Harga minyak tanah di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, satu pekan ini naik menjadi Rp 17.500 per liter. Kenaikan lebih dari 100 persen dari harga normal itu dikeluhkan warga dan pemilik industri kecil yang sangat membutuhkan minyak tanah untuk mengepulkan dapur mereka.
Seorang warga Bintuni, Lewi Karafei, Rabu (5/12), mengaku, kenaikan itu terlalu memberatkan dirinya dan ribuan orang yang menggantungkan keperluan memasak pada minyak tanah.
Sebagai perbandingan harga, di Kabupaten Manokwari, ibu kota Papua Barat, minyak tanah dijual eceran Rp 14.500 untuk lima liter atau sekitar Rp 4.600 per liter.
Karafei mengatakan, harga normal minyak tanah di Bintuni biasanya Rp 8.000 per liter. Kenaikan harga diduga terjadi karena pasokan minyak tanah dari Pertamina di Sorong tersendat.
Menurut beberapa penjual minyak tanah eceran, minyak tanah didapat dari Stengkol, 75 kilometer perjalanan darat berlumpur selama sembilan jam. Di tempat itu, minyak tanah dijual dengan harga Rp 12.000 per liter.
Minyak tanah juga biasa dibawa pedagang melalui kapal-kapal kecil dari Fakfak. Meski dijual hingga Rp 20.000 per liter, bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi ini tetap laku dijual karena stok di Bintuni kerap kosong.
Selain minyak tanah yang mahal, harga premium Rp 10.000- Rp 15.000 per liter di Bintuni. (kompas)




















Tinggalkan Balasan