Pembangunan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) yang terletak di Dusun Kerincing, Kota Pagaralam, dinilai tidak sesuai bestek. Ironisnya lagi, proyek yang dibangun sejak November 2007–April 2008 ini, pembangunannya sudah masuk tahap kedua atau tahap pemeliharaan. Namun, bangunan BPP berukuran 16×10 m, yang dibiayai APBD 2007 sebesar Rp173 juta itu, hingga kini belum juga selesai pengerjaannya, sehingga BPP yang diharapkan dapat menjadi wadah atau tempat berkumpulnya bagi petani setempat, belum bisa terealisasi.
Di samping itu, pelaksanaan pembangunan juga terkesan amburadul. Selain plafon bangunan sudah banyak yang rusak, kayu banyak yang lapuk, dan tidak memiliki papan plang proyek. Pemasangan keramik bangunan terlihat asal-asalan dan pengecoran tiang pancang pun banyak menggunakan campuran batu dengan pecahan batu bata. Demikian pantauan SINDO, Rabu (16/4/2008).
Kadus Kerinjing Radius mengatakan, seyogianya pembangunan BPP sudah selesai beberapa bulan lalu, sesuai batas waktu yang ditetapkan saat disepakatinya perjanjian kerja, tapi anehnya, hingga April 2008, bangunan tersebut belum juga selesai.
“Pengerjaan proyek ini sudah tiga kali ganti tukang, dan untuk mendapatkan material yang digunakan untuk membangun gedung, terkadang sering menunggu sampai beberapa hari baru datang,” ujar Radius.
Radius mengaku, dirinya tidak mengetahui secara pasti apa penyebabnya yang pembangunan gedung BPP tersendat-sendat, padahal, kata dia, anggaran yang digunakan cukup besar.
Sementara, jika dilihat dari kondisi fisik dan bahan bangunan yang digunakan, sangat tidak seimbang dengan besaran dana yangdikucurkan, karena selain pembangunan terkesan asal-asalan, material bangunan juga tidak menggunakan bahanbahan yang berkualitas.
“Kita tidak mengetahui dengan pasti bahan-bahan bangunan yang digunakan, tapi yang jelas, jika melihat dari fisiknya saja, kelihatan sekali kalau banyak material bangunan yang tidak sesuai peruntukan seperti kayu, keramik, termasuk juga pengerjaan bangunannya,” tukasnya seraya mengatakan, pengecoran tiang bangunan saja tidak menggunakan batu koral, melainkan dicampur dengan pecahan batu bata.
Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan Pemkot Pagaralam H Safrin Tiaif saat dikonfirmasi tentang masalah ini membenarkan jika pembangunan BPP mengalami keterlambatan. Menurut dia, bahan atau material untuk membangun BPP tersebut, sulit didatangkan, lantaran lokasi pembangunan BPP tidak bisa dijangkau dengan truk, melainkan hanya menggunakan mobil jeep.
“Kita sudah memanggil pihak pelaksana proyek dalam hal ini pihak Tabi’in, termasuk orang yang mengawasi proyek tersebut yakni Agustomo, yang sekaligus juga bekerja sebagai tenaga penyuluh pertanian di Lubuk Buntak,” ujar Safrin seraya menyebutkan, pihaknya juga sudah meminta pelaksana proyek untuk segera menyelesaikan pembangunan proyek BPP tersebut.
Ditegaskan Safrin, jika sebelum batas akhir masa pemeliharaan yakni Juni 2008 mendatang, BPP belum juga selesai. Maka, pihaknya akan melaporkan pelaksana proyek kepada pihak yang berwajib, sebab tindakan tersebut sudah menyalahi ketentuan dan perjanjian dalam proses pengerjaan proyek. (yayan darwansah)***Harian SINDO










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan