infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Perahu: Sarana Penyebaran Budaya di Nusantara pada Masa Lampau

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Perahu: Sarana Penyebaran Budaya di Nusantara pada Masa Lampau
Bambang Budi Utomo

PENGANTAR

Para pakar sejarah kemaritiman menduga bahwa perahu telah lama memainkan peranan penting di wilayah perairan Nusantara pada masa jauh sebelum bukti tertulis menyebutkannya (prasasti dan naskah-naskah kuno). Dugaan ini didasarkan atas sebaran artefak perunggu seperti nekara, kapak, dan bejana perunggu di berbagai tempat di Nusantara mulai dari Sumatra hingga Irian, Sulawesi Utara hingga Rote. Berdasarkan bukti-bukti ini, mereka yakin bahwa pada masa akhir prasejarah telah dikenal adanya jaringan perdagangan antara Nusantara dan Asia daratan. Kemudian pada sekitar awal abad pertama Masehi diduga telah ada jaringan perdagangan antara Nusantara dan India. Bukti-bukti tersebut berupa barang-barang tembikar dari India (Arikamedu, Karaikadu dan Anuradha-pura) yang ditemukan di Jawa Barat (Patenggeng) dan Bali (Sembiran). Keberadaan barang-barang tembikar tersebut di Nusantara tentunya diangkut dengan perahu/kapal yang mampu mengarungi samudra.

Bukti tertulis tertua mengenai pemakaian perahu/kapal sebagai sarana transportasi laut tertulis pada Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682 Masehi). Pada prasasti tersebut diberitakan: “Dapunta HiyaK bertolak dari MinaDa sambil membawa pasukan sebanyak dua laksa dengan perbekalan sebanyak 200 peti naik perahu...”. Pada masa yang sama, pada relief Candi Borobudur (abad ke-7-8 Masehi) dipahatkan beberapa macam bentuk kapal dan perahu. Dari relief ini dapat direkonstruksi dugaan bentuk-bentuk perahu/kapal yang sisanya banyak ditemukan di beberapa tempat di Nusantara, misalnya di Sumatra.

1. Bukti Arkeologis

Samirejo, Situs Samirejo secara administratif terletak di Desa Samirejo, Kecamatan Mariana, Kabupaten Musi Banyuasin (Sumatra Selatan). Situs ini merupakan suatu tempat pada lahan gambut. Sebagian besar arealnya merupakan rawa-rawa. Beberapa batang sungai yang berasal dari daerah rawa bermuara di Sungai Musi. Dari lahan rawa yang basah ini pada bulan Agustus 1987 ditemukan sisa-sisa perahu kayu. Sisa perahu yang ditemukan terdiri dari sembilan bilah papan dan sebuah kemudi. Dari sembilan bilah papan itu, dua bilah diantaranya berasal dari sebuah perahu, dan tujuh bilah lainnya berasal dari perahu yang lain.

Sisa perahu yang ditemukan itu dibangun secara tradisionil di daerah Asia Tenggara dengan teknik yang disebut “papan ikat dan kupingan pengikat’”‘(sewn-plank and lashed-lug technique) dan diperkuat dengan pasak kayu/bambu. Papan kayu yang terpanjang bernkuran panjang 9,95 meter dan terpendek 4,02 meler; lebar 0,23 meter; dan tebal sekitar 3,5 cm. Pada jarak-jarak tertentu (sekitar 0,5 meter), pada bilah-bilah papan kayu itu terdapat bagian yang menonjol yang berdenah empat persegi panjang, disebut tambuko. Di bagian itu terdapat lubang yang bergaris tengah sekitar 1 cm. Lubang-lubang itu tembus ke bagian sisi papan.

Tambuko disediakan unluk memasukkan tali pengikat ke gading-gading. Papan kayu dengan tebal 3,5 cm itu, dihubungkan dengan bagian lunas perahu dengan cara mengikatnya satu sama lain. Tali ijuk (Arenga pinnata) mengikat bilah-bilah papan yang dilubangi hingga tersusun seperti bentuk perahu. Kemudian dihubungkan dengan bagian lunas perahu hingga menjadi dinding lambung. Sebagai penguat ikatan, pada jarak tertentu (sekitar 18 cm) dari tepian papan dibuat pasak-pasak dari kayu/bambu. Dari hasil rekonstruksi dapat diketahui bahwa perahu yang ditemukan di desa Sambirejo berukuran panjang 20-22 meter. Berdasarkan analisis laboratorium terhadap Karbon (C-14) dari sisa perahu Samirejo adatah 1350 ± 50 BP, yang mana sesuai dengan tahun 610-775 Masehi.

Kemudi perahu yang ditemukan mempunyai ukuran panjang 6 meter. Bagian bilah kemudinya berukuran lebar 50 cm. Kemudi ini dibuat dari sepotong kayu, kecuali bagian bilahnya ditambah kayu lain untuk memperlebar. Di bagian atas dari sumbu langkai kemudi terdapat lubang segi empat untuk memasukkan palang. Di bagian tengah kemudi terdapat dua buah lubang yang ukurannya lebih kecil untuk memasukkan tali pengikat kemudi pada kedudukannya. Bentuk kemudi semacam ini banyak ditemukan pada perahu-perahu besar yang berlayar di perairan Nusantara, misatnya perahu Pinisi.

1.2 Kolam Pinisi

Situs ini terletak di kaki sebelah barat Bukit Siguntang, sekitar 5 km. ke arah barat dari kota Palembang. Ekskavasi yang dilakukan pada tahun 1989 berhasil ditemukan lebih dari 60 bilah papan sisa sebuah perahu kuno. Meskipun ditemukan dalam jumlah yang banyak, namun keadaannya sudah rusak sebagai akibat aktivitas penduduk di masa lampau untuk mencari harta karun. Papan-papan kayu tersebut pada ujungnya dilancipkan kernudian ditancapkan ke dalam tanah untuk memperkuat lubang gatian.

Papan-papan kayu yang ditemukan berukuran tebal sekitar 5 cm dan lebar antarn 20-30 cm. Seluruh papan ini mempunyai kesamaan dengan papan yang ditemukan di Situs Samirejo, yaitu tembuko yang terdapat di salah satu permukaannya, dan lubang-lulbang yang ditatah pada tembuko-tembuko tersebut seperti halnya pada tepian papan untuk memasukkan tali ijuk yang menyatukan papan perahu dengan gading-gading serta menyatukan papan satu dengan yang lainnya. Pada bagian tepi papan terdapat tubang-lubang yang digunakan untuk menempatkan pasak kayu/bambu untuk memperkuat badan perahu. Pertanggalan karbon C-14 menghasilkan pertanggalan kalibrasi antara 434 dan 631 Masehi.

2. Teknik Rancang-Bangun Perahu Kapal

Entah sejak kapan nenek moyang bangsa Indonesia mengenal pembuatan perahu. Hanya sediki data arkeologi maupun data sejarah yang berhasil mengungkapkan tentang hal ilu. Satu-satunya data arkeologi yang sedikit mengungkapkan teknologi pembangunan perahu adalah dari lukisan gua. Di situ kita dapat melihat bagaimana bentuk perahu pada masa pra sejarah. Bentuk perahu pada masa itu dapat dikatakan masih sangat sederhana. Jika dibandingkan dengan teknik pembuatan perahu pada masyarakat yang masih sederhana, mungkin ada kesamaannya.

Sebatang pohon yang mempunyai garis tengah batang cukup besar mereka tebang. Kemudian bagian tengahnya dikeruk dengan menggunakan alat sederhana, seperti beliung dari batu. Nampaknya mudah, tetapi dalam kenyataannya cukup sulit. Dinding perahu harus dapat diperkirakan tebalnya. Tidak boleh terlampau tebal atau terlampau tipis. Jangan sampai badan perahu mudah pecah atau bocor apabila terantuk karang atau kandas di pantai yang keras. Apabila bentuk dasar sudah selesai, kemudian barulah diberi cadik di sisi kiri dan kanan badan perahu. Perahu jenis ini dinamakan perahu lesung atau sampan. Ukuran panjangnya kira-kira 3-5 meter dan lebar sekitar 1 meter. Contoh membangun perahu dengan teknologi yang masih sederhana ini dapat dilihat pada suku-suku bangsa yang masih sederhana yang bermata-pencaharian dari menangkap ikan di sungai, danau atau di laut dangkal.

Pada jaman prasejarah, perahu bercadik memainkan peranan yang besar dalam hubungan perdagangan antar-pulau di Indonesia dan antara kepulauan di Indonesia dengan daratan Asia Tenggara. Karena adanya hubungan dengan daratan Asia Tenggara, maka terjadilah tukar menukar informasi teknologi dalam segala bidang, misalnya dalam pembangunan candi, pembangunan kota, dan tentu saja pembangunan perahu.

Akibat ada hubungan dengan daratan Asia Tenggara, dalam pembangunan perahu pun ada suatu kemajuan. Di seluruh perairan Nusantara, banyak ditemukan runtuhan perahu/kapal yang tenggelam atau kandas. Dari runtuhan itu para pakar perahu dapat mengidentifikasikan teknologi pembangunan perahu. Para pakar telah merumuskan teknologi tradisi pembangunan perahu berdasarkan wilayah budayanya, yaitu Wilayah Budaya Asia Tenggara dan Wilayah Budaya Cina (Manguin 1987: 47-48).

Perahu yang dibuat dengan teknologi tradisi Asia Tenggara mempunyai ciri-ciri khas, antara lain badan (lambung) perahu berbentuk seperti huruf V sehingga bagian lunasnya berlinggi, haluan dan buritan lazimnya berbentuk simetris, tidak ada sekat-sekat kedap air di bagian lambungnya, dalam seluruh proses pembangunannya sama sekali tidak menggunakan paku besi, dan kemudi berganda di bagian kiri dan kanan buritan. Teknik yang paling mengagumkan untuk masa kini, adalah cara mereka menyambung papan. Selain tidak menggunakan paku besi, cara menyambung satu papan dengan papan lainnya adalah dengan mengikatnya dengan tali ijuk. Sebilah papan, pada bagian tertentu dibuat menonjol. Di bagian yang menonjol ini, diberi lubang yang jumlahnya 4 buah menembus ke bagian sisi tebal. Melalui lubang-lubang ini tali ijuk kemudian dimasukkan dan diikatkan dengan bilah papan yang lain. Di bagian sisi yang tebal, diperkuat dengan pasak-pasak kayu/bambu. Teknik penyambungan papan seperti ini dikenal dengan istilah “teknik papan ikat dan kupingan pengikat“(sewn-plank and lashedlug technique).

Sisa perahu yang ditemukan di Samirejo dan Kolam Pinisi, juga sisa perahu yang ditemukan di tempat lain di Nusantara dan negara jiran, ada kesamaan umum yang dapat kita cermati, yaitu teknologi pembuatannya. Teknologi pembuatan perahu/kapal yang ditemukan itu, antara lain (a) teknik ikat, (b) teknik pasak kayu/bambu, (c) teknik gabungan ikat dan pasak kayu/bambu, dan (d) perpaduan teknik pasak kayu dan paku besi. Melihat teknologi rancang-bangun perahu/kapal tersebut, dapat kita ketahui pertanggalannya .

Bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak kayu/bambu dalam pembuatan perahu/kapal di Nusantara berasal dari sumber Portugis awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut Jung (berkapasitas lebih dari 500 ton) dibuat tanpa sepotong besipun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut masih tetap ditemukan di Nusantara, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.

Kapal-kapal yang dibangun menurut tradisi Cina mempunyai ciri-ciri khas antara lain tidak mempunyai bagian lunas (bentuk bagian dasamya membulat), badan perahu/kapal dibuat berpetak-petak dengan dipasangnya sekat-sekat yang strukturil, antara satu papan dengan papan lain disambung dengan paku besi, dan mem;epunyai kemudi sentral tunggal. Dari sekian banyak perahu kuno yang ditemukan di perairan Nusantara, sebagian besar dibangun dengan teknik tradisi Asia Tenggara. Keturunan dari kapal-kapal yang dibangun dengan teknik tradisi Asia Tenggara adalah kapal Pinisi dan beberapa perahu tradisionil di berbagai daerah di Nusantara. Pada perahu Pinisi, teknik papan ikat dan kupingan pengikat dengan menggunakan tali ijuk sudah tidak dipakai lagi. Para pelaut Bugis sudah menggunakan teknik yang agak modern, tetapi masih mengikuti teknik tradisi Asia Tenggara.

Dalam bukunya, Antonio Galvao, seorang Portugis, pada tahun 1544 telah menguak tabir pembangunan perahu/kapal di Nusantara sebelah timur (daerah Maluku dan sekitamya) (Poesponegoro dkk. 1984 (3): 112-113). Dia menguraikan antara lain teknik pembangunan kapal orang Maluku. Menurutnya, bentuk kapal orang Maluku yang menyerupai telur dengan kedua ujung dibuat melengkung ke atas dimaksudkan supaya kapal itu dapat berlayar maju dan mundur.

Kapal itu tidak dipaku atau didempul, tetapi diikat dengan tali ijuk melalui lubang yang dibuat di bagian lunas, rusuk, linggi depan, dan linggi belakang. Di bagian dalam terdapat bagian yang menonjol dan berbentuk cincin untuk tempat memasukkan tali ijuk pengikatnya. Papan-papan disambung dengan pena (pasak) kayu atau bambu yang dimasukkan pada lubang kecil di ujung depan. Sebelumnya, pada bagian sambungan papan diolesi dengan baru (semacam damar) agar air tidak dapat masuk. Kemudian papan-papan pun disambung berapit-apit dengan kemahiran tinggi , sehingga orang yang melihatnya akan mengira bahwa bentuk itu terbuat dari satu bilah papan saja. Pada bagian haluan kapal dibuat hiasan ular naga bertanduk.

3. Penutup

Berbicara mengenai kebaharian, rasanya kurang lengkap kalau tidak membicarakan Sriwijaya. Berdasarkan berita-berita tertulis yang sampai kepada kita, kerajaan ini telah malang melintang di perairan Asia Tenggara sampai ke daerah Madagaskar di selatan betnua Afrika. I-tsing, seorang pendeta agama Buddha dari Cina, ba;enyak mencatat perkembangan Kadatuan Sriwijaya pada sekitar abad ke7 Masehi. la mengatakan bahwa pelayaran ke negeri Cina dilakukan oleh kapal-kapal Sriwijaya. Sebuah studi pelayaran masa lampau juga memperoleh bukti, bahwa banyak nama-nama tempat di pantai Campa dan Annam (Vietnam sekarang) berasal dari bahasa Melayu. Hal ini mendukung pendapat bahwa pelayaran orang-orang Melayu ke negeri Cina memang dilakukan oleh pelaut-pelaut Melayu dengan menggunakan perahunya sendiri. Studi Wolters, seorang pakar Sriwijaya dari Cornell University, mengenai abad-abad pra-Sriwijaya pun membawa kita pada kesimpulan bahwa the shippers of the ‘Persian’ trade” adalah orang-orang Melayu (Wolters 1967). Orang-orang Melayu memang pelaut ulung, sehingga orang-orang Portugis membuat buku pandu laut (roteiros) berdasarkan petunjuk-petunjuk dari pelaut Mlayu. Ketangguhan bangsa Melayu sebagai pelaut ulung hingga sekarang masih tersisa, misalnya seperti yang masih dapat disaksikan pada suku bangsa Melayu di daerah Kepulauan Riau.

Bukti tertulis mengenai penggunaan perahu sebagai sarana transportasi pada masa Sriwijaya diperoleh dari prasasti, Berita Cina, dan Berita Arab. Prasasti Sriwijaya yang menyebutkan penggunaan perahu adalah prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 16 Juni 682 Masehi.

Dalam prasasti itu disebutkan bahwa Dapunta HiyaK berangkat dari MinaDa dengan membawa 20.000 pasukan dan 200 buah peti perbekalan yang diangkut dengan perahu-perahu. Apabila kita bandingkan dengan perahu Pinisi yang dapat mengang;tkut 500 orang, maka perahu yang dibutuhkan Dapunta HiyaK dalam ekspedisinya sekurang-kurangnya 40 buah perahu yang seukuran dengan perahu Pinisi.

Di daerah kepulauan itu tinggal suku bangsa yang hidupnya sebagian besar tergantung kepada hasil laut. Di samping itu kesenian daerahnya pun selalu menggambarkan kehidupan laut. Ingatlah akan salah satu syair dendang Melayu yang bunyinya Perahu Cina ke lndragiri. Anaklah Riau jadi nahkoda. Dan masih banyak lagi syair-syair dendang Melayu yang berbau laut.

Tidak ada satupun suku bangsa yang berkebudayaan lebih maritim daripada suku bangsa Orang Laut. Sukubangsa ini mendiami daerah-daerah muara sungai dan hutan bakau di pantai timur Pulau Sumatra, Kepulauan Riau-Lingga, dan pantai barat Semenanjung Malaysia sampai ke Muangthai Selatan (Lapian 1979:99). Mereka hidup di rumah-rumah di atas perahu menjadikan mereka ‘orang laut’ dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 1225 menguraikan tentang rakyat di kerajaan Swarnnabhkmi. Disebutkan bahwa rakyat tinggal di sekitar kota atau di atas rakit yang beratap rumbia. Mereka itu tangkas dalam peperangan baik di darat maupun di laut. Dalam peperangan dengan negara lain, mereka berkumpul. Berapa pun keperluannya, dipenuhi. Mereka sendiri yang memilih panglima dan pemimpinnya. Semua pengeluaran untuk persenjataan dan perbekalan ditanggung oleh mereka masing-masing. Dalam menghadapi lawan dengan resiko mati terbunuh, di antara bangsa-bangsa lain sukar dicari tandingannya. Mungkinkah Orang Laut yang mendiami Sumatra bagian timur itu keturunan dari mereka itu?

Akhirnya, mungkin perlu kita cermati dan tindaklanjuti pidato salah satu pimpinan parpol pemenang Pemilu 1999 yang mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara maritim tetapi dalam bidang kemaritiman (termasuk ketahanan laut) kita sangat tertinggal , dan pentingnya sumberdaya laut yang belum tergarap maksimal. Khusus untuk pertahanan laut, seorang sastrawan terkenal pemenang Magsasay berkomentar “Sebagai negara maritim mengapa kita tidak membangun angkatan laut, dan mengapa justru angkatan darat yang diperkuat’‘. Meskipun dengan teknologi yang sederhana, nenek moyang kita dapat berjaya di Nusantara dan dapat mengarungi samudra yang luas.

Kepustakaan

  • Koestoro, Lucas Partanda, 1993, “Tinggalan Perahu di Sumatra Selatan: Perahu Sriwijaya?”,
    dalam Sriwijaya dalam perspektif arkeologi dan sejarah hal. C1-1-10. Palembang: Pemerintah
    Daerah
    Tk. I Provinsi Sumatra Selatan.
  • Lapian, A.B., 1979, “Pelayaran dalam Periode Sriwijaya, dalam Pra Seminar Penelitian
    Sriwijaya
    hal. 95-104. Jakarta: Proyek Penelitian dan Penggalian Purbakala Departemen P&K.
  • Petersen, Eric, 2000, Jukung Boats from the Barito Basin, Borneo. Roskilde: The Viking Ship
    Museum.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened & Nugroho Notosusanto, 1984, Sejarah Nasional Indonesia
    Ill
    , Jakarta: Balai Pustaka.
  • Wolters, O.W., 1967, Early Indonesian Commerce: A Study of the origin ofSriwijaya. New Yok: Cornell University Press.

Makalah ini yang diajukan dalam Diskusi Panel Ahli II (Pembahasan Materi Tata Pamer Museum Bahari) yang diselenggarakan pada tanggal 21 Oktober 2002 di Ruang Rambuti, Hotel Sofyan Cikini, Jakarta.

***Referensi: Jejak Jejak Tinggalan Budaya Maritim Nusantara; Panitia Nasional Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam (BMKT)


Kembali ke atas

463 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca