Saat menyimak pelbagai pemberitaan mengenai penjajahan Israel atas Palestina, Anda mungkin akan menemukan pola yang sama mengenai keberpihakan beberapa negara Eropa. Dalam hal ini, Irlandia merupakan contoh nyata konsistensi yang “unik”.

Apabila umumnya negara-negara Uni Eropa sangat membela Israel–bahkan sampai pada taraf yang memalukan–maka kecenderungan demikian tak ditemukan di pihak Irlandia. Dublin selalu bersuara lantang membela Palestina.
Bagi banyak orang Irlandia, Israel adalah contoh nyata kekuasaan kolonialisme. Dan, Irlandia menaruh empati yang mendalam terhadap Palestina. Sebab, negara di Eropa utara ini pernah mengalami pahitnya hidup di bawah penjajahan.
Dalam sejarahnya, Irlandia pernah menjadi bagian dari kekuasaan Britania Raya. Persepsi kebanyakan orang Irlandia mengenai masa tersebut pun jelas: bahwa London adalah penjajah. Perang bertahun-tahun dengan Negeri Albion menyisakan kenangan getir. Maka melihat Palestina yang berpuluh-puluh tahun berjuang melawan penjajahan, membangkitkan empati mereka. Terlebih lagi, orang-orang Irlandia sudah sangat mafhum akan sejarah; bahwa ada peran besar Inggris di balik pembentukan Israel.
Memori pahit lainnya mengenai Inggris bagi orang Irlandia adalah wabah kelaparan hebat yang pernah melanda negeri itu pada 1845-1852. Bencana kemanusiaan abad ke-19 M itu dikenang dengan nama The Great Irish Famine.

Bahwa Irlandia kala itu dilanda kerawanan pangan sesungguhnya merupakan sebuah ironi. Menurut Tim Pat Coogan dalam buku The Famine Plot: England’s Role in Ireland’s Greatest Tragedy (2012), sejak 1800 perekonomian Irlandia memasok beragam komoditas pangan ke Inggris. Sekitar 83 persen pasokan daging sapi, 79 persen mentega, dan 86 persen daging babi merupakan ekspor dari Irlandia untuk kota-kota besar Negeri Albion.
Memang, di masa normal saja hampir tidak mungkin kaum papa Irlandia mengakses komoditas mahal itu, seperti daging dan mentega. Akan tetapi, kebijakan minim empati justru dijalankan pihak London terhadap mayoritas penduduk Irlandia yang hidup di bawah garis kemiskinan, termasuk ketika wabah kelaparan melanda.
Lebih buruk lagi sejak pemerintahan perdana menteri Sir Robert Peel yang berhaluan konservatif digantikan Sir John Russell dari Whig. Coogan mengatakan, kegiatan ekspor komoditas pangan dari Irlandia ke Inggris terus saja berlangsung. Hal itu tanpa diiringi jaring pengaman sosial yang memadai untuk menahan imbas wabah kelaparan di Irlandia.
Malahan, sering kali, London menerjunkan tentara dan angkatan laut untuk mengawal kereta-kereta dan kapal-kapal pengangkut komoditas ekspor dari Irlandia ke Inggris. Sementara, begitu banyak orang miskin yang terpapar di pinggir jalan. Mereka kelaparan hingga sekarat menunggu ajal.
Menteri keuangan Britania Raya 1846-1852, Sir Charles Wood, mengalokasikan dana pribadi sebesar 200 poundsterling untuk membantu para korban kelaparan di Irlandia. Namun, asisten menteri keuangan itu, Sir Charles Trevelyan, tidak suka dengan penggalangan donasi. Trevelyan hanya menyalurkan 25 poundsterling untuk mereka.
Beberapa politikus Whig, seperti Trevelyan, cenderung menganggap bencana kelaparan yang menerpa Irlandia sebagai “takdir Tuhan” semata. Alhasil, dalam pandangan mereka yang fatalis, hampir tak ada gunanya untuk berbuat banyak dalam mengatasi persoalan tersebut. Padahal, sebagai contoh, Trevelyan sendiri merupakan pemangku kebijakan yang bertanggung jawab langsung atas penerapan kebijakan bantuan sosial.
Dalam bukunya, Pat Coogan juga mengkritik lambannya inisiatif dari pemuka dunia Katolik di Vatikan. Untuk diketahui, mayoritas warga Irlandia merupakan pemeluk Katolik. Paus saat itu mengirimkan dana bantuan sebesar 1.000 poundsterling untuk Irlandia. Namun, Coogan mengatakan, justru kala itu orang-orang Irlandia memberikan lebih banyak ke Vatikan.
Pada 1849, Paus berada dalam pelarian karena kaum republikan untuk sementara waktu mengusirnya dari takhta di Vatikan. Para uskup di Irlandia lantas diperintahkan untuk menggalang dana demi kelangsungan kerja Paus.
Menurut surat Uskup Agung Dublin Dr Murray tertanggal 6 April 1849 yang ditujukan kepada Kardinal Antonelli, “Sejauh ini pengumpulan dana yang dilakukan (gereja-gereja) Dublin mencapai 2.700 poundsterling.” Artinya, lebih banyak 1.700 poundsterling ketimbang bantuan Paus untuk wabah kelaparan Irlandia.

Kebaikan Islam yang Melegenda
Kembali ke soal “empati Irlandia bagi Palestina” kini. Agaknya, satu harapan cerah yang pernah diberikan daulah Islam saat The Great Irish Famine berkobar menjadi sebuah alasan lain.
Ketika rakyat Irlandia dilanda kelaparan hebat pada abad ke-19 M, ada tangan Islam yang membantu mereka. Kisah legendaris ini bermula dari Drogheda.
Drogheda, kota di pesisir timur Irlandia, termasuk yang merasakan dampak dari The Great Irish Famine. Pada Mei 1847, penduduk setempat menyaksikan dari kejauhan kapal-kapal berbendera yang cukup asing bagi mereka: bintang bulan-sabit.
Begitu kapal-kapal itu berlabuh, mereka akhirnya menyadari, itulah bala bantuan yang datang dari negeri yang secara bahasa, kebangsaan, dan iman amat berbeda dari mereka. Negara itu adalah Kekhilafahan Turki Utsmaniyah.
Coogan menjelaskan, Kerajaan Utsmaniyah kala itu dipimpin Abdul Majid I. Meskipun baru berusia 24 tahun, sang sultan merupakan pemimpin yang dihormati dan disegani, tidak hanya di dalam melainkan juga luar negeri.
Hubungan antara Turki dan Britania Raya pun terjalin baik. Pada awal 1847, berita tentang The Great Irish Famine akhirnya sampai di Konstantinopel (Istanbul). Sultan Abdul Mejid I sangat prihatin terhadap penderitaan rakyat Irlandia.
Coogan menceritakan, Sultan Abdul Majid I lantas mengalokasikan dana sebesar 10 ribu poundsterling untuk membantu para korban kelaparan di Irlandia. Rencana itu kemudian didengar pihak kedutaan besar Inggris untuk Turki di Istanbul. Segera saja, sang duta besar Inggris meminta Sultan untuk mengurangi jumlah bantuannya.
Sebab, Ratu Victoria diketahui “hanya” memberikan bantuan sebesar 2.000 poundsterling. Diplomat Inggris itu khawatir, sang ratu akan merasa tersinggung bila jumlah donasinya jauh lebih sedikit ketimbang raja Turki. Apalagi, Irlandia waktu itu merupakan bagian dari kekuasaan Britania Raya.
Sebagai bentuk diplomasi, Sultan Abdul Majid I lantas menyetujui besaran bantuannya dikurangi agar tidak dianggap menyinggung ratu Britania Raya. Akan tetapi, secara diam-diam pemimpin Muslim tersebut mengirimkan tiga atau lima armada laut ke Irlandia.
Kapal-kapal besar itu berisi berbagai kebutuhan pokok, seperti gandum, jagung, madu, pakaian, dan lain-lain. Semuanya ditujukan untuk meringankan beban masyarakat Irlandia.
Angkutan berbendera Turki Utsmaniyah itu sempat diadang angkatan laut Britania Raya begitu hendak mendekati Irlandia. Nakhoda diminta berputar arah, tetapi perutusan Turki di London berhasil meyakinkan pihak militer untuk membatalkan pengadangan. Akhirnya, kapal-kapal kesultanan itu berhasil tiba di Pelabuhan Drogheda pada Mei 1847.
Masyarakat Irlandia menyambut suka cita bantuan dari Kekhalifahan Turki. Orang-orang itu sangat terharu, ada suatu bangsa yang tinggal nun jauh di sana ternyata menaruh kepedulian tehadap nasib mereka.
Hingga saat ini, inisiasi Sultan Abdul Majid I terus dikenang tokoh dan penduduk lokal. Sejumlah pembesar dan bangsawan Irlandia mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada sang sultan atas donasinya untuk penduduk yang dilanda kelaparan. Surat itu saat ini tersimpan di Museum Arsip Turki.
Memori Abadi
Publik Irlandia tak akan pernah melupakan budi baik Turki Utsmaniyah. Sebagai contoh, hotel tempat para pelaut Turki menginap di Drogheda dipasangi plakat sebagai kenang-kenangan akan peristiwa tersebut. Kantor Kedutaan Besar Turki di Dublin juga menampilkan cenderamata dengan pemaknaan yang sama.
Memori pun diabadikan melalui klub sepakbola. Adalah Drogheda United Football Club (FC) yang memakai lambang bintang bulan sabit pada logonya. Klub yang berdiri sejak 1919 itu menampilkan emblem Turki Utsmaniyah itu sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas kebaikan Sultan Abdul Majid I yang telah membantu rakyat Irlandia di tengah wabah kelaparan pada 1847.

The Great Irish Famine 1845-1852 menjadi pelajaran berharga tidak hanya bagi orang Irlandia, melainkan juga umat manusia umumnya. Benarlah argumentasi ekonom peraih Nobel 1998, Amartya Sen, bahwa sering kali kebijakan yang salah justru memperparah krisis pangan sehingga menimbulkan wabah kelaparan yang berkepanjangan.
Dunia juga perlu belajar dari kedermawanan Turki Utsmaniyah. Tidak pandang bangsa dan agama, kekhilafahan yang dipimpin Sultan Abdul Majid I itu dengan ikhlas memberikan bantuan kepada rakyat Irlandia yang dilanda nestapa.***
Wallahu a’lam
***Disadur dari sebuah tulisan Hasanul Rizqa di laman Republika
kembali ke atas | indeks pilihan | download



















Tinggalkan Balasan