Direktur Produksi Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Iskandar Ismanadji mengatakan, pengembangan budi daya ikan patin pasopati sangat potensial untuk ekspor. Pasalnya, daging yang dihasilkan lebih putih dan kandungan lemak lebih rendah.”Ikan patin ini merupakan persilangan ikan patin jambal dengan ikan patin siam,” katadia di sela-sela Seminar Kebijakan Pengembangan Budi Daya Patin dan Ikan Hias Air Tawar di Hotel Horison Palembang, Jumat (30/11).
Dijelaskan, dengan metode riset dapat dihasilkan benih ikan patin yang lebih baik. Teknologi pembenihan dan pembesaran telah dilakukan di tingkat unit kerja penelitian dan perekayasaan. Namun, pengembangan ikan patin jenis ini masih tergolong baru dan terus didorong pembudidayaannya.
”Secara umum konsumsi ikan terus kita tingkatkan, termasuk ikan patin yang kaya dengan protein,” kata dia. Menurut dia, ikan patin merupakan ikan budi daya unggulan karena memiliki karakteristik yang diminati pasar. Dia mencontohkan, keunggulan ikan patin memiliki ukuran yang lebih besar, yakni sampai 15 kg per ekor.
Selain itu, pertumbuhan ikan patin relatif cepat pada fase pembesar dan memiliki fekunditas telur yang tinggi yakni sampai 200.000–400.000 butir per kg induk. ”Rasa dan tekstur daging disukai masyarakat,” ungkap dia.
Dia menuturkan, realisasi budi daya patin harus lebih dipacu karena permintaan cukup tinggi. Produksi ikan patin pada 2004 baru mencapai 23.962 ton, sedangkan permintaan bisa mencapai 25.000– 35.000 ton. Target produksi semakin tahun semakin meningkat. Untuk 2008 diproyeksikan produksi bisa mencapai 30.300 ton dari 12 provinsi penghasil.
”Pada 2004, Kalimantan Timur merupakan penghasil patin terbesar yakni mencapai 9.033 ton,” jelas dia. Sementara itu, Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Soesilo menjelaskan, budi daya ikan patin sangat potensial karena mengandung protein yang cukup tinggi dengan harga terjangkau. Ikan patin yang sedang digandrungi di pasar luar negeri, yakni patin pasopati atau ikan super harapan pertiwi.
Dalam kunjungannya ke Palembang, DKP memberikan 5.000 benih pasopati untuk dapat dikembangkan. Dia menerangkan, produksi ikan lestari tahun lalu sejumlah 6,4 juta ton per tahun. Sedangkan, nilai ekspor ikan mencapai USD 2,1 miliar. Indonesia termasuk negara dengan jumlah produksi perikanan budi daya terbesar nomor tiga setelah China dan India dengan produksi 2,7 ton/tahun.
”Potensi perikanan di Indonesia baru 10% digali,” ungkap dia. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumsel Lukman Nulhakim menegaskan, budi daya patin di Sumsel semakin tahun semakin meningkat. Untuk 2006 produksi telah mencapai 20.392 ton dari 20.294 ton pada 2005 lalu. (siera syailendra/sindo)










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan