Beliaulah Sayyid AI Imam, Al Habrur Humam, Dzul Aqlil Kabir wal Qalbi Mustanir, Abu Syuyukh Ainus Sadatil Akabir, Aslul Nujum Az Zawahir, penghidup sunnah Nabawi dari kepunahannya, Sihabuddin AI Muhajîr Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin Ja’far As Sadiq.

Beliau ra (semoga Allah memberi imbalan atas jasa-jasa beliau terhadap kita semua) termasuk sosok yang memiliki budi luhur yang tinggi, kepribadian yang luar biasa, kedermawanan dan kemurahan hati yang luas, yang terbebas dari berbagai sifat yang buruk.
Beliau berasal dari Irak tepatnya di kota Basrah, setelah nilai-nilai ibadahnya semakin sempurna, batin beliau telah terpancari cahaya kewalian, disenai rahasia keistimewaan juga akal pikiran yang besar dan karena rahasia asal usul yang baik nampaklah di hadapan beliau hakikat dampak dari segala perkara, terkuaklah bagi beliau hakikat kehidupan dunia dan akhirat beserta dampak baik dan buruknya.
Mata batinnya menyaksikan fitnah dan cobaan dalam agama yang akan terjadi di Irak hingga hal ini mendorong beliau untuk berhijrah, mematuhi perintah Tuhannya:

Juga mengikuti jejak kakeknya Rasulullah saw yang menyuruh hijrah dari tempat-tempat yang penuh fitnah agama, beliau berhijrah pada tahun 317 H.
Sebelumnya di Irak beliau adalah seorang yang kharismatik diterima oleh segala kalangan, kehidupan yang nikmat dan sentausa, tetapi pikiran terang beliau dan keluasan ilmu beliau membuka cakrawala pandangan akan bahaya racun hawa nafsu juga menguak pandangan bahwa kebahagiaan terbesar dan kedudukan tertinggi ialah kelezatan memandang kepada wajah Allah yang Maha Tinggi, hal inilah yang membuat hati beliau tidak menginginkan apapun selain kenikmatan ini.
Sehingga beliau berhijrah untuk menyelamatkan diri, agama dan keluarganya juga setelah berunding dengan kerabat dan para sahabatnya tentang tempat yang akan beliau tuju untuk menuju ridha Tuhannya. Inilah yang membuat beliau rela menanggung segala kepayahan semata-mata untuk mencari pahala besar, keridhaan Tuhan, di samping melarikan diri dari kesenangan duniawi menuju ke hadirat keridhaan Allah untuk mencari kebahagiaan tertinggi, dan kedudukan yang tinggi melalui susahnya hidup di negeri orang, seperti yang disebutkan oleh Nabi saw:

Dengan tekad yang bulat beliau berhijrah bersama keluarganya dari kota Basrah menuju kota Madinah, setelah itu berpindah lagi ke kota Makkah dan pada akhirnya beliau berpindah ke desa-desa di Yaman, dari satu desa ke desa lainnya hingga pemberhentian terakhirnya di propinsi Hadramaut dan keturunan beliau bertempat di kota Tarim.
Beliau dalam menghadapi segala urusananya selalu mengedepankan permohonan pilihan terbaik dari Allah, beliau sering melakukan shalat istikharah berkali-kali, hal ini semua berdasarkan ilham dan isyarat illahi terutama dalam menempatkan dan meneruskan keturunan Nabawi Al Alawy di daerah yang terlindungi ini berkat Rasulullah saw.
Hal ini dibuktikan oleh mimpi salah seorang shalihin yang bermimpi melihat Rasulullah saw berpesan kepada penduduk Tarim: “Sesungguhnya kami memiliki titipan pada kalian, barangsiapa yang membuatnya marah berarti ia telah membuat kami marah dan barangsiapa yang membuatnya senang berarti ia telah membuat kami senang.”
Mengenai keturunan ini Sayyidina Syeikh Al Imam Ali bin Abu Bakar Al Alawy mengatakan dalam syairnya:
Betapa agungnya para Saadah yang mana dalam nasab mereka mengemban
Kemuliaan yang sangat agung, terus bersambung dan tinggi
Merekalah Banu Alawy kalangan mulia hingga berkat mereka
Kota Tarim berikut penghuninya menjadi mulia dan dibanggakan
Para pecinta dan tetangga mereka menjadi terangkat berkat kemuliaan mereka
Anugerah kemuliaan siraman mereka senantiasa meliputi yang jauh juga
Rahasia-rahasia mereka terpancar dari lautan Ahmad (Rasulullah saw)
Mengalir dalam kemuliaan mereka tersebar ke seluruh penjuru
Merekalah keturunan agung dan cikal bakal keluarga Muhammad saw
Wahai Dzat yang maha pengasih berkat mereka kami mohon perbaikan keadaan
Liputilah kami kemuliaan, kelembutan dan keridhaan-Mu
Dan tutupilah segala aib kami serta ampunilah dosa-dosa kami
Imam Ahmad bin Isa berhijrah membawa anaknya Ubaidillah, beserta ketiga cucunya yaitu : Alawy (nenek moyang Bani Alawy), Basri (nenek moyang Bani Basri) dan Jadid (nenek moyang Bani Jadid) ke propinsi Hadramaut. Perlu diketahui mereka semuanya adalah kalangan Saadah yang mulia bermadzhabkan ahlu sunnah waljama’ah, termasuk para ulama amilin yang telah merasakan manisnya ilmu juga kokoh kesalehnnya.
Syeikh Al Imam Fadl bin Abdullah bin Fadl berkata: “Aku bersyukur kepada Allah karena sebuah perkataan yang terucap dari lisanku:
“Barangsiapa yang tidak berprasangka baik kepada Bani Alawy, maka pada dirinya tidak ada kebaikan sama sekali.”
Beliau memiliki rasa cinta dan ketulusan yang murni kepada Bani Alawy, beliau dikenal sebagai orang yang selalu takut kepada Allah, selalu introspeksi diri, sangat wara’ dan menjauhi perkara yang tidak ada manfaatnya, meski demikian beliau banyak memuji kalangan Bani Alwy juga sangat menghormati mereka, bahkan beliau mencela orang-orang yang melalaikan kedudukan mereka, hingga pernah beliau mengecam orang yang menghinakan mereka, inilah bukti nyata bahwa beliau benar-benar menyelami hakikat ilmu agama, hati beliau dipenuhi keteguhan mengikuti jejak Rasulullah saw, dan mata batin beliau telah tersingkap hijab-hijabnya untuk dihiasai Haqqul Yaqin.
Suatu kali Syeikhah Sulthanah binti Ali Al Zubaidi ra pernah bermimpi melihat Nabi saw memasuki rumah salah seorang Ba’alawy sambil berkata : “Inilah rumah para kekasih, inilah rumah para kekasih.”
Guru kami Al Habib Abdullah bin Alwy Al Hadad telah memberikan ungkapan yang sangat indah dalam sebuah qosidahnya mengenai mereka:
Beliau (Ahmad bin Isa) menjaga diri dari duniawi, berhijrah berlari
Menuju Allah dan menghindar dari kejadian yang sangat berbahaya
Dari kota Basrah yang hijau dan rindang beliau mengarungi berbagai desa
Disana beliau juga mengalami berbagai cobaan yang sangat berat
Hingga sampailah di lembah yang penuh barokah ini lalu beliau rela
Dan menancapkan paku-paku kemahnya untuk tinggal disini
Akhirnya beliau menetap dan bermukim disini
Dengan keturunannya yang terkendalikan dengan pendidikan
Kebaikan, ketakwaan, budi pekerti yang luhur
Sifat-sifat terpujl yang menyamai orang-orang yang mulia itu
Berkat mereka lembah ini menjadi sentausa, makmur
Aman dan terjaga tanpa diragukan sedikitpun
Hingga ungkapan beliau dalam syairnya :
Merekalah adalah pewaris para nabi, golongannya
Keturunannnya, tidak peduli anggapan orang-orang yang pura-pura buta
Dalam qosidah ini beliau mengisyaratkan tentang Imam Ahmad bin Isa beserta sepupu beliau yang menyertainya yaitu leluhur Bani Ahdal dan Bani Qudaim.
Ketika adik beliau Al Imam Muhammad bin Isa memerintah lrak, beliau mendatanginya dan memberinya nasehat yang sangat membekas hingga Imam Muhammad ini meninggalkan tampuk kepemimpinan dan beralih mengurus akhiratnya sebagai bentuk mengikuti jejak para salaf nya yang mulia.
Di Irak ada salah seorang putera beliau yang menetap disana yaitu Muhammad bin Ahmad bin Isa, ia mengurusi harta mereka di Basrah, ia meninggal disana dan masih memiliki keturunannya di Basrah. Adapun Imam Ahmad bin Isa meninggal dunia pada tahun 354 H.

Di antara hal-hal yang mendorong beliau untuk berpindah ke Hadramaut ialah di negeri beliau telah dikuasai oleh ahlul bid’ah di samping adanya berbagai gangguan yang mengusik para keturunan nabi juga munculnya golongan Zanj yang terlaknat, mereka memecah belah kaum muslimin, menguasai kota Basrah dan daerah-daerah sekitar, mereka merampas para isteri kaum muslimin dan memperkosa mereka dengan bayaran dua dirham, dalam sehari mereka berhasil membunuh tiga ratus ribu orang.
Bahkan menurut Ash Shuli jumlah korban pembunuhan mereka dalam kejadian itu sekitar satu juta lima ratus ribu orang, permimpin mereka Bahbul mengaku dirinya adalah Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zaenal Abidin, nasab ini jelas tidak benar bahkan ia berasal dari golongan ahlu bid’ah Azariqah yang mencela Sayyidina Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah.
Yang memegang kursi khalifah kala itu adalah Al Mu’tamid bin Al Mutawakil, khalifah yang selalu mengumbar hawa nafsunya dalam kenikmatan sedangkan urusan kerajaan dipegang oleh saudaranya Al Muafaq, ia diperangi dan dibunuh oleh Bahbul, lalu timbullah bencana berhembusnya angin kuning kemudian berubah menjadi hijau lalu menghitam ke berbagai negeri, setelahnya timbullah cuaca dingin yang mencekam hingga menghasilkan bongkahan es, berat bongkahan itu seukuran uang seratus lima puluh dirham, tak selang berapa lama mereka dihujani bebatuan hitam dan putih.
Sedangkan di Bahrain muncullah golongan ahlu bid’ah Al Qurmuthi di bawah pimpinan Abu Sa’id Al Qurmuthi yang dinisbatkan pada salah satu desa di Washit, kelompok ini semakin banyak lalu bergabung dengan sisa golongan Zanj, kemunculannya sekitar tahun 280 H dan berlangsung hingga ia meninggal sekitar tahun 360 H, golongan ini menyerang Basrah tahun 287 H, kala itu mereka dihadang oleh Al Abbas Al Ghanawi bersama sepuluh ribu pasukannya, tetapi ia dan pasukannya berhasil dihancurkan oleh golongan Al Qurmuthi, ia sendiri dibunuh, dibakar sedangkan pasukannya ditawan. Selanjutnya golongan ini menyerang Al Mu’tadzid lalu menyeberangi lautan dan membuat berbagai kerusakan.
Kala itu angin keras berhembus ke Basrah hingga mencabut kebanyakan pohon kurma disana dan timbullah berbagai macam penyakit di Irak di tahun 300 H, disamping munculnya anjing-anjing dan serigala kelaparan yang menyerang penduduk Irak hingga menimbulkan banyak korban. Irak menjadi semakin hancur dengan masuknya golongan Al Qurmuthi ke Basrah, disana mereka membunuhi orang-orang, merampas dan menawan mereka, merusak kehormatan kaum wanitanya, dikarenakan putus asa banyak orang yang melemparkan diri ke laut, hal ini juga terjadi tahun 300 H.
Pada tahun 309 H terjadi berbagai macam fitnah dan kegentingan di Irak, Al Husain bin Mansyur Al Halaj terbunuh di kota Baghdad lalu pada tahun 317 H, Imam Ahmad bin Isa berhijrah bersama keluarga dan handai taulannya.
Di antara handai taulan beliau adalah Mukhaddam seorang Arab Basrah dan termasuk pembantu pilihannya, begitu juga Syawih, mereka semua memiliki keturunan yang terhormat di Hadramaut.
Sebelumnya telah kita ketahui beliau juga disertai oleh leluhur Bani Ahdal. Berbicara tentang Bani Ahdal, sebenarnya kalimat Al Ahdal berasal dari kata Hadalah yang berarti yang paling dekat, sedangkan menurut Imam Al Fakihi: Dinamakan Al Ahdal karena menunjuk ke jalan Tuhan.
Di antara mereka adalah Ali bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubaid bin Isa bin Alwy bin Muhammad bin Jimjam bin Auf bin Imam Musa Al Kadzim bin Ja’far Sadiq, tetapi mereka menyembunyikan identitas saadah mereka, begitu juga Bani Qudaim jalur mereka kembali kepada Muhammad Al Jawad bin Ali Ridha bin Musa Al Kadzim bin Ja’far.

Pada tahun 318 H, Imam Ahmad bin Isa beserta rombongannya yaitu sepupunya dan handai taulannya menunaikan ibadah haji yaitu sekitar tahun ke 2 sejak beliau keluar dari Basrah, ketika tiba di Hadramaut beliau masuk dan tinggal di kota Hajrain, disana beliau membeli perkebunan kurma dan beberapa hektar tanah seharga 1500 dinar lalu beliau menghadiahkannya kepada pembantunya yang bernama Syahwih, dari sana beliau berpindah di sebuah tempat yang bernama Qarah Bani Jusyair atau Jusyaib, disana beliau merasa kurang nyaman hingga akhirnya beliau menetap di daerah
Husaisah sebuah desa sekitar beberapa kilo dari Tarim, beliau membeli beberapa hektar tanah di daerah Shauh yaitu dari tempat beliau sekarang sampai bagian atas kota Baur (di kota ini terdapat sumur terkenal yang digali oleh cucu beliau Alwy bin Ubaidillah bin Ahmad lalu dikelilingi dengan batu-batu besar dan pada tiap batu itu beliau menulis namanya).
Ketika Imam Ahmad mulai bermukim disana banyak orang-orang saleh yang mengunjungi beliau, beliau berperan besar dalam mengembalikan aqidah ahlu sunnah waljama’ah disana hingga banyak kalangan yang bertaubat di tangan beliau dan banyak orang yang kembali ke jalur akidah yang benar sehingga terselamatkanlah akidah keturunan dan pengikut beliau dari ajaran bid’ah yang berasal dari Irak dan keturunan beliau menjadi paku bumi bagi propinsi itu.
Setelah itu lmam Ahmad bin Isa berpindah ke sebelah timur lembah Husaisah atau yang lebih dikenal dengan lembah mukhaddam. Tempat ini sering diziarahi oleh para pembesar Saadah Bani Alawy terutama Syeikh Abdurrahman Assegaf dan Syeikh Abdullah Al Aydrus keduanya berulang kali mengunjungi tempat itu, dahulu Husaisah adalah sebuah desa yang makmur hingga pada tahun 839 H desa ini dihancurkan oleh Aqil bin Isa Ash Shabarati.***
Wallahu a’lam
***Riwayat dan Wasiat Para Wali & Shalihin; Al Habib Ahmad bin Zain Al Habsyi; Ahmad Yunus Al0Muhdhar; Cahaya Ilmu Publisher, 2022; halaman 189-196
kembali ke atas | indeks pilihan | download | iklan kecik










![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan