RIYADH – Izin pembukaan toko minuman keras (miras) di Arab Saudi meresahkan warga setempat. Mereka merasa hal tersebut mengancam identitas Saudi sebagai negara lokasi dua tempat suci umat Islam yakni Makkah dan Madinah.

The Associated Press melaporkan pada Kamis (25/1/2024), mengutip seorang diplomat, sebuah toko minuman keras telah dibuka di Arab Saudi untuk pertama kalinya dalam lebih dari 70 tahun. Toko tersebut terletak di sebelah supermarket di Kawasan Diplomatik Riyadh.
Diplomat tersebut mengatakan telah berjalan melewati toko tersebut pada Rabu, menggambarkannya mirip dengan toko bebas bea kelas atas di bandara internasional utama.
Sedangkan Arab News melaporkan izin impor miras telah dikeluarkan kerajaan khusus bagi diplomat negara-negara non-Muslim yang memiliki perwakilan di Saudi. Beleid baru itu akan memungkinkan miras masuk sesuai dengan kuota berlisensi dan jumlah tertentu untuk mengakhiri impor ilegal produk-produk ini di Kerajaan.
Sumber Arab News juga menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri sedang dalam proses menginformasikan misi diplomatik di Kerajaan mengenai langkah-langkah baru tersebut yang akan berlaku mulai 22 Januari 2024. “Amendemen ini akan diberlakukan untuk memungkinkan dan memastikan bahwa semua diplomat di kedutaan non-Muslim memiliki akses terhadap produk dan minuman beralkohol khusus ini dalam kuota tertentu dan melalui proses yang diatur yang melarang aktivitas pertukaran ilegal,” tambah sumber tersebut.
The Guardian melansir, berita bahwa Arab Saudi akan mengizinkan toko minuman beralkohol pertamanya membuat warga dan pendatang bertanya-tanya akan dampaknya. Apakah ini perubahan kebijakan kecil, atau pergolakan yang lebih besar?
Terletak di Kawasan Diplomatik di ibu kota, toko tersebut hanya dapat diakses oleh diplomat non-Muslim, yang berarti bahwa bagi sebagian besar dari 32 juta penduduk Arab Saudi, tidak ada yang berubah untuk saat ini.
Selain itu, kuota pembelian akan diberlakukan. Akses ke toko akan dibatasi bagi mereka yang mendaftar melalui aplikasi. Dan pelanggan akan diminta untuk menyimpan ponsel mereka di “kantong ponsel khusus” saat mereka mencari bir, anggur, dan minuman beralkohol.
Namun, beberapa warga Riyadh mengatakan bahwa mereka melihat perkembangan ini sebagai langkah pertama menuju ketersediaan alkohol yang lebih luas, yang akan menjadi terobosan dramatis dari larangan nasional yang telah diberlakukan sejak tahun 1952.
“Negara ini terus mengejutkan kami,” kata seorang pengusaha Lebanon di sebuah restoran Prancis di Riyadh yang terkenal dengan daftar panjang anggur dan koktail non-alkohol. “Ini adalah negara yang sedang berkembang, sedang tumbuh dan menarik banyak talenta dan banyak investasi. Jadi, ya, tentu saja, akan ada lebih banyak lagi.”
Pengusaha tersebut menolak disebutkan namanya, menyoroti sensitivitas seputar segala sesuatu yang berhubungan dengan alkohol yang dilarang dalam Islam.
Di meja lain, dua pria Saudi berusia 30-an mengatakan mereka khawatir tentang dampak penjualan alkohol terhadap identitas kerajaan. “Ini bukan jati diri kami,” kata salah satu pria tersebut.
“Saya tak ingin menghakimi mereka yang minum minuman keras, tidak, sama sekali tidak. Namun ini berarti kami mendatang sesuatu dari luar yang akan mempengaruhi budaya dan komunitas,” ujarnya. “Katakanlah jika saya mempunyai adik, jika ada minuman beralkohol di luar sana, ada kemungkinan dia akan menjadi seorang pencandu alkohol.”
Temannya menimpali dengan mengatakan bahwa dia lebih suka orang-orang pergi ke luar negeri untuk minum-minum, seperti yang dilakukan banyak orang saat ini. “Sangat menakutkan bahwa mereka membiarkan hal-hal seperti itu masuk ke Saudi. Lebih baik saat ini, siapa pun yang ingin mencoba alkohol, jaraknya satu jam dengan pesawat,” katanya. “Semua orang bepergian ke sini. Itu mudah diakses. Tapi yang ingin saya katakan adalah bahwa dalam yurisdiksi ini, saya tidak senang hal itu diizinkan.”
Di bawah agenda reformasi Visi 2030, penguasa de facto Arab Saudi, putra mahkota Muhammad bin Salman, sedang mencoba mengubah eksportir minyak mentah terbesar di dunia menjadi pusat bisnis, olahraga, dan pariwisata yang dapat mencapai kesejahteraan di era pascaminyak.
“Hal ini memerlukan daya tarik lebih banyak orang asing, dan mengizinkan alkohol secara bertahap dapat berperan dalam hal ini,” kata Kristin Diwan, dari Arab Gulf States Institute di Washington. “Ini adalah satu langkah lagi dalam menormalisasi sanksi pemerintah terhadap alkohol dalam situasi tertentu,” katanya.
Pusat Komunikasi Internasional pemerintah mengatakan pada Rabu bahwa tujuan kebijakan baru tersebut adalah untuk melawan perdagangan gelap produk dan minuman beralkohol yang diterima oleh misi diplomatik. Hal ini jelas merujuk pada berkembangnya pasar gelap setempat, tempat botol wiski sering kali dijual dengan harga ratusan dolar.
Menyusun berita dengan cara seperti ini “kemungkinan dimaksudkan untuk mengirimkan pesan halus bahwa perubahan mungkin sedang terjadi, tapi prosesnya akan dilakukan secara bertahap dan dikontrol dengan ketat”, kata Kristian Ulrichsen, peneliti Timur Tengah di Baker Institute for Public di Rice University.

Kebijakan
Sementara itu, orang dalam industri restoran tidak yakin apakah bisnis akan terkena dampaknya dalam waktu dekat. “Bagi industri makanan dan minuman, hal ini tidak memberikan dampak langsung,” kata seorang manajer, meskipun ia menambahkan bahwa jika hal ini mengubah cara pandang dunia luar terhadap Arab Saudi. “Hal ini dapat menarik banyak orang untuk datang ke kerajaan tersebut,” yang berarti lebih banyak pelanggan.
Jika akses terhadap alkohol di Arab Saudi pada akhirnya meluas melampaui apa yang dijelaskan oleh sumber pada Rabu, pihak yang paling dirugikan adalah penjual mocktail dan minuman non-alkohol lainnya, yang semakin populer.
“Itu bukan hal yang baik bagi saya. Saya akan kehilangan bisnis saya,” kata Evans Kahindi, manajer merek Blended by Lyre’s, sebuah perusahaan minuman non-alkohol, sambil tertawa. “Selalu ada spekulasi mengenai minuman beralkohol asli di sini …. Tapi, sejujurnya, ini adalah urusan pemerintah, kami belum mengetahuinya dan saya tidak bisa berspekulasi tentang apa pun.”
Arab Saudi telah melarang alkohol sejak awal tahun 1950-an. Raja Abdulaziz, raja pendiri Arab Saudi, menghentikan penjualannya menyusul insiden tahun 1951 di mana salah satu putranya, Pangeran Mishari, mabuk dan menggunakan senapan untuk membunuh wakil konsul Inggris Cyril Ousman di Jeddah.
Setelah Revolusi Islam Iran pada 1979 dan serangan militan terhadap Masjidil Haram di Mekah, para penguasa Arab Saudi segera menganut doktrin Islam ultrakonservatif yang lebih ketat di kerajaan tersebut. Pemisahan gender yang ketat, larangan mengemudi bagi perempuan dan langkah-langkah lain diberlakukan.
Wallahu a’lam
***Disadur dari sebuah tulisan di laman Republika
kembali ke atas | indeks pilihan | download











![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan