Kepala Rumah Sakit Khusus (RSK) Paru Provinsi Sumatera Selatan Syahrizal mengungkapkan, RSK Paru Sumsel minim dokter spesialis. Menurut dia, hingga saat ini RSK Paru baru memiliki dua dokter spesialis, padahal idealnya,sebuah rumah sakit paru memiliki 3-5 dokter spesialis.Untuk itu lanjut Syahrizal, pihaknya meminta Pemprov Sumsel menambah personil dokter spesialis untuk ditempatkan di RSK Paru. Ini penting untuk meningkatkan kualitas dan pelayanan rumah sakit.
”Selama ini, jika ada masalah serius, RSK Paru masih berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang, karena kekurangan dokter spesialis,” ujar Syahrial didampingi Kasubag Tata Usaha RSU Paru Syahril, Jumat (4/1) kemarin.
Menurut Syahrizal, demi menunjang Sumsel sehat 2008, pihak RSK Paru terus berusaha meningkatkan kualitas dan kuantitas kinerja karyawannya. Salah satunya dengan berusaha menekan angka penderita Tuberculosis Paru (TB Paru).
Dia menjelaskan, periode Januari-September 2007, penderita TB paru yang dirawat di RSK Paru sudah berjumlah 397 pasien. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 2.774 kasus penderita di tahun 2006.
”Kita memang masih kekurangan tenaga dokter, makanya di tahun 2006 angka penderita paru kita sangat tinggi. Saat ini, meskipun dengan tenaga dokter spesialis sebanyak 2 orang, tetapi kita sudah memiliki beberapa calon tenaga baru yang telah disekolahkan pemerintah daerah setempat,” katanya.
Dia menambahkan, kekurangan tenaga dokter spesialis paru ini memang membawa pengaruh yang cukup berarti bagi RSK Paru. Ini terlihat dari tingginya kasus penderita penyakit TB paru di tahun 2006 lalu.
”Kita akui memang, sekolah kesehatan khusus paru di Palembang tidak ada. Di Indonesia pun hanya sedikit sekali,”ujarnya.
Dia menambahkan, saat ini sedikitnya 130 orang dari 100.000 penduduk Sumsel menderita TB paru. Ini disebabkan masih banyaknya warga yang berasal dari ekonomi lemah, sehingga pemenuhan asupan gizinya masih sangat kurang.
”Untuk itu, upaya terbaik kita mengatasi masalah ini dengan jalan memberikan program pengobatan gratis. Selain itu, untuk pelayanan biasa di setiap puskesmas yang ada di pelosok daerah sudah disediakan khusus poli TB Paru,”ujarnya.
Menanggapi permintaan Kepala RSK Paru Sumsel tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Syahrul Muhammad berjanji segera menindaklanjuti permintaan ini. Sebab, jika tetap dibiarkan, maka dikhawatirkan tujuan Sumsel sehat 2008 semakin sulit terwujud. ”Kita sangat memerlukan dokter spesialis paru. Intinya semakin banyak dokter, semakin cepat penyakit diatasi,”tegasnya. (CR-02/SINDO)


















Tinggalkan Balasan