Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Prabumulih menerapkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Penerapan sistem tersebut untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi pasien yang berobat ke rumah sakit.
“Penggunaan dan manfaat dari SIMRS itu untuk membantu pihak manajemen rumah sakit dalam mendapatkan informasi-informasi yang cepat dan akurat, sebagai pendukung mengambil kebijakan, mulai dari penyimpanan dan pengolahan data pasien, sampai mengelola aset rumah sakit,” kata Direktur RSUD Kota Prabumulih M Ali Indra Hanafiah kepada SINDO kemarin.
Dia memaparkan, melalui sistem tersebut, seluruh data mengenai RSUD Prabumulih, mulai gaji,pelayanan,pembayaran, hingga pendaftaran, akan masuk ke sentral yang terhubung dengan bagian lain menggunakan sistem local area network (LAN) atau jaringan komputer.
“Kita juga berencana akan memasukkan seluruh data tersebut ke website agar berbagai kemudahan diakses pihak yang ingin mendapatkan informasi mengenai RSUD Prabumulih,” jelasnya. Selain itu, kata Indra, website tersebut untuk mempermudah proses pengiriman data guna kepentingan verifikasi pusat terhadap RSUD Prabumulih.
“Kalau datanya sudah ada di sentral, cukup dengan membuka website dapat dilihat, atau kita kirimkan datanya melalui jaringan. Pokoknya seluruh informasi RS dalam satu sistem,” tandasnya.
Menurut Ali Indra, cukup banyak manfaat menggunakan sistem tersebut, antara lain mempermudah akses informasi mengenai RS. Dengan menggunakan SIMRS tersebut, pihak rumah sakit dapat mengontrol uang keluarmasuk sehingga dapat mengurangi kebocoran.
“Termasuk, cara pembayaran yang menggunakan sistem billing akan diganti dengan sistem pembayaran networking. Diharapkan tidak ada lagi antrean panjang di loket-loket pembayaran di rumah sakit,” jelasnya. Dia menambahkan, kalau sistem tersebut berjalan, tidak ada lagi istilah karyawan RS yang memegang uang pembayaran berobat pasien.
“Kalau dipegang karyawan, dikhawatirkan uangnya terpakai atau hilang,” cetusnya. Namun, kata dia, konsekuensi dari sistem pembayaran networking, secara tidak langsung harus menyiapkan counter bank yang dibuka selama 24 jam untuk melayani pembayaran. “Nah, untuk front office-nya mungkin bekerja bergantian secara shift-shift-an,”imbuhnya.
Dalam menerapkan sistem baru tersebut, pihaknya pun membutuhkan tenaga SDM yang andal guna menjalankan dan mengoperasikan sistem tersebut. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 9 bulan untuk pelatihan program peningkatan SDM.
Mengenai dana yang dibutuhkan untuk pembuatan SIMRS, Ali Indra mengaku pihaknya telah menganggarkan dana sekitar Rp3 miliar melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2008 yang bakal digunakan untuk keperluan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan biaya pelatihan (brainware).
“Kita berharap, program ini cepat terealisasi agar bisa mewujudkan Kota Prabumulih Sehat 2008 ini,” harapnya.
Terpisah, anggota DPRD Kota Prabumulih Edison menyambut baik program RSUD Kota Prabumulih yang bakal menerapkan program SIMSR. Menurut Edison, program ini untuk meningkatkan pelayan kepada pasien serta meningkatkan standardisasi RSUD Prabumulih. (sutami ismail/SINDO)


















Tinggalkan Balasan