infokito

jembatan informasi kito


Waktu di Indonesia: WIB

Ensiklopedi Peristiwa dalam Islam — bagian kedua

IndeksDownloadGaleriPromosiPranalaCari

Ensiklopedi Peristiwa dalam Islambagian kedua

Daulah ‘Abbasiyyah mulai memperkokoh pilar-pilar Islam di seluruh wilayah yang pernah dikuasai Daulah Umayyah. Dalam hal ini, mereka berpegang pada prinsip jalinan ruhaniah di kalangan kaum Muslim di bawah bendera kekhalifahan dan memberikan hak penentuan arah politik kepada para gubernur di wilayah-wilayah yang dikuasainya.

Cara tersebut dilakukan untuk kepentingan kaum Muslim di belahan bumi timur dan barat, yang secara nyata membantu mengembalikan kekuatan dan ideologi politik. Di sisi lain, mereka juga mampu mengembalikan kekuatan sektor-sektor yang sebelumnya lemah. Dengan demikian, kekhalifahan ini mampu mempertahankan kegemilangan serta mengembangkan kekayaan dan ilmu pengetahuan sehingga selama kurang lebih lima ratus tahun tidak ada kekuatan eksternal yang mengganggu negeri kaum Muslim. Kalaupun ada permusuhan dari mana pun maka segera dikalahkan dan dihancurkan atau pemimpinnya ditawan.

Di sisi lain, Mahasuci Tuhan yang keesaan-Nya disifati dengan kesempurnaan dan keabadian. Karena wilayahnya terbentang luas, Daulah ‘Abbasiyyah tidak mampu mengefektifkan kekuasaannya ke seluruh wilayah. Oleh karena itu, Mesir kemudian memisahkan diri setelah Fathimiyyah berhasil meluaskan pengaruh Syiah ke sebagian besar wilayah selatan Afrika, lalu ke Syam, Hijaz, Yaman dan Sudan. Kendati ada kontradiksi yang jelas antara Daulah ‘Abbasiyyah yang berpaham Sunni dan Daulah Fathimiyyah yang berpaham Syiah, tetapi masing-masing tidak dapat mengalahkan yang lain. Bahkan, sejarah tidak mencatat adanya pertempuran besar yang telah terjadi di antara mereka.

Dengan berlalunya waktu, kenyataan tersebut terus berlangsung. Namun, masing-masing dari kedua daulah ini mulai pudar, lalu menjadi lemah. Kesempatan itu digunakan oleh Paus Urbanus II dari Vatikan. Ia pergi ke Perancis untuk menyampaikan sebuah pidato yang berapi-api di kota Clermont. Di sana, ia memerintahkan kaum Kristen Katholik Eropa agar bersiap-siap untuk menyerang Dunia Islam guna memulai Perang Salib yang dengan segera berhasil membakar Daulah Saljuq di Asia Tengah (sayap militer Daulah ‘Abbasiyyah). Kemudian, mereka mengalahkan Daulah Fathimiyyah di Syam serta membentuk empat pemerintahan dan mengubahnya menjadi pemerintahan salib yang kuat, yaitu pemerintahan Urfa (atau Edesse), Anthokia, Baitul Maqdis dan Tripoli. Dengan demikian, untuk pertama kalinya sejak Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab menaklukkannya, kaum Muslim kehilangan al-Quds—setelah 70.000 penduduknya yang Muslim dibantai. Tidak lama kemudian, kota-kota Arab-Islam, seperti Damaskus, Bagdad dan Kairo setiap saat terancam jatuh ke tangan musuh yang selalu mengintainya.

Untuk meyakinkan kaum Muslim bahwa mereka adalah pemilik peradaban yang tinggi, maka mereka harus melakukan perbaikan untuk memperbaiki eksistensi mereka, menghidupkan kekuatan mereka dan mengatur kembali barisan mereka. Upaya tersebut dilakukan Daulah Saljuq di Syam yang dipimpin ‘Imaduddin Zanki yang mampu membebaskan wilayah Urfa (di selatan Syam dan Bagdad) dari kekuasaan pasukan salib. Kemudain, ia diikuti putranya, Nuruddin Mahmud, yang mengutus panglima Saljuq, Syirkuh (dan putra saudaranya, Shalahuddin al-Ayyubi) ke Mesir untuk melindungi wilayah tersebut dari ancaman pasukan salib yang telah menduduki kota penting Dimyath setelah mengalahkan pasukan Fathimiyyah di sana. Selanjutnya, Syirkuh dan Shalahuddin dapat memasuki Mesir dan menguasainya hingga khalifah Fathimiyyah terakhir, al-Adhid Billah, wafat. Dengan demikian, sejarah melipat lembaran Daulah Fathimiyyah yang berpaham Syiah, dan Mesir kembali lagi ke mazhab Sunni setelah dikuasai oleh Shalahuddin dengan menyatukan Syam, Yaman dan Hijaz menjadi sebuah daulah militer yang tangguh, yaitu Daulah Ayyubiyyah. Daulah yang masih muda inilah yang memikul tangung jawab untuk membebaskan al-Quds (Yerussalem) dari pendudukan kaum salib dan mengalahkan mereka di Hiththin dan Ramalah.

Sementara pasukan Ayyub di Mesir dan Syam meraih kemenangan demi kemenangan secara gemilang, para pemimpin Muslim di Andalusia saling berperang di antara mereka sendiri. Kemudian, Spanyol menekan mereka dan merebut beberapa kota Islam dari tangan mereka, seperti Zaragosa dan Lisabon. Hal inilah yang mendorong panglima Daulah Muwahhidun di utara Afrika untuk menyeberang ke Andalusia guna mempertahankan wilayah tersebut dan menghadapi Spanyol dalam sebuah perang besar yang disebut Perang Arak. Namun, pasukan Muwahhidun mengalami kekalahan. Dengan demikian, Spanyol yang dibantu pasukan Eropa yang mengalami kekalahan dari Daulah Ayyubiyyah di timur mengambil inisiatif dan menyerang Muwahhidun dalam Perang ‘Iqab. Setelah itu, jatuhlah kota-kota lain di Andalusia, yang terpenting di antaranya adalah kota Kordoba, Valencia, dan Seville.

Dinasti Bani Ayyub dalam melindungi Timur Islam senantiasa menghadapi ancaman dari pasukan salib hingga keruntuhannya. Setelah itu, berdirilah Daulah Mamalik I yang pembentukannya disertai peristiwa-peristiwa besar yang melanda Mesir selama serangan Louis IX ke negeri tersebut. Di samping itu, ketika di Mesir berdiri sebuah daulah baru yang kuat, Daulah Khawarizm—yang di beberapa wilayah Transoksiana menyusul kehancuran Daulah Saljuq—mengalami keruntuhan yang tragis di tangan pasukan Mongol yang dipimpin Jengis Khan, yang membunuh ribuan penduduknya yang tidak berdosa. Setelah itu, mereka menyerang beberapa wilayah Persia untuk menghancurkan simbol-simbol peradaban. Kemudain, cucunya, Hulagu, meneruskan penyerangannya ke Irak untuk menghancurkan Bagdad, ibukota kekhalifahan ‘Abbasiyyah dan membunuh penduduknya tidak kurang dari sejuta orang Muslim dalam serangkaian bencana paling buruk yang dialami kaum Muslim sepanjang sejarah. Namun, pasukan kavaleri Mamalik I dapat menyatukan Mesir, Syam, Hijaz, Yaman dan Sudan dalam sebuah daulah yang beribukota Kairo. Pemimpin-pemimpinnya yang pertama, seperti Quthuz, Baybaras, Qalawun, dan putranya, al-Asyraf, melakukan aksi-aksi heroik, yang terpenting di antaranya adalah menyerang Tatar di ‘Ayn Jalut, lalu membebaskan wilayah-wilayah Islam yang berada di bawah pendudukan kaum salin. Dengan demikian, berakhirlah dua era kegelapan dalam sejarah Arab.

Walaupun kekuatan muncul di tengah kaum Muslim selama masa pemerintahan Mamalik, hal itu belum mencukupi. Oleh karena itu, kaum Muslim di Asai Kecil segera mendirikan sebuah daulah yang tangguh, yaitu Daulah ‘Utsmani, dan kaum Muslim di Persia mendirikan Daulah Shafawi. Daulah-daulah lain pun bermunculan di Afrika Utara, Andalusia, Afrika Timur, Afrika Tengah, dan Afrika Barat.  Dinasti-dinasti Islam pun muncul di India, Turkistan, dan lain-lain. Tampaknya, kaum Muslim pada masa itu telah menguasai dua pertiga dunia, suatu wilayah yang tidak pernah dikuasai Imperium Romawi pada masa kejayaannya.

Hal itu, pada dasarnya, bukan hasil dari peperangan, mengingat orang-orang di setiap tempat menyaksikan toleransi dalam akidah Islam. Bangsa Tatar misalnya, yang berusaha untuk menghancurkan kaum Muslim, justru mengubah diri mereka sendiri—tanpa peperangan—menjadi penganut Islam yang hanif. Penduduk Afrika hidup dalam suku-suku Badui yang terisolasi dari peradaban selama masa yang panjang, akhirnya masuk Islam setelah mereka bergaul dan berinteraksi dengan kafilah-kafilah dagang Muslim.

Berdirilah Daulah ‘Utsmani yang tangguh di Asia Kecil dan dekat ke Eropa merupakan ancaman berbahaya bagi bangsa Eropa, yang segera melakukan penyerangan untuk menghancurkannya. Namun, pasukan ‘Utsmani dapat mempertahankan agama dan wilayah mereka. Bahkan mereka mampu mengusir musuh dan melewati Selat Dardanelles menuju Eropa untuk melakukan serangkaian penaklukan di jantung Eropa. Dalam waktu singkat, mereka sampai di Hongaria dan Austria. Hal itu terjadi setelah mereka mampu merebut kota penting di Eropa, yaitu Konstantinopel, dan menghancurkan Imperium Bizantium sehancur-hancurnya. Setelah meraih kemenangan demi kemenangan secara gemilang, pasukan ‘Utsmani berhenti melakukan penaklukan dan melihat ke belakang. Alilh-alih meneruskan penaklukan di Eropa, kita melihat mereka surut ke belakang. Mereka mengerahkan kekuatan untuk menyerang Daulah Mamalik II dan Daulah Shafawi di Persia.

Pada saat daulah-daulah besar Islam bersaing untuk menguasai Dunia Islam, tiba-tiba kaum Muslim di Grenada—wilayah Islam terakhir di Andalusia—menghadapi serangan mematikan dari pasukan Spanyol. Masjid-masjid besar mereka diubah menjadi gereja-gereja Katholik. Mereka dipaksa menyeberang ke Afrika Utara. Setelah itu, mereka dicegah utnuk meninggalkan wilayah tersebut dan dipaksa memeluk agama Kristen atau menghadapi eksekusi pembakaran di ruang-ruang Dewan Investigasi.

Kejatuhan Grenada menyebabkan Portugal dan Spanyol memperoleh pusaka ilmu pengetahuan Islam, termasuk peta-peta laut. Oleh karena itu, tidaklah heran jika Christopher Columbus menemukan benua Amerika dengan sukses beberapa bulan setelah kejatuhan Grenada. Demikian pula, tidak heran kalau Vasco da Gama mengumumkan bahwa ia telah menemukan Lautan Hindia—sementara bangsa Arab mengetahuinya sejengkal demi sejengkal—melalui Afrika Barat. Inilah yang menyebabkan Portugal dapat menduduki pulau-pulau Australia dan menghancurkan Daulah Islam Malindi di Afrika Timur. Kemudian, ketika Sultan Malik, al-Ghawri, menghadapi mereka, kita lihat mereka mampu menghancurkan angkatan lautnya dalam pertempuran di Laut Diu. Hal itu untuk mengumumkan kepada dunia bahwa kejayaan Islam telah sirna. Dengan demikian, mereka memulai era kolonialisme Eropa atas Dunia Islam.

Pasukan ‘Utsmani tidak mengurungkan niat mereka terhadap Daulah Mamalik. Bahkan, mereka selalu mencari kesempatan yang tepat hingga membangun kekuatan. Mereka menyerang pasukan Mamalik di Marj Dabiq dekat Halab (Aleppo) serta menduduki Syam dan Irak. Kemudian, mereka menuju Mesir untuk menyerang pasukan Mamalik untuk kedua kalinya di Raydaniyah. Mereka memasuki Mesir untuk membunuh penduduknya yang tak berdosa secara terang-terangan di jalan-jalan dalam suatu pembantaian yang mengerikan, yang tidak pernah dialami bangsa Mesir sepanjang sejarah keislaman mereka. Dengan demikian, mereka memasuki jantung Dunia Islam—lalu wilayah-wilayah pinggirannya—selama abad kegelapan, yang kemudian menyebabkan munculnya segala bentuk kemunduran yang pengaruhnya terus membekas hingga hari ini.

Jadi, pasukan ‘Utsmani menduduki Dunia Arab sejak awal abad ke-16 M dan meninggalkan penaklukan Eropa. Sementara itu, bangsa Eropa memanfaatkan kesempatan tersebut dan mulai melakukan serangan-serangan ke Turki ‘Utsmani. Setiap hari, pasukan Eropa memasuki wilayah Islam selangkah demi selangkah dari timur atau barat dan mereka terus maju. Sebaliknya, Dunia Arab—di bawah pendudukan ‘Utsmani—terus menerus mengalami kemunduran sehingga pasukan Eropa mampu menguasai sebagian besar wilayah Dunia Islam. Ketika mereka menyadari bahwa kaum Muslim telah kehilangan kemampuan untuk melakukan perbaikan dan menghidupkan kebangkitan mereka—seperti pernah kita lakukan pada beberapa dekade—maka mereka merestui kehadiran zionisme di Palestina sambil menghidupkan era rasial salibisme pada abad-abad pertengahan. Hal tersebut mereka maksudkan untuk mempertahankan kelemahan dan keterbelakangan bangsa Arab hingga jangka waktu tak terhingga.

Pada akhir abad ke-14 H—kira-kira pertengahan abad ke-20 M—tiba-tiba kaum Muslim bangkit melalui gerakan-gerakan pembebasan tanah air yang didahului dengan Perang Dunia II menjadi beberapa negara. Pada gilirannya, hal itu merupakan titik balik dari keadaan umum Dunia Islam yang merasakan kesedihan mendalam dan kepedihan panjang setelah mengalami kejayaan yang panjang. Ketika setiap Muslim memandang kemuliaan nenek moyangnya, di satu sisi, dan kemajuan dunia belahan utara, di sisi lain, maka tidak ada yang dirasakan selain penyesalan.

Jadi, apa yang tersisa bagi kaum Muslim setelah masa-masa tersebut selain sejarah dan agama mereka? Apakah Islam yang hanif, tujuan akhir, masih memberikan kesempatan kepada musuh-musuh untuk menghancurkannya, sementara kaum Muslim tidak tampak memiliki cara untuk mempertahankan diri mereka?

Ketika musuh-musuh berusaha menyatukan barisan mereka untuk memberikan pukulan telak, apakah kesyahidan dari kaum Muslim cukup untuk mempertahankan dan melindungi Islam? Ataukah telah tiba saat bagi kaum Muslim untuk menyadari kelemahan mereka, mengingat-ingat sejarah mereka, kembali pada sumber-sumber kebaikan, serta berpegang pada nilai-nilai keilmuan, kebebasan, dan musyawarah agar dapat membawa negeri-negeri mereka ke jalan kegemilangan dan kejayaan?***tdb

Wallahu a’lam

***rujukan: 1000 Peristiwa dalam Islam; ‘Abdul Hakim al-‘Afifi; Pustaka Hidayah; 2002

24 hit

harga emasworld monitoralmanak 2026


Flash SIM Card Arab Saudi untuk Haji & Umrah | Kuota Internet
GPS Tracking untuk Android dan iPhone
MiTag Androind & iPhone | GPS Tracking
Air Zam Zam Kemasan 1 Liter

Tinggalkan Balasan



kembali ke atas

jembatan informasi kito


Embed Weather on Website with cuacalab.id

Jadwal Sholat Kota Palembang


Let's connect

Eksplorasi konten lain dari infokito

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca