Ahmad Syafii Maarif | Fitriyan Zamzami | Republika
Penulis Inggris John Rose tidak banyak dikenal publik dunia; dia dosen Sosiologi pada Southwark College dan Universitas Metropolitan London. Tetapi, penentangannya terhadap proyek Zionisme yang ekspansionis dengan mengorbankan orang Arab lebih setengah abad yang lalu, patut mendapat perhatian.

Via internet, saya (Buya Syafii Maarif) menemukan tulisan Rose dengan judul Why Zionism is Wrong dalam Just Commentary Online (Maret 2008, hlm 1-2) yang saya sarikan di bawah ini, dengan tambahan informasi di sana-sini di mana perlu. Di bagian akhir, akan saya berikan sebuah komentar tentang kesulitan yang dihadapi Obama dalam masalah konflik Israel-Palestina ini.
Seperti kita ketahui, negara Israel yang berdiri pada 1948 sepenuhnya mendapat dukungan Inggris, setelah 30 tahun sebelumnya didahului oleh Deklarasi Balfour November 1917 untuk pada suatu saat negara Zionis itu harus menjadi kenyataan. Arthur James Balfour (1848-1930) dari Partai Konservatif, pernah menjabat perdana menteri Inggris dan sebagai menteri luar negeri pada saat Deklarasi Balfour itu dikeluarkan.
Isi pokok deklarasi ini adalah sebuah janji bahwa di tanah Palestina akan didirikan sebuah negara Zionis dan Balfour telah berupaya mendapat sokongan dari beberapa negara Barat, khususnya Amerika Serikat untuk proyek itu. Dengan demikian, Inggris sangat berjasa bagi berdirinya negara Israel di tengah bangsa Arab yang sering tak berdaya karena perpecahan yang selalu saja melanda mereka.
Pernyataan pertama Rose berbunyi: “Ideologi resmi negara Israel, Zionisme, telah menjadi malapetaka, baik bagi orang Yahudi maupun bagi orang Arab, yang mengabaikan sejarah hidup berdampingan secara damai yang pada masa dulu merupakan norma di seluruh Timur Tengah. Zionisme mengklaim bahwa orang Yahudi punya hak untuk kembali ke tanah itu di mana agama mereka, Yudaisme, berakar, dengan tujuan menciptakan sebuah negara Yahudi eksklusif. Tanah Palestina adalah sebuah pusat penting bagi tiga agama monoteisme yang akarnya terdapat di Timur Tengah–Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tak satu pun di antara mereka dapat menyatakan klaim eksklusif sebagai pemilik tanah itu.”
Rose membantah klaim Zionisme yang mengaku bahwa Imperium Romawi telah meruntuhkan kuil Yahudi di Yerusalem pada tahun 70 M. Kenyataannya, sebagian besar orang Yahudi sudah tinggal di luar tanah Palestina pada masa Imperium Romawi itu. Sepanjang masa Imperium Romawi dan sesudahnya, diaspora Yahudi telah berkembang. Terdapat, misalnya, pusat kerajinan tangan mereka di kota pelabuhan Iskandaria, Mesir, jauh sebelum berdirinya Imperium Romawi. Juga, terdapat pusat agama Yahudi di Babilonia, mulai 500 tahun sebelum Imperium Romawi dan masih berlangsung ratusan tahun sesudah itu. Kehidupan orang Yahudi di lingkungan non-Yahudi telah membentuk basis yang real dan dinamis bagi sejarah Yahudi.
Di Eropa, umat Kristen telah membinasakan orang-orang Yahudi karena alasan agama dan ekonomi. Di abad pertengahan, orang Yahudi punya peran dagang ekonomi yang istimewa. Mereka tak diizinkan punya tanah, tetapi sebagai pedagang dan saudagar mereka melayani ekonomi feodal yang tertutup. Penguasa Kristen Eropa telah menggunakan dan menyalahgunakan mereka. Tidak jarang orang Yahudi diberi hak istimewa dan ini telah memicu keresahan di kalangan petani. Juga, ini berarti bahwa orang-orang Yahudi telah dijadikan kambing hitam terbaik bagi penguasa bila saja pemerasan mereka atas petani menimbulkan kerusuhan dan kegoncangan yang meluas. Protes anti-Semitisme marak di mana-mana.
Era pencerahan dan revolusi-revolusi Amerika dan Prancis pada abad ke-18 telah meletakkan dasar dalam mengatasi kecenderungan anti-Semitisme. Revolusi-revolusi ini telah menjamin hak-hak sama yang resmi bagi orang-orang Yahudi, sekalipun mereka harus berjuang untuk pelaksanaannya. Gesekan kreatif antara Yudaisme yang terbebaskan dan Gerakan Pencerahan telah melahirkan minda-minda (minds) besar Eropa abad ke-19 dan awal abad ke-20, seperti Karl Marx, Sigmund Freud, dan Albert Einstein. Kultur Eropa telah diperkaya oleh sumbangan tokoh-tokoh Yahudi itu.

Akar Zionisme yang berkembang kemudian semula berawal di Eropa Timur. Di akhir abad ke-19, lebih dari separuh orang Yahudi sedunia hidup di tengah-tengah imperium Tsar Rusia yang sedang oleng. Modernisasi Eropa menantang penguasa-penguasa feodal ini. Revolusi mengancam untuk menghabisi mereka dan orang-orang Yahudi dijadikan kambing hitam.
Tsar Rusia telah berlaku kejam terhadap orang Yahudi. Maka, mulailah mereka pindah ke Eropa Barat dan Amerika. Tetapi, di antara mereka ada sekelompok kecil yang menerima imbauan yang sedang muncul dari kaum Zionis dan pergilah mereka ke Palestina.
Dengan kejadian ini bermulalah sebuah sejarah panjang yang kemudian berdarah-darah antara pendatang Yahudi di Palestina dan bangsa Arab. Sampai di awal abad ke-21 ini, perdamaian abadi belum lagi menjadi kenyataan di kawasan itu. Amerika dan Eropa Barat punya kepentingan strategis terhadap negara Zionis Israel. Pendatang Yahudi dari Eropa Timur ini merupakan inti pendudukan Zionis di Palestina. Rose menulis: “Zionisme adalah sebuah gerakan kolonial yang didukung oleh kekuatan-kekuatan imperial Barat.”
Pendatang-pendatang Zionis mulailah menggusur petani-petani Arab yang telah mengerjakan tanah selama berabad-abad di sana. Zionisme adalah juga sebuah proyek imperialisme Barat. Inggris menduduki Palestina sebagai buah kemenangannya dalam PD (Perang Dunia) I. Winston Churchil pada 1921 mengatakan, “Zionisme baik bagi Yahudi dan baik bagi Imperium Inggris.”
Pasca-Perang Dunia (PD) II, Amerika Serikat telah menjadi kekuatan dominan di kawasan itu, dan selalu mendukung Israel. Presiden Ronald Reagan tahun 1981 menjelaskan, ”Dengan sebuah militer yang berpengalaman tempur, Israel adalah sebuah kekuatan di Timur Tengah yang sungguh bermanfaat bagi kita. Sekiranya tidak ada Israel dengan kekuatan itu, kita harus menyuplainya dengan kekuatan sendiri.” Di akhir abad ke-20, Amerika telah mengucurkan dana sebesar 100 miliar dolar AS demi mendukung Israel. Karena dukungan dahsyat inilah Israel tetap bertahan, tetapi untuk berapa lama?
Usai PD II, pihak Zionis menjadikan pembinasaan Nazi terhadap orang Yahudi di Eropa sebagai pembenaran bagi terbentuknya negara Israel tahun 1948. Ini sama sekali tidak dapat dibenarkan. Nazi yang punya ulah, mengapa tanah Palestina yang dikorbankan? Pada saat itu hampir satu juta rakyat Palestina dipaksa meninggalkan tanah airnya bagi terwujudnya negara Israel itu. Dengan kata lain, rakyat Palestina diharuskan membayar ongkos pembunuhan Nazi terhadap Yahudi. Cara yang semacam ini tidak lain dari pada penyalahgunaan memori yang serius terhadap salah satu kejahatan yang paling buruk dalam sejarah.
Struktur negara Zionis menghalangi sebuah perdamaian yang wajar karena ia memberikan keistimewaan kepada orang Yahudi atas pengorbanan orang Arab. Hubungan Arab-Yahudi jauh lebih baik sebelum kedatangan pendudukan Zionis, sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari masa lampau itu. Bahkan, sarjana sayap kanan Yahudi, Bernard Lewis, mengakui apa yang disebutnya sebagai ”simbiosis” Arab Islam-Yahudi pada puncak peradaban Islam, sebuah hubungan yang subur antara kedua bangsa dan sebuah kultur ”Islamic-Judeo” telah terbentuk.
Di Irak misalnya, pasca-PD II, ada pemberontakan massal, al-Wathbah/Lompatan, terhadap pemerintah monarkis boneka. Tidak sedikit anak muda Yahudi Irak yang terlibat dalam pemberontakan itu, bahkan kaum Zionis mengakui ”era persaudaraan” ini, sedangkan gagasan untuk pindah ke Palestina pada waktu itu masih terlihat ”jauh”. Amat disayangkan, gerakan ini dikalahkan, kemudian kaum Zionis, Amerika, Inggris, dan pemerintah Irak memaksa penduduk kuno Yahudi itu hijrah ke Israel. Ini adalah tragedi yang hanya sedikit dikenal pada abad yang lalu.
Di awal abad itu, tidak kurang dari sepertiga di antara 100 pemusik puncak Irak adalah orang Yahudi. Bukankah semuanya ini sedikit dapat dijadikan sinar untuk meneropong masa depan yang sangat berbeda? Akhirnya catatan dari ASM. Banyak orang berharap bahwa Amerika di bawah Barack Obama akan mau belajar secara cerdas dan jernih dalam upaya turut menciptakan sebuah dunia yang lebih damai, termasuk penyelesaian sengketa Arab-Israel di atas. Jelas tidak mudah karena trauma sejarah yang begitu gelap telah menghantui dunia Arab yang selalu merasa ditipu pihak Barat dan Zionis.
Sisi lain, sebagaimana telah disinggung di atas, perpecahan yang terus melanda dunia Arab pasti telah menguntungkan pihak Zionis untuk terus bercokol di tanah Palestina. Tetapi, siapa tahu dengan rekaman Rose di atas, dunia beradab akan tersentak, karena ternyata hubungan Arab-Yahudi pra-Zionisme pernah bagus dan saling mengisi.***
Wallahu a’lam
***Tulisan Buya Ahmad Syafii Maarif (1935–2022) ini disadur dari Harian Republika edisi 9 dan 16 Desember 2008 dan dimuat ulang di laman Republika

kembali ke atas | indeks pilihan | download










![[Haji 2026] Dikelola Resmi, Pembayaran Dam Jemaah Haji Indonesia Jadi Catatan Sejarah](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-17651238078967579517144181915436.jpg)









Tinggalkan Balasan