Dari 3.774.500 ha luas hutan yang ada di Sumatera Selatan, 62% di antaranya telah mengalami kerusakan. Hal itu tampak pada vegetasi hutan yang ada bukan lagi vegetasi hutan alam, melainkan hutan tanaman atau hutan produksi.Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) provinsi Sumatera Selatan Dodi Supriadi mengatakan, kerusakan tersebut diakibatkan oleh praktik pengelolaan hutan di masa lalu yang tidak memperhatikan kelestarian, illegal logging, perambahan hutan, dan kebakaran hutan yang masih sering terjadi terutama pada musim kemarau panjang.
Menurut Dodi, semakin minimnya hutan alam di Sumsel dapat ditutupi dengan semakin meningkatnya hutan tanaman. ”Saat ini Sumsel berhasil membangun hutan tanaman seluas kurang lebih 254.786 ha, dan Insya Allah target kita pada tahun 2009 bisa dikembangkan menjadi 550.000 ha. Pembangunan hutan tanaman baru ini diharapkan akan menarik investasi sebesar Rp 6,220 triliun, selain itu kita harapkan hal itu dapat pula meningkatkan produksi kayu yang saat ini mencapai 2,2 juta m3 menjadi 10,3 juta m3 pada tahun 2009 juga. Kalau semua itu sukses, maka perkiraan kita tenaga kerja yang dapat diserap oleh industri pengolahan kayu tersebut yaitu 105.000 orang, dapat terealisasi,” jelasnya.
Dodi mengungkapkan, sebagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk merehabilitasi hutan dan lahan yang telah rusak, dan sebagai respons dari kegiatan negara-negara di dunia yang akan melakukan pertemuan membahas perubahan iklim global di Bali pada tanggal 3- 14 Desember 2007, maka kemarin secara serentak di seluruh wilayah provinsi Sumatera Selatan dilakukan penanaman pohon. Demikian seperti dilaporkan harian sindo. [sindo/infokito]










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan