Jamaah haji Indonesia mengeluhkan pelayanan shuttle bus (bus angkutan) yang melayani angkutan jamaah dari Masjidil Haram ke pemondokan.Menurut jamaah haji Indonesia, para pengemudi bus enggan menaikkan jamaah asal Indonesia. Petugas Haji Indonesia di Terminal Aziziyah, Mekkah, Arab Saudi, Ali Makki membenarkan hal tersebut. Dia mengungkapkan, para pengemudi berkebangsaan Mesir kurang dapat bekerja sama dengan petugas di lapangan.
”Mereka tidak mau mendengar kita. Tapi kalau yang mengatur itu petugas dari sarikat, baru mereka menurut. Berbeda dengan pengemudi yang orang kita juga (orang Indonesia), mereka mau untuk bekerja sama,” ungkap Ali di Mekkah, Rabu kemarin.
Petugas haji Indonesia yang biasa bertugas di Sektor 15 Kawasan Aziziyah ini mengatakan, para pengemudi Mesir itu beberapa kali dilaporkan tidak mau mengantarkan jamaah Indonesia ke sektor terdekat. Mereka juga menolak untuk membukakan pintu bus ketika diketuk-ketuk oleh jamaah Indonesia dari arah Masjidilharam. Ali juga mengeluhkan soal kepadatan penumpang di bus-bus tersebut.
”Ini membuat beberapa penumpang harus berjejalan di bus. Dari sarikat belum menurunkan lagi busnya,” jelasnya. Senada diungkapkan salah satu jamaah haji Kloter 49 Embarkasi Surabaya (SUB) Muhammad Sutrisno. Dia mengaku kesulitan mendapatkan bus dari Masjidil Haram.
”Kami bahkan sempat ditolak oleh sopirnya. Itu biasanya terjadi seusai salat maghrib.Busnya juga sering penuh,” ujarnya. Jamaah Kloter 11 Balikpapan (BPN) MA Abe binti A Rahman berpendapat serupa. Menurut dia, ketersediaan bus sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi masih belum mampu menampung penumpang yang ada. Sekretaris Daerah Kerja Mekkah Arsjad Hidayat mengatakan, Tim Transportasi PPIH sudah menegur pengelola bus dan meminta agar mereka mengganti pengemudi dengan supir dari Indonesia.
”Kita sudah ke arah sana. Bahkan, kita juga meminta agar mereka mengenakan pakaian seragam,” jelasnya. Jika masih ada pengemudi yang menolak menaikkan jamaah Indonesia, Arsjad meminta jamaah mencatat secara detail nomor bus tersebut. Dengan demikian, PPIH bisa langsung menegur pengelola bus tersebut.
Menurut Arsjad, untuk kepadatan penumpang, hal itu disebabkan bus yang dioperasikan baru sekitar 50% saja dari kesepakatan kontrak awal. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah jamaah yang sudah masuk Kota Mekkah yang mencapai 60% lebih. ”Sampai saat ini memang baru separuh bus yang diturunkan. Bus itu diturunkan berdasarkan jumlah kloter yang menempati sektor tersebut. Semakin banyak kloter yang masuk, semakin banyak bus yang diturunkan,” tegasnya.
Sebelumnya, PPIH menyewa bus dari Sarikat Ummul Qura sebanyak 90 unit. Bus ini rencananya melayani 90.000 jamaah yang tergabung dalam 200 kloter. Menurut sarikat, ungkap Arsjad, belum diturunkannya bus separuh bus tersebut disebabkan daya tampung Terminal Aziziyah yang terbatas. Sebab, terminal itu juga melayani transportasi jamaah dari India, Iran, Turki, dan negara lain.
Menanggapi hal ini,Direktur Pengelolaan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Sistem Informasi Haji Departemen Agama (Depag) Abdul Ghafur Djawahir mengatakan, pihaknya akan segera menghubungi atase haji di Mekkah untuk mengklarifikasi hal itu. Depag juga akan menanyakan masalah penarikan ongkos haji yang dilakukan ke jamaah.
Menurut Djawahir, khusus daerah Aziziyah,memang sejak awal tidak dimasukkan dalam daerah yang harus disediakan shuttle bus, meski jarak Aziziyah dari Masjidilharam lebih dari 1.500 meter. ”Dari awal memang bis tidak disediakan di sana,” jelasnya. (susi/sindo)










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan