Minyak goreng yang dioplos dengan terigu, kini diperjualbelikan di pasar-pasar Kota Palembang, menyusul mahalnya harga minyak goreng. Migor oplosan tersebut berasal dari migor bekas pakai (jelantah) yang diproses sedemikian rupa sehingga kembali jernih. Demikian laporan harian SRIPO.
Hasil penelusuran harian Sripo di beberapa pasar di Palembang, Selasa (11/3) mengatakan tidak tahu menahu mengenai adanya minyak oplosan tersebut. Mereka mengatakan migor tersebut ditawarkan Y dengan harga yang lebih murah ketimbang harga migor murni. Mendapati harga murah Rp8.000/kg pedagang langsung membeli hingga lima sampai 10 kilogram.
“Memang warna minyak agak kekuning-kuningan, kami sih tidak curiga,” cetus Romlah (35).
Menurut Romlah, saat itu Y mengaku minyak yang dijualnya adalah migor stok lama, karena tokonya mau tutup maka ia mendiskon migor dengan harga modal. Jumlah migor yang dibawanya saat itu sekitar 30 kilogram dengan empat jeriken besar.
Para pedagang mengatakan ciri-ciri migor oplosan yakni berwarna kuning pekat agak kecoklatan, berbau agak apek dan bila diperiksa bagian bawah meninggalkan gumpalan putih.
Berapa warga yang memiliki usaha penggorengan kerupuk dan kempelang di sekitar Lrg Atom, biasanya mereka didatangi seseorang yang ingin membeli minyak sisa penggorengan (jelantah).
“Lima kilogram sekali beli, paling tiga hari sekali pasti kemari,” ucap Acin (42).
Masih menurut Acin, sepuluh warga yang punya usaha kerupuk didatangi Y untuk mengambil migor sisa.
“Bila 10 warga yang menjadi langganan tetap berarti ada 50 kilogram migor jelantah yang sudah dioplos perharinya untuk wilayah Lrg Atom saja,” tandas Acin.
Penelusuran Sripo hingga ke Wilayah 13 Ulu Palembang yang dikenal sebagai kawasan sentral industri pempek, ternyata warga juga mengaku sering didatangi Y untuk membeli migor bekas pakai tersebut. “Biasanya dua hari sekali dia kemari mengambil minyak bekas, daripada terbuang percuma saya kasihkan saja,” tegas Lisda. (sta/SRIPO)


















Tinggalkan Balasan