Dalam bisnis, Rasulullah SAW memperlakukan pelanggan dengan baik seperti halnya beliau memperlakukan dirinya sendiri. Jika beliau tidak suka dizalimi, maka beliaupun tidak akan menzalimi pedagang lainnya. Karena itu, empati beliau sangat tinggi kepada para pelanggan. Beliau melayani mereka dengan sepenuh hati dan juga sangat mengutamakan kepuasan pelanggan.
Persis seperti prinsip service excellence dan costumer satisfaction yang sedang tren dalam perdagangan masa kini. Belasan abad yang lalu, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar-dasar dan prinsip untuk perekonomian yang jujur dan empati tersebut.
Baca Juga
Dalam perdagangan, masyarakat kita pasti mengenal istilah “pembeli adalah raja”. Jadi mereka perlu dilayani dengan baik.Prinsip mengenai kepuasan pembeli adalah kepuasan kami (penjual), maksudnya ialah melayani pembeli dengan baik dan juga menjual produk terbaik yang dimilikinya. Jadi pembeli tidak merasa kecewa ketika membeli dari penjual tersebut. Ia malah sangat senang dan menceritakan kepada orang lain tentang pelayanan serta kualitas dari barang/jasa yang ditawarkannya.
Hal ini akan berdampak bagus terhadap masa depan bisnis yang kita kelola. Semakin banyak kisah-kisah cerita bagus atau komentar-komentar yang baik dari pembeli, tentu akan semakin banyak orang penasaran dengan bisnis yang kita kelola. Mereka pun akan berkunjung dan melihatnya. Jika tertarik tentu akan menawarkan sesuatu atau membelinya.
Jadi, layanilah pelanggan atau pembeli dengan baik. Semakin baik pelayanan yang kita berikan, tentu akan semakin bagus. Pelanggan atau pembeli pun akan semakin percaya dengan pelayanan dan kualitas produk yang kita jual. Sehingga akan semakin banyak yang minat dan membelinya.***
***Rujukan: 88 Strategi Bisnis ala Rasulullah yang Tak Pernah Rugi; Ahmad Jarifin; 2019; halaman 41-42














![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)







Tinggalkan Balasan