Kegiatan yang paling dinanti selain puncak haji adalah bisa bertawaf dan mencium Hajar Aswad. Banyak cerita beredar tentang kiat mencium Hajar Aswad. Seperti, merapat ke dinding Kabah dan maju perlahan-lahan. Namun ada pula yang menyebutkan untuk dapat mencium Hajar Aswad harus pandai menyelinap di antara ketiak orang banyak berbadan tinggi dan besar.
Maklum, ketika mencium Hajar Aswad, orang dari negara Asia Timur dan Tenggara yang berbadan kecil kerap kalah jika berebut. Banyak yang terpental. Apalagi ketika terjadi adu saling dorong. Tak heran, banyak orang mengurungkan niat untuk mencium Hajar Aswad dengan pertimbangan, daripada menyakiti orang lain dan lebih-lebih mencelakakan diri sendiri.
Namun demikian, banyak juga orang dari Asia memperoleh kesempatan mencium Hajar Aswad. Itu pun tergantung dari kemurahan sang askar, penjaga yang bergelantungan di sisi kiri pintu Kabah. ”Saya beruntung, dapat mencium Hajar Aswad,” kata Naimah, jamaah haji dari Malaysia, menceritakan pengalamannya. Ia tiba bersama suaminya, Jumat lalu, dan dapat mencium Hajad Aswad pada dini hari menjelang Shubuh. Menurut dia, untuk mencium Hajar Aswad perlu perhitungan matang dan tindakan nekad. ”Cerita orang, tunggu waktu akan sepi. Nyatanya, di sini tak pernah sepi. Orang selalu ramai,” katanya lagi.
Keistimewaan
Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Kabah dengan ketinggian 1,10 m dari tanah, panjang 25 Cm dan lebar 17 Cm. Diceritakan dalam beberapa buku sejarah, awalnya adalah batu bongkahan tapi sekarang menjadi delapan gugusan batu kecil karena pernah pecah.
Hal itu terjadi pada zaman Qaramithah, yaitu sekte dari Syiah Ismailiyyah Al Batiniyyah dari pengikut Abu Thahir al Qramathi yang mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Ihsa pada 319 H. Kemudian dikembalikan pada 339 H. Mengenai Hajar Aswad ini, gugusan terbesar seukuran kurma dan tertanam di batu besar yang dianjurkan untuk dicium dan menyalaminya. Bukan batu di sekitarnya, dan bukan pula batu yang diliputi perak. Umat Muslim meyakini bahwa warna Hajar Aswad awalnya putih. Namun kemudian berubah lantaran dosa manusia. Ini sesuai dengan sabda Rosullah, ”Hajar Aswad diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa cucu Adam yang menjadikan hitam.”
Karena berasal dari batu-batu mulia (yaqut) dari surga yang diberikan dari Nabi Ibrahim agar diletakkan di salah satu sudut Ka’bah, lalu Nabi Muhammad SAW mengambil dan menempatkannya di tempat semula (pada saat renovasi masa Quraisy). Hajar Aswad merupakan bertemunya para bibir nabi, orang saleh, para haji. Ia menjadi tempat permulaan dan berakhirnya tawaf, sekaligus mustajab, dikabulkannya doa. Pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan menjadi saksi.
Sesungguhnya ada adab yang harus dipatuhi dalam menyelami Hajar Aswad, yaitu dilarang menyakiti dan saling mendorong. Sebab, mencium Hajar Aswad adalah sunnah, sedangkan menghindari dan menyakiti orang lain wajib ditinggalkan. Oleh karena itu sebenarnya dengan bertakbir dan melambaikan tangan ke arahnya sudah cukup.
Ibnu Abbas mengingatkan: Janganlah kalian berdesak-desakan di Hajar Aswad, jangan menyakiti atau disakiti. Lebih baik bertakbir dan tidak menyakiti saudara Muslim lain adalah lebih disukai daripada berusaha menciumnya. Demikian juga berhenti di garis Hajar Aswad untuk berdoa maupun shalat, khususnya pada waktu padat. Sebab, hal demikian dapat mengganggu dan menyakiti orang lain yang tengah melaksanakan thawaf. (mch/republika)









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan