PD Pasar Palembang Jaya siap mengambil alih pengelolaan Pasar 16 Ilir Palembang. Pasalnya, hingga kini kondisi pasar masih semrawut dengan prasarana yang kurang memadai.
Direktur Umum (Dirut) PD Pasar Palembang Jaya Syaifuddin Azhar mengatakan, pihaknya tidak percaya bila pengelolaan Pasar 16 Ilir dikatakan merugi. Alasan rugi yang dikemukakan PT Prabu Makmur sebagai pengelola hanya untuk menghindari perjanjian yang belum terpenuhi.
PD Pasar juga mengungkapkan masih banyaknya keluhan dari pedagang terhadap fasilitas yang disiapkan pihak pengelola, misalnya banyak WC yang bocor saat hujan. Selain itu, ruangan yang dirasakanpengapkarenakurang berfungsinya sistem ventilasi.
”Kalau nak mundur, yah silakan. Saya pikir targetnya tidak tercapai karena banyak lapak yang tidak laku. Lantai empat dan lima kosong, paling hanya dipenuhi pedagang baju bekas dengan sewa harian. Kalau begini kita siap mengambil alih Pasar 16 Ilir, termasuk dari segi pendanaannya. Paling cuma perbaikan ringan benerin yang bocor sedikit-sedikit,” ungkapnya.
Mengenai pemutusan kontrak, menurut Syaifuddin, kebijakan itu diserahkan sepenuhnya kepada Pemkot Palembang. Sebab, perjanjian yang telah disepakati sudah berlangsung lama sejak 1995. Pemutusan kontrak sudah diatur dalam perjanjian. Misalkan ada klausul yang mengatur perselisihan dengan musyawarah atau pengadilan.
”Sekarang begini, kalau dia (PT Prabu Makmur) menyerahi urusan ke kita, mengapa kita tidak siap,” bebernya.
Dia mengungkapkan, ihwal Pasar 16 Ilir dikelola PT Prabu Makmur karena pascakebakaran pada 1990-an lalu, keuangan daerah masih belum memungkinkan untuk membangun pasar tersebut dalam waktu singkat. Padahal, kebutuhan masyarakat terhadap pasar sangat tinggi sehingga harus segera dibangun.
”Sehingga datanglah Alai yang siap membangun. Jadi, sedikit banyak dia punya jasa karena sanggup membangun itu,” ujarnya.
Sementara itu, Kabag Perekonomian Setda Kota Palembang Ali Zaman M Nur mengakui fasilitas yang harus disediakan di Pasar 16 Ilir ternyata tidak terealisasi sebagaimana mestinya.
Karena itu, sering mendapat keluhan dari para pedagang. Misalkan saja, tempat parkir dan tangga masuk yang telah dipenuhi pedagang sehingga mengganggu kenyamanan berbelanja. (siera syailendra)***Harian SINDO




















Tinggalkan Balasan