infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Masjid yang Bercorak Hindu di Pondok Tinggi Jambi

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Salah satu peninggalan benda cagar budaya yang terdapat di Provinsi Jambi adalah masjid. Masjid tersebut terkenal dengan nama Masjid Agung Pondok Tinggi, di Desa Pondok Tinggi, Kecamatan  Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi. Kabupaten Kerinci merupakan sebuah dataran tinggi kurang lebih 700 m dari permukaan laut dan berada di kaki Gunung Kerinci (gunung tertinggi di Sumatera). 

Pada mulanya masjid ini bemama Kerinci Jambi, kemudian berganti nama Masjid Pondok Tinggi karena berada di Desa Pondok Tinggi. Setelah itu pada 1953 ketika Wakil Presiden pertama (Bapak Hatta) berkunjung ke Pondok Tinggi dan menambahkan nama masjid tersebut dengan kata Agung. Sejak itulah masjid ini dinamakan Masjid Agung Pondok Tinggi.

Masjid tersebut merupakan masjid yang unik karena :

  1. Atap masjid, lain dari masjid yang ada di Sumatera pada umurnnya. Bentuknya merupakan atap tumpang bersusun tiga, makin ke atas semakin kecil sebingga merupakan bentuk Iimas.
  2. Tidak mempunyai menara yang merupakan ciri khas seni bangunan Islam.
  3. Seni hias dan ukirannya beraneka ragam antara lain bunga padma, teratai, kepala gajah dan ada pula yang menyerupai kala-makara. Semua ragam bias ini merupakan ragam bias yang bercorak Hindu, sedangkan seni hias yang bercorak Islam umumnya selalu menghindari ukiran yang menyerupai mahkluk bidup. Jadi hanya hiasan ukiran daun dan huruf Arab yang distilir.

Masjid Agung Pondok Tinggi dibangun pada Rabu, 1 Juni 1874 atas dasar semangat gotong royong rakyat. Disain masjid dibuat oleb seorang arsitek dari Rio Mandaro, Mohammad Tiru. Masjid Agung Pondok Tinggi ini merupakan peninggalan masa Islam yang mengandung nilai tradisional, baik dilihat dari segi bangunan maupun ragam hiasnya. Masjid menghadap arah timur dan ditopang oleh 36 tiang besar dan kokoh. Bentuk tiang segi delapan. Di samping ke-36 tiang tersebut ada pula tiang yang dinamakan tiang sambut (tiang yang bergantung dan tidak bertumpu pada tanah), tetapi terikat pada kayu-kayu alang. Ke-36 tiang ini dibagi dalam tiga kelompok:

    1. Tiang Panjang Sambikar (panjangnya sembilan depa) ada empat buah. Keempat terdalam disebut Tiang Tuap (saka guru) terbentuk segi delapan dan berpelipit.
    2. Tiang Panjang Limau (panjang lima depa) berjumlah delapan. Tiang ini diatur sehingga tiap segi empat kelihatan berjalar masing-masing tiga tiang.
    3. Tiang Panjang Duea (panjang dua depa) ada 24 yang membentuk segi empat yang paling luar.

Dengan adanya susunan tiang-tiang tersebut maka kelihatan tiang lapisan segi empat, yaitu segi empat terdalam (soko guru), segi empat di tengah (tiang delapan) dan segi empat paling luar (tiang duapuluh empat). Antara lain satu ke tiang yang lain pada bagian atasnya terdapat papan penguat yang diukir dengan bentuk sulur. Selain itu pada tiang-tiang yang seperti pasak mempunyai hiasan menyerupai kepala gajah. Dinding masjid terbuat dari papan dan terdapat ukiran yang berbentuk sulur-suluran serta mempunyai lubang angin.

Dalam Masjid terdapat:

  1. Tempat adzan setinggi 5 m dari lantai. Kaki tempat adzan ini terletak pada balok perangkai dan penuh dengan ukiran. Penyangga kaki tempat adzan tersebut merupakan tiang segi delapan dan di bagian bawah lebih besar dari bagian atasnya serta mempunyai hiasan berwarna-warni, ditengahnya terletak bangunan. Lantai terbuat dari papan dan di bagian tengahnya terdapat tonggak. Dindingnya dari papan penuh ukiran terawang (berlubang-lubang).
  2. Michrab dengan hiasan berupa pasangan porselin pada dindingnya.
  3. Mimbar masjid ini mempunyai hiasan menyerupai bunga padma, kala makara, daunan, dan bungaan. Mimbar mempunyai empat anak tangga dan bagian atas ada semacam atap berbentuk kurawal.

Pada tiap-tiap sudut bagian luar Masjid Agung Pondok Tinggi terdapat ukiran berbentuk sirip. Pintu keluar-masuk para jemaah hanya terdapat di bagian depan masjid.

Di masjid Agung ini terdapat dua beduk, satu besar herukuran 7,5 m dengan garis tengah 1,15 m (bagian yang tertutup kulit), yang tidak tertutup garis tengahnya 1,10 m. Bahannya dari satu batang kayu utuh. Beduk yang kecil panjang 4,25 m, garis tengah yang tertutup 75 cm dan yang tidak tertutup 69 cm. Tali pengikat dari kulit sapi atau kerbau, disebut saoh. Beduk yang besar disebut Tabuh Larangan dipukul/dibunyikan bila ada bahaya, sedangkan beduk kecil dipakai untuk memberitahukan waktu sembahyang.

Atap Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan atap tumpang, bersusun tiga semakin ke atas semakin kecil. Pada tingkat yang paling atas berbentuk Iimas.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992, Benda Cagar Budaya yang tercantum dalam Bab IV menyatakan bahwa perlindungan dan pemeliharaan benda cagar hudaya dilakukan dengan cara penyelamatan, pengamanan, perawatan, dan pemugaran. Untuk melestarikan Masjid Agung Pondok Tinggi dilaksanakan pemugaran, yang diselenggarakan oleh Proyek Sasana Budaya pada 1980/1981 sampai 1982/1983 (selama tiga tahun anggaran).

Dengan dilaksanakannya pemugaran tersebut berarti bertambah pula kekayaan warisan budaya bangsa berupa bangunan masjid. Masjid tersebut sampai sekarang masih dimanfaatkan sebagai tempat sholat. Selain itu juga dipergunakan sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan-kegiatan sosial.***tdb

***Rujukan: Khazanah Budaya Nusantara IX; Tim Koordinasi Siaran Ditjen Kebudayaan; 1997/1998

•••

111 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

One response to “Masjid yang Bercorak Hindu di Pondok Tinggi Jambi”

  1. Avatar nahda
    nahda

    yang menunjukan masjid agung pondok tinggi ini memiliki corak hindu apa saja yaa?

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca