun dolar AS diperlukan guna membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat celsius.

Project Drawdown merupakan projek besar yang memerlukan kesadaran bersama banyak pihak dan pengumpulan dana yang besar. Untuk itu perlu adanya langkah kecil dari kesadaran individu terkait produksi emisi karbon individu.

Kita dapat menciptakan budaya yang mendukung perubahan positif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan dengan meningkatkan kesadaran kolektif akan dampak tindakan kita.

Mengurangi emisi karbon dengan menggunakan energi dan teknologi secara efisien. Mulai dari meminimalisasi berseluncur di dunia virtual yang kurang bermanfaat, maupun memilih mengutamakan penggunaan transportasi umum bila memungkinkan.

Buat pilihan kita sekarang. Langkah kecil kita menentukan keadaan planet ke depan yang kita inginkan.***

Wallahua a’lam

***Disadur dari sebuah tulisan ASMAUL HUSNA FIRAMADANI di laman Republika

kembali ke atas | indeks pilihan | download



7 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600143947


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.650

PERTAMAX TURBO
Rp21.200

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp23.500

DEX
Rp25.350

BRIGHT GAS 12 KG
Rp230.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp111.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca