Sekitar 30% warga Kota Prabumulih tergolong buta aksara. Sementara, yang sudah dituntaskan sekitar 67,3% dari ribuan penderita buta aksara pada 2006 lalu hingga saat ini. Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kota Prabumulih Edi Sumarno melalui Kasubdin Pendidikan Luar Sekolah Desti Putri.”Saat ini ada sekitar 410 peserta didik yang tersisa. Kemungkinan untuk tahun ini sudah dituntaskan semua, sehingga mudah-mudahan pada 2008 mendatang Kota Prabumulih terbebas dari penderita buta aksara,” katanya Selasa (2/10). Menurutnya, pemerintah pusat dan daerah serius dalam menyikapi buta aksara yang ada di wilayah Indonesia, sehingga menganggarkannya dalam APBN untuk menuntaskan buta aksara yang ada di wilayah nusantara.
”Begitu juga dengan Pemkot Prabumulih cukup aktif dalam memberikan support untuk menuntaskan buta aksara di kota ini, melalui APBD-nya,” paparnya. Dia mengaku saat ini Kota Prabumulih merupakan peringkat terendah kota yang menderita buta aksara dibandingkan kota/kabupaten yang ada di Sumatera Selatan.
Dia mengatakan, proses pembelajaran bagi penderita buta aksara tersebut melalui kelompok-kelompok belajar yang dipimpin satu tutor untuk mendidik dan memberikan pengetahuan kepada mereka yang lebih difokuskan kepada penderita buta aksara yang berusia 10–45 tahun.
Kepala Dinas pendidikan Edi Sumarno mengatakan, sebagai bentuk keberhasilan Kota Prabumulih menuntaskan program buta aksara, maka Kota Prabumulih dijadikan pusat peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) pada 30 Oktober 2007. ”Itu sudah resmi, kita menjadi tuan rumah dalam peringatan tersebut sesuai dengan surat Gubernur No 420/4165/II/2007,” katanya. (sutami/sindo)



















Tinggalkan Balasan