Sejumlah kelompok teater modern maupun kelompok sastra tutur mencoba menampilkan sastra tutur Sumsel yang direvitalisasi dalam Festival Sastra Tutur 2007 yang diselenggarakan Bank Sumsel, Rabu (24/10). Sastra tutur Sumsel yang tradisional dicoba ditampilkan dalam format yang modern.
Festival Sastra Tutur 2007 diikuti oleh Kabupaten Empat Lawang yang menampilkan Guritan dengan judul Raden Suarno Tanjung Kupang, Kota Prabumulih, Kabupaten Ogan Komering Ilir yang menampilkan Betogou, Kabupaten Muara Enim yang menampilkan legenda Candi Bumi Ayu, dan Kabupaten Lahat yang menampilkan Guritan dengan judul Bintang Kenceran.
Adapun peserta dari kelompok teater modern adalah Teater Lentur yang menampilkan Ande-ande berjudul Cerita Kodok Mas, Teater Alam yang menampilkan Tadut, Teater Bintang Harapan yang menampilkan cerita Ariodilah, dan Teater Gaung yang menampilkan Ande-ande dengan judul Wong Kayangan.
Vebri Al Lintani, salah satu anggota tim pengamat Festival Sastra Tutur 2007 mengatakan, makna revitalisasi sastra tutur adalah penyesuaian nilai sastra tutur tradisional dengan nilai masa kini yang modern. “Nilai-nilai masa kini adalah dinamis. Nilai masa lalu yang ada pada sastra tutur berubah. Pada masa lalu sastra tutur masih punya penggemar karena tidak ada alternatif hiburan lain. Sekarang dengan perkembangan teknologi, sastra tutur jadi tidak laku,” kata Vebri.
Vebri mengatakan, sastra tutur hanya bisa dihidupkan melalui revitalisasi. Caranya, memanfaatkan perkembangan teknologi dan multimedia dalam pertunjukan sastra tutur tanpa mengurangi unsur sastra tutur. “Seni teater juga bisa dipakai sebagai sarana revitalisasi sastra tutur. Hasilnya bukan teaterisasi sastra tutur, tapi teater sebagai pendukung sastra tutur,” ujar Vebri.
Vebri menegaskan, seni yang dihasilkan melalui Festival Sastra Tutur tetap merupakan sastra tutur, namun dengan tambahan atau revitalisasi. Festival ini tidak dimaksudkan menciptakan jenis atau genre kesenian baru.
Menurut Ahmad Bastari Suan, juga anggota tim pengamat, festival semacam ini harus dilakukan tiap tahun karena bermanfaat dalam pelestarian sastra tutur. “Grup-grup yang tampil rata-rata adalah grup baru. Secara umum penampilan mereka masih harus disempurnakan,” kata Bastari.
Bastari menuturkan, sastra tutur Sumsel sangat terbuka untuk dilakukan revitalisasi. Bentuk revitalisasi itu misalnya sastra tutur yang aslinya dibawakan satu orang kemudian dibawakan beramai-ramai diiringi alat musik.
Bentuk revitalisasi seperti itu ditampilkan oleh kelompok dari Kabupaten Empat Lawang. Aslinya sastra tutur dari Empat Lawang hanya dibawakan oleh satu orang, namun dalam festival tersebut tampil beberapa orang sekaligus. “Sayangnya tidak semua daerah ikut serta. Padahal tiap kabupaten/kota punya tradisi sastra tutur,” katanya. (WAD/kmps)










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan