infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Menyangkal Mitos-Mitos Buatan Zionis

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Oleh FITRIYAN ZAMZAMIRepublika

Pendirian negara Israel sejak mula didasari sejumlah asumsi. Hingga saat ini, propaganda-propaganda itu terus digaungkan pemerintahan Israel melalui program hasbara. Tak jarang, mitos-mitos itu menyesap dalam pembelaan terhadap Israel, bahkan hingga ke Tanah Air.

Kunci simbol Nakba alias pengusiran Palestina pada 1948. Zionis menggunakan sejumlah mitos untuk propaganda pendirian Israel. | EPA — Republika

Sejarawan Ilan Pappe yang sedianya seorang beretnis Yahudi pada 2018 melansir buku Ten Myths About Israel guna menangkal mitos-mitos itu. Ia menggunakan arsip-arsip sejarah guna menguatkan argumennya.

Tanah tak Bertuan

Salah satu mitos utama Zionis adalah bahwa wilayah Palestina adalah negeri tak bertuan dan tak didiami sejak bangsa Yahudi diusir imperium Romawi pada 70 masehi. Mitos ini untuk menguatkan argumen bahwa Israel bukanlah kolonialisme.

Arsip sejarah menunjukkan sebaliknya. Pada masa Utsmaniyah, Palestina adalah wilayah yang sudah semarak dengan berbagai wilayah yang maju perdagangannya. Selama 400 tahun penguasaan Utsmaniyah, bahkan sebelumnya, bangsa Arab sudah jadi mayoritas di tanah tersebut. 

“Periode Ottoman dimulai pada 1517 dan berlangsung selama 400 tahun. Ketika Ottoman tiba, mereka menemukan masyarakat yang sebagian besar adalah Muslim Sunni dan penduduk pedesaan, dengan sejumlah kecil elite perkotaan yang berbicara bahasa Arab. Kurang dari 5 persen penduduknya adalah Yahudi dan mungkin 10 hingga 15 persen beragama Kristen.”

Suasana pelabuhan Jaffa pada masa Turki Utsmani. – (Dahesh Museum/Gustav Bauernfeind)

Menurut Pappe, sudah banyak juga sarjana Israel yang menentang narasi palsu ini, di antaranya David Grossman (penulis demografi bukan novelis), Amnon Cohen, dan Yehoushua Ben-Arieh. Penelitian mereka menunjukkan bahwa, selama berabad-abad, Palestina, bukannya gurun pasir, adalah masyarakat Arab yang berkembang pesat

Menurutnya, Palestina mulai berkembang sebagai sebuah negara jauh sebelumnya kedatangan gerakan Zionis. “Di tangan penguasa lokal yang energik seperti Daher al-Umar (1690-1775), kota Haifa, Shefa Amr, Tiberias, dan Acre direnovasi dan diberi energi kembali. Jaringan pelabuhan dan kota pesisir berkembang pesat melalui hubungan perdagangannya dengan Eropa, sementara dataran dalam melakukan perdagangan ke pedalaman dengan wilayah sekitarnya. Palestina bukan gurun seperti yang digambarkan.”

Bangsa tak Bertanah Air

Mitos selanjutnya adalah soal klaim bahwa bangsa Yahudi tak punya Tanah Air sehingga harus menempati negara sendiri di Palestina. Pappe mencatat, sebelum gerakan Zionisme menguat pada akhir abad ke-19, mayoritas bangsa Yahudi sudah mulai berasimilasi di berbagai kota di Eropa. Mereka menjalankan agama secara privat dan menduduki posisi-posisi penting. 

Etnis Yahudi di Eropa pada abad ke-19. – (Lviv Center)

Menurut Pappe, bukan bangsa Yahudi yang awalnya punya ide soal Zionisme alias kepulangan ke wilayah Palestina. Ide itu justru didorong sebagian tokoh Kristen, utamanya yang berdenominasi Anglikan di Inggris. Bagi tokoh-tokoh Kristen ini, pembentukan negara untuk Yahudi di Yerusalem punya dua “manfaat”. Pertama, untuk menuntaskan pengusiran Yahudi dari Eropa yang sudah berulang kali coba dilakukan berbagai kerajaan di Eropa sejak abad ke-11

Kemudian, sebagian tokoh Kristen menilai, pemindahan Yahudi ke Yerusalem akan mempercepat pembangunan kembali Kuil Sulaiman yang mereka yakini akan memperlekas kedatangan Sang Mesias. Tak heran, tokoh-tokoh pendukung Zionisme di Inggris seperti Lord Balfour adalah Kristen yang taat. Hingga pertengahan abad ke-19, umat Yahudi di Eropa masih bersiteguh bahwa rumah mereka adalah negara-negara di Eropa.

Zionisme adalah Gerakan Relijius

Mitos selanjutnya adalah bahwa pendirian negara Israel adalah tugas keagamaan umat Yahudi. Sebaliknya, mayoritas umat Yahudi yang taat pada abad ke-19 hingga menjelang pendirian negara Israel pada 1948 menolak Zionisme karena bertentangan dengan Taurat. Umat Yahudi yang taat meyakini bahwa Mesias harus tiba lebih dulu sebelum mereka boleh kembali ke Yerusalem. 

Anak-anak Yahudi Orthodoks anti-Zionis mengikuti berunjuk rasa membela Palestina di Washington, Sabtu, 4 November 2023. – (AP Photo/Amanda Andrade-Rhoades)

Penggunaan teks-teks keagamaan untuk mendukung Zionisme justru dilakukan oleh tokoh-tokoh sekuler dan Marxis pendukung Zionisme. “Orang-orang yang tak percaya Tuhan justru menggunakan sabda Tuhan,” kata Pappe. Sampai saat ini, sebagian Yahudi Ultra Ortodoks masih terus menentang Zionisme.

Saat ini, penggunaan teks-teks relijius Yahudi untuk menguatkan keberadaan Israel justru tambah parah. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, misalnya, mencap warga Arab Palestina sebagai Bangsa Amalek, bangsa yang disebut dalam Alkitab dimusnahkan oleh Raja Saul seturut perintah Nabi Samuel. 

Garis Keturunan Nabi Daud

Klaim lain yang digunakan propagandis Israel adalah bahwa imigran yang kembali ke Palestina adalah bangsa Bani Israel yang diusir Romawi 2.000 tahun lalu. Pappe menyatakan, klaim ini sebenarnya masih diperdebatkan. 

Menurut dia, Arthur Koestler (1905-83) menulis “The Thirteenth Tribe” (1976) di mana ia mengemukakan teori bahwa para pemukim Yahudi adalah keturunan Khazar, sebuah negara Turki di Kaukasus yang berpindah agama ke Yudaisme pada abad ke-8 dan kemudian dipaksa masuk ke dalam agama Yahudi untuk bergerak ke arah barat

Relief kemenangan Romawi di Yerusalem di Arc of Titus di Roma, Italia. – (Public Domains)

Para ilmuwan Israel sejak itu mencoba membuktikan bahwa ada hubungan genetik antara orang-orang Yahudi di Palestina Romawi dan orang-orang Palestina saat ini. Perdebatan itu berlanjut hingga hari ini.

Orang Arab Palestina Membenci Yahudi

Salah satu argumen yang dipakai untuk melakukan pembersihan etnis Arab dari Palestina oleh Zionis adalah asumsi soal antagonisme Arab terhadap Yahudi. Melalui penelaahan arsip-arsip terdahulu, Pappe menyangkal juga mitos ini.

“Sejak awal, perlawanan Palestina digambarkan dilatarbelakangi oleh kebencian terhadap orang Yahudi. Buku harian para Zionis awal menceritakan kisah yang berbeda. Buku harian tersebut penuh dengan anekdot yang mengungkapkan bagaimana para pemukim diterima dengan baik oleh orang-orang Palestina, yang menawarkan mereka tempat tinggal dan dalam banyak kasus mengajari mereka cara mengolah tanah.”

“Hanya ketika menjadi jelas bahwa para pemukim tidak datang untuk hidup berdampingan dengan penduduk asli, namun untuk menggantikan mereka, barulah perlawanan Palestina dimulai. Dan ketika perlawanan itu dimulai, hal itu dengan cepat mengambil bentuk perjuangan anti-kolonialisme lainnya.”

Imigran Yahudi yang melarikan diri dari Nazi Jerman tiba dan meminta perlindungan pada warga Palestina. – (ABF Museum)

Negara Terpisah

Saat ini Israel secara dejure dan defacto adalah satu-satunya negara di dunia yang didasari keunggulan etnis tertentu, yakni Yahudi. Mereka mengatakan, hal ini karena pembentukan satu negara yang setara untuk semua pihak ditolak etnis Arab di Palestina. Kenyataannya sebaliknya.

Pada 1928, kepemimpinan Palestina, terlepas dari keinginan mayoritas rakyatnya, bahkan setuju untuk memberikan perwakilan yang setara kepada para pemukim Yahudi di badan-badan negara di masa depan. Kepemimpinan Zionis mendukung gagasan tersebut hanya selama mereka yakin bahwa Palestina akan menolaknya. Representasi bersama merupakan kebalikan dari apa yang diinginkan Zionis. 

Ketika usulan tersebut diterima oleh Palestina, namun ditolak oleh Zionis. Hal ini berujung pada terjadinya kerusuhan pada tahun 1929. Bahkan pada tahun 1947, ketika Inggris memutuskan untuk merujuk permasalahan tersebut ke PBB, Palestina menyarankan bersama negara-negara Arab lainnya, sebuah negara kesatuan untuk menggantikan Mandat di Palestina, dengan hak yang sama bagi orang Yahudi dan Arab. Hal ini ditolak oleh Zionis.

Peta pembagian wilayah Paelstina (abu-abu gelap) dan wilayah Israel yang diusulkan PBB pada 1947. – (Repro National Geographic)

Penolakan negara-negara Arab atas batas yang digariskan PBB pada 1947 juga bukan soal penolakan pada imigran Yahudi. Kala itu, PBB memberikan 62 persen wilayah bagi negara Israel meski etnis Yahudi hanya 30 persen dari populasi Palestina dan hanya menguasai sekitar 5 persen lahan secara legal.

Bangsa Palestina Mengungsi Secara Sukarela

Saat Israel memproklamasikan pendiriannya pada 1948, sekitar 800 ribu bangsa Palestina terusir dari tanah-tanah mereka di wilayah yang kini dikuasai Israel. Propaganda Israel menyatakan bahwa para pengungsi keluar dari tanah mereka secara sukarela. 

Pappe menemukan bahwa pengusiran secara paksa alias pembersihan etnis itu adalah rencana Zionis sedari mula. “Kepemimpinan dan ideolog Zionis tidak dapat membayangkan keberhasilan implementasi proyek mereka tanpa menyingkirkan penduduk asli, baik melalui kesepakatan atau dengan kekerasan.”

Menurut Pappe, pada 1937, David Ben-Gurion mengatakan kepada majelis Zionis, “Di banyak wilayah di negara ini, tidak akan mungkin untuk menetap tanpa memindahkan warga Arab… Dengan pemindahan paksa, kita akan memiliki wilayah yang luas untuk pemukiman… Saya mendukung pemindahan paksa. Saya tidak melihat sesuatu yang tidak bermoral di dalamnya.”

Warga Arab Palestina yang terusir dari tanah mereka pada 1948. – (Archive/Palestine Remembered)

Dalam bukunya “The Ethnic Cleansing of Palestine”, Pappe juga mengkaji pengembangan rencana induk pengusiran besar-besaran terhadap warga Palestina. Secara resmi, pemerintah Israel mempertahankan klaim bahwa warga Palestina menjadi pengungsi karena pemimpin mereka menyuruh mereka untuk pergi. Pappe mengatakan tidak pernah ada seruan seperti itu. “Ini hanyalah sebuah mitos yang dibuat oleh Kementerian Luar Negeri Israel.”

Rencana induk Israel, Rencana D, yang telah disiapkan bersamaan dengan komando tinggi Haganah, sayap militer utama Yahudi, mencakup referensi yang jelas berikut ini mengenai metode yang akan digunakan dalam proses pembersihan etnis.  “Penghancuran desa (pembakaran, peledakan, dan penanaman ranjau di puing-puing), terutama di pusat-pusat pemukiman yang sulit dikendalikan secara terus-menerus. Melakukan operasi pencarian dan pengendalian sesuai dengan pedoman berikut: mengepung desa dan melakukan pencarian di dalamnya. Jika terjadi perlawanan harus dihancurkan dan penduduk harus diusir keluar batas negara.”

Pada akhirnya, penjajahan Israel sedari mula adalah proyek kolonial yang sukar dipertahankan secara moral. Tindakan brutal terhadap warga Palestina belakangan membuat banyak pihak sadar akan hal tersebut.***

Wallahu a’lam

***Disadur dari sebuah tulisan Fitriyan Zamzami di laman Republika

kembali ke atas | indeks pilihan | download



9 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

0600137768


Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumatera Selatan Tahun 2026 [ detail ]

Rp3.942.963

Upah Minimum Kota (UMK) Palembang Tahun 2026 [ detail ]

Rp4.192.837

BI RATE


PERTALITE
Rp10.000

PERTAMAX
Rp16.300

PERTAMAX TURBO
Rp20.000

BIO SOLAR
Rp6.800

DEXLITE
Rp24.200

DEX
Rp25.750

BRIGHT GAS 12 KG
Rp220.000

BRIGHT GAS 5,5 KG
Rp106.000

Golongan Daya Listrik Tarif (Rp/kWh)
R-1 (Subsidi) 450 VA Rp415/kWh
R-1 (Subsidi) 900 VA Rp605/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 900 VA Rp1.352/kWh
R-1 (Non-Subsidi) 1.300 VA – 2.200 VA Rp1.444,70/kWh
R-2 3.500 VA – 5.500 VA Rp1.699,53/kWh
R-3 ≥ 6.600 VA Rp1.699,53/kWh

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Tulisan Terbaru

Tulisan Teratas

■■■ [dompet dhuafa] Satukan Solidaritas Bantu Palestina ■■■


Kenali Produk PT Pusri Palembang

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca