Ensiklopedi Peristiwa dalam Islam — bagian pertama
Setelah Rasulullah SAW wafat pada tanggal 18 Rabiul Awwal 11 H, turunnya wahyu terhenti. Kaum muslim pun kehilangan pembimbing, pemimpin, dan imam mereka. Hampir-hampir persatuan mereka retak dengan kemunculan orang-orang murtad kalau saja Abu Bakar ash Shiddiq r.a. tidak menyampaikan pidatonya yang terkenal untuk membunuh mereka, “Demi Allah, aku akan terus memerangi mereka selama pedang ini tergenggam di tanganku, walapun orang-orang berakal mencegahku.”
Dari peperangan melawan kaum murtad, tampaklah bahwa kaum Muslim berketetapan hati untuk meninggikan syiar Allah dan menyebarkan agama-Nya, serta menghancurkan benteng-benteng kaum kafir dan tiran sehingga orang-orang tak berdosa di timur dan barat terbebas dari berbagai bentuk pemaksaan, perbudakan dan kediktatoran.

Kemudian, ‘Umar bin al-Khaththab r.a., khalifah kedua kaum Muslim, datang untuk menumbuhkan berbagai bentuk kreativitas di bidang politik, akhlak dan spiritual, yang menjadikannya salah seorang pemimpin agung dalam sejarah manusia. Pada zamannya, kemenangan demi kemenangan diraih di timur dan barat. Barangkali, hal itu merupakan penyebab munculnya permusuhan di antara orang-orang yang mendengki cahaya gemintang kaum Muslim. Di antara mereka adalah Abu Lu’lu’ah, seorang Majusi, yang membunuh ‘Umar al-Faruq secara tiba-tiba untuk mencerai-beraikan kaum Muslim dan menghentikan gerakan penaklukan.
Namun, orang-orang yang bertakwa di sekeliling ‘Utsman bin ‘Affan r.a. membaiatnya agar memimpin bangsa Arab dalam menyebarkan agama Allah yang hanif. Oleh karena itu, orang-orang yang cemburu menyebarkan fitnah mereka, dimana ‘Abdullah bin Saba’ mampu mencerai-beraikan barisan, dalam sebuah tragedi yang korbannya adalah Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan r.a. dan khalifah sesudahnya, ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Akan tetapi, gemintang Bani Umayyah segera terbit. Mereka mendirikan dinasti Arab-Islam. Wilayahnya sebelum akhir abad pertama Hijriah mencapai India di timur, Andalusia di barat, Laut Qazwin di selatan, dan Sudan di utara. Wilayah tersebut, seperti yang kita lihat, merupakan separuh dunia yang dikenal pada masa itu.
Namun, walaupun telah mencapai puncak kekuatan dan kejayaan, daulah tersebut tak selamanya dapat bertahan menghadapi pergantian waktu. Ketuaan merupakan takdir yang menguasai dinasti tersebut, sebagaimana ia juga menguasai manusia. Faktor-faktor kelemahan mulai menggerogoti sendi-sendi Daulah Umayyah disebabkan banyaknya pergolakan dan pemberontakan yang dilakukan kaum Syiah dan ‘Alawi. Akibatnya, keturunan Al-‘Abbas di Persia, di bawah pimpinan Abu Muslim al-Khurasani, mampu menyatukan barisan mereka dan mengancam Daulah Umayyah di Syam untuk menaklukkannya dalam Perang az-Zab al-A’la. Dengan demikian, mereka menghancurkan pemerintahan Umayyah yang tidak tersisa lagi kecuali di Andalusia, tempat berdirinya negara kuat yang independen yang diperintah oleh salah seorang pemimpin dari Daulah Umayyah, ‘Abdurrahman ad-Dakhil. Dialah yang dengan mengagumkan mampu memperluas wilayah Andalusia hingga ke sebagian besar wilayah Eropa.***tdb
Wallahu a’lam
***rujukan: 1000 peristiwa dalam islam; ‘abdul hakim al-‘afifi









![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Uban dan Semir Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2025/12/wp-1765125866195614023860891978010.jpg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Cara Bersisir Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2026/08/be6149a6-8ba4-4cc1-980b-d9d2c0148971_169.jpeg)
![[Asy Syamailul Muhammadiyyah] Rambut Rasulullah SAW](https://infokito.blog/wp-content/uploads/2022/12/wp-1670064751787.jpg)








Tinggalkan Balasan