Jumlah penderita HIV/AIDS di Sumatera Selatan masih tinggi bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Penyebab penularan yang tertinggi adalah akibat hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan dan penggunaan jarum suntik oleh pemakai narkoba.
Data Dinas Kesehatan Sumsel menunjukkan kecenderungan peningkatan itu. Pada tahun 2004 terdapat 30 orang pengidap HIV positif di Sumsel, tahun 2005 meningkat menjadi 87 orang, pada 2006 meningkat lagi menjadi 98 orang, dan tahun 2007 tercatat terdapat 30 orang pengidap.
Menurut Direktur Pelaksana Daerah Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Sumsel Amirul Husni, Selasa (30/10), di sela deklarasi Kelompok Waria Peduli Kesehatan dan Remaja Café Peduli AIDS, persoalan HIV/AIDS tidak bisa dipandang sebelah mata karena semakin lama semakin mengkhawatirkan. Sumsel merupakan salah satu daerah di Sumatera dengan jumlah pengidap HIV tinggi selain Sumatera Utara, Riau, dan Batam.
“Jumlah pengidap HIV positif di Sumsel sejak tahun 1995 sampai 2007 sudah mencapai 328 orang, dengan jumlah terbanyak di Palembang yaitu 278 orang. Adapun penderita AIDS sejak tahun 1995 sampai 2007 sebanyak 112 orang, 52 orang di antaranya meninggal. Bahkan baru-baru ini seorang penderita AIDS di Palembang meninggal dunia,” kata Amirul.
Amirul mengungkapkan, semua kelompok masyarakat rentan tertular HIV, tidak hanya kelompok pekerja seks komersial (PSK) dan waria meskipun kedua kelompok tersebut adalah yang paling rentan.
Menurut Amirul, untuk mencegah meningkatnya jumlah penderita HIV, sejak tahun 2001 PKBI Sumsel telah memiliki klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT). Klinik tersebut dilengkapi petugas konseling dan petugas medis, sementara tes lebih lanjut dirujuk ke rumah sakit. “Untuk tes cepat kami sudah memiliki alatnya. Tes bisa dilakukan dalam waktu 15 menit dan langsung diketahui hasilnya apakah mengidap positif HIV atau tidak,” ujarnya.
Disinggung mengenai dimasukkannya pendidikan tentang HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah, Amirul mengatakan, sampai sejauh ini rencana tersebut belum berjalan. Padahal kelompok remaja termasuk kelompok yang rawan terjangkit virus mematikan itu.
“Kami sudah berkali-kali mengusulkan agar pendidikan tentang HIV/AIDS diberikan di sekolah-sekolah. Tidak harus masuk kurikulum, tapi mencari celah waktu, misalnya saat jam kosong untuk penyuluhan. Kami tidak menuntut kurikulum yang mutlak,” ujar Amirul.
Amirul mengungkapkan, saat ini seluruh kabupaten/kota di Sumsel sudah menjadi daerah rawan penyebaran HIV/AIDS. Hal itu berdasarkan pengamatan yang dilakukan PKBI terhadap perilaku kaum mudanya, serta kelompok rentan lainnya seperti PSK dan waria.
Menurut Amirul, pendanaan untuk program-program PKBI Sumsel berasal dari pemerintah pusat dan kerja sama dengan lembaga asing, seperti Kedutaan Besar Jepang dan badan PBB seperti International Labour Organization (ILO) dan United Nation Population Fund (UNFPA).
Kerja sama dengan ILO, katanya, sangat diperlukan untuk memberdayakan pengidap HIV agar mereka tetap eksis dan bergaul di tengah masyarakat. Adapun kerja sama dengan UNFPA untuk perubahan perilaku masyarakat karena masalah HIV/AIDS sebenarnya menyangkut perilaku masyarakat.
“Pendanaan untuk program-program kami memang masih kurang, tapi bagaimana dengan dana yang sedikit tetap kami manfaatkan. Kami juga banyak dibantu oleh Pemerintah Provinsi Sumsel,” kata Amirul.
Tingginya pengidap virus HIV juga ditemukan di Provinsi Lampung. Sepanjang 2007 Komisi Penanggulangan AIDS atau KPA Bandar Lampung mencatat, empat dari sembilan waria yang positif mengidap HIV/AIDS meninggal dunia. (WAD/kmps)









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan