Perayaan Cap Gomeh (Hokian) atau Yuan Xiaojie 2559 yang dipusatkan di Klenteng Hok Ceng Bio, di tengah Pulau Kemaro, sebuah delta di Sungai Musi sekitar 5 km sebelah hilir Jembatan Ampera, tadi malam berlangsung meriah.
Perayaan Cap Gomeh yang jatuh pada hari ke-15 atau hari terakhir dari masa perayaan Imlek dalam penanggalan lunar tersebut, bukan hanya diikuti kalangan etnis Tionghoa dari Provinsi Sumsel, tetapi juga berasal dari Batam, Riau, Bangka, dan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Kehadiran mereka karena Pulau Kemaro memiliki daya tarik sendiri, seperti adanya pemakaman Siti Aisyah dan Pengaran Ceng Ho. Banyak etnis Tionghoa memercayai dengan datang ke tempat tersebut dan memanjatkan doa, semua harapan bisa terwujud. Kepercayaan lain, jika sepasang kekasih datang ke pulau tersebut, hubungan mereka tidak akan bertahan lama.
Keramaian telah mulai terasa sejak pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB,dan mengakibatkan kemacetan hingga lima kilometer. Acara puncak dimulai pada pukul 10.00 WIB. Malam Cap Gomeh adalah malam pertama bulan purnama setiap tahun baru. Pada malam itu, rakyat China mempunyai kebiasaan memasang lampion berwarna-warni. Festival ini akhirnya disebut sebagai ”Hari Raya Lampion”.
Pada perayaan Cap Gomeh yang juga disebut Yuanxi, Yuanye atau Shang Yuanjie dalam bahasa Tionghoa, masyarakat Tionghoa biasanya mengadakan pesta besar-besaran. Begitu pula di Palembang, ribuan masyarakat etnis China maupun pribumi, termasuk yang datang dari berbagai kota bahkan dari luar negeri seperti Singapura dan Malaysia, berkunjung ke Pulau Kemaro untuk melakukan sembahyang atau berziarah. Perayaan ini berlangsung selama dua hari.
DiPulauKemaro, perayaan Cap Gomeh menggambarkan kegiatan peribadatan yang sekaligus juga merupakan perkawinan budaya yang se-benarnya. Selain barongsai dan liong yang meramaikan malam puncak Cap Gomeh, hadir pula kelompok tanjidor dan penyembelihan kambing persembahan.
Tepat pukul 24.00 WIB, umat dengan dipimpin Pengurus Kelenteng Chandra Husin menyembelih seekor kurban berupa kambing hitam di depan Makam Siti Fatimah. Setelah itu, 20 kambing lainnya yang dibawa juga disembelih. Sedikitnya 200 ekor kambing disembelih selama perayaan dua hari dua malam.
”Dagingnya kemudian dimasak dan dimakan bersama,” papar Chandra Husin, Ketua Majelis Tridharma Sumatera Selatan (Sumsel), yang sekaligus pemimpin perayaan Cap Gomeh di Pulau Kemaro, yang sudah 20 tahun dipercaya menyelenggarakan ritual. Acara yang dihadiri Gubernur Sumsel Syahrial Oesman dan Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra berjalan lancar.
Pada perayaan tersebut, kedua kepala daerah menyaksikan pertunjukan wayang orang tri dharama, barongsai, dan liongsai. Perayaan Cap Gomeh memang biasa dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan.
Di Taiwan, Cap Gomeh dirayakan dengan Festival Lampion. Di Asia Tenggara, ia dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke dalam laut, suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.
Menyaksikan lampion dan makan onde-onde adalah dua bagian penting pada hari raya Cap Gomeh. Dan dari mana asal usul tradisi pemasangan lampion pada Festival Cap Gomeh?
Konon pada tahun 180 sebelum Masehi (SM), Kaisar Hanwudi yang berkuasa pada masa Dinasti Han Barat naik takhta pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Untuk merayakan penobatannya, Kaisar Hanwudi mengambil keputusan untuk menjadikan tanggal 15 bulan pertama sebagai Hari Raya Lampion.
Pada malam tanggal 15 bulan pertama setiap tahun, ia berkebiasaan bertamasya ke luar istana dan merayakan festival itu bersama rakyat. Pada tahun 104 sM, Festival Cap Gomeh secara resmi dicantumkan sebagai hari raya nasional. Berkat keputusan itu, skala Festival Cap Gomeh meningkat lebih lanjut.
Menurut peraturan, setiap tempat publik dan setiap keluarga diharuskan memasang lampion berwarna-warni, khususnya di jalan utama dan pusatkebudayaanakandiadakan pameran lampion besarbesaran yang meriah. Rakyat, baik yang berusia tua maupun yang berusia muda, pria maupun wanita, semuanya akan berdatangan ke pekan lampion untuk menyaksikan lampion dan tari lampion naga di samping menebak teka-teki.
Lampion berwarna yang dipasang pada Festival Cap Gomeh kebanyakan dibuat dari kertas berwarna terang. Lampion bernama ”zoumadeng” atau lampion kuda berlari adalah salah satu macam lampion yang paling menarik. Konon, lampion itu sudah bersejarah seribu tahun lamanya. (ahmad fajri hidayat/edy parmansyah/SINDO)

Suasana perayaan Cap Go Meh atau Yuan Xiaojie 2559 yang dipusatkan di Klenteng Hok Ceng Bio—di tengah Pulau Kemaro—sebuah delta di Sungai Musi, sekitar 5 Km sebelah hilir Jembatan Ampera, tadi malam berlangsung meriah. [Foto: Harian SINDO]










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan