Masyarakat di Kabupaten OKU Timur jengkel dengan pelayanan PLN cabang Lahat Ranting Martapura. Pasalnya sejak setahun belakangan ini masalah lemahnya tegangan listrik di wilayah ini tak kunjung diselesaikan pihak PLN. Lemahnya tegangan listrik ini biasanya terjadi setiap hari pada pukul 18.00- 21.00 WIB Masalah semacam ini sudah sangat sering dikeluhkan masyarakat setempat.
Seperti di Kecamatan Martapura dan Belitang. Namun, bukannya membaik malah sebaliknya kondisi bertambah parah. Akibatnya roda pemerintahan hingga denyut perekonomian masyarakat menjadi terganggu. Sehingga sering terjadi kerusakan elektronik akibat tidak stabilnya tegangan listrik.
Saat pantauan SINDO Senin (28/4) di lapangan hampir rata-ratar umah masyarakat di Kecamatan Belitang, walau rumahnya sudah dialiri listrik namun kebanyakan dari mereka, masih tetap memakai genset sebagai alternatif listrik untuk membantu mengatasi penerangan rumah saat beban puncak datang. Seperti yang diungkapkan Nasroh, 60, warga Desa Bedilan 1 Kecamatan Belitang.
Dia mengatakan, pemerintah sekarang ini tidak peduli dengan permasalahan ini, bahkan tetangganya saja ada yang menjadi anggota DPRD OKU Timur tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya mengaku, walau sudah memiliki listrik namun masih tetap memakai genset saat tegangan listrik mulai tidak stabil. Keluhan serupa juga disampaikan Budiono, 37, warga Kecamatan Martapura. Dia mengaku sangat kecewa dengan pihak PLN yang tidak bisa menyelesaikan permasalahan ini.
Ketika dikonfirmasi, Anggota Komisi III DPRD OKU Timur Anton Nurdin Minggu (27/4) mengatakan, dewan tidak bisa juga menyalahkan pihak PLN karena daya aliran listrik yang disalurkan untuk masyarakat OKU Timur memang kurang atau tidak mencukupi bagi kebutuhan listrik warga.
Masyarakat Kabupaten OKUT dan sekitarnya juga harus kembali bersabar, untuk menikmati suplai listrik yang normal. Karena hingga detik ini, Gardu Induk (GI) yang berlokasi di Desa Margo Mulyo Kecamatan Belitang, tak kunjung dioperasikan.
Manager PLN Ranting Martapura Hormat Lumban Raja, ketika ditemui di ruang kerjanya, tak dapat memberikan komentar dan kepastian perihal pengoperasian GI. “Kita juga belum tahu kapan akan dioperasikan, karena yang mengerjakan ini adalah kontraktor langsung dari Jakarta,” terangnya. (marzuki/SINDO)


















Tinggalkan Balasan